MATDON DAN PUISI YANG TERSEDAK


if I read and it makes my whole body so cold no fire can ever warm me, I know that it is poetry. If I feel phisically as if the top of my head were taken off, I know that it is poetry
(Emily Dickinson)

Pemuka
Sebelum lebih lanjut membicarakan perbincangan kita mengenai diskusi ini, minta izin terlebih dahulu saya mau membahas nama yang tertera di judul makalah pendek ini. Mendengar nama Matdon, saya selalu ingat dengan nama-nama mafioso Italia atau Spanyol seperti Don Juan, Don Corleon, Don Bosco, dan sebagainya. ‘Don’ pada tradisi di atas bisa berarti ‘para penakluk’ (objeknya bisa kekuasan atau perempuan).
Namun berbeda dengan yang di Bandung, yakni Matdon. Memang ada kesamaan sedikit ketika kita mendengar bunyi puitik (poetic voice) dari nama-nama tersebut yaitu ‘don’. Jika di atas kata ‘Don’-nya di depan, yang ini ‘Don’-nya di belakang. Matdon yang saya kenal adalah nama seorang penyair sekaligus wartawan, juga penggiat sastra yang militan di Bandung. Nama Matdon jika dilihat dari sisi strukturnya merupakan gerak bahasa yang singkat dan padat; tidak ada pengulangan pun kepanjangannya.
Jika kita lihat pada titik profesi yang dilakoni oleh Matdon, sebagai seorang wartawan dan penyair ia memosisikan dirinya pada profesi yang dilakoni itu. Sebagai wartawan, Matdon selalu mewartakan setiap peristiwa yang terjadi di lingkungannya tentu dengan gaya pewartaan yang khas. Sementara pada sisi kepenyairannya (sebagaimana penyair pada umumnya) olah peristiwa yang dialami akan ditanam, dan dipanen setelah melakukan refleksi, renungan, kritikkan dari hasil pasca-tinjau atas apa yang sudah melingkupi ruang batinnya. Maka jadilah karya puisi.
Berkaitan dengan pemuka ini, kenapa saya membahas terlebih dahulu kedudukan Matdon pada profesinya? Hal ini yang menjadi titik temu saya ketika membaca puisi-puisi Matdon.

Tersedak Hingga Sekarat

Membaca kumpulan puisi ‘Sakarotul Cinta’ karya Matdon, bagi saya, adalah serangkaian kumpulan puisi yang membawa kita pada ruang realitas yang sesungguhnya. Terdiri dari 53 puisi yang ditulis hampir pada tahun 2000-an, namun terselip satu judul puisi ‘Untuk Negeriku’ (mungkin satu-satunya puisi yang paling purba dalam antologi ini) ditulis tahun 1985. ‘Sakarotun’ dalam bahasa Arab berasal dari kata sakara yang berarti penderitaan, mabuk, gula, dsb. ‘Sakarotun’ biasanya disandingkan dengan kata ‘maut’ menjadi sakaratul maut (detik-detik kematian), di sini Matdon menyandingkannya dengan kata ‘Cinta’, dari situ kita bisa melihat bahwa cinta sedang sekarat juga rupanya.
Jika dikategorikan puisi-puisi pada antologi ini, saya menyebutnya puisi berkelamin ‘sosial’ yang direkayasa dengan berbagai bentuk, namun tepatnya saya katakan puisi-puisinya menjadi pamflet yang hambar. Matdon tengah menyuguhkan tema-tema sosial yang beragam; tentang keadaan dunia sosial kita hari ini, memotret peristiwa yang terjadi di masa lampau, sekarang, juga memotret realitas ke depan. Kelamin sosial menjadi semacam identitas perjalanan kepenyairan Matdon. Di sini Matdon terus menerus bertawaf mengelilingi setiap sudut remang-remang realitas, yang memang ranah sosial merupakan ranah yang paling mudah untuk dijadikan objek dalam tema besar puisi kita hari ini karena biasanya yang terjadi, dari hasil sebuah karya puisi, kita hanya menemukan pemotretan dan pengkritikan terhadap objek yang ditawafinya itu. Dan biasanya dalam konteks ini, ruang ‘bahasa’ puisi terkadang kurang diperhatikan yang penting ekspresi pemotretannya tersampaikan.
Dalam puisi Matdon yang purba kita bisa melihat:

Lalu apalagi yang harus kuberikan kepadamu
Selain kental merah darahku?
Haruskah kuuntai lagi cerita umar bin khotob
Dalam rangkaian kata-kata yang lebih indah
Atau kususun lagi tulang belulang khalid bin walid?
Agar kau yakin
Bahwa aku mencintaimu?

(Untuk Negeriku, 1985)

Bagi saya, puisi ini adalah puisi pesimistis, ditulis dengan sangat sederhana. Matdon hanya menawarkan pelukisan suasana tentang negerinya, lalu memberikan ruang imajinatif tentang kisah umar dan khalid bin walid, untuk memberikan semacam penawaran nilai bahwa kisah-kisah itu bisa dijadikan rujukan untuk negeri ini. Sementara ruang bahasa tidak diolah dengan baik, saya sebagai pembaca tidak diajak bermain pada ruang bahasa yang spekulatif atau bahasa-bahasa baru. Di sini Matdon hanya mengandalkan pada permainan suasana. Dia sedang memotret negerinya dengan keluguan dan kepolosannya.
Pada puisi yang lain bisa dilihat juga:

Yanto murid kelas dua sekolah dasar
Menulis puisi, hobi sehari-hari
“aku punya guru cantik sekali, namanya bu susan
Di paha bu susan ada gambar bunga-bunga mawar
Gambar itu namanya tato.
Seluruh siswa sd di sekolahku menyukainya, karena ia tidak
galak, walapun suka memberi pr yang sulit,”
satu bait puisi di lembar buku yanto mengalir deras.

