//
TENTANG PENULIS

BIODATA MATDON

Matdon adalah Penyair/penulis/wartawan. Tinggal di Bandung.

ada tambahan Kyaai di depan namanya di FB, menjadi Kyai Matdon.

Buku kumpulan puisinya yang telah terbit antara lain : Persetubuhan Bathin (bersama penyair Dedy Koral), Garis Langit (2002), Mailbox (2004), Kepada Penyair Anjing (2008), Benterang (2009, bersama Atasi Amin dan Anton D Sumartana) dan Sakarotul Cinta dan Buku kumpulan esai Birahi Budaya.

Puisinya juga terdapat di buku antologi bersama “Maha Duka Aceh”, “Di Atas Viaduct”, “JILFEST” Jakarta, Temu Sastrawan Indonesia di Ternate, Pertemuan Penyair Nusantara di Jambi.

attachment

Puisi dan tulisan budayanya dimuat di Pikran Rakyat, Sinar Harapan, Kompas, Galamedia, Bandung Post, Balipost, Seputar Indonesia, Tribun Jabar, Radar Bandung, The Jakarta Post dll.

Sejak tahun 2009 hingga kini menjadi Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung, sebuah komunitas sastra yang dia dirikan bersama rekan rekannya.

PILGUB JABAR LAUTAN SELEBRITIS
http://maklumat-independen.com/article/851-bagaimana-nu-menentukan-awal-ramadan-dan-syawal.html

Bandung,Calon Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat yang diramaikan dengan munculnya nama-nama dari dunia keartisan seperti Dede Yusuf, Rieke Dyah Pitaloka dan Deddy Mizwar mendapat perhatian besar dari BPP IMA AMS (Badan Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa Angkatan Muda Siliwangi) dengan diselenggarakannya diskusi di Gedung Indonesia Menggugat Jl. Perintis Kemerdekaan No. 5 Bandung (22/11). Dengan mengambil tema diskusi “ Fenomena Artis Dalam PILKADA Jawa Barat 2013, Kemunduran Atau Kemajuan?”.
Diskusi ini menghadirkan 3 narasumber, yaitu : Khalid Zabidi S, sn. M.sn selaku Peneliti dari Universitas Paramadina, Matdon selaku Rois, Am Majelis Sastra Bandung dan Karel Harto Susetyo seorang Analis Politik Point Indonesia/Peneliti UI.
Menurut Karel Harto Susetyo, Analis Politik Point Indonesia/Peneliti UI mengatakan bahwa banyak artis yang mengandalkan kepopuleran sebagai modal pertama dalam melangkah ke penggung politik. Ada 4 faktor yang menyebabkan artis memilih jalur politik, yaitu : (1) popularitas, ditimbulkan dari dunia TV yang begitu hebat dibandingkan dunia baca, (2) menjamurnya budaya POP, (3) masyarakat sangat haus akan figur simbolik pahlawan yang dicerminkan artis lewat peran-perannya dalam TV, dan (4) media TV sangat dominan, citra politisi profesional rusak karena korupsi, skandal dan lain-lain yang ditayangkan oleh TV.
“Buruknya kinerja Parpol menyebabkan masyarakat enggan berinteraksi dengan dunia politik dan menyulitkan Parpol melakukan kaderisasi, sehingga Parpol melakukan rekrutmen instan dari kalangan artis. Parpol merekrut orang-orang populer untuk menunjangnya pada saat pemilihan nanti”, ungkapnya.
Khalid Zabidi S, sn. M.sn, Peneliti dari Universitas Paramadina mengatakan bahwa pragmatisme politik di Indonesia menetapkan calon kandidat yang mendapatkan suara terbanyak berhak mendapatkan posisi, maka banyak artis dengan popularitasnya mencalonkan dirinya dan mendapatkan sambutan hangat di masyarakat, berbeda dengan aktivis yang tidak terkenal.
Khalid menambahkan bahwa pertempuran di Jawa Barat terjadi antara politik citra artis dengan mesin politik asli. Siapa yang mampu menjawab permasalahan Jawa Barat dan mampu menggerakan mesin politik dan masyarakat itu yang bisa memenangkan Pilkada Jawa Barat.
“Jangan mau secara murah suara kita diperdagangkan. Pemilih punya hak pilih, kita adalah subjek terpenting perubahan momentum Jawa Barat bukan calon kandidat”, tegasnya.
Sedangkan menurut Matdon, Rois, Am Majelis Sastra Bandung mengungkapkan bahwa ‘keberhasilan’ Dede Yusuf menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat membuat banyak artis-artis lain bermunculan dan ‘menikah’ dengan partai politik. Kehadiran Deddy Mizwar dan Rieke Dyah Pitaloka dalam kancah politik Jawa Barat menjadikan ‘Pilgub Jawa Barat Lautan Selebritis’.
Matdon menambahkan bahwa jual tampang dan popularitas belum tentu membuat rakyat senang, memang siapa pun warga negara berhak untuk terjun dalam dunia politik. Namun biasanya artis yang memasuki wilayah politik biasanya mereka yang sudah mencapai puncak popularitas dan ingin tetap eksis setelah masa keemasannya berakhir.
“Mengaktualisasikan diri dan menjadi politikus itu perlu berpuluh-puluh tahun, perlu berdarah-darah dan perlu pengorbanan yang tinggi, tidak ujug-ujug bim salabim abracadabra mampu merealisasikan janji pada rakyat, politikus saja sangat sukar untuk membuktikan itu”, tegasnya.(Novie/MaI)

PERANG BUBAT” KURANG PAS DIBUAT FILM

http://www.antarajabar.com/print/19609/perang-bubat-kurang-pas-dibuat-film

Bandung, 16/12 (ANTARA) – Sejarah “Perang Bubat” yang menggambarkan konflik Kerajaan Padjadjaran dengan Majapahit kurang pas bila difilmkan karena dapat memunculkan luka lama sejarah masa lalu, kata penyair Matdon di Bandung, Rabu.

“Perang bubat biarkan hanya dalam bentuk karya sastra yang nyata. Sejarah yang bisa menguras emosi kedua etnis di Jawa itu lebih cocok dituliskan dalan karya sastra saja,” kata Matdon yang juga Rois Am Penyair Bandung itu.

Menurut Matdon, sejarah Perang Bubat merupakan sejarah dan nyata dalam kehidupan masa lalu di Tanah Jawa itu. Padjadjaran mewakili kawasan Pasundan (Jawa Barat) sedangkan Majapahit mewakili Jatim di masa lalu.

Perang Bubat, menurut Matdon sangat membekas khususnya bagi warga Pasundan terkait insiden peperangan dengan Majapahit itu.

Menurut Matdon, sejarah itu tidak bisa diubah dalam skenario apapun. Bila konsepnya digeser sehingga lebih kompromi, hal itu akan menjadi pengingkaran dari sejarah dan justru makna Perang Bubat bisa terkaburkan.

“Bila difilmkan, maka sejarah yang mengganjal hubungan kedua budaya di Jawa ini akan terbuka secara vulgar, lain halnya dengan ditulis dalam bentuk karya sastra. Sejarah tetap terdokumentasikan namun tidak akan mengungkap luka lama sejarah itu.” kata Matdon.

Karya sastra hanya dibaca oleh kalangan tertentu yang dipastikan memiliki pemahaman dan mampu mencerna pesan secara proporsional, sedangkan bila difilmkan pesannya akan dicerna vulgar dengan pemahaman yang bervariatif,” katanya.

Hal itu, kata Matdon akan memunculkan pemahaman beragam dari masyarakat yang dikuatirkan berdampak negatif dan tergiring oleh sejarah masa lalu yang kurang berkenan bagi masyarakat Pasundan.

