Matdon – R-ois ‘Am Majelis Sastra Bandung

PIKIRAN RAKYAT – Senin 12 Maret 2018

Sebenarmya membicarakan puisi esai adalah pebuatan sia sia, jijik dan menyebalkan, kalau tidak dikatakan perbuatan sampah. Sebab puisi esai yang diusung Denny JA itu tidak jelas. Hanya dengan uang lah kemudian ia menjadi mahluk yang disebut berguna bagi penyair yang dibayar 5 juta.

Menulis puisi adalah pekerjaan intelektual tinggi, tetapi dengan modal uang 5 juta Denny JA telah berhasil membodohkan penulis puisi esai itu, Pola pikir penyair senior Isbedy Setiawan, Vidi Daery dan Anwar Bayu Putera misalnya, menjadi tidak jernih hanya dengan iming-iming uang. Apalagi pola pikir anak muda yang bisa disebut Narudin Pituin. Bayangkan, dengan dibayar uang Narudin berani sekali menyebut Masxisme adalah filsapat kecemburuan, aneh nya pemikiran sesat nya dikagumi oleh dua doktor asal Bandung Chye Rety Isnendes dan Ipit Dimyati, intelektual macam apa yang mereka miliki mengagumi pemikiran ngaco Narudin.

selisik

`         Narudin selalu membanggakan diri dan sombong, tidak mencerrminkan intelektual yang sesungguhnya, mengaku juara debat sejak sekolah yang sebenarnya ia mengidap delusi, tukang  bohong dan bebal, sebebal juragannya yakni Denny JA. Ia hanya berani berdebat di luar forum resmi. Di sisi lain saya menemukan penyakit Victim Mentality Syndrom (VMS) dalam diri Denny JA, Narudin dan antek-anteknya, yaitu salah satu sindrom pola pikir (jiwa) (merasasebagai) korban. Denny JA merasa diserang oleh Saut dkk, gejala nya adalah merasa selalu disakiti padahal ia yang menyakiti. Dalam berkomunikasi penderita suka membalikkan argumen, mencari berbagai pembenaran dan bicaranya berputar-putar.

Dalam ilmu kejiwaan ada penyakit ADD alias Attention Demanding Disorder,  sindrom yang terjadi pada diri seseorang untuk mendapatkan perhatian dan memanfaatkan perhatian tersebut. Denny JA dengan uangnya Caper, sebuah gejala awal ADD. Gejala ADD ini bisa dilihat karena selalu berusaha tampil mencolok daripada orang lain disekitarnya (attention seeking). Selalu menjadikan dirinya sebagai menjadi objek penderita (the victim), ya seperti Drama Queen. Penyakit kejiawan ini sangat bahaya bagi kehidupan apalagi kehidupan sastra, karena ia tidak mau kalah menonjol dari orang lain, ingin populer, hobi pamer.

Menurut Dr. Mark Dombeck, Ph.D, seorang physicotherapist, suatu proses yang sulit unutk sembuh dari penyakit ADD ini. Dibutuhkan tenaga kesabaran nabi Isya dan keberanian nabi Ibrahim. Cara yang terbaik adalah melakukan terapi dengan seorang ahli kejiwaan.

Sekarang coba simak, penyakit jiwa semacam apa ini, Narudin menulis “Berapa banyak yang punya modal menyumbangkan uang demi nama dirinya muncul, padahal kemampuan sastranya tak ada atau kecil sekali, jauh dari ikhlas, ini harus diawasi” Bukan ini gila, Denny JA yang membiayainya dan tidak bagus dalam nulis puisi, tapi Denny JA pun diserang dengan kalimat itu.

Bongkar Denny JA

Sebenarnya tidak penting juga sih,  membicarakan  mereka yang  pura-pura pinter tapi hati mereka tidak berpuisi. Sebab puisi itu jernih, pemikiran dalam setiap syairnya menjadi pembuka mata hati yang buta. Tapi bagi mereka, puisi adalah ladang untuk menjadi kaya raya.

Yang penting dibicarakan adalah Selasa 13 Maret 2018 di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Jl. Perintis Kemerdekaan no 5 Bandung.  “Membongkar Skandal Project sastra Denny JA”. Para pembicara seperti  Ahda Imran, Yana Risdiana, Ari J. Adipurwawidjana, Heru Hikayat dan Hikmat Gumelar Berdoa, akan berbicara panjang lebar bagaimana proyek itu adalah skandal sejarah sastra.

Dalam tulisannya, Ahda Imran membabat habis kebohongan Denny JA yang mengelak telah membiayai project puisi esai. Tidak hanya itu, Denny JA telah mengijon penulis puisi esai yang kebanyakan bukan penyair, tapi mendadak menjadi penyair. Penyusunan buku itu adalah infiltrasi modal ke dalam sejarah sastra Indonesia.