Jika membaca puisi ini kita bisa tertawa, Matdon mengolah puisi ini dengan gaya jenaka. Mengisahkan Yanto anak SD kelas 2 yang gemar menulis puisi. Pada suatu ketika Yanto menulis gurunya yang cantik dan mempunyai tato bunga di pahanya. Sebagaimana puisi di atas, puisi ini juga ditulis dengan sederhana pula, satir, prosaik dan bernada humor. Namun ada logika ‘peristiwa’ bahasa yang dipaksakan. Kita bayangkan saja siswa sd kelas 2 sudah mampu menulis sajak dengan nakal. Mengenali tato gurunya dengan baik dengan imajinasi yang cukup tinggi. Bahasa yang digunakan oleh Yanto, sudah memakai bahasa ‘dewasa’. “Ah dasar…Matdon!”
Puisi yang ketiga, mari kita lihat puisi andalannya, ‘sakarotul cinta’:

Jika gubernur tak memahami arti seni
Dan wakilnya hanya mengandalkan akting melulu
Itulah sakarotul cinta

Jika sby curhat terus menerus memanjakan jabatan
Dan menteri-menteri tak berarti
Itulah sakarotul cinta

………

Jika pedagang kaki lima digusur tanpa diberi solusi
Para pelacur dikejar tanpa dikasih makna
Anggota satpol pp nilep uang
Dan anggota dewan keluyuran di tempat hiburan
Itulah sakarotul cinta

Itulah sakarotul cinta

(sakarotul cinta, 2010)

Puisi pamflet saya menyebutnya untuk puisi ini. Peristiwa kumplit; memotret jejak kelam negeri ini. Dari sby, gubernur, anggota dewan, petani, pelacur, media, dan kaki lima diolah dan menjadi objek puisi dalam puisi ini. Ini mungkin yang dimaksud ‘sakaratun’ cinta bagi Matdon. Cinta sudah kehilangan energitasnya. Cinta yang seharusnya menjadi penyeimbang realitas ini sudah tidak bisa diandalkan lagi, sudah kehilangan makna besarnya. Saya setuju jika cinta adalah menjadi ruang sinergitas realitas yang menjadikan dunia ini ada pada posisi nyaman, toto tentram kerta raharjo. Sebagaima Rumi pernah bilang, hidup adalah sekolah cinta dan satu-satunya yang harus dipelajari dalam hidup adalah cinta.
Jika puisi ini ditarik pada wilayah kreatifnya, pilihan diksi yang dikembangkan Matdon tidak ada yang luar biasa, bahkan biasa saja. Namun terkadang membawa imajinatif ekspresif jika kita lihat pada struktur peristiwa yang dimainkan Matdon. Pembaca dibawa pada ruang remang-remang, lalu seolah-olah dipaksakan untuk berteriak menyikapi peristiwa itu. Itulah ciri khas pada puisi-puisi pamflet memang.
Dari beberapa pembacaan puisi yang sederhana di atas, saya melihat bahwa ada dualitas kepenulisan Matdon di sana. Peristiwa-peristiwa yang disajikan Matdon selalu berbentuk warta, sebagaimana dirinya seorang wartawan. Sebagai wartawan, tentu jika ada peristiwa-peristiwa yang menarik harus menjadi warta yang harus disampaikan secepatnya. Menjadi bagian headline news, dikejar deadline, ditulis apa adanya dengan gaya berita sebagaimana hasil pasca-tinjau yang dilihatnya. Karena Matdon adalah seorang penyair juga maka Matdon menulisnya dengan gaya puisi; berbait-bait, dan tentu penuh imajinatif.
Saya tidak mempersoalkan tentang dualitas profesinya tersebut, namun pada akhirnya kesan yang ditimbulkan dari puisi-puisi berkelamin sosial ini saya menemukan efek ketergesa-gesaan, tersedak, lalu yang terjadi efek puisinya menjadi biasa. Karena tergesa, karena tersedak, karena jatuh deadline, puisi menjadi kehilangan kekuatan bahasanya dan sebagai penyair fondasi bahasa ini tetap harus menjadi kekuatan sebagai energi dari puisi-puisinya.

Metafora Erotik

Jika di atas saya membaca lebih pada tematik sosial, yang sedang Anda baca sekarang saya melihatnya dari tema yang lain, ada tema besar juga yang dimiliki Matdon dalam antologi Sakarotul Cinta ini yaitu cinta. Dalam puisi-puisi cinta ini, Matdon terasa lebih sadar dengan bahasa, puisinya diolah dengan lumayan apik. Namun tetap dengan satu kekuatan fondasi bahasa, Matdon lebih memilih ruang erotika tubuh perempuan sebagai kekuatan metaforiknya. Metaforik itu diolah Matdon sebagaimana dirinya yang polos dan plontos, tubuh perempuan atau perangkat yang dipakai perempuan disajikan Matdon dengan vulgar.
Kita baca saja puisi yang berjudul “Serpih Malam”:

Fahamkah kau puisi yang kutulis di dua payu daramu:
Puisi cinta acep zamzam noor
Kupikir maknanya menembus jantungmu
Berdetak di putingnya yang coklat
Setarikan napas kau tinggalkan keringat

(2008)