“Mungkin ada pula hal positif dari film itu nantinya, namun perlu ada pengkajian yang mendalam karena menyangkut film Perang Bubat ini tidak sekedar produksi dengan konsep sekenario semata namun melibatkan sejarah masa lalu kedua daerah,” kata Matdon.

Ia menyebutkan, dari sisi produksi atau penganggaran tidak akan menjadi masalah. Namun yang harus dipertimbangkan adalah kajian yang mendalam terkait rencana, konsep serta materi di film itu.

“Lain halnya dengan film-film yang menceritakan kerajaan di jaman Majapahit yang sudah banyak diproduksi saat ini, itu tak ada masalah karena fiktif. Namun Perang Bubat adalah nyata, tidak bisa diubah jalan ceritanya. Konsepnya perlu jelas dulu,” kata penyair yang telah menulis empat buku kumpulan puisi itu.

Sementara itu rencana pembuatan Film “Perang Bubat” akan dikerjasamakan antara Pemprov Jabar dengan Jatim. Bahkan Pemprov Jabar telah mengajukan anggaran Rp6 miliar untuk alokasi pembuatan film kerjasama antar provinsi itu pada RAPBD 2010 Jawa Barat.

Namun rencana dan pos pembiayaan itu dipertanyakan oleh Fraksi PDIP yang meminta pengkajian ulang dari rencana penbuatan film babad itu. Fraksi itu meminta Pemprov Jabar menjelaskan dan melakukan pengkajian terkait materi film tersebut.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Barat H Dede Yusuf menyebutkan, rencana pembuatan film tersebut sudah dibicarakan dengan berbagai fihak termasuk dengan sejarawan.

Bahkan Dede sudah melakukan pembicaraan langsung dengan Pemprov Jatim terkait produksi film daerah itu yang disebut-sebut akan menghabiskan dana sebesar Rp10 miliar itu.
“Pembuatan film Perang Bubat ini selaras dengan masukan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang menganjurkan daerah ikut berperan dalam menggali potensi dari film bertema kedaerahan,” kata Dede Yusuf.

Selain melibatkan pemerintah kedua provinsi itu, kata Dede pembuatan film Perang Bubat juga akan melibatkan fihak swasta.3

Syarif Abdullah
(T.S033/B/J006/B/J006) 16-12-2009 13:56:04
PARAHYANGAN DIPERTAHANKAN
Minggu, 18 April 2010 19:51 WIB
http://www.antarajabar.com/berita/22783/sejumlah-warga-bandung-mengharapkan-ka-parahyangan-dipertahankan

http://beritaseni.wordpress.com/2007/09/20/mengutuk-tuk-menggertak-tak/

Sastra dan Semangat Keberagaman

Oleh : Frans Ekodhanto

Koran Jakarta 11 Desember 2011


Kicau burung gelisah, hujan pecah
Musim tak menentu memang.
Sunyi apakah gerangan yang menghampar di relung sepi
Tiap kali air mata mengalir di banjir Dayeuhkolot

Demikianlah sebait puisi yang dibacakan pria berkepala plontos itu dengan penuh percaya diri. Penyair bernama Matdon asal Bandung, Jawa Barat, itu menjadi salah satu penampil dalam kegiatan panggung apresiasi budaya yang digelar di Galeri Nasional, Kamis (8/12). Selain Matdon, ada beberapa penyair, baik dalam maupun luar negeri, yang turut membacakan puisinya.

Kegiatan itu merupakan bagian dari acara Jakarta International Literary Festival 2011 (Jilfest). Mereka yang ambil bagian dalam acara itu antara lain Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta), Sihar Ramses Simatupang (Jakarta), Chavcay Syaefullah (Banten), Anwar Putra Bayu (Palembang), Warih Wisatsana (Bali), Bode Riswandi (Tasikmalaya), Faisal Syahreza (Bandung), Mohamad Khairol Nazwan bin Karim (Brunei Darussalam), dan Werner Schulce (Austria).

Selain panggung pertunjukan puisi, berlangsung seminar yang mengangkat topik “Sastra dalam Semangat Persaudaraan dan Multikulturalisme”. Seminar itu menghadirkan pembicara yang ahli dalam bidangnya, seperti John McGlinn (Amerika Serikat), Dr Tommy Cristommy (Indonesia), Dr Nick Abdul Rakib bin Nick Hasan (Thailand), dan Prof Zefri Arif (Brunei Darussalam).

Dalam topik yang berbeda, yaitu “Sastra sebagai Jembatan Perjumpaan Budaya Antar Bangsa”, hadir sebagai pembicara antara lain Prof Dr Abdul Hadi WM (Indonesia), Bertold Damshauser (Jerman), serta Eka Budianta (Indonesia).
John McGlinn, pengamat sastra dan budaya Indonesia asal Amerika Serikat, dalam penjelasannya mengungkapkan banyak karya sastra, legenda, komik, dan buku-buku cerita, seperti Ken Arok, yang luar biasa dan dapat diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa asing lain sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat dunia. “Dalam artian sastra harus ditulis dengan baik dan dinyatakan dengan tepat agar pandangan orang luar negeri tentang Indonesia menjadi jelas,” ujar dia.

Pria yang sudah puluhan tahun tinggal di Indonesia itu prihatin dengan masih adanya pandangan orang asing yang keliru tentang Indonesia. Menurut dia, hal itu disebabkan kurangnya informasi keluar tentang negeri ini sehingga pandangan orang asing menjadi bias.

Pada topik “Sastra sebagai Jembatan Perjumpaan Budaya Antar Bangsa”, Berthold Damshauser dari Universitas Bonn, Jerman, dalam makalahnya, menyampaikan bahwa Jakarta adalah contoh kota multikultural yang berhasil. Jakarta merupakan cermin sebuah miniatur Indonesia. “Jakarta dan daerah-daerah lainnya di Indonesia masih berhak digambarkan sebagai tempat yang toleran dan menghormati keberagaman. Andai tidak, pasti sudah hancur,” ujar dia.

Dalam ceramahnya, Damshauser juga menyampaikan bahwa penyebaran sastra Indonesia, terutama sastra Indonesia modern, sangatlah penting dalam rangka penyebaran budaya Indonesia di luar negeri. Melalui terjemahan dan publikasi karya sastra Indonesia modern, akan dapat dibuktikan bahwa Indonesia sudah sampai pada tingkat keberaksaraan modern. Ini penting untuk menghapuskan pandangan klise yang merugikan bahwa selama ini budaya Indonesia dianggap kuno atau primitif alias pramodern.

Upaya-upaya penerjemahan serta publikasi itu, lanjut Damshauser, tentu harus berfokus pada bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Selain itu, karya sastra Indonesia modern perlu diterjemahkan ke bahasa-bahasa asing lainnya. “Pemerintah jangan menunggu sampai ada yayasan yang menerjemahkan atau memublikasikannya. Harus proaktif. Kalau menunggu terus, kedudukan sastra Indonesia modern di dunia internasional tidak akan banyak berubah,” tutur Damshauser.

Selain pentas sastra, seminar sastra internasional, dan wisata budaya, dalam JilFest ini diselenggarakan penghargaan untuk penulisan karya cerita pendek (cerpen). Kegiatan itu berlangsung 6-9 Desember di beberepa tempat, yakni Hotel Millenium, Galeri Nasional, dan Gedung Kesenian Jakarta.

Ahmadun Yosi Herfanda, yang bertindak sebagai ketua tim kurator Jilfest, menjelaskan bahwa kegiatan itu merupakan yang kedua kalinya digelar. Sebelumnya, acara serupa diadakan pada 2008. Nantinya, karya-karya peserta yang terpilih dibukukan dalam sebuah antologi yang berjudul Jakarta International Literary Festival (Jilfest).

