MATDON DAN PUISI YANG TERSEDAK


if I read and it makes my whole body so cold no fire can ever warm me, I know that it is poetry. If I feel phisically as if the top of my head were taken off, I know that it is poetry
(Emily Dickinson)

Pemuka
Sebelum lebih lanjut membicarakan perbincangan kita mengenai diskusi ini, minta izin terlebih dahulu saya mau membahas nama yang tertera di judul makalah pendek ini. Mendengar nama Matdon, saya selalu ingat dengan nama-nama mafioso Italia atau Spanyol seperti Don Juan, Don Corleon, Don Bosco, dan sebagainya. ‘Don’ pada tradisi di atas bisa berarti ‘para penakluk’ (objeknya bisa kekuasan atau perempuan).
Namun berbeda dengan yang di Bandung, yakni Matdon. Memang ada kesamaan sedikit ketika kita mendengar bunyi puitik (poetic voice) dari nama-nama tersebut yaitu ‘don’. Jika di atas kata ‘Don’-nya di depan, yang ini ‘Don’-nya di belakang. Matdon yang saya kenal adalah nama seorang penyair sekaligus wartawan, juga penggiat sastra yang militan di Bandung. Nama Matdon jika dilihat dari sisi strukturnya merupakan gerak bahasa yang singkat dan padat; tidak ada pengulangan pun kepanjangannya.
Jika kita lihat pada titik profesi yang dilakoni oleh Matdon, sebagai seorang wartawan dan penyair ia memosisikan dirinya pada profesi yang dilakoni itu. Sebagai wartawan, Matdon selalu mewartakan setiap peristiwa yang terjadi di lingkungannya tentu dengan gaya pewartaan yang khas. Sementara pada sisi kepenyairannya (sebagaimana penyair pada umumnya) olah peristiwa yang dialami akan ditanam, dan dipanen setelah melakukan refleksi, renungan, kritikkan dari hasil pasca-tinjau atas apa yang sudah melingkupi ruang batinnya. Maka jadilah karya puisi.
Berkaitan dengan pemuka ini, kenapa saya membahas terlebih dahulu kedudukan Matdon pada profesinya? Hal ini yang menjadi titik temu saya ketika membaca puisi-puisi Matdon.

Tersedak Hingga Sekarat

Membaca kumpulan puisi ‘Sakarotul Cinta’ karya Matdon, bagi saya, adalah serangkaian kumpulan puisi yang membawa kita pada ruang realitas yang sesungguhnya. Terdiri dari 53 puisi yang ditulis hampir pada tahun 2000-an, namun terselip satu judul puisi ‘Untuk Negeriku’ (mungkin satu-satunya puisi yang paling purba dalam antologi ini) ditulis tahun 1985. ‘Sakarotun’ dalam bahasa Arab berasal dari kata sakara yang berarti penderitaan, mabuk, gula, dsb. ‘Sakarotun’ biasanya disandingkan dengan kata ‘maut’ menjadi sakaratul maut (detik-detik kematian), di sini Matdon menyandingkannya dengan kata ‘Cinta’, dari situ kita bisa melihat bahwa cinta sedang sekarat juga rupanya.
Jika dikategorikan puisi-puisi pada antologi ini, saya menyebutnya puisi berkelamin ‘sosial’ yang direkayasa dengan berbagai bentuk, namun tepatnya saya katakan puisi-puisinya menjadi pamflet yang hambar. Matdon tengah menyuguhkan tema-tema sosial yang beragam; tentang keadaan dunia sosial kita hari ini, memotret peristiwa yang terjadi di masa lampau, sekarang, juga memotret realitas ke depan. Kelamin sosial menjadi semacam identitas perjalanan kepenyairan Matdon. Di sini Matdon terus menerus bertawaf mengelilingi setiap sudut remang-remang realitas, yang memang ranah sosial merupakan ranah yang paling mudah untuk dijadikan objek dalam tema besar puisi kita hari ini karena biasanya yang terjadi, dari hasil sebuah karya puisi, kita hanya menemukan pemotretan dan pengkritikan terhadap objek yang ditawafinya itu. Dan biasanya dalam konteks ini, ruang ‘bahasa’ puisi terkadang kurang diperhatikan yang penting ekspresi pemotretannya tersampaikan.
Dalam puisi Matdon yang purba kita bisa melihat:

Lalu apalagi yang harus kuberikan kepadamu
Selain kental merah darahku?
Haruskah kuuntai lagi cerita umar bin khotob
Dalam rangkaian kata-kata yang lebih indah
Atau kususun lagi tulang belulang khalid bin walid?
Agar kau yakin
Bahwa aku mencintaimu?

(Untuk Negeriku, 1985)

Bagi saya, puisi ini adalah puisi pesimistis, ditulis dengan sangat sederhana. Matdon hanya menawarkan pelukisan suasana tentang negerinya, lalu memberikan ruang imajinatif tentang kisah umar dan khalid bin walid, untuk memberikan semacam penawaran nilai bahwa kisah-kisah itu bisa dijadikan rujukan untuk negeri ini. Sementara ruang bahasa tidak diolah dengan baik, saya sebagai pembaca tidak diajak bermain pada ruang bahasa yang spekulatif atau bahasa-bahasa baru. Di sini Matdon hanya mengandalkan pada permainan suasana. Dia sedang memotret negerinya dengan keluguan dan kepolosannya.
Pada puisi yang lain bisa dilihat juga:

Yanto murid kelas dua sekolah dasar
Menulis puisi, hobi sehari-hari
“aku punya guru cantik sekali, namanya bu susan
Di paha bu susan ada gambar bunga-bunga mawar
Gambar itu namanya tato.
Seluruh siswa sd di sekolahku menyukainya, karena ia tidak
galak, walapun suka memberi pr yang sulit,”
satu bait puisi di lembar buku yanto mengalir deras.

Jika membaca puisi ini kita bisa tertawa, Matdon mengolah puisi ini dengan gaya jenaka. Mengisahkan Yanto anak SD kelas 2 yang gemar menulis puisi. Pada suatu ketika Yanto menulis gurunya yang cantik dan mempunyai tato bunga di pahanya. Sebagaimana puisi di atas, puisi ini juga ditulis dengan sederhana pula, satir, prosaik dan bernada humor. Namun ada logika ‘peristiwa’ bahasa yang dipaksakan. Kita bayangkan saja siswa sd kelas 2 sudah mampu menulis sajak dengan nakal. Mengenali tato gurunya dengan baik dengan imajinasi yang cukup tinggi. Bahasa yang digunakan oleh Yanto, sudah memakai bahasa ‘dewasa’. “Ah dasar…Matdon!”
Puisi yang ketiga, mari kita lihat puisi andalannya, ‘sakarotul cinta’:

Jika gubernur tak memahami arti seni
Dan wakilnya hanya mengandalkan akting melulu
Itulah sakarotul cinta

Jika sby curhat terus menerus memanjakan jabatan
Dan menteri-menteri tak berarti
Itulah sakarotul cinta

………

Jika pedagang kaki lima digusur tanpa diberi solusi
Para pelacur dikejar tanpa dikasih makna
Anggota satpol pp nilep uang
Dan anggota dewan keluyuran di tempat hiburan
Itulah sakarotul cinta

Itulah sakarotul cinta

(sakarotul cinta, 2010)