Membaca puisi ini saya tiba-tiba berlabuh pada ruang 3×4 meter, ruangan itu bernama ruangan tato. Si aku tengah mentato payudara lawannya dengan bait puisi cinta Acep Zamzam Noor. Kenapa ruang tato? Pada kalimat, kupikir maknanya menembus jantungmu, saya membayangkan bahwa jarum yang sedang menulis bait puisi itu yang bisa menembus jantungnya. Tentu! jarum tato pasti harus bertemu kulit sebagai media gambarnya. Matdon di sini menggunakan sebagaimana yang saya katakan sebagai metaforik erotik, dia memilih diksi payudara, lalu puting. Meski saya terganggu dengan kalimat ke-4 dengan partikel ‘nya’, berdetak di putingnya yang coklat, seolah-olah disini ada tubuh yang lain ketika pada bait ke-1 dan ke-3 memakai partikel ‘mu’.
Pada puisi yang serupa bisa dilihat juga:

Pada keheningan tubuh selvy aku menemukan sajak bode
riswandi
dan aku membacanya berulang-ulang hingga lunglai
tanda cintaku berserakan di tengkuk, leher, dan payudara:
birahi memang tak perlu diksi

pada helai rambut Aisyah kudapati kelembutan sajak lainnya
kuhampiri dan kutelusuri, aku masuk ke hutan fikiran
dimana kau beli sampo semahal ini?, harum dan memabukkan
lamunan
sekali sibak rambutmu mengeluarkan ular berbisa, desisnya
menjelma sperma

ayo kita telusuri pelajaran sajak bukan pada pertemuan sastra
atau diskusi
ayo fahami pantat leni, ida, shinta, mia, susan dan bacalah
kepedihan mereka
bacalah busung dada tersumbat
saat mereka mencari alamat cinta yang sebenarnya
mereka butuh jemari kasih sayang, kejujuran dan kejernihan
metafora sajak sajak

ya, berabad abad lamanya pada setiap aroma perempuan
aku menemukan banyak napas penyair

(Pelajaran Sajak, 2011)

Sama halnya dengan “Serpih Malam”, metafora erotik cukup kental di sini. Ada selvy, aisyah, leni, ida, shinta, mia, susan, bode riswandi, pantat, rambut, dada, tengkuk, leher, sperma, birahi, dan penyair, menjadi andalan di puisi ini. Diolah dengan kekuatan paradoks yang kental, pelajaran sastra tidak mesti pada peristiwa formal namun hadir juga pada ruang tubuh perempuan.
Pilihan diksi tersebut cukup eksploratif dengan gaya ucap Matdon yang khas, menyindir ala penyair dengan tetap mempertahankan gaya tulisannya yang pamflet. Metafora erotik ini, lagi-lagi saya melihat Matdon sebagai wartawan, Matdon menulisnya cukup lengkap. Namun secara keseluruhan dalam antologi Sakarotul Cinta ini, metafora erotik yang dikembangkan Matdon tidak menjadi efek yang hot. Melainkan terkesan hanya pengulangan-pengulangan dari setiap puisi yang ditulisnya. Hanya beritanya saja yang berbeda.

Pemunah
Puisi tak ubahnya serangkaian bahasa yang harus diolah secara fasih oleh penyair untuk memberikan efek yang luwes baik dari fondasi bahasa maupun isi. Sebagaimana Iqbal (1985) menulis:

Jika kebenaran
Tak punya semangat berkobar
Itulah filsafat yang datar
Jika ia punya nyala api
Itulah puisi

Dengan demikian jelas sekali dengan apa yang dikatan Iqbal, bahwa puisi haruslah mengedepankan kebenaran dengan semangat kobaran karena puisi ketika ditulis harus jelas efek etika dan estetikanya. Puisi harus mempunyai tujuan, untuk apa ditulis? Tidak sekedar mengandalkan pemotretan yang dilakukan tukang potret keliling. Di samping puisi harus mempunyai nyala api, karena jika puisi ditulis dengan segala kesungguhan, kejujuran, dan keindahan maka ia akan memancarkan puisinya itu sendiri. Saya percaya, Matdon sudah melakukan itu, atau mungkin sudah melampaui itu…swear dekh!
Terakhir. Saya masih tetap setia duduk di kursi kerja. Membaca terus kumpulan puisi “Sakarotul Cinta”. Ada ruang yang berbatas dalam membaca. Dari setiap kaca yang kubaca hanya satu yang berbekas. Bibirmu Laut:

Aku ingin menciummu
Tiga kali sehari
Biar dahagaku sirna

Tapi bibirmu laut…

(2004)

Iklan

Membongkar Kebohongan Angkatan Penyair Pra Bayar


Matdon – R-ois ‘Am Majelis Sastra Bandung

PIKIRAN RAKYAT – Senin 12 Maret 2018

Sebenarmya membicarakan puisi esai adalah pebuatan sia sia, jijik dan menyebalkan, kalau tidak dikatakan perbuatan sampah. Sebab puisi esai yang diusung Denny JA itu tidak jelas. Hanya dengan uang lah kemudian ia menjadi mahluk yang disebut berguna bagi penyair yang dibayar 5 juta.

Menulis puisi adalah pekerjaan intelektual tinggi, tetapi dengan modal uang 5 juta Denny JA telah berhasil membodohkan penulis puisi esai itu, Pola pikir penyair senior Isbedy Setiawan, Vidi Daery dan Anwar Bayu Putera misalnya, menjadi tidak jernih hanya dengan iming-iming uang. Apalagi pola pikir anak muda yang bisa disebut Narudin Pituin. Bayangkan, dengan dibayar uang Narudin berani sekali menyebut Masxisme adalah filsapat kecemburuan, aneh nya pemikiran sesat nya dikagumi oleh dua doktor asal Bandung Chye Rety Isnendes dan Ipit Dimyati, intelektual macam apa yang mereka miliki mengagumi pemikiran ngaco Narudin.

selisik Lanjutkan membaca “Membongkar Kebohongan Angkatan Penyair Pra Bayar”

Orang Gila dan Ulama


Matdon – Rois ‘Am Majleis Sastra Bandung

PATROMAKS Sabtu 24 pebrurai 2018

 