Sajak Boleh Pendek, Tapi Jangan Asal Pendek

Agustus 2007

Mailbox (Kumpulan Sajak)
Pengarang: Matdon
Penerbit: Mataair, Bandung, 2006
Tebal: 61 halaman.


BANYAK penyair menulis sajak pendek. Beberapa sajak amat berhasil. Beberapa biasa saja. Beberapa gagal. Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Sitor Situmorang, Meidy Lukito, dan Joko Pinurbo, ada menulis sajak yang pendek.

Kualitas sajak tidak ditentukan panjang pendeknya. Ukuran-ukuran untuk menilai sajak pendek dan sajak panjang sama saja. Dacing untuk menimbang sajak panjang atau sajak pendek sama saja. Sajak pendek bisa saja lebih berat timbangannya daripada sajak panjang. Sajak pendek bisa saja lebih panjang maknanya daripada sajak panjang.

Saya menyukai beberapa sajak pendek. Beberapa sajak amat berhasil. Misalnya, “Malam Lebaran”-nya Sitor Situmorang yang amat terkenal itu. Atau “Luka” dan “Kalian” dua sajak pendek Sutardji itu.

Mari kita bicarakan sajak “Kepada Puisi”, sebuah sajak pendek Joko Pinurbo yang amat saya sukai. Sajak itu dibangun utuh dengan lima kata saja.


Kau adalah mata, aku airmatamu.

Siapakah kau dalam sajak itu? Kita rujuk ke judulnya saja. Kau adalah si puisi. Lantas apa artinya apabila si aku menganggap puisi adalah mata, dan si aku sendiri menempatkan dirinya sebagai airmata si mata? Yang saya dapat adalah sebuah permainan logika yang tak melompat dari ranah logika itu sendiri. Bila aku – si penyair- menganggap dia adalah airmata bagi si mata, yaitu si puisi itu, maka si aku hanya akan ada apabila si pemilik mata menangis, apabila si pemilik mata berduka yang amat sangat.

Demikianlah makna saya dapatkan buat saya sendiri dari puisi itu. Joko Pinurbo mungkin hanya mengutak-atik kata memberdayakan diksi, tapi utak-atik itu tidak sia-sia. Utak-atik itu adalah hasil dari pengamatan dan penghayatan atas kehidupan. Manusia memang tidak harus selalu berduka, tidak harus selalu menangis. Tapi, manusia juga bukan harus terus-menerus bergembira. Hidup yang sesederhana apapun pada dasarnya adalah sebuah hidup yang tragis. Ada yang sama pada setiap hidup, yaitu maut yang mutlak itu. Maut yang menghabiskan hidup siapa pun. Bukankah ini sebuah alasan yang amat kuat untuk terus menerus berduka dan menangis?

Si penyair lantas menulis puisi. Penyair ada karena penyair menulis puisi. Pengandaian dimainkan. Aku airmata puisi, kata penyair. Airmata hanya akan ada apabila puisi si mata itu menyadari bahwa ia punya alasan untuk terus menerus menangis. Tangis yang tidak sia-sia. Tangis yang bukan kecengengan menghadapi hidup yang tragis ini.

Matdon penyair Bandung dalam buku “Mailbox” (Mataair, Bandung, 2006) ada banyak menulis sajak pendek. Pembicaraan soal sajak pendek di atas saya maksudkan sebagai pengantar untuk masuk ke sajak-sajaknya. Sayang, sajak-sajak pendek yang ia suguhkan, kurang disertai tawaran untuk memaknai seasyik sajak Joko Pinurbo yang saya contohkan di atas.

Misalnya pada sajak “Potret Hitam Negeriku”. Matdon hanya menuliskan tiga kata dalam bait-sebaris.

Bingkainya telah lenyap.

Bagaimana makna bisa diperas dari sajak ini? Saya mencoba mencari hubungan antara potret dan bingkai. Potret yang bernilai, yang berharga, yang pantas dikenanglah yang biasanya diberi bingkai oleh si pemilik potret itu. Potret berbingkai itu lantas dipajang agar bisa sesering mungkin terlihat. Potret di bingkai beda harkatnya dengan potret yang ada di album. Potret di album hanya sesekali dibuka untuk dipandangi dan dipetik kenangan darinya.

Nah, lantas apa yang berharga dikenang dari sebuah potret hitam di negeri si penyair itu? Baiklah, hitam itu mungkin lambang duka. Lambang kekelaman. Mungkin sebuah sejarah gelap. Sejarah yang berharga untuk selalu mengingatkan si aku agar kehitaman itu tidak terulang.

Lantas kenapa bingkainya lenyap? Saya lantas kembali ke hubungan antara bingkai dan potret. Bingkai memberi harga yang lebih pada potret yang dibingkainya. Mungkin si penyair ingin bilang bahwa kita lupa menjaga apa yang bernilai pada sejarah, lupa untuk terus-menerus ingat pada apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari sejarah. Ibarat bingkai pada potret hitam yang telah lenyap karena kita tidak menjaganya.

Menurut saya ini adalah sebuah sajak pendek terbaik dari semua sajak pendek yang ada di buku Matdon itu. Selebihnya adalah sajak-sajak yang teramat biasa. Coba bandingkan:

Kalau kau mati
Bagaimana aku dapat hidup

(?, halaman 31)

Pada sajak ini, upaya untuk membangun ironi antara kau mati dan aku hidup, menjadi terlalu biasa. Ya, bagaimana? Saya bisa saja membayangkan bahwa seseorang yang teramat penting bagi orang lain, pasti akan mengundang pertanyaan yang sama, apabila seseorang itu mati dan seseorang lain itu hidup. Pertanyaan umum yang sia-sia dipuisikan.

yang akrab di nganga luka
hanya duka

(SEPI, halaman 12)

Ini juga sebuah permainan kata-kata yang terlalu biasa. Penyair tidak menunjukkan sebuah hasil perenungan yang dalam atas kesepian manusia itu. Ya, luka – sebagai lambang dari kesedihan – memang hanya akrab dengan duka. Lantas apa? Sajak ini ibarat menggapai-gapai minta tolong untuk diberi makna, tapi saya tidak tertarik untuk menolongnya. Beda misalnya dengan sajak “Luka” Sutardji, yang justru begitu kuatnya menarik saya, yang justru menolong saya.

bahkan anginpun
kusangka dirimu

(KANGEN 2, halaman 10)

Ini pun sebuah manifesto dari kangen yang amat biasa. Tidak ada yang istimewa. Saya bisa saja mengganti angin itu dengan batu, jendela, pintu, awan, hujan. Diksi penyair teramat biasa dan saya tidak terdorong untuk memberi harga pada upaya dia memilih kata-kata itu. Juga pada dua sajak kangen lainnya berikut ini:

fahamilah
sepiku

(KANGEN 3, halaman 11)

 

temui aku
di emailmu

(KANGEN 1, halaman 9)

Penyair pun masih gagap ketika ia berusaha keluar dari dirinya sendiri. Misalnya pada sajak ini:

nasibmu
memar
takdirmu
terpendar

(KUPU-KUPU MALAM, halaman 32)

Pengamatan dan penghayatan pada kehidupan wanita malam yang jamak diibaratkan sebagai kupu-kupu malam teramat dangkal sehingga hanya mengantar penyair untuk bisa menyebutkan “nasibmu memar, takdirmu terpendar”, yaitu sebuah rumusan yang sangat umum. Nasib yang memar, akibat benturan-benturan kemalangan, ah umumnya memang begitu yang terpendar dari takdir para kupu-kupu malam itu, bukan? Makna apa yang bisa didapat dari baris-baris itu? Makna yang baru dan segar?

