Pencurian Korek Api


Cerpen :  Matdon Pikiran Rakyat 3 September 2017

 “Saudara terdakwa, menimbang perbuatan saudara, mencuri korek api di suatu tempat pada tanggal Dua Puluh Satu Juni 2015, di Tempat Kejadian Perkara Jl, Sri Pahit Nomor 46 Kecamatan Rujak Asem Kota Bandung. Telah melanggar hukum, Tindak pidana pasal 362 KUHP dan pasal 363, dengan ini hakim memvonis saudara satu tahun penjara serta denda 47 ribu rupiah.”

Tok tok tok!

Suara palu ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sapei Rusin terdengar pilu. Malik termenung, wajahnya nampak muram, matanya nanar dan sembab, mengalir di pipinya sungai air mata. Ia tak mengira jika perbuatan tak disengajanya bisa berakibat patal. Terbayang wajah anak dan istrinya. Perlahan ia berdiri dari kursi pesakitan, pertanyaan hakim “Apakah mau naik banding” tak dihiraukannya, lunglai diapit dua pengawal Pengadilan.

Matahari menyengat, padahal baru jam 10 pagi, tapi vonis hakim Sapei Rusin lebih menyengat hatinya. Jiwanya terkoyak, kepalanya berat. Ia menyesal. Setiba di mobil pengangkut tahanan, Malik naik, terdengar lapat-lapat anaknya memanggil dari kejauhan, Tak berani menengok karena ia tak mau jika jiwanya akan makin luluhlantak oleh teriakan itu. Mobil tahanan melaju menjuu Rutan.

korekapi

Hari-hari gelap akan dilaluinya, setahun bukan waktu sebentar, ia akan menelentarkan anak istrinya, tidak memberi nafkah. Anaknya yang masih usia 4 tahun tentu akan bertanya pada ibunya, “Kenapa Bapa dipenjara?”. Lalu ibunya pasti tak bisa menjawab. Sementara para tetangga pasti dengan suka rela mencemoohkannya, menyingkirkan keluarganya dari kehidupan sosial.

“Silahkan masuk Pak” ujar Sipir Penjara, ketika sampai di Rutan. Di balik jeruji yang luasnya hanya 2 x 3 meter itu sudah ada penguni lain; Ada Dodo yang sudah vonis seminggu lalu karena mencuri sendal tetangganya. Ada Emuh, seorang pemetik kopi yang masuk bui lantaran menjual kopi campur jagung, ada juga Ganjar yang diganjar hakim 6 bulan penjara lantaran tanpa sengaja membuang sampah sembarangan. Dan empat penguni lainnya.

Malik duduk di sudut. Matanya menerawang ke belakang, saat peristiwa terkutuk itu terjadi.

***

Mukti, Malik, Timbul dan Dadang sedang main kartu mengisi kekosongan waktu di rumah singgah Jl. Sri Pahit. Itu dilakukan rutin menjelang malam saat pekerjaan masing-masing sudah selsai. Kartu kartu remi kerap menjadi teman setia mereka saat kegalauan bersatu menjadi tawa. Hingar-bingar kesedihan dari rumah masing-masing dibawa ke atas meja dan menjadi pertunjukan yang senantiasa penuh kehangatan. Tentu ada backsound musik dangdut. Lagu-lagu Megi Z, Rhoma Irama dan Mansyur mengiringi suara tawa mereka.

“Cekih..!” teriak Mukti

“Waduh Cekih euy” ujar Malik.

Aku bagaikan kupu kupu diatas mata air, ingin rasanya kuminum, tapi aku takut tenggelam…..engkaulah mata air. mata air cinta, ijinkanlah kumnium walau setetas saja” suara Megi Z dari HP, Dadang mengalun.

Begitulah permainan kartu terus berlangsung, hingga larut malam bahkan subuh. Bintang dan rembulan setia menemani, rumah itu sudah menjadi bagian dari kehangatan pertemenan mereka sejak remaja. Main kartu sudah mereka laukan 15 tahunan, nyaris tiap malam. Kegiatan main kartu berhenti jika diantara mereka ada yang sakit, atau malam takbiran Idul Adha dan Idul Fitri.

“Korek api saya mana?” tiba tiba Timbul bertanya, karena ingin merokok.

“Tadi aya didieu” ujar Dadang

“Coba lihat di saku” Mukti menimpali

“Ga ada, wah pasti ada yang mencuri” teriak Timbul.