Heboh, peristiwa “orang gila” meyerang ulama dalam waktu cepat dan menjadi viral. Ini serupa teror  terencana dan terstruktur.  Lihat rangkaian peristiwa dibawah ini:

  1. Tgl 27 Januari 2018, Pemukulan Ust. KH. Umar Basri’ Cicalengka oleh orang gila berpakaian rapi.
  2. Tgl 30 Januari 2018, Penembakan mantan Deputi Operasi Basarnas Mayjen [Purn] TNI Tatang Zaenudin di Jl. Bukit Pasir No. 49 RT 001/RW 012 Depok oleh org gila tak dikenal.
  3. Tgl 1 Februari 2018, Penganiayaan Ustadz Prawoto Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam [Persis] Cigondewah,Bdg.hingga meninggal, oleh orang gila berpakaian rapi partai anu.
  4. Tgl.3 Februari 2018, santri pondok pesantren Al-Futuhat Garut, berinisial Abd alias Uloh diserang oleh 6 orang gila tak dikenal menggunakan senjata tajam.
  5. Tgl 4 Februari 2018, Seorang pemuda yang bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal 1 Kota Bandung, mengacung-acungkan pisau seraya berteriak-teriak ‘ustadz bukan?! Ustadz bukan?!’
  6. Tgl 5 Februari 2018,seorang perempuan mondar mandir selama dua hari di sekitar pondok, setelah di interogasi, didapati sajam dan sebilah plat besi di dalam tas. Sasarannya adalah pondok pesantren FajruIslam di daerah Sentul City Bogor.
  7. Tanggal 8 Februari 2018, Ulama Bogor, Ust. Sulaiman di bacok orang gila di desa Cigudeg.

Dan sejumlah peristiwa serupa yang mungkin luput dari pantauan media. Mengingatkan pada peristiwa ‘Ninja Banyuwangi’ 1998. Dimana waktu itu ada 115 korban jiwa yang tersebar di 20 kecamatan. Sedangkan versi TPF Nahdatul Ulama korban meninggal dunia lebih banyak, 147 jiwa.

Benarkah pelaku orang gila?. Terlalu cepat jika para pelaku disebut orang gila, seperti apa yang disampaikan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Danardi Sosrosumihardjo, sebab  penyebutan orang gila pada para pelaku penganiayaan ulama dan perusakan masjid itu perlu melalui pembuktian medis atau melalui diagnosis dokter. Prosesnya panjang.

Menurut Dia, tidak semua gangguan jiwa itu melakukan kegiatan sehari-hari dengan tidak disadari ada penyandang gangguan jiwa yang bisa melakukan kegiatan sehari-hari dan bisa bertanggung jawab atas perbuatannya. Karena itu, lanjutnya, tidak semua diagnosis gangguan jiwa dapat dianggap tidak cakap hukum.

“Entah itu masyarakat yang terlau cepat membuat diagnosis sendiri ataukah polisi yang juga terlalu cepat memublikasikan pelaku mengalami gangguan jiwa, Itu rasanya perlu dikoreksi menurut saya,” kata Danardi.

Sementara itu para Ulama perwakilan Pondok Pesantren se-Priangan Timur menduga adanya rekayasa kasus serangan orang berstatus gila pada ulama. Orang-orang gila yang menyerang ulama itu, sudah dibuat tidak waras lebih dulu menggunakan obat tertentu.

Artinya, kalau ada orang gila berkeliaran maka pemerintah bekewajiban menanganinya, mereka bisa dikumpulkan dalam suatu panti dan dibina supaya tidak meresahkan masyarakat. Dan masyrakat juga tidak harus main hakim sendiri.

Di lain pihak, kita juga harus memahai apa yang disampaikan Pengamat Intelijen dan Pertahanan, Jaka Setiawan, fenomena ini memilki pola. Pelaku dibalik penyerangan ini adalah Intelijen yang memiliki kemampuan menggerakkan orang-orang tertentu untuk melakukan operasi terhadap target yang sensitif.

Lembaga atau organisasi yang punya infrastruktur menggerakkan orang-orang khusus untuk melakukan operasi terhadap target yang sensitif, ya intelijen,” ungkapnya seperti disitir kiblat.net, pekan lalu. Perilaku tak bermoral ini dilakukan oleh lembaga tertentu, bukannya indvidu.

“Ketika terjadi penyerangan terhadap ulama di beberapa wilayah, saya langsung berpikir ada yang bermain tentu yang punya kapasitas untuk melakukan hal itu tidak mungkin, dan tidak mungkin juga dilakukan oleh individu, apalagi secara alamiah,” ungkapnya.

Namun demikian Jaka masih mempertanyakan, intelijen pihak manakah yang melakukan serangan terhadap ulama ini, apakah intelijen negara, atau oknum intelijen negara, atau mungkin saja intelijen asing. Karena  belakangan pun, intelijen Indonesia terbelah. Intelijen Negara seharusnya bertugas melakukan analisa ancaman terhadap negara. Artinya yang dihadapi adalah musuh negara bukan musuh politik.

Dan secara historis bisa dilihat, di sektor keamanan yang bisa melakukan hal serupa memanfaatkan orang-orang untuk melakukan tindak kejahatan, dari zaman dulu hingga sekarang, adalah intelijen. “Jadi saya lihat ada oknum intelijen yang gunakan infrastruktur intelijen untuk kepentingan mengalahkan musuh politiknya,” tukasnya.

Nyaris senada dengan itu, Pakar hukum Mahfud MD juga melihat ada kejanggalan kegilaan pelaku penyerangan terhadap kiai. Menurut Mahfud  tidak mungkin dia (orang gila) memukul memilih sasaran dan memilih waktu. Itu buatan.