Demikianlah. Sebenarnya, sajak pendek bisa menjadi kekuatan. Asal saja sajak pendek itu tidak dijadikan pelarian dari ketidakmampuan penyair untuk menulis sajak yang panjang, membangun kompleksitas yang mentantang pembaca.

Sajak pendek mempermudah penyair untuk menjaga keutuhan sajaknya, tetapi sajak pendek pencabar penyair untuk membangun kompleksitas. Ini tantangan yang luar biasa. Jika tantangan itu tidak berhasil dijawab, maka yang lahir adalah sajak yang asal pendek, sajak yang teralalu enteng, terlalu terang dan karena itu tidak menarik untuk dijelajahi maknanya.

 

http://sejuta1puisi.blogspot.com/2007/08/sajak-boleh-pendek-tapi-jangan-asal.html

Generasi Baru Puisi Lugu

— Beni Setia*

MEMAHAMI kumpulan puisi tiga penyair Bandung, Benterang: Puisi Apa Adanya, Bogor: SIA, 2009, bermakna mengurai dan memahami asal kata dari Benterang itu sendiri. Yang dibangun dari kata bahasa Jawa, ben, yang artinya biar atau biarin; serta terang, yang artinya jelas apa adanya. Jadi ikon Benterang itu bermakna sesuatu, yang dalam hal iniTTK puisi, yang dibiarkan tampil apa adanya dalam penampilan dan ekspresi yang jelas lugu.

Semacam antipoda dari puisi gelap, atau puisi dengan idiom yang bertumpukan dan rumit berkelindan yang jadi trend puisi masa kini. Persis seperti yang dinyatakan dalam pengantar pendek yang membuat pembabakan kronologi sejarah sastra menjadi liukan periodesasi sastra Indonesia khas: Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ’45, dan kemudian Angkatan ’70 yang fokus terpusat ke genre Puisi mBeling, dan ditutup dengan kelahiran gerakan muthakir Angkatan Benterang.

Hal yang dipertegas dalam pernyatakan berkop Mukadimah, yang sejajar dengan kredo puisi mBeling dari Remy Sylado dan Jeihan dulu, teks yang mendesakralisasi penyair dan demitologisasi puisi. Nyaris tidak ada yang membedakanya, karena aspek kenakalan usil intonasi yang menekankan ironi paralelisme fakta dan keluguan dalam menandai ilham puisi tetap dianut, meski kini lebih dengan penekanan pada kejujuran mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan dalam teks puisi.

Kejujuran mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan merupakan inti Etika dan Estetika. Dan Anton De Sumartana yang mewakili generasi penyair dekade 1970-an dan 1980-an dengan 33 puisi, Atasi Amin serta Matdon yang mewakili generasi penyair dekade 1990-an dan 2000-an dengan masing-masing 33 puisi. Maka tak usah heran bila 99 buah puisi Benterang itu seperti bermain dengan momentum kecil yang menyentakkan dalam kilasan minor yang membuat penyair tergugah, dan termotivasi mengungkapkannya dengan idiom yang langsung menunjuk kepada hal puitis yang mengagumkan itu.

Ambil puisi “Kangen” Matdon ini: bahkan anginpun / kusangka dirimu. Atau puisi “Kremasi” yang bermain dalam intonasi pro makna yang berbunyi: keramasi hatimu / kremasi kedengkianmu. Atau ironi dalam puisi “Bibirmu Laut” ini: aku ingin menciummu / tiga kali sehari / biar dahaku sirna // tapi bibirmu laut, setidaknya ketika cinta identik dengan pemuasan syahwat seperti yang diisyaratkan dalam sajak sebelumnya, puisi “Di Senyummu Kutemukan Sajak”.

Meski terkadang tersembul kesadaran religius yang pekat, seperti diperlihatkan puisi “Tuhan” ini: dalam Tuhan ada puisi / dalam puisi ada Tuhan, atau puisi “Usai Tarwih” ini: menatap kitab suci di sudut kamar / tanpa basmalah, Tuhan, / betapa sulit menghampiri Mu.

Sementara Atasi Amin,anak Jeihan Sukmantoro, bermain dengan keluguan, logika cerdas, dan kehidmatan akan kepasrahan dan ketidakberdayaan. Lihat puisi “Potret Diri” ini: Dari atas mimbar aku bicara, / Tentang keadilan, kemiskinan dan resesi, / Dunia terkutuk diuarai papar // Orang-orang Bawah menyambut,/ Mari atasi, / Mari bersama Atasi // Amin. Sebuah permainan logika antara kultus individu khas politisi dan keluguan menyatakan diri yang selalu berdoa bisa mengatasi masalah dengan harmoni kebersamaan dan pekenan Allah. Seuah pilihan identitas diri yang mendekati konsep ora et labora di dalam logika khas Jeihan Sukmantoro.

Atau puisi “Ruang” ini: Ada ruang / Ada AC / Ada uang / Ada ACC. Atau puisi “Kaca Mata” ini: Aku bersihkan kaca mata / Tapi masih samar / masalah-Nya. Satu permainan intonasi yang menekankan kongkalikong khas manusia dan otoritas Allah SWT dalam menentukan arah nasib seseorang. Situasi tak berdaya yang menyebabkan seseorang hanya bisa berserah diri pada ahlinya di satu sisi dan kemurahan Tuhan di sisi lain seperti yang diungkapkan puisi “Yuni Belum Pulang” ini: Wajahnya murung, / Sangat murung / Lebih murung / Selagi disarung // Ketubannya pecah.

Sebuah puisi yang menunjukkan kejernihan pengungkapan yang ditopang kepekaan akan hakekat apa yang ingin diungkapkan, yang menyebabkan Atasi Amin tampak menonjol.

Sementara itu Anton de Sumartana sangat suka main persanjakan dan intonasi dengan kesadaran yang sangat besar untuk berdakwah menyampaikan pesan agama atau nasionalisme. Simak puisi “Pilihan si jantung Rohani” ini: Eti / etik / etika / Eti kamu / Santun / pekerti / moral tinggi / punyaku. Atau puisi “Fatal” yang berikut ini: 1 2 3 4 5 6 7 1 / Do re mi fa sol la su dho // 1 A / bukan 1 sa // bila ingin // Surga, di mana 1 A bermakna DOA serta 1 sa bermakna dosa. Serta puisi “Pidato Kampanye Pilpres II” ini: Hahoh / haol / ha-lo / Gigi palsu lepas / Janji palsu lewat / (abab sebar bual / nipu-nipu buat modal), di mana abab, bahasa Jawa, bermakna uap ludah basi yang tersembur saat seseorang bicara.

Dan Benterang, akhirnya, menjadi kumpulan puisi yang mendokumentasi jalur alternatif dari puisi Indonesia, agar ingat bahwa khazanah sastra tak hanya berurusan dengan yang tampak dominan menonjol seperti yang diperlihatkan media massa. ***

  • Beni Setia, Pengarang

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 6 Februari 2010


 

Sakaratol Cinta vs Matajaman

Oleh: Tandi Skober.

Seperti sepak bola, kinerja kolbu sastrawi sudah dijadikan ajang tanding tandang pertarungkan. Ini diawali dengan “Perang Puisi: Sakarotul Cinta vs Matajaman” di Rumah Dunia Gol A Gong, Banten, Sabtu (21/02) sejak pukul 20.30 WIB sampai 23.00 WIB. “Sakaratol Cinta” karya Roi’s Am Majelis Sastra Bandung KH Matdon mewakili Jawa Barat menghadapi antologi puisi Matajaman karya penyair Jawa Tengah Budhi Setyawan (Purworejo), Jumari HS (Kudus) dan Sosiawan Leak (Solo). Untuk memperkuat suasana sastrawi, KH Matdon menggandeng dosen Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung, DR. Bambang Q-Anees, M.Ag., sedang penyair Jawa Tengah merekrut kritikus Toto ST Radik.