Puisi pamflet saya menyebutnya untuk puisi ini. Peristiwa kumplit; memotret jejak kelam negeri ini. Dari sby, gubernur, anggota dewan, petani, pelacur, media, dan kaki lima diolah dan menjadi objek puisi dalam puisi ini. Ini mungkin yang dimaksud ‘sakaratun’ cinta bagi Matdon. Cinta sudah kehilangan energitasnya. Cinta yang seharusnya menjadi penyeimbang realitas ini sudah tidak bisa diandalkan lagi, sudah kehilangan makna besarnya. Saya setuju jika cinta adalah menjadi ruang sinergitas realitas yang menjadikan dunia ini ada pada posisi nyaman, toto tentram kerta raharjo. Sebagaima Rumi pernah bilang, hidup adalah sekolah cinta dan satu-satunya yang harus dipelajari dalam hidup adalah cinta.
Jika puisi ini ditarik pada wilayah kreatifnya, pilihan diksi yang dikembangkan Matdon tidak ada yang luar biasa, bahkan biasa saja. Namun terkadang membawa imajinatif ekspresif jika kita lihat pada struktur peristiwa yang dimainkan Matdon. Pembaca dibawa pada ruang remang-remang, lalu seolah-olah dipaksakan untuk berteriak menyikapi peristiwa itu. Itulah ciri khas pada puisi-puisi pamflet memang.
Dari beberapa pembacaan puisi yang sederhana di atas, saya melihat bahwa ada dualitas kepenulisan Matdon di sana. Peristiwa-peristiwa yang disajikan Matdon selalu berbentuk warta, sebagaimana dirinya seorang wartawan. Sebagai wartawan, tentu jika ada peristiwa-peristiwa yang menarik harus menjadi warta yang harus disampaikan secepatnya. Menjadi bagian headline news, dikejar deadline, ditulis apa adanya dengan gaya berita sebagaimana hasil pasca-tinjau yang dilihatnya. Karena Matdon adalah seorang penyair juga maka Matdon menulisnya dengan gaya puisi; berbait-bait, dan tentu penuh imajinatif.
Saya tidak mempersoalkan tentang dualitas profesinya tersebut, namun pada akhirnya kesan yang ditimbulkan dari puisi-puisi berkelamin sosial ini saya menemukan efek ketergesa-gesaan, tersedak, lalu yang terjadi efek puisinya menjadi biasa. Karena tergesa, karena tersedak, karena jatuh deadline, puisi menjadi kehilangan kekuatan bahasanya dan sebagai penyair fondasi bahasa ini tetap harus menjadi kekuatan sebagai energi dari puisi-puisinya.

Metafora Erotik

Jika di atas saya membaca lebih pada tematik sosial, yang sedang Anda baca sekarang saya melihatnya dari tema yang lain, ada tema besar juga yang dimiliki Matdon dalam antologi Sakarotul Cinta ini yaitu cinta. Dalam puisi-puisi cinta ini, Matdon terasa lebih sadar dengan bahasa, puisinya diolah dengan lumayan apik. Namun tetap dengan satu kekuatan fondasi bahasa, Matdon lebih memilih ruang erotika tubuh perempuan sebagai kekuatan metaforiknya. Metaforik itu diolah Matdon sebagaimana dirinya yang polos dan plontos, tubuh perempuan atau perangkat yang dipakai perempuan disajikan Matdon dengan vulgar.
Kita baca saja puisi yang berjudul “Serpih Malam”:

Fahamkah kau puisi yang kutulis di dua payu daramu:
Puisi cinta acep zamzam noor
Kupikir maknanya menembus jantungmu
Berdetak di putingnya yang coklat
Setarikan napas kau tinggalkan keringat

(2008)

Membaca puisi ini saya tiba-tiba berlabuh pada ruang 3×4 meter, ruangan itu bernama ruangan tato. Si aku tengah mentato payudara lawannya dengan bait puisi cinta Acep Zamzam Noor. Kenapa ruang tato? Pada kalimat, kupikir maknanya menembus jantungmu, saya membayangkan bahwa jarum yang sedang menulis bait puisi itu yang bisa menembus jantungnya. Tentu! jarum tato pasti harus bertemu kulit sebagai media gambarnya. Matdon di sini menggunakan sebagaimana yang saya katakan sebagai metaforik erotik, dia memilih diksi payudara, lalu puting. Meski saya terganggu dengan kalimat ke-4 dengan partikel ‘nya’, berdetak di putingnya yang coklat, seolah-olah disini ada tubuh yang lain ketika pada bait ke-1 dan ke-3 memakai partikel ‘mu’.
Pada puisi yang serupa bisa dilihat juga:

Pada keheningan tubuh selvy aku menemukan sajak bode
riswandi
dan aku membacanya berulang-ulang hingga lunglai
tanda cintaku berserakan di tengkuk, leher, dan payudara:
birahi memang tak perlu diksi

pada helai rambut Aisyah kudapati kelembutan sajak lainnya
kuhampiri dan kutelusuri, aku masuk ke hutan fikiran
dimana kau beli sampo semahal ini?, harum dan memabukkan
lamunan
sekali sibak rambutmu mengeluarkan ular berbisa, desisnya
menjelma sperma

ayo kita telusuri pelajaran sajak bukan pada pertemuan sastra
atau diskusi
ayo fahami pantat leni, ida, shinta, mia, susan dan bacalah
kepedihan mereka
bacalah busung dada tersumbat
saat mereka mencari alamat cinta yang sebenarnya
mereka butuh jemari kasih sayang, kejujuran dan kejernihan
metafora sajak sajak

ya, berabad abad lamanya pada setiap aroma perempuan
aku menemukan banyak napas penyair

(Pelajaran Sajak, 2011)

Sama halnya dengan “Serpih Malam”, metafora erotik cukup kental di sini. Ada selvy, aisyah, leni, ida, shinta, mia, susan, bode riswandi, pantat, rambut, dada, tengkuk, leher, sperma, birahi, dan penyair, menjadi andalan di puisi ini. Diolah dengan kekuatan paradoks yang kental, pelajaran sastra tidak mesti pada peristiwa formal namun hadir juga pada ruang tubuh perempuan.
Pilihan diksi tersebut cukup eksploratif dengan gaya ucap Matdon yang khas, menyindir ala penyair dengan tetap mempertahankan gaya tulisannya yang pamflet. Metafora erotik ini, lagi-lagi saya melihat Matdon sebagai wartawan, Matdon menulisnya cukup lengkap. Namun secara keseluruhan dalam antologi Sakarotul Cinta ini, metafora erotik yang dikembangkan Matdon tidak menjadi efek yang hot. Melainkan terkesan hanya pengulangan-pengulangan dari setiap puisi yang ditulisnya. Hanya beritanya saja yang berbeda.

Pemunah
Puisi tak ubahnya serangkaian bahasa yang harus diolah secara fasih oleh penyair untuk memberikan efek yang luwes baik dari fondasi bahasa maupun isi. Sebagaimana Iqbal (1985) menulis:

Jika kebenaran
Tak punya semangat berkobar
Itulah filsafat yang datar
Jika ia punya nyala api
Itulah puisi

Dengan demikian jelas sekali dengan apa yang dikatan Iqbal, bahwa puisi haruslah mengedepankan kebenaran dengan semangat kobaran karena puisi ketika ditulis harus jelas efek etika dan estetikanya. Puisi harus mempunyai tujuan, untuk apa ditulis? Tidak sekedar mengandalkan pemotretan yang dilakukan tukang potret keliling. Di samping puisi harus mempunyai nyala api, karena jika puisi ditulis dengan segala kesungguhan, kejujuran, dan keindahan maka ia akan memancarkan puisinya itu sendiri. Saya percaya, Matdon sudah melakukan itu, atau mungkin sudah melampaui itu…swear dekh!
Terakhir. Saya masih tetap setia duduk di kursi kerja. Membaca terus kumpulan puisi “Sakarotul Cinta”. Ada ruang yang berbatas dalam membaca. Dari setiap kaca yang kubaca hanya satu yang berbekas. Bibirmu Laut:

Aku ingin menciummu
Tiga kali sehari
Biar dahagaku sirna

Tapi bibirmu laut…

(2004)

Iklan

Indonesia Lahir Dari Puisi


 

Pikiran Rakyat Selasa 24 Oktober 2017

Ada peristiwa Hari Sumpah Pemuda di bulan Oktober, tepatnya pada 28 Oktober 1928.  Sebuah peristiwa heboh saat itu, dimana  para pemuda dari berbagai daerah berikrar dalam sebuah janji suci kebangsaan  yakni Sumpah Pemuda . Isinya tak lain sebuah pengakuan satu bangsa Indonesia, satu tanah air Indonesia, dan satu bahasa Indonesia. Sejarah kemudian bergulir, bulan Oktober menjadi Bulan Bahasa.

Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 lalu, adalah sebuah momentum kebangkitan Bangsa Indonesia yang saat itu belum merdeka. lagu Indonesia Raya menggema pada penutupan acara, lagu kebangsaan karya WR. Supratman itu untuk pertama kalinya seakan menjadi penyemangat para pemuda, dan pemerintah Belanda lengah, menyepelekan napas perjuangan rakyat Indonesia melalui bahasa.

Dengan semangat yang hebat, seorang pemuda (sastrawan) bernama Muhammad Yamin membuat coretan puisi atau semacam draft di secarik kertas, diberikan pada Soegondo Djojopoespito selaku pimpinan rapat. Lalu diedarkan dan direvisi, dan jleg, jadilah teks puisi “Sumpah Pemuda” yang terkenal itu. Maka Bulan Oktober menjadi bulan kelahiran bahasa persatuan. Soegondo membacakannya langsung.

Sejak saat itu, Sumpah Pemuda menjadi puisi yang heroik, ia ditulis oleh para pemuda dari berbagai daerah di tanah air. Puisi pendek itu membahana kemana -mana, dampaknya sangat luas untuk sebuah kesadaran penuh atas nama rakyat Indonesia. Jika Indonesia merdeka tahun 1945, maka sumpah pemuda adalah perjuangan nyata hingga Indonesia benar-benar merdeka.

Tak salah jika pada peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI) 4 Oktober 2017 di Jakarta didengungkan bahwa Indonesia dilahirkan oleh puisi pendek  berjudul Sumpah Pemuda. Sejak tahun 1928, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Tetapi akhir-akhir ini tidak semua rakyat Indonesia mengetahui bulan Oktober sebagai bulan bahasa. Atau mungkin mereka tahu tapi tidak peduli lagi dengan arti dan makna penting berbahasa karena memang sehari hari sudah bicara dengan bahasa, jadi buat apa bahasa diperbincangkan bahkan diperingati.

Apalagi di tengah hiruk pikuk persoalan bangsa mulai dari peristiwa politik, sosial, budaya serta ekonomi, yang mau tidak mau persoalan bahasa menjadi nomor sekian dari persoalan primer dan skunder bangsa.  Sehingga tak aneh kiranya jika kegiatan yang berkenaan dengan perkembangan bahasa dan sastra (khususnya) bisa dikatakan sepi. Semangat Sumpah Pemuda yang jelas-jelas menyatakan satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air lewat begitu saja.

 puisii

Menengok Bahasa Indonesia

Pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu –  bahasa penghubung antar suku di Nusantara (Ini terjadi pada  zaman Sriwijaya), juga digunakan sebagai bahasa dalam perniagaan. Hal ini bisa dilihat dari tulisan yang terdapat pada batu Nisan di Minye Tujoh, Aceh, lalu Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang pada tahun 683, sampai Prasati Karang Brahi Bangko, Merangi, Jambi, pada Tahun 688.

Bahasa Melayu selain sebagai bahasa perdagangan antar suku yang ada di Indonesia maupun pedagang dari luar indonesia, juga sebagai bahasa  resmi kerajaan, dan sudah sejak lama sudah berfungsi sebagai bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan sastra.

Bahasa melayu mudah diterima di Indonesia, serta mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia. Penyebaran bahasa melayu bersamaan dengan penyebaran Agama Islam di wilayah Nusantara.

Bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia karena bahasa melayu sudah merupakan lingua franca (bahasa pengantar/bahasa pergaulan) di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdangangan, sederhana, tidak mengenal bahasa kasar dan halus.