“Bisa saja kelompok umat sendiri untuk membangun solidaritas bersama. Bisa. Bukan tidak bisa. Itu juga bagian langkah sistemik. Biar teman-teman kita marah menuduh yang lain itu sangat bisa,” kata Mahfud seraya menambahkan, kemungkinan lain adalah kelompok politik tertentu dan orang-orang yang memang anti terhadap kelompok agama tertentu. Mungkin juga intelijen asing karena proxy war, misalnya.

Tentu kita tidak mau terjadi peristiwa Madiun tahun 1948, sebagai contoh salah satu catatan kelam Bangsa Indonesia. Pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) 69 tahun silam. Sebuah peristiwa yang telah merenggut banyak nyawa ulama dan tokoh-tokoh pemerintahan. Tragedi yang tidak akan pernah tenggelam dari catatan sejarah Bangsa.Cag!

 

Budaya Pembangunan  di Jawa Barat


 

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

PATROMAKS Senin 19 pebrurai 2018

Sebagai manusia hidup tentu harus menjalani tugas sebagai khalifah,  bertugas mengurus dan membangun dunia dengan segala bentuk dan isinya yang beragam, mulai dari ekonomi, sosial, poltiik dan budaya.

Di dalam khalifah ada yang menjadi pemimpin (Ketua RT, RW, Lurah, Camat, Walikota, Gubernur dan Presiden) dan ada yang dipimpin (rakyat).  Kedua unsur tu harus sejalan dalam membanguan suau daerah atau tempat dimana mereka tinggal. Jawa Barat merupakan alam yang diciptakan Tuhan untuk manusia yang berbudaya sunda dan fahamilah setiap pembangunan  seharusnya disesuaikan dengan budaya setempat.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan pernah mengatakan bahwa ada sejumlah prioritas pembangunan di Jabar seperti pembangunan sarana prasarana pendidikan serta peningkatan tenaga pendidikan. Hingga kini setiap tahun di sisi lain  masih terasa kacau, khususnya di dalam penerimaan siswa baru. Selama Aher menjadi Gubernur rutintinas itu selalu saja terjadi tiap tahun, dan ini sebetulnya bisa diperbaiki di tahun-tahun mendatang.

Priortias di bidang pembangunan sarana prasarana kesehatan serta peningkatan kesejahteraan tenaga kesehatan, namapknya pemprov jabar berupaya keras untuk itu, berbagai upaya agar warga Jabar dapat menikmatinya, meski saat ini baru sebagian yang merasakannya.

Lalu priortas pengelolaan pertanian, perikanan, kelautan, peternakan, peningkatan kapasitas koperasi dan usaha kecil mikro menengah untuk menumbuhkan industri-industri baru. Destinasi wisata dan seni budaya., peningkatan pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan berbasis iptek, stabilitas keamanan,  Kesadaran politik dan hukum, Daya tampung dan daya dukung lingkungan, Pengurangan resiko bencana,  Penanganan kemiskinan,  Penyusunan tata ruang,  Peningkatan pemberdayaan perempuan dan olahraga dan sebagianya, yang hingga kini masih butuh penanganan serius.

Ciri Budaya

Melihat aspek pembangunan, apakah masterplan yang dikembangkan di Jawa Barat sudah sesuai dengan basic kultural daerah setempat, sehingga siapapun yang datang ke daerah itu dapat mengetahui  ciri-ciri pasti kota/kabupaten di masing-masin daerah.  Jika sebuah  wilayah kekuasaan dibangun dengan mengabaikan ruh kultural warganya, maka tunggulah saat-saat kehancuran.

Semua wilayah di Indonesia tengah menghadapi hal ini,  dan kita tidak mengetahui ciri-citi fisik yang menunjukan ekspresi kultural tersebut. Seharusnya inisiatif dalam membangun basik ruh kultural lahir dari kalangan legislatif,  Tapi apa boleh buat, dalam mata pandang saya, legislatif di tiap Propinsi sebagai sebuah wadah suara rakyat seperti sudah bebal dengan urusan-urusan semacam itu.

Di sisi lain, Jawa Barat memiliki berbagai sumber potensi ekonomi untuk dikembangkan lebih optimal, hal tersebut memerlukan daya dukung infrastruktur yang memadai. Pembangunan Waduk Jati Gede, Bandara Kertajati, Meikarta dan Summarecon bukan hal kecil untuk diabaikann apalagi nemisahkan dengan budaya setempat.

Hambatan pasti ada, tapi pendekatan kultural saya kira akan lebih bagus ketimbang pendekatan Perda dan undang-undang. Berbagai proyek infrastruktur lain juga didorong percepatan pembangunannya, seperti proyek Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu), Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi), rencana Tol Cileunyi-Garut-Tasikmalaya (Cigatas), Pelabuhan Patimban, Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR), jalan di kawasan Pantai Selatan (Pasela), serta jalur kereta api double track Bogor-Sukabumi.  Itu pasti membutuhkan pendekatan kultrural.

Insya Allah, jika budaya setempat biasa “dijinakkan” maka pembanguanan Jabar sedikit sekali hambatannya, sebab proyek-proyek tersebut diyakini mampu mendorong pertumbuhan sektor ekonomi potensial, serta mengurangi disparitas atau ketimpangan ekonomi antara wilayah Jawa Barat bagian utara dengan selatan. Selain itu, infrastruktur juga penting dalam meningkatan konektifitas kawasan yang mampu menciptakan pertumbuhan.

Wilayah Selatan Jawa Barat juga menjadi pembahasan untuk dikembangkan. Industri kecil dan menengah di wilayah ini mempunyai peluang untuk mengurangi disparitas pendapatan masyarakat di Jabar Utara dan Selatan. Gubernur Jawa Barat harus merasa pembangunan Provinsi Jabar belum selesai.