Lebih dari dua ratus penonton memadati tanding sastrawi itu. Saya berada di sana. Di sini, saya seperti memasuki ruang muram bercahaya blencong yang ngangenin. Maklum, dalam ruang awang-uwung, linglang-linglung di titik terjauh peradaban yang redup, maka yang tersisa adalah realitas ketuhanan dan selarik puisi layang kalimasada. Selarik puisi itu adalah ageman sekaligus jimat milik Prabu Yudhistira usai amarah bratayudha mematikan sedulur papat kelima pancer. Yudhistira ditemani seekor anjing -beberapa mitos meyebutkan juga ditemani Sabda Palon dan Nayagenggong- meninting ruh, mendaki perbukitan ketuhanan di Gunung Tengger. Gunung yang kerap ditabalkan sebagai tetenger pertanda sebuah peradaban alih warna.

Konon, dalam heneng hening dan eling Yudhistira selalu saja gagal memaknai kandungan puisi Layang Kalimasada itu. Ketika pelangi melengkung jauh ke lipatan ombak laut pesisir utara Jawa, ada sosok darwish berbaju gamis ajarkan makna yang terkandung dalam surah layang kalimasada itu. Puisi itu adalah dua kalimat syahadatin. Yudhistira sumringah. Selembar surga menjadi perahu langit, ruh Yudhistira kembali ke pangkuan Ilahi.

Era abad ke-13 hingga 17, ditengarai Jiwa manusia Jawa sedang bertawaf pada pusaran peradaban sinkretisme. Jimat Layang Kalimasada itu ditakwil para pengembara ibad ar rahman -kerap juga disebut darwish atau faqir dari Turki, Yaman, Syria, Iran, dan India- bahwa hakekat berketuhanan ialah pada saat duduk tasyahdu shalat yang diarahkan ke kiblat. Saat itu ada konsistensi riliji terhadap keesaan Allah SWT dan pengakuan Muhammad SAW sebagai rosul.

Puisi Layang Kalimahsada itu berputar-putar di ruang nalar saya, saat saya berada di ruang terbuka tanding sastra itu. Terlebih ketika penyair kelahiran Solo, Sosiawan Leak alirliarkan sajak-sajak kesaksian sejarah 2004-2009 maka yang menyelinap di lipatan nalarku adalah fatwa matatajam ketika jaman terperangkap sakaratol cinta. Luar biasa, luar dalam! Leak mendaur ulang sastra sufistik kuno dalam kemasan yang aduhai. Dia terperangkap realitas yang diciptakan ruang waktu kekinian dan membenturkan dirinya dalam ruang mangmung yang murung. Da menakwil imajinasi dengan cerdas dan memo sisikannya sebagai realitas itu sendiri.

“Di negeri tahi, para tai berjubel tanpa perduli,” ungkap Leak.

“Mereka lahir dari lubang yang mana, entah dari pantat raja, perdana mentri, pengusaha, buruh, atau tuna wisma dan psk, tak ragu bertemu dan bercengkrama dengan tai dari dubur seniman dan mahasiswa.”

Hmm, saya tepuk tangan dua kali! Dua-duanya untuk Albert Einstein yang memosisikan harta paling steril yang dimiliki manusia adalah imajinasi. Itu, hanya dimiliki para penyair. Kenapa?, “logic will get you A to B, imagination will take you everything.”

Usai Leak, kini giliran penyair Budhi Setyawan. Dia tidak hanya menjadi sesuatu juga diam-diam membiarkan imajinasi berhembus bagai angin, memasuki ruang-ruang sunyi dan Toto ST Radik menengarai ia terkunci di dalam. Dalam gelap, “kemana mesti kutawarkan kalut, kepada siapa bisa kuberikan pengap, di mana mesti kulepaskan hampa,” ungkap Budhi dalam Di Matahari Kutemukan Gelap.

Hmm, kali ini saya tidak tepuk tangan. Saya malah menangis. Kenapa? Budhi telah alirkan airmata dari mataair sejarah lama, ketika sastra tarekat terikat idiom-idiom lokal yang jenius. Dia merenda luka kultural bersifat holistik dan tidak final! Persis sama ketika para wali sembilan memompakan akidah di ruang sinkretisme yang tak berbentuk. Tentu, ini tidak salah sebab “form in poetry is it self a trope,” tulis Harold Bloom, “A figurative substitution of the as-it-were outside of a poem for what the poem is supposed to represent or be.”

Bila Leak dan Budhi dari Jawa Tengah bertawaf pada ruang kolbu sastrawi Jawa maka KH Matdon sudahpun memasuki tahapan sastra ukhrawi yang memukau. Dia mengukir humanisme kinasih dalam teks-teks cinta yang teduh. Tak aneh manakala Bambang Q-Anees terkesima, “Matdon lari dari realitas dengan mengarahkan kesadarannya dan kemarahannya pada cinta. Tidak semua orang sanggup mencatatkan kemarahannya. Seorang penyair mampu mencatatkannya dengan indah.”

Itulah KH Matdon! Penyair berwajah teduh itu mengingatkan saya pada sebuah jaman era 1970-an dan awal 1980-an. Era itu sastra ukhrawi sufistik bertebaran. Era itu risau penyair menggiring kita pada keteduhan surau. Karya sastra menjadi kenderaan dunia untuk meraih ridho Allah. Kita bisa catat Malam Rumi (1982), Malam Hamzah Fansuri (1984), Malam Iqbal (1987) yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Langkah KH Matdon bertasbih ke arah itu. Simak, sajak-sajak KH Matdon merupakan proses cendekia yang cerdas.

“Adalah langkah nalar di belantara kemajemukan hasrat masyarakat, sekaligus -mengutip Edward T. Hall,”Beyond Culture”, 1977- sejenis pergulatan ‘kultur tersembunyi’ yang sukar ditangkap oleh orang lain, tapi mampu ternikmati hingga titik teks terakhir.”

Kultur tersembunyi inilah kekuatan Matdon! Ini pulak yang membuat saya berdiri dan tepuk tangan berkali-kali saat KH Matdon membacakan puisi sambil makan durian. Sajak-sajak Matdon memiliki substansi revitalisasi estetika yang berbasis pada imajinasi cendekia. Tak pelak, Matdon layak terposisikan sebagai pilar pemberdayaan sekaligus abstraksi kontesia pemikiran yang memiliki validitas tinggi.

Adakah ini eskapisme kepenyairan Matdon? Saya jadi ingat tuturan Prof. Dr Abdul Hadi WM di sebuah koran, “Dunia tempat kita menjalani hidup ini adalah rumah bagi kita, sekaligus kuburan. Masalahnya, bagaimana kita memberikan makna, tujuan dan dimensi spiritual terhadap hidup kita sebelum akhirnya menyongsong kematian.”

Siapa yang jadi sang pemenang malam itu, tak jelas. Sebagai orang Bandung tentu saya meyakini bahwa yang latyak menjadi sang pemenang adalah KH Matdon.