Pada perkembangan selanjutnya bahasa melayu dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang pada akhirnya disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Inilah yang kemudian dilirik oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda bahasa Melayu (Tinggi) dapat membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi, terjadi pada awal abad 19 dan terbentuklah “bahasa Indonesia” yang secara perlahan terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor. Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca, namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Bahasa ibu masih menggunakan bahasa daerah yang jumlahnya mencapai 360 bahasa.

Perkembangan selanjutnya bahasa Melayu di wilayah nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia.

Kita tak bisa lepas dari Budi Utomo, sebagai faktor yang mempengaruhi perkermbangan bahasa Indonesia. Budi Utomo (1908) merupakan organisasi nasional pertama berdiri, tempat berkumpulnya kaum terpelajar bangsa Indonesia, dengan sadar menuntut agar syarat-syarat untuk masuk ke sekolah Belanda diperingan,.

Kita tak bisa melupakan Sarekat Islam (1912), partai ini memang bergerak dibidang perdagangan, sosial dan politik tetapi bahsa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Lalu Balai Pustaka, pimpinan Dr. G.A.J. Hazueyang belakangan berubah menjadi balai pustaka, memberikan kesempatan kepada pengarang-pengarang bangsa Indonesia untuk menulis cerita ciptanya dalam bahasa melayu.

Terlalu panjang jika sejarah bahasa ini dirunut ke sejarah perkembangan Ejaan van Ophuijsen,  Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Ejaan Soewandi, sampai ejaan bahasa prokem dan terakhir bahasa alay. Yang jelas, bahasa Indonesia termasuk 10 besar bahasa di dunia setelah bahasa Cina, Inggris, Hindi, Spanyol, Rusia, Arab, Bengal, Portugal,dan Jepang.

Meskipun bahasa Indonesia sempat “dijejali” dengan bahasa prokem dan bahasa alay yang merajalela pada zamannya. Karena perkembangan teknologi dan globalisasi mempunyai pengaruh pada perkembangan kehidupan sehari-hari termasuk dalam pergaulan bahasa.  Perkembangan media sosial alias dunia maya  seperti Facebook dan Twitter tak bisa dipungkiri menjadi salahsatu penyebab lahirnya bahasa alay. Biarkan saja itu berkembang, tak usah dilarang, karena pada akhirnya mereka akan kembali menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya, justru perkembangan bahasa itu akan menjadi kamus besar pada suatu masa nanti.

Pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari, kaum remaja tidak mau terikat bahasa baku, mereka menilai bahasa alay yang dipergunakan sudah menjadi bahasa gaul, bahasa alay tercipta dengan sendirinya hasil dari “pencarian” dan “kegelisahan”.  Benar kata Remy Silado, bahasa Indonesia itu bukan bahasa yang  baik dan benar, tapi bahasa yang baik dan enak didengar.  Mungkin menurut mereka bahsa alay adalah bahasa yang enak untuk saat ini.

Dan suatu saat nanti, pasti mereka akan bangga menjadi bangsa Indonesia dan bangga pula menggunakan bahasa Indonesia.

 

 

Gambar

PUISI I SINAR HARAPAN 2014


Puisi ini dimuat Sabtu 26 April 2014

sajak sh fix
SAJAK AKHIR TAHUN
– rini –
1
lewat matamu
aku menghapal almanak
angka-angka berjejer

lewat matamu pula
angka-angka berguguran
seperti usia
2
hujan menikam jantungku
kau asyik mereguk air mata

air hujan mengigil ditikam angin
kau masyuk menebasnya
tahun demi tahun
hujan dan air mata
tak ada bedanya

3
kau bawa aku lari ke dalam hujan
mengajakku bercakap tentang cinta
dan aku menitip lumatan kecil di lehermu
“inilah lukaku, membiarkan aku jatuh cinta
pada penantian,” bisikmu

dadamu makin matang

4
helai hujan dan deras rambutmu
mengalirkan darah
memisau jantung dan menurih luka
“kita tak pernah faham, kapan kematian menjadi nikmat,” desahmu