Selain budaya, pembangunan di Jawa Barat juga tak lepas dari menghormati pemimpin sebelumnya. Mungkin Aher menghormati pemimpin Jabar sebelum ia dengan cara melanjutkan dan  kalau perlu merombak sistem yang positif dibantu dengan tenaga ahli dan rakyat.

Tolak ukur keberhasilan sebuah pemerintah sangat gampang diukur, misalnya dari segi apakah berbagai harapan mayarakat baik secara kultural, ekonomi dan politik  sudah terpenuhi atau belum. Idealitas-idealitas yang diinginkan masyarakat minimal mendekati  terpenuhi, misalnya soal lalu lintas, lapangan kerja (ekonomi), atau mekanissme politik dari rakyat melalaui DPRD perlu mendapatkan respon yang positif.

Ukuran ini bagi masyarakat sangat penting, dalam upaya mengukur dirinya pada aspek mana masyarakat bisa berperan serta untuk membangun kota/kabupaten-nya. Kita sendiri sekarang tidak tahu apakah aspek pelayanan terhadap masyarakat sudah terpenuhi atau belum,  dan dari aspek pembangunan apakah aspek pelayanan terhadap  publik sudah optimal atau belum, mulai dari perizinan, pengaduan, lebih-lebih pelayanan dari legislatif.

Apabila belum tercapai, maka pada dasarnya pembanguan tak pernah selesai sSepanjang manusia masih hidup dan belum kiamat. Cag!

Tradisi dan Budaya Tanah Air (Bagian 2)


 

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

Kamis 15 Pebruari 2108

 

Seperti sudah ditulis sebelumnya, bahwa Indonesia yang kita cintai ini, memiliki sumber daya alam yang sangat kaya raya, 564 bahasa daerah, 1.340 suku bangsa Indonesia. Dan berapa rinu lagi budaya dan tradisi yang berkembang dan sudah mati.

Dan seperti yang saya katakan korupsi bukan atau budaya tanah air sebab korupsi itu perbuatan keji dan kejam. Karena jika korupsi budaya maka koruptor adalah budayawan. Ini bahaya!

Memang kebiasaan buruk memberi pelicin sudah “membudaya” di otak pengusaha dan penguasa tanah air, dimana karakter bangsa diaduk aduk menjadi sesuatu yang normal dan biasa.

Salah kaprah memang. Kebiasaan buruk yang mendarah daging ini adalah suap atau riswah yang keji. Sungguh sebuah perbuatan dholim jika meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Korupsi itu dhilim dan hina. Menyebut korupsinsebagai  budaya.

Nampaknya kita harus belajar juga kebiasaan buruk yang tidak boleh dilakukan dan menjadi budaya. Membuang sampah sembarangan, misalnya. Merokok di tempat umum umpamnya. Menerobos lampu merah atau perlintasan kereta api dan berkata bohong.

Membuang sampah, sopan santun, berkata jujur adalah ajaran Agama, sedangkan sebaliknya dari sifat itu adalah perbuatan syetan. Agama mengajarkan bahwa semua perbuatan yang melanggar Agama itu dosa.

Ada sejumlah kebiasaan manusia Indonesia yang tidak disadari sudah menjadi tradisi selain budaya membuang sampah sembarangan,  Tidak Tertib Lalu-lintas, . jembatan penyeberangan menjadi lintasan motor nekat,  jam karet, tidak mau antri,  trotoar sebagai tempat jualan,  sungai, got atau saluran air menjadi tempat pembuangan sampah, maraknya tempat parkir liar, banyaknya sms penipu dan penyedot pulsa termasuk jualan paket data yang menjebak, minuman miras oplosan dan narkoba, maraknya tempat mesum ditempat kos dan seabreg kelakuan yang negatif tapi dipandang kebiasan.

Jadi, tidak semua budaya masyarakat yang ada di negara kita itu baik.  Sesuatu yang tidak baik jika berlangsung turun-temurun dan telah mendarah daging dalam kehidupan suatu masyarakat maka sesuatu hal yang buruk tersebut bisa dianggap sebagai sesuatu yang baik dan diterima secara luas dalam masyarakat tersebut.

Walaupun kenyataannya budaya kebiasaan masyarakat tersebut bertentangan dengan budaya bangsa yang berlaku secara umum, tetap saja pemerintah mengalami kesulitan untuk menghilangkannya secara tuntas.

Maka kewaiban kita dan khususnya pemerintah adalah melakukan sosialisasi bahwa itu adalah buruk. Berupaya merangkul pemuka masyarakat dan memangkas generasi buruk itu dengan generasi baik, dan yang patut dilakukan adalah melakukan tindakan tegas terhadap para pelanggar.

Jangan sampai kita mengatakan, “Ya harus apalagi inilah Indonesia!”. Bayangkan jika kalimat itu sudah mendarah daging bahayanya bukan kepalang, bisa bisa kita membiarkan bangsa Indonesia menggunaka Tisu toilet untuk tisu makan, menggunakan jaket di siang bolong, nongkrong di pinggir jalan mengahalangi pejalan kaki, membawa barang lebih besar dari kendaraannya, penumpang angkutan umum yang bergelantungan, ngupil sembarang tempat.

Fahamilah, Agama bersumber dari Allah, sedangkan budaya bersumber dari manusia. Agama itu maha karya Allah, sedangkan budaya adalah karya manusia.Meski demikian keduanya saling berhubungan erat satu sama lain.

Nurcholish Madjid pernah mengatakan, antara agama (Islam) dan budaya adalah dua bidang yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Agama bernilai mutlak, tidak berubah menurut perubahan waktu dan tempat. Tetapi berbeda dengan budaya, sekalipun berdasarkan agama, dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat.