Selalu saja ada arah alamat yang jelas. Malam itu, Ahad 21/1/2012, semut di musholah Gol A Gong, saya pijit usai shalat Isya. Selembar surga menjadi perahu langit, membawa ruh semut. Hmm, saya tertinggal di altar sakaratol cinta. Di sudut musholah, saya baca sajak ukhrawi KH Matdon,”Assalamualikum, wainna insya Allah bikum lahikuun. Apa kalian di ujung nisan? Di sini aku lelah mencari Indonesia.”

dimuat di Harian ANALISA Medan

29 Januari 2012

GERIMIS DARI SEBUAH MAJELIS
Oleh Sarabunis Mubarok

 

Ada gerimis sa stra di Beranda 57 pada hari sabtu 12 Maret 2011 jam 19.00 WIB. Sebuah kegiatan budaya digelar di halaman rumah Bode Riswandi, Jl. Cilembang 57 Tasikmalaya. Acara yang gratis dan terbuka untuk umum ini, menghadirkan peluncuran buku antologi sastra ‘Bersama Gerimis’. Ada juga pembacaan cerpen dan puisi dari seniman-seniman Bandung dan Tasikmalaya, serta diskusi membahas karya-karya penyair dan cerpenis yang tergabung dalam Majelis Sastra Bandung (MSB). Berikut catatan apresisasi saya atas buku antologi tersebut.

GERIMIS PUISI

Melulu ada gerimis yang berjatuhan ke segala arah saat membaca puisi-puisi dalam antologi bersama. Melulu saya harus terseret ke berbagai ruang, waktu, dan peristiwa yang penuh warna. Ada banyak dimensi tema dengan bentuk puisi yang beraneka pula, dan melulu sulit untuk menggarisbawahi satu kecenderungan. Meskipun sebuah kecenderungan boleh jadi adalah hal yang tidak penting dalam sebuah antologi bersama, terutama dalam hal pengucapan puisi.

Bagaimanapun puisi tak sekedar kerja intelektual, tapi ia adalah kerja seni yang mampu melakukan pembebasan pada batas-batas ruang dan waktu. Seperti yang dikatakan Oktavio Paz, bahwa puisi sebagai perlawanan atas tirani ilmu hitung, maka puisi tak ubahnya matematika jika hanya ditakar dengan rumusan dari bentuk-bentuk pengucapan para penyair pendahulunya. Maka tak eloklah kiranya jika meneratas jalan sendiri dengan peta milik orang lain. Tak elok meniru pengucapan puisi orang lain ketika berbicara tentang diri sendiri. Puisi tidak melulu mengikuti arah peta, justru puisilah yang menciptakan berbagai peta untuk memasuki hutan-hutan imajinasi.

Membaca 63 puisi dari 28 penyair yang terhimpun dalam antologi ‘Bersama Gerimis’ (Majelis Sastra Bandung, 2011), terasa ada usaha yang ingin dihembuskan oleh Majelis Sastra Bandung (MSB). Sebuah usaha untuk melakukan pembebasan dari berbagai kungkungan pengucapan normatif yang boleh jadi bisa membelenggu kebebasan kreativitas. Hal ini terlihat dari keanekaragaman bentuk pengucapan puisi dalam antologi ini. Keanekaragaman ini penting, karena puisi harus terus menemukan jalan setapaknya sendiri di antara berbagai jalan setapak -yang diteratas para penyair pendahulunya- kini telah berubah menjadi jalan raya.

Dalam tulisan singkat ini, saya tak mungkin membahas keseluruhan puisi. karena akan membawa pada telaah yang sangat panjang. Namun secara umum, tema puisi-puisi dalam antologi ini menusir berbagai wacana yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari para penyairnya. Berbagai wacana sederhana yang patut untuk didekati, didalami dan diseriusi.

Meskipun jalan setapaknya belum begitu beranjak dari jalan raya yang dulu diteratas penyair sebelumnya, puisi-puisi dalam antologi ini terasa tidak digiring ke dalam salah satu bentuk pengucapan. Ada usaha untuk tidak diseragamkan, karena mungkin MSB adalah sebuah majelis sastra, bukan sekolahan atau korps tentara.

Ada gerimis indah dalam sebuah pepetah, bahwa hal-hal sederhana membentuk kesempurnaan, tapi kesempurnaan bukan hal yang sederhana. Banyak puisi dalam antologi ini yang menceritakan hal-hal sederhana, namun hanya beberapa yang pengucapannya rileks dan segar. Evi Sri Rezeki yang tak mood diajak bercinta dalam khayalan Semmi Ikra Anggara, Asep Juanda yang menjelejahi Indonesia sampai Afrika dalam permainan monopoli, atau Agus Nasihin yang asyik berfantasi dengan wanita-wanita dalam ponsel, misalnya. Puisi-puisi tersebut memang tidak terlalu istimewa, namun berhasil memberi warna menarik pada antologi ini.

Pada sebagian besar puisi, masih terasa keragu-raguan dalam mengolah kata-kata. Namun meskipun banyak puisi yang masih ngambang, ada beberapa puisi yang ditulis cukup apik. Puisi-puisi Jhon Heryanto, Rian Ibayana dan Zein Apriarahman misalnya, menyiratkan pemilihan diksi yang apik, dan terasa memiliki kehati-hatian yang baik.

Pengucapan yang lancar dan lebih intuitif terasa pada beberapa puisi Den Bagoes, Tirena Oktaviani, dan Pradewi Tri Cintami dan beberapa lainnya. Meskipun masih perlu mencermati efektivitas bahasa, puisi-puisi mereka paling tidak mampu menggapai ruang-ruang imajinasi yang lebih jauh dan dalam.

Ada gerimis yang masih menggenang pada problem yang dihadapi para penyair dalam antologi ini. Yang paling terasa adalah perlunya progress yang seimbang antara mengolah rasa sajak dengan gagasan yang ingin diungkapkan. Beberapa penyair juga masih berkutat dengan masalah teknis berbahasa. Dan kiranya Almukarom Kyai Matdon beserta rekan-rekan MSB lainnya akan selalu menggerimis untuk terus membasahi kreativitas para penyairnya agar saling bergesek dengan lebih intensif.

GERIMIS CERPEN

Ada gerimis yang menjajikan kesuburan dari cerpen-cerpen yang terangkum dalam antologi terbitan MSB ini. Meskipun sebagai pembaca, saya belum terkesan pada gaya-gaya penuturannya, namun ke lima cerpen dalam antologi ini memiliki kekuatan ide dan gagasan yang mampu menawarkan sesuatu bagi pembacanya: pengetahuan, pengalaman, kegembiraan, pandangan, dan lain-lain. Pikiran-pikiran utama dalam setiap cerpennya mampu membuat efek yang cukup unik dan layak untuk terus dikembangkan.

Ada gerimis yang cukup menusuk dalam dua cerpen dengan tema realis: “Gelas Isak” karya Restu Ashari Putra. dan cerpen “Surat Elektronik Buat R” karya Soge Ahmad. Ada gerimis kepedihan yang ditampung dalam Gelas Isak, dan ada gerimis yang menggelitik tukang fotokopi langganan Soge Ahmad.

Kedua cerpen ini mempunyai fokus yang baik dalam membangun benang merah pada keseluruhan cerita. Pada dasarnya, tema yang diolah dalam kedua cerpen ini tidak luar biasa, hanya saja  pengolahan konfliknya berhasil mencapai suspensi bagi pembaca. Namun pada beberapa bagian masih terasa gagasan yang dipaksakan untuk memasuki alur cerita.

Ada gerimis absurditas romantis dalam cerpen “Lukisan Di Stasiun Tugu” karya Ratu Anggita. Meskipun masih berjibaku dengan perkakas teknis, cerpen ini mampu menyuguhkan kejutan di akhir cerita. Tinggal bagaimana mengemas ending tersebut agar mencapai klimaks yang menarik untuk menghindarkan pembaca dari ejakulasi dini.

Ada gerimis eksistensialis mitopois pada cepen “Pohon Kehidupan” karya Yudistira Diki dan cerpen “Lelaki Tua dan Tuhan” karya Langgeng Prima Anggradinata. Kedua cerpen ini berhasil mendedahkan detail ide dan gagasan dengan lancar, seperti umumnya cerpen jenis ini yang dipenuhi  pesan-pesan kultural. Alurnya cukup rapih dan cekup cermat dalam memadukan pola-pola kalimat secara harmonis, meskipun belum cukup kuat dalam membangun suspensi dari konfliknya.

