Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

Kamis 15 Pebruari 2108

 

Seperti sudah ditulis sebelumnya, bahwa Indonesia yang kita cintai ini, memiliki sumber daya alam yang sangat kaya raya, 564 bahasa daerah, 1.340 suku bangsa Indonesia. Dan berapa rinu lagi budaya dan tradisi yang berkembang dan sudah mati.

Dan seperti yang saya katakan korupsi bukan atau budaya tanah air sebab korupsi itu perbuatan keji dan kejam. Karena jika korupsi budaya maka koruptor adalah budayawan. Ini bahaya!

Memang kebiasaan buruk memberi pelicin sudah “membudaya” di otak pengusaha dan penguasa tanah air, dimana karakter bangsa diaduk aduk menjadi sesuatu yang normal dan biasa.

Salah kaprah memang. Kebiasaan buruk yang mendarah daging ini adalah suap atau riswah yang keji. Sungguh sebuah perbuatan dholim jika meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Korupsi itu dhilim dan hina. Menyebut korupsinsebagai  budaya.

Nampaknya kita harus belajar juga kebiasaan buruk yang tidak boleh dilakukan dan menjadi budaya. Membuang sampah sembarangan, misalnya. Merokok di tempat umum umpamnya. Menerobos lampu merah atau perlintasan kereta api dan berkata bohong.

Membuang sampah, sopan santun, berkata jujur adalah ajaran Agama, sedangkan sebaliknya dari sifat itu adalah perbuatan syetan. Agama mengajarkan bahwa semua perbuatan yang melanggar Agama itu dosa.

Ada sejumlah kebiasaan manusia Indonesia yang tidak disadari sudah menjadi tradisi selain budaya membuang sampah sembarangan,  Tidak Tertib Lalu-lintas, . jembatan penyeberangan menjadi lintasan motor nekat,  jam karet, tidak mau antri,  trotoar sebagai tempat jualan,  sungai, got atau saluran air menjadi tempat pembuangan sampah, maraknya tempat parkir liar, banyaknya sms penipu dan penyedot pulsa termasuk jualan paket data yang menjebak, minuman miras oplosan dan narkoba, maraknya tempat mesum ditempat kos dan seabreg kelakuan yang negatif tapi dipandang kebiasan.

Jadi, tidak semua budaya masyarakat yang ada di negara kita itu baik.  Sesuatu yang tidak baik jika berlangsung turun-temurun dan telah mendarah daging dalam kehidupan suatu masyarakat maka sesuatu hal yang buruk tersebut bisa dianggap sebagai sesuatu yang baik dan diterima secara luas dalam masyarakat tersebut.

Walaupun kenyataannya budaya kebiasaan masyarakat tersebut bertentangan dengan budaya bangsa yang berlaku secara umum, tetap saja pemerintah mengalami kesulitan untuk menghilangkannya secara tuntas.

Maka kewaiban kita dan khususnya pemerintah adalah melakukan sosialisasi bahwa itu adalah buruk. Berupaya merangkul pemuka masyarakat dan memangkas generasi buruk itu dengan generasi baik, dan yang patut dilakukan adalah melakukan tindakan tegas terhadap para pelanggar.

Jangan sampai kita mengatakan, “Ya harus apalagi inilah Indonesia!”. Bayangkan jika kalimat itu sudah mendarah daging bahayanya bukan kepalang, bisa bisa kita membiarkan bangsa Indonesia menggunaka Tisu toilet untuk tisu makan, menggunakan jaket di siang bolong, nongkrong di pinggir jalan mengahalangi pejalan kaki, membawa barang lebih besar dari kendaraannya, penumpang angkutan umum yang bergelantungan, ngupil sembarang tempat.

Fahamilah, Agama bersumber dari Allah, sedangkan budaya bersumber dari manusia. Agama itu maha karya Allah, sedangkan budaya adalah karya manusia.Meski demikian keduanya saling berhubungan erat satu sama lain.

Nurcholish Madjid pernah mengatakan, antara agama (Islam) dan budaya adalah dua bidang yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Agama bernilai mutlak, tidak berubah menurut perubahan waktu dan tempat. Tetapi berbeda dengan budaya, sekalipun berdasarkan agama, dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat.

Iklan