Tradisi dan Budaya Tanah Air (Bagian 1)


 

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

PATROMAKS Rabu 14 Pebrauri 2018

 

Untuk sementara saya samakan saja arti tradisi dan budaya dalam hal hal tertentu. Tapi saya tidak mau menyebut korupsi sebagai tradisi atau budaya tanah air sebab korupsi itu perbuatan keji dan kejam.

Dalam tatanan masyarakat,  tradisi dan budaya memiliki arti yang berlainan, misalnya ada yang menyebut bahwa tradisi adalah kebiasaan yang turun temurun dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, sedangkan budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya diartikan sebagai seperangkat norma, nilai, kepercayaan, adat-istiadat, aturan dan juga kode. Diperkuat oleh makna Ki Hajar Dewantara yang menyebut budaya merupakan hasil perjuangan masyarakat terhadap zaman dan alam.

Kita memang sering menemukan tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat dalam waktu bersamaan

Di dalam budaya,  pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan hidup yang dasar, insting, perasaan, dengan pikiran, kemauan dan fantasi.  Nah, budaya yang diwariskan secara turun-temurun itu tadi sebagian  menjadi sebuah tradisi.

Jadi, tradisi bisa berarti perlambangan dari budaya itu sendiri, contohnya : budaya lebaran pada saat idul fitri, lalu pada hari itu terdapat tradisi sungkeman dan silaturahhmi ke sanak saudara.  Jadi, disini tradisi menjadi identitas dari suatu budaya. Atas  pesepsi itu saya ingin sementara menyemakan tradisi dan budaya dalam hal-hal tertentu

Tradisi sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah  adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan  yang paling baik dan benar.

Indonesia kaya sekali dengan aneka budaya, yang setiap daerah di indonesia memiliki berbagai macam budaya dan tradisi. Tradisi Ritual Tiwah di Kalimantan Tengah misalnya, merupakan upacara yang dilakukan untuk orang yang sudah lama meninggal.  Ritual ini bertujuan untuk meluruskan perjalanan arwah menuju Lewu Tatau atau surga.

Di Banyuwangi ada tradisi Kebo-keboan. Merupakan tradisi setiap tanggal 10 Suro atau 10 Muharam di desa Alasmalang, Singojuruh, Banyuwangi. Ini budaya agraris khususnya siklus tanam padi. Sejumlah laki laki berdandan menjadi kerbau mereka harus berkubang di tengah kubangan sawah yang baru dibajak, kemudian diarak keliling desa, disertai karnaval kesenian rakyat. Kemudian mereka juga beraksi membajak sawah.

Sementara di Toraja, ada tradisi Mapasilaga Tedong atau bisa dsiebut adu kerbau. Sebelum diadu sejumlah kerbau dibariskan di lokasi upacara lalu diarak diiringi musik pengiring tradisional yang berasal dari sejumlah wanita yang menumbuk padi pada lesung secara bergantian.

Di tanah Toraja juga ada tradisi  Rambu Soloyaitu atau upacara dukaa kematian. Bagi keluarga yang ditinggal wajib membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi.

Dan di beberapa daerah di tanah air kita mengenal tradisi yang membudaya seperti Pasola di Sumba (memohon restu para dewa agar panen tahun tersebut berhasil dengan baik),  Dugderan di Semarang (pacara yang menandai bahwa bulan puasa telah datang), ini semacam munggahan di Jawa barat.

Tradisi yang berkembang ada juga Tabuik, perayaan lokal dalam rangka memperingati Asyura di Pariaman. Makepung di Bali (semacam karapan sapi tapi memakai kerbau). Debus di Banten (Kesenian kebal senjata tajam). Dan banyak lagi tradisi dan budaya yang ada di tanah air, Ngaben (Bali) Pasola (Nusa Tenggara Timur), Numis (Jawa Barat).

Indonesia yang kita cintai ini, memiliki sumber daya alam yang sangat kaya raya, 564 bahasa daerah, 1.340 suku bangsa Indonesia. Dan berapa ribu lagi budaya dan tradisi yang berkembang dan sudah mati.

Sebagai orang beragama, kita harus menyikapi tradisi dan budaya ini secara arif dan bijaksana. Agama membiarkan beberapa adat kebiasaan manusia yang tidak bertentangan dengan syariat dan adab-adab Agama. Rasulullah SAW tidak menghapus seluruh adat dan budaya masyarakat Arab yang ada sebelum datangnya Islam. Akan tetapi Rasulullah melarang budaya-budaya yang mengandung unsur syirik, seperti pemujaan terhadap leluhur dan nenek moyang, dan budaya-budaya yang bertentangan dengan adab-adab Islami.

Kita- sekali lagi harus bijaksana menyikapi budaya itu berkembag, tentu juga harus menghargainya bagaimana tradisi Numpeng berkembang,  Peusijeuk atau upah-upah di Aceh, Sungkeman, Upacara Siraman, Pecah Kendi, Ngerik, Gendhongan. Dodol Dhawet, Temu Panggih, Upacara Midodaren, nyawer, seserahan, dan lai lain. (BERSAMBUNG)

 

 

Denny JA Bertobatlah!


Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

PAROMAKS Senin 5 Pebruari 2018

Di berbagai kesempatan, saya sering mengatakan bahwa yang akan menyelamatkan kebudayaan Indonesia dari keruksakan adalah musik, olahraga dan bahasa (sastra). Karena politik dan ekonomi sudah tidak bisa menolong rakyat Indonesia. Olahraga kita masih bisa berjaya di luar negeri, musik kita sangat mashur, dan sastra Indonesia juga demikian bergairah.

Namun, ketika seorang konsultan politik dan ahli survai politik  bernama Denny JA (DJA) tiba tiba datang dan melakukan manuver uang sama dengan kehidupan politik ke dalam tubuh sastra Indonesia, maka sastra sekarang sedang di obok-obok oleh jalan politik DJA. Ia datang dengan bendera puisi esai, puih!