Lepas dari itu semua, saya menaruh harapan besar kepada lima cerpenis ini. Setidaknya mereka telah mempunyai potensi ide, gagasan, lecutan kemauan dan kemampuan mengekresikannya ke dalam cerpen. Lagi-lagi MSB akan terus menggerimis, membasahi para cerpenisnya dengan berbagai pergesekan pengalaman dan kreativitas.Semoga di hari esok tiada lagi masalah efektivitas bahasa dan berbagai perkakas teknis lainnya. Semoga gerimis ini akan mengalirkan karya-karya yang lebih kreatif dan inovatif. Dan semoga ini bukan sekedar gerimis layar tancap atau misbar, gerimis lalu bubar.***

Sarabunis Mubarok
Sastrawan dan pemerhati sastrawati
Aktif di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan

 

Minggu, 28 Desember 2008

PENYAIR MATDON BERPUISI

 DI TIGA PANTAI SELATAN

Ditulis Oleh : Syarif AbdullahBandung, 28/12 (ANTARA) – Penyair Bandung, Matdon serta penyair Garut Jawa Barat akan menggelar parade puisi “Renungan Akhir 2008″ pada malam Tahun Baru 2009 di tiga pantai di kawasan Pameungpeuk Garut Selatan.”Renungan ini untuk mengingatkan betapa bencana dan malapetaka maha dahsyat selalu mengintai setiap manusia, disamping kenikmatan yang berhasil diraih setelah pengejaran yang tak pernah henti,” kata Matdon di Bandung, Minggu.Renungan dan parade puisi itu, kata dia akan dilakukan tepat pukul 00.00 WIB yang dilakukan di tiga pantai sekaligus yakni Cibalut, Cilauteureun dan Pantai Cilokotot.Bersama para penyair tradisional Garut, Matdon akan mencoba memaparkan syair alam tentang maha dahsyatnya sebuah bencana yang harus selalu diwaspadai di negeri ini.Pada kesempatan itu, Mat Don akan membacakan puisi gubahannya sendiri “Lagu Untuk Aceh”. Sebuah puisi yang berkisah tentang bencana dahsyat Tsunami yang melanda kawasan “Seurambi Makah” itu beberapa tahun lalu.Puisi itu juga termasuk salah satu diantara deretan puisi dalam buku kumpulan puisi “Maha Duka Aceh”.”Tsunami adalah sebuah simbol dimana kedahsyatan alam tak bisa dihadang, bencana selalu datang tiba-tiba. Namun bencana membawa banyak hikmah dan harus menjadi perenungan bersama serta mendekatkan kepadaNya,” kata penyair yang memiliki nama lengkap Ahmad Sardono itu.Ia sengaja menulis puisi “Lagu Untuk Aceh” itu hanya beberapa saat setelah ia menyaksikan dahsyatnya bencana yang melanda kawasan palung barat dari Indonesia itu.”Kematian adalah misteri yang puitis, menggugah nurani dan kesadaran,” katanya.Matdon merupakan salah satu penyair dan seniman Bandung yang telah melahirkan sejumlah puisi dan membukukannya dalam buku kumpulan puisi.Beberapa karyanya adalah “Persetubuhan Bathin”, “Garis Langir”, “Mailboks” dan “Kepada Penyair Anjing”.**7***
(S033)

http://www.antarajawabarat.com/media.php?module=detailberita&id=2794

Senin, 19 Oktober 2009

TRIO PENYAIR LUNCURKAN

KUMPULAN PUISI “BENTERANG”

Ditulis Oleh : Syarif Abdullah

Bandung, 18/10 (ANTARA) – Trio penyair Bandung, Atasi Amin, Anton D Sumartana dan Matdon, meluncurkan buku Kumpulan Puisi “Benterang” yang digelar di Hotel Royal Palace, Jalan Veteran, Bandung, Minggu.Buku kumpulan puisi itu digarap oleh tiga orang penyair yang memiliki tiga karakter beda, namun mampu menyajikan sebuah harmonisasi puisi yang sarat dengan pesan-pesan sosial, cinta, kegundahan, kritik sosial serta kecintaan kepada negara dan bangsa.Uniknya, jumlah puisi yang dituangkan dalam buku tersebut sebanyak 99 buah puisi. Masing-masing penyair menyertakan 33 puisi untuk buku kumpulan puisi itu.”Jumlahnya 99 buah puisi, sengaja untuk mengingat ‘Asma ul-Husna’,” kata Matdon, salah seorang penyair itu.Sementara “Benterang” berarti sangat terang, atau memberikan pencerahan. Matdon dkk mengaku harus mencari arti dari ‘Benterang’ yang akhirnya mendapatkan kejelasan sebagai sebuah arti sangat terang.Budayawan Jacob Sumardjo yang menjadi pembahas dalam acara itu mengomentari puisi-puisi dalam buku itu sebagai sebuah kumpulan permainan kata-kata yang cerdik dan menggugah.Ia menggaris bawahi kepintaran main-kata-kata tercermin dalam bait-bait puisi Matdon dan Atasi Amin itu.”Mereka pintar main kata. Pilihan kata-katanya seperti main-main namun intinya serius dan mengandung makna yang dalam,” kata Jacob Sumardjo.Sementara itu pembahas lainnya, budayawan Yayat Hendayana mengomentari puisi itu menuangkan aspirasi dan visi yang dikemas secara enerjik.”Puisi-puisi Matdon bergelimang cinta, menyeluruh dan universal. Baik itu kecintaan kepada lawan jenis, cinta kepada negara dan lainnya yang terurai secara khas. Sedangkan Atasi Amin lebih banyak mengupas makna hidup,” kata Yayat Hendayana.Puisi-puisi Matdon dalam buku itu antara lain berjudul “Kangen”, “Mimpi Jatuh Cinta” dan “Ketika Amrozi Cs”. Sedangkan Atasi Amin menampilkan puisi “Di Jalan Dago”, “Ruang”,”Diabetes” serta Anton tampil dengan puisi antara lain “Visi” dan “Money Politic”.

Rencananya, buku kumpulan puisi itu akan diluncurkan kembali di GOR Bulungan Jakarta pada 28 Oktober 2009 mendatang.

Sementara bagi Matdon, buku kumpulan puisi yang digarap bersama itu merupakan yang ketiga. Selain itu seniman dan penyair Bandung itu telah melahirkan buku kumpulan puisi “Garis Langit”, “Persetubuhan Batin”, “Mailbox” dan “Kepada Penyair Anjing”
Sedangkan bagi Anton D Sumartana merupakan buku yang kesepuluh serta yang buku ketiga bagi Atasi Amin.3

http://antarajawabarat.com/media.php?module=detailberita&id=8969

Senin, 17/08/2009 16:46 WIB

HUT ke-64 RI

Puisi WS Rendra Hiasi Upacara Ala Seniman Bandung

Mulyadi Saputra – detikNews

Bandung – Sekitar 40 seniman Bandung melaksanakan upacara HUT ke-64 RI di halaman Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jalan Perintis Kemerdekaan, Senin (17/8/2009). Upacara unik ala seniman itu sebagai wujud cinta tanah air. Acara itu dihiasi pembacaan puisi milik almarhum WS Rendra berjudul ‘Doa untuk Anak Cucu’.

“Para seniman mencintai Indonesia dengan puisi, dengan teater dengan lukisan, dengan musik atau dengan apa saja. Cinta kita seperti tidak mendapat tempat yang layak di hati Indonesia,” ujar inspektur upacara Matdon dalam rilisnya kepada detikbandung.

