Cerpen : Matdon

TRIBUN 13 JANUARI 2019

Pohon mangga di ruang belakang rumah itu kerap memainkan musik mengikuti irama angin. Ditimpali suara kartu remi yang kami mainkan. Kami selalu main kartu remi atau Seven Scope, setelah seharian bertugas. Tugas kami berbeda-beda. Mukti-Mukti mengaransmen lagu baru atau lama, Wa Obay menghitung laba dagangannya, Kang Iman masak dan kadang nyanyi Smule, Sapei menunggu hasil pengumuman Pemilihan Umum karena ia mencalonkan diri menjadi Calon DPD RI Dapil Jawa Barat, sedangkan saya, nulis puisi, nengok facebook atau youtube.

IMG_20190213_194435_584

Kehangatan selalu terjadi setiap sore pukul 4, saat matahari cerah atau hujan. Disitulah  main kartu menjadi keasyikan tersendiri buat kami, hingga larut malam, kalau bulan puasa kami main kartu setelah tarweh dan tadarus Quran  dan berakhir menjelang sahur. Begitulah keakraban itu kami jalin dalam hitungan kartu sampai min 500, dan diantara permainan harus ada RT sampai Lurah bagi orang yang kebagian ngocok kartu hingga penghabisan permainan.

 

Kami istirahat hanya untuk Sholat, makan atau nonton  pertandingan Sepakbola. Tawa kami berhamburan diantara reranting pohon mangga, hujan dan angin. Mungkin mereka juga ikut tertawa dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Jeda panjang kami isi denga konser musik, baca puisi dan pameran lukisan. Oh ya, diantara kami ada juga yang namanya Edos Sulaeman, ia tidak jelas mata pencahariannya, pekerjaannya sebagai pelukis tidak jelas juga, sehingga kami tidak pernah melibatkan ia untuk asyik main kartu, karena selain belikan juga main kartu tidak ada tawanya.

Bermain kartu remi empat orang, satu diantara kami hanya sebagai tuyul yang bertugas mengawasi dan menulis angka-angka. Alek dan Anti, dua orang penghuni rumah itu kadang membuatkan kami kopi, bala bala dan martabak, sementara penghuni lainnya bernama Wahab lebih senang mengeram diri di kamar, ia lebih konsentrasi pada perenungan akhir zaman.

“Negara ini sudah tidak jelas, semua peraturan dibuat untuk kepentingan kelompok,” ujar Mukti seraya melempar kartu As sebagai penutup.

“Aah..yang penting mah kita cari makan sendiri yang halal, sudah jangan mikiran negara, Lieur” ujar Kang Iman, sambil ngocok kartu kaena a terkena hukuman sebagai RT. Sebuah jabatan penting dalam permainan kartu.

“Saya mah selalu ingat ke si Malik, yang dituduh melakukan Pencurian korek api oleh si Timbul, itu kan hukum yang semena mena, lagi pula belum tentu ia bersalah” timpal Sapei.

Obrolan kami memang kadang tidak nyambung, kadang soal politik, kadang soal ekonomi, sosial dan kebudayaan, ngobrol musik, sastra dan lagu dangdut. Dari HP milik Alek terdengar lagu dangdut menyayat hati; kalau hanya untuk mengejar laki-laki lain, untuk apa sih benang biru kau sulam menjadi kelambu…”

“Nah lagu ini sastra  dangdut, karena syairnya bagus”kata saya.

Tiba-tiba secangkir kopi tumpah, entah siapa yang menumpahkan, saking asyiknya mereka main kartu hingga tak ada yang mengetahuinya. Air kopi tumpah diatas kartu-kartu yang berserakan di atas meja.

“kamu ya, yang menumpahkan kopi” tuduh Mukti pada kang Iman

“Tuh….Si Uwa, mentang-mentang punya banyak uang, teganya menumpahkan kopi’” jawab Kang Iman

“Enak aja, saya nggak, mungkin Pei..” kata Wa Obay

“Naha nyalahkeun saya, kan saya lagi nulis nih..” sanggah Sapei

Mereka berempat bertengkar, tak mau disalahkan, permainan kartu jadi kacau, tawa riang berubah menjadi tegang. Semua saling menuding dan tak mau disalahkan.

“Sudah, sekarang kita ke Pengurus RW  saja, biar diselesaikan, nanti ketahuan siapa yang bersalah dan menumpahkan kopi” saya usul. Semua setuju.

Berlima kami pergi ka kantor RW di Bojongkacor Kabupaten Bandung. Sesampai disana, sellain ketua RW ada juga Hansip Gugun.Lalu kami ceritakan awal mula kejadiannya.

“Begitu Pak, diantara mereka berempat tidak merasa menumpahkan kopi, kira-kira siapa yang menumpahkan kopi dan yang bertanggungjawab, karena kita semua sedang gembira bersama, berubah menjadi saling menyalahkan, ini jangan jangan ada orang yang mau merusak kebahagian kami” tanya saya.

“Ini pasti ada kekuatan Pro Jokowi atau Prabowo, hati-hati kalian sedang diadu domba,” Hansip Gugun menimpali. Sementara Pak Rw masih terdiam berpikir. Kami saling memadang, seolah olah mengiyakan apa yang dikatakan Hansip Gugun.

“Jangan-jangan betul kata Hansip itu” kata Mukti

“iya ya…wadduh kita diadu domba” timpal Kang Iman

“Betul kita harus waspada” Wa Obay berguman

“Kalau begitu kita kembali ke rumah, beli lagi kartu, kita dami saja, dan teruskan main kartu” kata Sapei.

“Begini, saya tidak bisa memutuskan persoalan ini,  bagaimana kalau kita ke kantor kelurahan, kita bereskan disana” kata Pa RW

“Ga usah Pak…gak jadi kita melapor, lagian ini sudah jam delapan malam,” kata Sapei.

“Tidak bisa, ini harus dselesaikan secara hukum, kalian tidak boleh diam saja, ini bahaya. Karena kejadian ini bisa saja menimpa warga yang lain, disini juga hansip suka gapleh, nah barankali terjadi disini” ujar Pak Rw.

Kami pun akhirnya ka kantor lurah, Pa Lurah kebetulan sudah ada disana setelah ditelpon oleh Pak RW. Disana ada juga sekitar 40 orang dengan wajah resah dan marah.

“Begini Pak, disini juga ada kasus yang sama, mereka ada 10 pasangan main kartu gapleh dan remi, dan kopi mereka tumpah, entah siapa yang melakukan, mereka mencoba mau mebereskan masalah ini disini, sebelum sampai ke kepolisian.” Panjang lebar Pak Lurah menerangkan.

“Gimana nih Pa Lurah, kami ingin cepat seelsai, kami ingin main kartu lagi” teriak salah seorang dari mereka.

“Iya, Pak Lurah harus bisa membereskan masalah ini, uma mencari pelakunya kok susah” teriak yang lainnya.

“Usut tuntas pelaku penumpah kopi” yang lain menimpali

“Usut tuntas!usut tuntas!” teriak mereka sama sama.

Kantor Lurah menjadi riuh, hampir tengah malam persoalan ini belum tuntas. Pak Lurah belum bisa memastikan siapa sebenarnya yang menumpahkan kopi. Ada sepuluh kasus yang sama, sebelas dengan persoalan kami. Tapi tak satupun bisa ditentukan siapa pelakunya, warga terus mendesak. Pak Lurah, Pak Rw dan Hansip Gugun belum bisa memutuskan.

Diam-diam kami beringsut dari situ, kembali ke rumah.

“Ayoo kita teruskan main kartu, masih ada kartu baru” kata Sapei

Sapei, Mukti, Wa Obay dan Kang Iman kembali bermain kartu. Saya menjadi tuyulnya, Alek dan Anty membuakan kopi lagi yang baru.

Pohon mangga kembali memainkan musik mengikuti irama angin. Kartu-kartu kembali kami mainkan. Kami selalu main kartu remi atau Seven Scope, setelah seharian bertugas. Tugas kami berbeda beda. Mukti-Mukti mengransmen lagu baru atau lama, Wa Obay menghitung laba dagangannya Kang Iman masak dan kadang nyanyi Smule, Sapei menunggu hasil pengumuman Pilpres karena ia mencalonkan diri menjadi Calon DPD RI Dapil Jawa Barat, sedangkan saya, nulis puisi, nengok facebook atau youtube.

Tiba-tiba seangkir kopi tumpah lagi dan membasahi kartu, kami saling memandang lama, lalu tertawa terbahak bahak..

 

Bandung Oktober 2018