“Ini korek api, di saya” Malik yang diam saja dari tadi karena harus ngocok kartu menjawab.

“Kamu mencuri korek api yah” tuduh Timbuk

“Nggak, masa mencuri barang seharga dua rebu perak, tadi tidak snegaja saya masukin ke celana” Malik tersinggung.

“Ini tindak pidana, harus dilaporkan ke Polisi” bentak Timbul. Mukti dan Dadang coba menengahi, bahwa yang diakukan Malik tidak salah, itu biasa dalam sebuah pertemuan, korek api selalu hilang datang dan pergi tanpa permisi.  Harganya memang murah, tapi sangat urgen bagi perokok. Tapi persoalan hilang korek api bukanlah semacan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) sehinga harus dilaporkan ke polisi sebagai Pencurian Korek (Curanrek).

Tapi Timbul keukueh, Malik lah pelaku Curanrek yang harus dilapokan.  Timbul berdiri dari kursi, tangannya diangkat hendak memukul Malik, tapi keburu dicegah oleh Mukti. Permainan kartu jadi kacau dan terhenti.  Kartu-kartu berserakan seperti hati Malik.  Timbul pergi

Mukti dan Dadang menenangkan Malik yang juga emosi karena dituduh mencuri. Mukti berpikir, kehilangan korek api sudah biasa tak perlu dipersoalkan, apalagi sampai memukul dan melaporkannya ke polisi. Malik pun pulang ke rumahnya, dengan hati yang terluka.

***

Selang beberapa hari dari peristiwa itu, Malik dipanggil polisi, Timbul benar benar malaporkan Curanrek yang dilakukannya.

“Apapun, pencurian harus disingkirkan dari nusantara ini,  NKRI harus tetap berdiri tanpa pencurian. Karena Pencurian melanggar hak seseorang, dan oleh karena itu harus segera dibasmi. Dalam pasal 362 KUHP tertulis barang siapa yang mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancan karena pencurian dengan pidana paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak 2 juta” begitulah  Timbul orasi di depan  cermin.

Hingga akhirnya Malik dovonis satu tahun penjara.

***

“Meroko?” tawar Dodo membuyarkan lamunan Malik

“Nuhun, Makasih…” jawab Malik, lalu mengambil sebatang rokok yang ditawarkan.

“Korek api mana?” tanya Dodo pada Emuh

“Pan tadi didinya, coba liaht dulu di saku!”: Jawab Emuh

“Di dalam sel tidak boleh bawa korek api, apinya harus minta pada penjaga sipir” ujar Malik.

“Kamu mencuri korek api saya ya!” tuding Dodo

Nggak, masa mencuri barang seharga dua rebu perak,” Malik tersinggung.

“Ah pasti kamu, ini tindakan pidana, harus lapor sama sipir” timpal Dodo berang.

Suasana gaduh dalam sel penjara. Malik kembali dituduh mencuri korek api.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