Seniman yang hadir dalam upacara itu di antaranya Yusef Muldiyana yang berkesempatan menjadi pemimpin upacara, Deddy Koral, Bonny Sigrid, Mehong, Bambang Subarnas, Hanief, dan lainnya.

Menurut Matdon, cara cinta terhadap Indonesia tidak hanya sekadar upacara, dan seremonial lainnya. Tetapi, juga dengan perbuatan seperti melawan koruptor dengan caranya masing masing.

“Mencintai Indonesia tidak selalu harus melalui upacara resmi, tidak selalu harus membaca pancasila dan teks proklamasi. Tapi mencintai Indonesia adalah semangat untuk berjuang melawan koruptor dengan cara masing-masing,” ujar Matdon.

Sebagai penutup, Deddy Koral membacakan doa dari puisi milik almarhum WS Rendra berjudul ‘Doa untuk Anak Cucu’.

http://news.detik.com/bandung/read/2009/08/17/164619/1184509/486/puisi-ws-rendra-hiasi-upacara-ala-seniman-bandung

Dari Peluncuran ?Garis Langit? Karya Matdon

Penyair Matang Ditempa Waktu
Antonius SP

http://www.sinarharapan.co.id/

BANDUNG ? Eksistensi seorang penyair ditentukan oleh proses yang dilaluinya seiring dengan perjalanan waktu. Dalam hal ini, Matdon?penyair muda asal Bandung?boleh dibilang telah menjalani proses panjang itu dan berhasil menarik perhatian sejumlah penikmat sastra. Sebagai bukti, ketika ia meluncurkan buku puisi kedua, berjudul Garis Langit, di gedung kesenian Baranangsiang, yang terletak di Jl. Baranangsiang, Achmad Yani Bandung, Kamis pekan lalu, antusiasme para undangan?kebanyakan juga seniman?tampak begitu besar.

Malam itu menjadi malam surga bagi Matdon, persis seperti yang tersirat dalam puisinya berjudul ?Surga?.

Malam surga, siang surga, bintang surga, rembulan surga, matahati surga, terang surga, gelap surga, gerak surga, diam surga ruang surga, waktu surga, andin surga, air surga, api surga, miskin surga, kaya surga, mata surga, kaki surga, istri surga, anak surga, sahabat surga, Tuhan surga, kalau neraka? ya surga juga bagi iblis.

Lantunan syair inilah yang ditempatkan sebagai pembuka acara malam peluncuran buku Matdon. Sayang, sesepuh seniman Bandung yang juga penyair Saini KM yang dijadwalkan hadir untuk menerima buku untuk menandai peluncuran kumpulan puisi tersebut tidak hadir. Sebagai gantinya, buku tersebut diserahkan Matdon kepada putri sulungnya, Arina Annisa Wardah. Munculnya gadis kecil berusia empat tahun yang mengenakan jilbab ke atas panggung kemudian menerima buku dari uluran tangan sang ayah, sungguh sangat mengharukan semua pengunjung. Saking ibanya, sebagian pengunjung ikut hanyut dalam suasana haru dan trenyuh.

Maka tepuk tangan berbasah-basah air mata pun tak mampu terelakkan. Panggung berskala besar yang hanya disinari lampu remang-remang, membuat suasana tambah hidup. Selembar kain putih yang menggelantung persis di tengah -tengah panggung, membuat suasana makin seram. Kemudian di sisi lain, hampir semua sudut pandang panggung dibalut warna hitam, sehingga terkesan serem juga. Seperangkat alat kesenian khas tatar Sunda seperti kendang, seruling, siter, rebab, gong dan yang lain menggerombol dibagian depan kanan panggung. Kemudian, dari dua sudut atas panggung juga menggelantung dua buah kaos warna hitam yang diikat erat-erat dengan seutas tali. Entah apa makna di balik simbol-simbol tersebut. Namun, yang pasti apa pun yang diletakkan di atas panggung, semua membuat suasana makin hidup dan semarak. Sehingga membuat betah penonton untuk menyaksikan pertunjukkan Matdon dan kawan-kawannya hingga tuntas.

Dari 69 buah judul pusi karya Matdon yang diterbitkan dalam bentuk buku, intinya cermin dari sikap mental, moral, mental para pejabat dan bagi orang-orang yang pernah dan sedang dicintainya. Seperti yang tersirat dalam pusi berjudul ?Dongeng Dari Negeri Priangan?, ?Kepada Para Pengkhianat? dan lain sebagainya. Satu demi satu panyair tampil membawakan karya-karya puisi Matdon sesuai dengan kata hati atau ekspresi para penyairnya. Ada yang hanya dengan tutur kata, gerak. Namun, ada yang diiringi dengan petikan gitar, tabuh kendang, dan jeritan, isak tangis air mata. Pokoknya, sesuai penghayatan bagi yang pelakon, sehingga suasana makin syahdu dan penuh khidmat.

Serentetan pembacaan puisi oleh penyair Sunda ini mendapat sambutan luar biasa dari para pengunjung. Apalagi, ketika sang penyair senior, Deddy Coral mencoba mengusung seperangkat gitar, dua anaknya yang masih kecil mendampingi dan dipercaya membaca sebuah puisi berjudul ?Emak?, maka suasana malam itu bagai hujan air mata. Ucapan polos, dan ekspresi wajah yang pas dengan nada suara bocah kecil saat memanggil mamanya (emak-Sunda-red), sungguh membuat pengunjung terpana.

Sebagai penutup acara, disuguhkan Opera yang dilakonkan para ?Laskar Panggung? dengan menampilkan puluhan pria dan wanita cantik dengan penuh ekpresi. Kolaborasi antara orasi, gerak, tari, musik begitu mengalir serba apik dan serasi. Sesekali diselingi dengan penekanan kata-kata pedas. Seperti kritikan di Era Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto.

Tanpa dibalut apa pun, para penari dengan sangat bagus secara bersahut-sahutan, bahwa ?Soeharto? makan keringat rakyat. Sekarang, di era reformasi dengan transparansi dan segala euforia yang ada, negara menjadi carut- marut, tercobak-cabik dan sakit. Itu semua diekspresikan dengan tampilan semua pelakon operet Laskar Panggung yang seakan-akan sakit ?ayahan? dan tuna wicara. Sembari berjalan sempoyongan tanpa tujuan yang jelas dan pasti. Ya, itulah realitas dari situasi dan kondisi bangsa dan negara Indonesia masa sekarang ini. Penyakit kemiskinan, kebodohan dan penyakit sosial masyarakat yang lain terus bermunculan, sehingga membuat bangsa dan negara ini tanpa daya.

Itulah sepenggal karya yang ingin disuarakan dari penyair Matdon dan kawan-kawan seniman lain yang sangat komit dan interest dengan kondisi bangsa dan negara Indonesia agar tidak lebih parah. Realitas hidup keseharian di masyarakat dari strata mana pun yang ditemui, dilihat, dijumpai Matdon dalam rentang waktu sekian lama, akhirnya mengilhami Matdon untuk berkarya cukup sempurna. Kendati hanya sebatas kalimat, tetapi makna dari kalimat itulah yang ingin disampaikan bagi mereka yang menjalaninya. Itulah Matdon yang matang ditempa waktu.

http://sastra-indonesia.com/2010/09/dari-peluncuran-%E2%80%9Dgaris-langit%E2%80%9D-karya-matdon/

Diskusi

25 thoughts on “TENTANG PENULIS

  1. waduh panjang banget artikelnya, tapi saya sangat berterimakasih untuk informasinya.

    Posted by berita terkini | 21/04/2014, 11:12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: