Matdon – Rois ‘Am Majleis Sastra Bandung

PATROMAKS Sabtu 24 pebrurai 2018

 

Heboh, peristiwa “orang gila” meyerang ulama dalam waktu cepat dan menjadi viral. Ini serupa teror  terencana dan terstruktur.  Lihat rangkaian peristiwa dibawah ini:

  1. Tgl 27 Januari 2018, Pemukulan Ust. KH. Umar Basri’ Cicalengka oleh orang gila berpakaian rapi.
  2. Tgl 30 Januari 2018, Penembakan mantan Deputi Operasi Basarnas Mayjen [Purn] TNI Tatang Zaenudin di Jl. Bukit Pasir No. 49 RT 001/RW 012 Depok oleh org gila tak dikenal.
  3. Tgl 1 Februari 2018, Penganiayaan Ustadz Prawoto Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam [Persis] Cigondewah,Bdg.hingga meninggal, oleh orang gila berpakaian rapi partai anu.
  4. Tgl.3 Februari 2018, santri pondok pesantren Al-Futuhat Garut, berinisial Abd alias Uloh diserang oleh 6 orang gila tak dikenal menggunakan senjata tajam.
  5. Tgl 4 Februari 2018, Seorang pemuda yang bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal 1 Kota Bandung, mengacung-acungkan pisau seraya berteriak-teriak ‘ustadz bukan?! Ustadz bukan?!’
  6. Tgl 5 Februari 2018,seorang perempuan mondar mandir selama dua hari di sekitar pondok, setelah di interogasi, didapati sajam dan sebilah plat besi di dalam tas. Sasarannya adalah pondok pesantren FajruIslam di daerah Sentul City Bogor.
  7. Tanggal 8 Februari 2018, Ulama Bogor, Ust. Sulaiman di bacok orang gila di desa Cigudeg.

Dan sejumlah peristiwa serupa yang mungkin luput dari pantauan media. Mengingatkan pada peristiwa ‘Ninja Banyuwangi’ 1998. Dimana waktu itu ada 115 korban jiwa yang tersebar di 20 kecamatan. Sedangkan versi TPF Nahdatul Ulama korban meninggal dunia lebih banyak, 147 jiwa.

Benarkah pelaku orang gila?. Terlalu cepat jika para pelaku disebut orang gila, seperti apa yang disampaikan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Danardi Sosrosumihardjo, sebab  penyebutan orang gila pada para pelaku penganiayaan ulama dan perusakan masjid itu perlu melalui pembuktian medis atau melalui diagnosis dokter. Prosesnya panjang.

Menurut Dia, tidak semua gangguan jiwa itu melakukan kegiatan sehari-hari dengan tidak disadari ada penyandang gangguan jiwa yang bisa melakukan kegiatan sehari-hari dan bisa bertanggung jawab atas perbuatannya. Karena itu, lanjutnya, tidak semua diagnosis gangguan jiwa dapat dianggap tidak cakap hukum.

“Entah itu masyarakat yang terlau cepat membuat diagnosis sendiri ataukah polisi yang juga terlalu cepat memublikasikan pelaku mengalami gangguan jiwa, Itu rasanya perlu dikoreksi menurut saya,” kata Danardi.

Sementara itu para Ulama perwakilan Pondok Pesantren se-Priangan Timur menduga adanya rekayasa kasus serangan orang berstatus gila pada ulama. Orang-orang gila yang menyerang ulama itu, sudah dibuat tidak waras lebih dulu menggunakan obat tertentu.

Artinya, kalau ada orang gila berkeliaran maka pemerintah bekewajiban menanganinya, mereka bisa dikumpulkan dalam suatu panti dan dibina supaya tidak meresahkan masyarakat. Dan masyrakat juga tidak harus main hakim sendiri.

Di lain pihak, kita juga harus memahai apa yang disampaikan Pengamat Intelijen dan Pertahanan, Jaka Setiawan, fenomena ini memilki pola. Pelaku dibalik penyerangan ini adalah Intelijen yang memiliki kemampuan menggerakkan orang-orang tertentu untuk melakukan operasi terhadap target yang sensitif.

Lembaga atau organisasi yang punya infrastruktur menggerakkan orang-orang khusus untuk melakukan operasi terhadap target yang sensitif, ya intelijen,” ungkapnya seperti disitir kiblat.net, pekan lalu. Perilaku tak bermoral ini dilakukan oleh lembaga tertentu, bukannya indvidu.

“Ketika terjadi penyerangan terhadap ulama di beberapa wilayah, saya langsung berpikir ada yang bermain tentu yang punya kapasitas untuk melakukan hal itu tidak mungkin, dan tidak mungkin juga dilakukan oleh individu, apalagi secara alamiah,” ungkapnya.

Namun demikian Jaka masih mempertanyakan, intelijen pihak manakah yang melakukan serangan terhadap ulama ini, apakah intelijen negara, atau oknum intelijen negara, atau mungkin saja intelijen asing. Karena  belakangan pun, intelijen Indonesia terbelah. Intelijen Negara seharusnya bertugas melakukan analisa ancaman terhadap negara. Artinya yang dihadapi adalah musuh negara bukan musuh politik.

Dan secara historis bisa dilihat, di sektor keamanan yang bisa melakukan hal serupa memanfaatkan orang-orang untuk melakukan tindak kejahatan, dari zaman dulu hingga sekarang, adalah intelijen. “Jadi saya lihat ada oknum intelijen yang gunakan infrastruktur intelijen untuk kepentingan mengalahkan musuh politiknya,” tukasnya.

Nyaris senada dengan itu, Pakar hukum Mahfud MD juga melihat ada kejanggalan kegilaan pelaku penyerangan terhadap kiai. Menurut Mahfud  tidak mungkin dia (orang gila) memukul memilih sasaran dan memilih waktu. Itu buatan.

“Bisa saja kelompok umat sendiri untuk membangun solidaritas bersama. Bisa. Bukan tidak bisa. Itu juga bagian langkah sistemik. Biar teman-teman kita marah menuduh yang lain itu sangat bisa,” kata Mahfud seraya menambahkan, kemungkinan lain adalah kelompok politik tertentu dan orang-orang yang memang anti terhadap kelompok agama tertentu. Mungkin juga intelijen asing karena proxy war, misalnya.

Tentu kita tidak mau terjadi peristiwa Madiun tahun 1948, sebagai contoh salah satu catatan kelam Bangsa Indonesia. Pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) 69 tahun silam. Sebuah peristiwa yang telah merenggut banyak nyawa ulama dan tokoh-tokoh pemerintahan. Tragedi yang tidak akan pernah tenggelam dari catatan sejarah Bangsa.Cag!

 

Iklan