PUISI


sumber Pikiran Rakyat, Minggu 9 Pebruari 2014

PURNAMA DI MUARA TEWEH

merebahkan masa lalu pada sinar rembulan
wajahmu hadir di moleknya sungai barito

aku kembali menghitung jarak ranjang kita
kau merajah tubuhku menjelma muara
aku bergegas mencari bibirmu
dan melumatnya dalam gigil

penderitaan dan bahagia sama saja

sungai ini mengalir di hatimu
tidak tergesa gesa agar tak kehilangan makna

agar tak kehilangan cahaya

menetes
menetes

muara teweh Kalteng 26 maret 2013

PUCUK KENANGAN

jalan terjal tujuh kilometer dari danau sipin
namamu diseret angin pucuk malam.

pada kelokan ke sekian kita sempat berhenti
sekedar reureuh dari hiruk pikuk sajak
dan saling mereguk sungai batanghari.
sungai sunyi, sesunyi seloko

senyummu menusuk jantung menikam pagi
lalu aku harus beringsut
setelah satu kecupan kau pagut

lambaian tangan tak cukup membeli kenangan
bisikmu

baiklah, besok kan kupinjam
pintu ajaib dora emon. kan kubawa engkau
menjauh dari muara jambi

jambi-bandung 2012/2013

KEHILANGAN SUARA BEDUG

aku kehilangan suara bedug subuh sampai isya
yang dulu tabuhanya memberi kehangatan menyaksikan kawan-kawan menjinjing safinah menuju tajug yang melintasi kolam kecil.

nampak lumut diseruput impun, akar pohon menjulur dibawahnya. gadis-gadis membasuh betis, keringat di leher yang bening, bunga yang jatuh dari tangkainya, angin yang membelai dan sholawat berserakan, lengket di kerongkongan

aku kehilangan suara bedug

bandung -2012

Puisi Karya Muhammad Irdiyanysah (Jambi)
SURAT KEPADA MATDON
Aku berkata pada puntung rokok,
Kapan aku akan berhembus seperti asapmu
Sedang gumanku tak berujung pada maut-maut juga
Dan kau telah jadi orang
Aku tidak
Seikitpun
2007
(Dimuat dlm Buku Bersama Gerimis)

Puisi Karya Rezky Darojatus Solihin
TENTANG SEORANG BAPAK DAN AKU
YANG MENASBIHKAN DIRI SEBAGAI SEPI
Untuk Kyai Matdon
“hidup akan berakhir tapi tidak dengan kehidupan”
Begitulah ucap seorang bapak
di sepanjang jalan
kesepian menyiksa tubuh malam
dan kesepian itu adalah dia
adalah aku
adalah subuh sebelum pagi datang
“rentangkanlah sayapmu”
Pesannya lewat sebuah lagu
Di dalam video
Aku
Dia
Juga ingatan yang telah berlalu
Menemukan potongan-potongan tubuh
Yang tercecer
Video berubah menjadi monumen
Menjadi saksi
Bahwa waktu adalah jarak antara hari ini dan kemarin.
Dan hari ini ada
Bukan untuk meniadakan hari kemarin
Tapi menjadi bagian tepatnya
###
di sebuah puisi
seorang bapak meneriakan nama-nama anaknya
diantara suara tongeret dan sepi
tapi sepi adalah dia
adalah aku
adalah subuh sebelum pagi datang
2012
Puisi Karya Arom Hidayat
KALAKAY GANITRI
:Kyai Matdon
saha nu wasa ngabadé?
Muntiris peuting urang nya dibaca
ngan ku simpé. Padahal boa
dina sela-sela
unggal wangkongan
hujan geus lantip ngalangkang. Nyelap
dina rindat maranéhna
bari anteng ngakat potrét jeung kotrétna
nu raket muntang kana témbok di rohang heureut.
Lir ngawawaas pulas anyar
ku kapaur. Sedeng seungit dayeuh
kalah nyeuitkeun peurih nu maneuh
jadi hariring nu lawas manting
meulit ringkang, satengahing liuh
langit peuting.

Tamansari, 2012
(dimuat di Manglé. No. 2423)

puisi-puisi Matdon

MABUK
mencarisenyummu
di segelasmargaretha;
tak kutemukan

2006
(daribukuMatdon “kepadapenyairanjing”/2008)

TUTUG ONCOM

pada setiap butir cikur yang kugerus di atas coet
kugerus pula namamu yang kerap meruang dalam aroma minyak goreng
bawang putih membaur menjadi mantera-mantera lazim
seperti do’a malaikat sebelum sujud atau ruku
lembar demi lembar daun surawung menggetarkan berjuta kasmaran
kusembunyikan kata kata cinta disana
agar kau merasakan ciuman dasyat;meski sepi dan agak ringkih
usai kufahami semua adonan asmara
kau masih saja terpaku di simpang keraguan
hingga harus kulumuri garam agar tubuhmu lembut
dan segera memeluk hasratku

lelah kubakar pula oncom di atas bara birahi mutmainnah
dengan segala kesabaran musa membakar berhala, berlari menjauhi fir’aun
disitu hanya tinggal namamu melesak ke langit
menembus jantung dan memporakporandakan impian
hidangan ini khusus untukmu
dan setelah lahap kau santap
kau boleh mencuci mulut di bibirku
akan kupungut remah-remah yang tersisa di lidahmu
yakinlah,,,bandung, sep 20 11

NASYID SEPI

kekasih,
tengoklah lukaku yang mengaliri pori pori darah
udara pengap siang hari memabukkan pikiran
sumpek dicumbu cahaya matahari
tulang belulangku berserakan linu dan sunyi
aku ditelikung sepi
kekasih
usapkan tangan lembutmu di keningku
biarkan aku memeluk (bayangmu) saja
karena hanya engkau yang mampu meredam amarahaku
pada setiap aroma pengkhianatan

bandung
sinar harapan, sabtu,9 oktober 2011

HUJAN

angin tertidur di daun mahoni, mendekap mimpi
tak ada burung atau suara jengkrik,tonggeret
sudah lama pergi
; sekarang musim hujan
tiba tiba pohon flamboyan mengerang dan
roboh. ranting ranting berlari menjauh,angin
makin mesra mendekap mahoni tua
yang terus menggigil dan ketakutan

pagi hari, mahoni sudah mati disamping flamboyan
;angin entah kemana pergi

Kebun Seni Bandung, 2011

PLATONIK

tuhan berserakan di facebook
dan orang-orang merayunya
dan orang-orang mencumbunya

bandung, 2010
(buku puisi SAKAROTUL CINTA)

TONGGERET

tonggeret masih nyaring terdengar
di senja belukar kota. tiba-tiba hujan
merebut makna dan geliknya ditikam
angin, musim makin tak menentu di
kotaku. matahari menggigil, kusam.

oh jhon, romyan, deri
kalian dimana?. aku kesepian menatap Friedrich Wilhelm Nietzsche
memikirkan bayangan masa depan dan
300 buku puisi yang juga menggigil, kusam.
tiga gelas kopi dan 7 batang rokok
tak mampu merapihkan napasku.
tonggeret berhenti bersuara, tinggal
genangan air dan daun mahoni berserakan
cepatlah kalian datang. sebelum malam tua.
bersemedilah di sini, di paraduan do,a
yang jarang kita lapalkan, setelah atau sebelum hujan
suatu hari nanti, kita adalah suara tonggeret
yang akan kerap terdengar, saat datang
atau pergi

bandung, 16 mei 2012

LUKA MALAM

orang-orang mereguk tawa di kafe dangdut
mencari alamat kebahagiaan di seteguk bir
kau meneguk cahaya malam.
seorang pria tua membaringkan botol vodka
pada tubuh penyanyi dangdut
kau membaringkan waktu di tumpukan luka dan serpihan malam
yang mengubur air matamu;
orang-orang berdo’a untuk hidup

kau berdo’a demi kematianmu sendiri

purwakarta, juli 2012
khazanah pikiran rakyat, minggu 9 september 2012