Memang radikalisme modal, terutama di dunia seni, menurut Ahda sangat sulit dideteksi. Tak ada undang-undang dan konstitusi yang dilanggarnya. Termasuk manakala radikalisme modal, yang bekerja lewat sistem ijon itu, membuat beragam klaim seperti dinyatakan Denyy JA, yang segera diamini dan diimani oleh para “karyawannya”, bahwa telah lahir angkatan baru dalam sastra Indonesia, Angkatan Puisi Esai.nny JA.

Ari J. Adipurwawidjana, dosen Unpad ini membahas bagaimana sebuah genre lahir dan berkembang melalui interaksi antar-jejaring yang bersifat horizontal-egaliter yang terus berlangsung. Lingkar Survei Indonesia (LSI) harus mengumpulkan opini publik lewat survei. Pola vertikal-hierarkis yang diterapkan “gerakan puisi-esai” merupakan pola koersif yang selama ini lazim diterapkan dalam dunia politik Indonesia.

Yana Risdiana, Advokat pencinta puisi menulis tentang kontrak puisi esai antara penyair dan pihak Denny JA yang mengutif KUHPer Pasal 1338 (3) dan Pasal 1339 KUHPer yang masing-masing berbunyi: “Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik” dan “Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-haal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang”. Mengaasumsikan penyair, dengan alasan tertentu, setuju akan membuatkan puisi sesuai pesanan dari pemberi kerja dengan harga x rupiah sesuai genre y dan puisi harus diselesaikan dalam jangka waktu z bulan. Lantas, bagaimana kontrak menjadi mungkin dituliskan?

Sementara Hikmat bicara soal gerakan manipulasi yang dilakukan Denny JA dan membandingkan puisi esai Denny JA de ngan puisi WS. Rendra, disana ditulis bagaimana puisi sebagai kejadian nyata yang bisa ditegaskan dengan catatan kaki. Puisi itu akan selsai sebagai teks indah tanpa harus ada catatan kaki.

Heru Hikayat dari seni rupa mencoba membandingkan antara skandal puisi esai di sastra dengan fenomena di seni rupa, ia memaparkan kooptasi pasar pada dunia seni rupa. Bagaimana pasar akan “menelan” semuanya, bahkan kritisisme. Pasar membawa berkah sekaligus kutukan. Meski tidak secara detail menghubungkan langsung fenomena spesifik di seni rupa dengan skandal puisi esai.

Saya yakin. siapapun akan merasa ajrih dengan Amir Hamzah  atau Chairil Anwar, atau kalau di Bandung kita akan merasa hormat pada Saini KM, mereka dengan keringat dan air mata berjuang untuk sastra Indonesia agar menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, dan itu dilakukan berpuluh-puluh tahun. Mereka tak ingin disebut sebagai tokoh sastra. Tetapi kemudian muncul ahli survey, konsutan Politik Denny JA yang  merusak  Sastra Indonesia dengan uang, ia lalu ingin dinobatkan sebagai tokoh sastra berpengaruh, dan pelopior genre sastra baru. Sungguh perbuatan kejam dan hina.

Tentu saja saya setuju dengan Saut Situmorang, Denny JA tak lebih dari penyebar informasi hoax tentang kapasitas dan kontribusi dirinya terhadap Sastra Indonesia – yang tidak punya rasa malu sedikitpun mendanai sebuah buku hoax berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Sebagai konsultan politik yang uangnya banyak, mudah saja bagi Denny JA untuk membuat orang bodoh, manuver uang dalam politik ia masukan ke dalam tubuh sastra Indonesia, maka sastra sekarang sedang di obok-obok oleh jalan politik DJA. Gerakan Denny JA adalah bagian dari manipulasiyang ia lakukan sejak awal tahun 2014 lewat rekayasa penerbitan buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh dalam 100 tahun terakhir.” Semua dia lakukan demi disebut namanya sebagai “pembaharu” dan “tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh”

Ia mencoba membelokan makna dari sejarah ialah studi masa lalu,  mencoba tutup mata, bagaimana para sastrawan dulu, membangun dunia bahasa dan sastra menjadi kesantunan tertinngi manusia dan itu dilakukan tidak dengan uang ketika disebut sebagai tokoh, tapi dengan karya. Denyy JA mengingkari keringat para sastrawan yang berjuang dengan kata untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. DJA juga tak ambil pusing dengan Rendra, Wiji Tulul dan atau yang lainnya, yang dengan susah payah melakoni kesetian serta berjuang demi sastra, tdak membelinya dengan uang.Cag!

 

Iklan