Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

PATROMAKS Rabu 14 Pebrauri 2018

 

Untuk sementara saya samakan saja arti tradisi dan budaya dalam hal hal tertentu. Tapi saya tidak mau menyebut korupsi sebagai tradisi atau budaya tanah air sebab korupsi itu perbuatan keji dan kejam.

Dalam tatanan masyarakat,  tradisi dan budaya memiliki arti yang berlainan, misalnya ada yang menyebut bahwa tradisi adalah kebiasaan yang turun temurun dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, sedangkan budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya diartikan sebagai seperangkat norma, nilai, kepercayaan, adat-istiadat, aturan dan juga kode. Diperkuat oleh makna Ki Hajar Dewantara yang menyebut budaya merupakan hasil perjuangan masyarakat terhadap zaman dan alam.

Kita memang sering menemukan tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat dalam waktu bersamaan

Di dalam budaya,  pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan hidup yang dasar, insting, perasaan, dengan pikiran, kemauan dan fantasi.  Nah, budaya yang diwariskan secara turun-temurun itu tadi sebagian  menjadi sebuah tradisi.

Jadi, tradisi bisa berarti perlambangan dari budaya itu sendiri, contohnya : budaya lebaran pada saat idul fitri, lalu pada hari itu terdapat tradisi sungkeman dan silaturahhmi ke sanak saudara.  Jadi, disini tradisi menjadi identitas dari suatu budaya. Atas  pesepsi itu saya ingin sementara menyemakan tradisi dan budaya dalam hal-hal tertentu

Tradisi sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah  adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan  yang paling baik dan benar.

Indonesia kaya sekali dengan aneka budaya, yang setiap daerah di indonesia memiliki berbagai macam budaya dan tradisi. Tradisi Ritual Tiwah di Kalimantan Tengah misalnya, merupakan upacara yang dilakukan untuk orang yang sudah lama meninggal.  Ritual ini bertujuan untuk meluruskan perjalanan arwah menuju Lewu Tatau atau surga.

Di Banyuwangi ada tradisi Kebo-keboan. Merupakan tradisi setiap tanggal 10 Suro atau 10 Muharam di desa Alasmalang, Singojuruh, Banyuwangi. Ini budaya agraris khususnya siklus tanam padi. Sejumlah laki laki berdandan menjadi kerbau mereka harus berkubang di tengah kubangan sawah yang baru dibajak, kemudian diarak keliling desa, disertai karnaval kesenian rakyat. Kemudian mereka juga beraksi membajak sawah.

Sementara di Toraja, ada tradisi Mapasilaga Tedong atau bisa dsiebut adu kerbau. Sebelum diadu sejumlah kerbau dibariskan di lokasi upacara lalu diarak diiringi musik pengiring tradisional yang berasal dari sejumlah wanita yang menumbuk padi pada lesung secara bergantian.

Di tanah Toraja juga ada tradisi  Rambu Soloyaitu atau upacara dukaa kematian. Bagi keluarga yang ditinggal wajib membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi.

Dan di beberapa daerah di tanah air kita mengenal tradisi yang membudaya seperti Pasola di Sumba (memohon restu para dewa agar panen tahun tersebut berhasil dengan baik),  Dugderan di Semarang (pacara yang menandai bahwa bulan puasa telah datang), ini semacam munggahan di Jawa barat.

Tradisi yang berkembang ada juga Tabuik, perayaan lokal dalam rangka memperingati Asyura di Pariaman. Makepung di Bali (semacam karapan sapi tapi memakai kerbau). Debus di Banten (Kesenian kebal senjata tajam). Dan banyak lagi tradisi dan budaya yang ada di tanah air, Ngaben (Bali) Pasola (Nusa Tenggara Timur), Numis (Jawa Barat).

Indonesia yang kita cintai ini, memiliki sumber daya alam yang sangat kaya raya, 564 bahasa daerah, 1.340 suku bangsa Indonesia. Dan berapa ribu lagi budaya dan tradisi yang berkembang dan sudah mati.

Sebagai orang beragama, kita harus menyikapi tradisi dan budaya ini secara arif dan bijaksana. Agama membiarkan beberapa adat kebiasaan manusia yang tidak bertentangan dengan syariat dan adab-adab Agama. Rasulullah SAW tidak menghapus seluruh adat dan budaya masyarakat Arab yang ada sebelum datangnya Islam. Akan tetapi Rasulullah melarang budaya-budaya yang mengandung unsur syirik, seperti pemujaan terhadap leluhur dan nenek moyang, dan budaya-budaya yang bertentangan dengan adab-adab Islami.

Kita- sekali lagi harus bijaksana menyikapi budaya itu berkembag, tentu juga harus menghargainya bagaimana tradisi Numpeng berkembang,  Peusijeuk atau upah-upah di Aceh, Sungkeman, Upacara Siraman, Pecah Kendi, Ngerik, Gendhongan. Dodol Dhawet, Temu Panggih, Upacara Midodaren, nyawer, seserahan, dan lai lain. (BERSAMBUNG)

 

 

Iklan