Puisi esai merupakan bagian dari manipulasi DJA sejak tahun 2014 lewat rekayasa penerbitan buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh dalam 100 tahun terakhir.” Semua dia lakukan atas nama kesadaran penuh sebagai warga negara dan demi disebut namanya sendiri sebagai “pembaharu” dan “tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh.”

DJA terus bergembira dengan napsu kekusaannya, ia berjalan dalam kesepian yang utuh. Saya menduga survai politik yang ia lakukan selama ini berbau manipulatif dan kini ia terapkan di tubub sastra. Setelah empat tahun berlalu dan ketika orang-orang kebanyakan menentangnya, kini DJA bangkit lagi dan menawarkan kepada 170 penyair tanah air, untuk menulis puisi esai dengan hadiah 5 juta/puisi. Manipulasi “pembaharuan dan “ketokohan” ia geber kembali.

Tak tanggung-tanggung, ia merekrut orang Badan bahasa sebagai marketing untuk merayu para penyair, setelah sebelumnya tim marketingnya  bernama Agus R Sarjono dan Jamal D Rahman di ahun 2014  turut menjadi paraji merekayasa 33 tokoh sastra berpangearuh dan membiarkan tim 8 menjadi  nama-nama tercela serta mengkhawtirkan.

Kaum oportunis seperti Isbedi, Anwar Bayu Putera dan Vidi Daeri yang nota bene penyair senior pun masuk ke dalam lumpur puisi esai. Lumpur yang busuk dan menjijikkan.

Transaksi puisi esai cukup berhasil, tapi pelawanan para penyair lainnya membuat 11 orang mengundurkan diri. Tentu saja mengundurkan diri karena merasa dibodohi oleh para marketingya. Dan syukur mereka kembali pada keimanan sastra yang sesungguhnya.

Ya, dunia sastra dan politik sekarang sama saja, sedang dikotori oleh napsu birahi orang-orang yang ingin berada di puncak kebahagian dengan cara keji, kejam dan binatang. DJA sadar  betul kalau uang bisa membeli segalanya, terutama kehausaan untuk membelokan sejarah.

DJA mencoba membelokan makna dari sejarah ialah studi masa lalu yang ada kaitannya dengan manusia. Dan manusia zaman old tidak bisa dijauhkan dari bahasa (sastra).  Maka DJA mencoba tutup mata, bagaimana Amir Hamzah membangun dunia bahasa dan sastra menjadi kesantunan tertinngi manusia dan itu dilakukan tidak dengan uang ketika disebut sebagai tokoh, tapi dengan karya. DJA mengingkari Chairil Anwar bagaimana ia berjuang dengan kata untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. DJA juga tak ambil pusing dengan Rendra, Wiji Tulul dan atau yang lainnya, yang dengan susah payah melakoni kesetian serta berjuang demi sastra, tdak membelinya dengan uang.

DJA mugkin tidak faham juga soal perkembangan puisi mbeling yang pada zamannya tumbuh dengan wajar. Zaman puisi mbeling tidak diadakan lomba  dengan hadiah besar, Remi Silado, Jeihan dan tokoh tokoh mbeling saat itu berkaya saja dengan media yang ada.

Puisi mbeling memang sudah tidak ada yang intens menulis, tapi tapak sejarahnya masih ada, dan saya meyakini jika puisi esai itu akan sirna dengan sendirinya, karena sesuatu yang dipaksakan itu gak enak, tapi enek. Ia telah Manipulasi pembaharuan dan ketokohan lewat radikalisme modal dalam sastra Indonesia dan ini harus dihentikan demi menegakkan sejarah yang alamiah dan penghargaan pada kerja-kerja sastra sesungguhnya, integritas sesungguhnya.

DJA juga secara tidak langsung membuat para penyair bertengkar, kawan menjadi lawan,  teman antar komunitas sastra yang tadinya rukun menjadi pasea kaena beda pendapat.

Padahal Sastra itu ditugskan oleh Tuhan untuk membuat orang bahagia.  Atas alasan inilah para sastrawan, pengamat, dan aktivis sastra dan seni di tanah air menyatakan menolak dan mewaspadai segala upaya yang mengarah pada proyek penulisan puisi esai, dan melakukan perlawanan dan penolakan para sastrawan di berbagai daerah di Indonesia atas gerakan puisi esai.

Seruan serupa juga ditujukan kepada kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI agar bisa mencegah buku-buku gerakan puisi esai diselundupkan oleh kaum oportunis gerakan puisi esai menjadi salah satu buku/bahan ajar di sekolah-sekolah seluruh Indonesia, juga kepada institusi Badan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, juga Balai Bahasa di berbagai daerah di Indonesia untuk membersihkan orang-orangnya yang bekerja dan terlibat dalam manipulasi dan rekayasa gerakan puisi esai, terutama mereka yang bekerja sebagai penghubung atau calo transaksi.

Kepada siapapun yang peduli pada sejarah alamiah dan laku berintegritas dalam sastra Indonesia untuk terus merapatkan barisan perlawanan terhadap manipulasi yang bersumber dari radikalisme modal atau dalam bentuk apapun.

Di tangan DJA sastra itu poltik. Sementara poltiik selalu membuat orang tidak bahagia, kecuali politisi setelah mengalahkan politisi yang lain. Di tangan konsultan politik bernama Deny JA, sastra bisa jadi politik yang bisa menghancurkan. Tapi percayalah, kami sastrawan yang mengimani sastra, tidak akan hancur karena ulahmu, DJA.

Maka sebelum adzab Tuhan menyertaimu, bertobatlah wahai DJA dan antek ankenya.