Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

PAROMAKS Senin 5 Pebruari 2018

Di berbagai kesempatan, saya sering mengatakan bahwa yang akan menyelamatkan kebudayaan Indonesia dari keruksakan adalah musik, olahraga dan bahasa (sastra). Karena politik dan ekonomi sudah tidak bisa menolong rakyat Indonesia. Olahraga kita masih bisa berjaya di luar negeri, musik kita sangat mashur, dan sastra Indonesia juga demikian bergairah.

Namun, ketika seorang konsultan politik dan ahli survai politik  bernama Denny JA (DJA) tiba tiba datang dan melakukan manuver uang sama dengan kehidupan politik ke dalam tubuh sastra Indonesia, maka sastra sekarang sedang di obok-obok oleh jalan politik DJA. Ia datang dengan bendera puisi esai, puih!

Puisi esai merupakan bagian dari manipulasi DJA sejak tahun 2014 lewat rekayasa penerbitan buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh dalam 100 tahun terakhir.” Semua dia lakukan atas nama kesadaran penuh sebagai warga negara dan demi disebut namanya sendiri sebagai “pembaharu” dan “tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh.”

DJA terus bergembira dengan napsu kekusaannya, ia berjalan dalam kesepian yang utuh. Saya menduga survai politik yang ia lakukan selama ini berbau manipulatif dan kini ia terapkan di tubub sastra. Setelah empat tahun berlalu dan ketika orang-orang kebanyakan menentangnya, kini DJA bangkit lagi dan menawarkan kepada 170 penyair tanah air, untuk menulis puisi esai dengan hadiah 5 juta/puisi. Manipulasi “pembaharuan dan “ketokohan” ia geber kembali.

Tak tanggung-tanggung, ia merekrut orang Badan bahasa sebagai marketing untuk merayu para penyair, setelah sebelumnya tim marketingnya  bernama Agus R Sarjono dan Jamal D Rahman di ahun 2014  turut menjadi paraji merekayasa 33 tokoh sastra berpangearuh dan membiarkan tim 8 menjadi  nama-nama tercela serta mengkhawtirkan.

Kaum oportunis seperti Isbedi, Anwar Bayu Putera dan Vidi Daeri yang nota bene penyair senior pun masuk ke dalam lumpur puisi esai. Lumpur yang busuk dan menjijikkan.

Transaksi puisi esai cukup berhasil, tapi pelawanan para penyair lainnya membuat 11 orang mengundurkan diri. Tentu saja mengundurkan diri karena merasa dibodohi oleh para marketingya. Dan syukur mereka kembali pada keimanan sastra yang sesungguhnya.

Ya, dunia sastra dan politik sekarang sama saja, sedang dikotori oleh napsu birahi orang-orang yang ingin berada di puncak kebahagian dengan cara keji, kejam dan binatang. DJA sadar  betul kalau uang bisa membeli segalanya, terutama kehausaan untuk membelokan sejarah.

DJA mencoba membelokan makna dari sejarah ialah studi masa lalu yang ada kaitannya dengan manusia. Dan manusia zaman old tidak bisa dijauhkan dari bahasa (sastra).  Maka DJA mencoba tutup mata, bagaimana Amir Hamzah membangun dunia bahasa dan sastra menjadi kesantunan tertinngi manusia dan itu dilakukan tidak dengan uang ketika disebut sebagai tokoh, tapi dengan karya. DJA mengingkari Chairil Anwar bagaimana ia berjuang dengan kata untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. DJA juga tak ambil pusing dengan Rendra, Wiji Tulul dan atau yang lainnya, yang dengan susah payah melakoni kesetian serta berjuang demi sastra, tdak membelinya dengan uang.

DJA mugkin tidak faham juga soal perkembangan puisi mbeling yang pada zamannya tumbuh dengan wajar. Zaman puisi mbeling tidak diadakan lomba  dengan hadiah besar, Remi Silado, Jeihan dan tokoh tokoh mbeling saat itu berkaya saja dengan media yang ada.

Puisi mbeling memang sudah tidak ada yang intens menulis, tapi tapak sejarahnya masih ada, dan saya meyakini jika puisi esai itu akan sirna dengan sendirinya, karena sesuatu yang dipaksakan itu gak enak, tapi enek. Ia telah Manipulasi pembaharuan dan ketokohan lewat radikalisme modal dalam sastra Indonesia dan ini harus dihentikan demi menegakkan sejarah yang alamiah dan penghargaan pada kerja-kerja sastra sesungguhnya, integritas sesungguhnya.

DJA juga secara tidak langsung membuat para penyair bertengkar, kawan menjadi lawan,  teman antar komunitas sastra yang tadinya rukun menjadi pasea kaena beda pendapat.

Padahal Sastra itu ditugskan oleh Tuhan untuk membuat orang bahagia.  Atas alasan inilah para sastrawan, pengamat, dan aktivis sastra dan seni di tanah air menyatakan menolak dan mewaspadai segala upaya yang mengarah pada proyek penulisan puisi esai, dan melakukan perlawanan dan penolakan para sastrawan di berbagai daerah di Indonesia atas gerakan puisi esai.

Seruan serupa juga ditujukan kepada kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI agar bisa mencegah buku-buku gerakan puisi esai diselundupkan oleh kaum oportunis gerakan puisi esai menjadi salah satu buku/bahan ajar di sekolah-sekolah seluruh Indonesia, juga kepada institusi Badan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, juga Balai Bahasa di berbagai daerah di Indonesia untuk membersihkan orang-orangnya yang bekerja dan terlibat dalam manipulasi dan rekayasa gerakan puisi esai, terutama mereka yang bekerja sebagai penghubung atau calo transaksi.

Kepada siapapun yang peduli pada sejarah alamiah dan laku berintegritas dalam sastra Indonesia untuk terus merapatkan barisan perlawanan terhadap manipulasi yang bersumber dari radikalisme modal atau dalam bentuk apapun.

Di tangan DJA sastra itu poltik. Sementara poltiik selalu membuat orang tidak bahagia, kecuali politisi setelah mengalahkan politisi yang lain. Di tangan konsultan politik bernama Deny JA, sastra bisa jadi politik yang bisa menghancurkan. Tapi percayalah, kami sastrawan yang mengimani sastra, tidak akan hancur karena ulahmu, DJA.

Maka sebelum adzab Tuhan menyertaimu, bertobatlah wahai DJA dan antek ankenya.

Iklan