GEHU PEDAS


Cerpen : Matdon

indexRibuan massa dari Solidaritas Masyarakat Pencinta Gehu (SMPG) dan Front Pembela Gehu (FPG) serta organisasi massa lainnya memadati halaman Gedung Sate Bandung, mereka melakukan aksi unjuk rasa terkait keberadaan Gehu yang dinilai mereka telah menjauh dari kodrat kegehuan.
“Kembalikan Gehu pada hakikat yang sebenarnya, kembalikan Gehu pada khittoh semula!”, demikian teriakan para pendemo, membahana. Teriakannya menembus langit ke tujuh.
Gehu ialah makanan khas orang sunda, yakni Goreng tahu yang dikombinasi dengan toge dan wortel, cara membuatnya sangat sederhana; tahu dibelah lalu diisi toge dan wortel yang sudah direbus plus bumbu, setelah itu dicelupkan pada adonan terigu lalu digoreng. Gehu enak dimakan featuring cengek, ditemani teh panas atau kopi.
Akhir-akhir ini beredar tahu goreng berisi potongan wortel campur bihun dan bahkan daging cincang di dalamnya, tapi mereka tetap menamakan Gehu. Saat ini ada juga Gehu setan alias super pedas dan digemari banyak orang, rasa pedas di dalamnya karena ditambahkan cabai yang ditumbuk kasar.
Atas dasar tudingan telah menyelwengkan hakikat Gehu Inilah, membuat sekelompok orang melakukan aksi unjuk rasa. Seorang demonstran, Teny Indah Susanti, dengan lantang orasi di atas mobil box :
“Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, kita di sini berkumpul dalam rangka melakukan sebuah perjuangan. Saya ingatkan sekali lagi, di sini, kita berkumpul untuk sebuah perjuangan besar. Perjuangan mengungkapkan sebuah kebenaran yang selama ini ditutup-tutupi. Kebenaran yang menyangkut identitas bangsa. Harga diri bangsa yang dipertaruhkan,”
“Betuuul..!” teriak massa.
“Saudara-saudaraku sekalian, sebagai manusia yang beriman dan berkhidmat kepada gorengan, kita mengenal gehu sebagai sebuah keniscayaan dalam dunia pergorengan. Kini gehu menjadi sangat populer dengan adanya inovasi berupa gehu lada. Kita menyambut baik kemajuan ini betul?,” Teny berteriak.
“Betuuulll..!” jawab demonstran lainnya semangat.
Orasi Teny lantang dan yakin, mengingatkan pada pidato Megawati, mantan presiden Indonesia. Teny memang wanita aktif, ia mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Selain pandai menulis puisi kini ia mendirikan organisasi bernama “Front Pembela Gehu”.
“Saudara-saudara, Gehu yang begitu lada, seuhah, panas, hingga membuat banyak orang mengucurkan air mata dan umbel, berteriak, bahkan tersedak. Betapa gehu itu sangat nikmat. Fenomena ini melanda seluruh kawasan Bandung. Yang bermerk hingga warung-warung kecil berlomba-lomba menyajikan gehu pedas yang memikat lidah meresap ke hati. Tapi saudara-saudara, apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Keberadaan gehu dipolitisir oleh para kapitalis. Gehu masa kini sudah melenceng jauh dari hakikatnya. Apa saudara masih ingat bagaimana gehu dibuat? Hakikat gehu adalah toge di jero tahu! Ada toge di dalam tahu! Sementara gehu-gehu yang beredar di masyarakat saat ini di dalamnya berisi tumisan kol, wortel, dan cabe! Tidak ada toge di dalamnya!”,Teny kembali menggelorakan semangat 45 yang informative soal gehu, sejumlah wartawan asyik mencatat orasi Teny, sementara Gedung Sate membisu, langit cerah dan angin berdesir pelan.
“Saudara-sudara, bahkan ada yang menaruh potongan daging sapi atau kornet di dalamnya, juga daging ayam! Itu semua membuat gehu menjadi lebih nikmat dan membuat kita semua lupa pada hakikat gehu yang sebenarnya. Untuk itu, kami menuntut kembalikan hakikat gehu!, kembalikan toge ke dalam tahu sekarang juga!,kembalikan toge ke dalam tahu! kembalikan toge ke dalam tahu! kembalikan toge ke dalam tahu!”
“Allahu Akbar, Hidup Gehu!!” timpal massa.
“Kami mendukung upaya jihad Gehu, ini harus dilaporkeun ke Menteri Perdagangan, Gehu juga harus disertifikasi,” teriak Herlinda Puteri, aktivis perempuan dari Himpunan Mahasiswa Pro Gehu (HMPG).

“Kita harus dukung toge yang saat ini tengah mencari kedaulatan dalam tahu!”, demonstran lainnya bernama Noel Sagalana ikut berteriak.


Hari sudah larut siang, para demonstran itu masih tetap bersemangat, mereka terus meneriakan yel-yel. Sebagian massa membakar foto Gehu, sebagian lagi berjoget ria.
“Ayoo anggota dewan mana?, kalian harus menemui kami, kami adalah penikmat gehu yang teraniaya. Apakah kalian juga suka makan gehu..?” massa makin tak sabar.
“Gehu adalah harkat dan martabat bangsa, ini persoalan krusial dari dunia kuliner, kami tak ingin bangsa ini dinodai oleh segala bentuk kebohongan. Sekali lagi kami tegaskan, kalau gehu itu isinya toge, jika ada yang mengisi tahu dengan selain toge, maka namanya bukan gehu tapi tahu isi..betuull?, kembali Teny berteriak, suaranya masih lantang meski agak serak.
Demonstran lain menimpali lagi, “Betuuulll, hidup gehuuu, hidup gehu…!”.
Namun menjelang sore tak seorangpun anggota dewan datang menemui mereka. Para demonstran marah, untung mereka masih bisa menahan emosi, sehingga tak terjadi tindakan anarkis, sementara sejumlah polisi berjaga-jaga. Tuntutan mereka sangat sederhana, hanya menginginkan anggota dewan turun menemui mereka dan berdialog soal Gehu, untuk selanjutnya melalukan investigasi tentang hakikat gehu, karena salah satu tugas dewan adalah mendengarkan aspirasi rakyat dan mengakomodir keinginan rakyat.
Karena tak seorangpun anggota dewan menemui mereka, sementara hari sudah malam, akhirnya sebagian demonstran mendirikan tenda di depan Gedung Sate, sebagian lagi memilih untuk pulang.
Sebenarnya ada sms dari salah seorang anggota dewan pada hap milik Teny agar para demonstran pulang ke rumahnya masing-masing, namun sms itu tidak digubris.
“Kenapa anggota dewan beraninya cuma sms, kami kan bukan istri sirri mereka, kalau berani harus datang menemui kami. Kami akan camping disini, sampai dewan mau menemui kami dan menyatakan pendapat soal Gehu” Ujar Teny setengah berbisik, ia nampak kecapean.


Kini sudah empat hari para demonstran itu menginap di tenda. Hingga Cerpen ini ditulis, belum ada informasi lengkap apakah dewan akan menemui mereka atau tidak. Konon sejumlah wartawan yang melalukan konfirmasi menerima kabar, semua anggota DPRD Jabar sedang melalukan studi banding ke Itali, untuk mengetahui cara membuat pizza.

Bandung, Desember 2012.

 

PIL PAHIT


Oleh Matdon

Pikiran Rakyat 24 Pebruari 2013

 

Dede,Dedy dan Rike bersahabat sejak masih duduk di bangku SMA, keinginan mereka selalu sama, kemanapun selalu bersama, pun ketika mereka menyeragamkan cita-cita untuk hidup menjadi artis besar. Namun takdir bicara lain, Rike hanya  menjadi penyanyi dangdut  amatiran, mangung dari kampug ke kampung bersama grup orkes Melayu pimpinan Haji Yayan. Dede menjadi stuntman untuk flm-film atau sinetron laga, sedangkan Dedy memilih menjadi pemain sandiwara keliling.

Hidup werit membuat mereka kerja keras, gigih dan penuh semangat.  Delapan tahun semenjak  lulus sekolah SMA kehidupan itu mereka mulai. Berbekal perawakan cukup sintal dan wajah manis Rike mencoba mengadu nasib di Jakarta tapi nasib baik tak kunjung tiba hingga akhirnya ia ngamen di bis kota dengan alat musik kecrek. Dari ngamen itulah ia menabung dan membeli gitar bekas, lalu akhirnya kehidupan ngamen menyeret ia menjadi penyanyi dangdut,

Dede juga demikian, ia meninggalkan rumah menuju Jakarta dengan harapan bisa menjadi artis terkenal seperti Dede Yusuf atau Rano Karno, tapi rupanya menjadi artis bukan hal mudah, ia harus memiliki skill yang bagus dan tentu saja nasib baik.  Untuk memperpanjang hidup Dede bekerja jadi tukang cuci pakaian artis, lalu menjadi peñata rias, dan akhirnya menjadi stuntman, sebuah profesi pengalihan takdir dari cita-citanya. Sementara Dedy ikut acting course pada sebuah kelompok teater, ia sangat ingin menjadi Teguh Karya, Arifin C Noer atau Dedy Mizwar. Sayang, seperti kedua sahabatnya, Dedy juga harus mengubur cita-citanya itu dan hanyut hanya menjadi pemain sandiwara keliling.

Di Jakarta ketiganya kerap bertemu mendiskusikan langkah-langkah hidup, sharing dan berbagi kesedihan, juga berbagi makanan jika ada rejeki lebih. Persahabatan ini seharusnya dinikmati pembaca dengan derai air mata. Jika tidak,, cukup senyum-senyum kecil dulu tak apa.

images

***

Delapan tahun hidup di kota besar, cukup menempa jiwa mereka, mental mereka terlatih oleh langit luas, angin malam dan terik matahari. Hingga akhirnya mereka kembali ke kampung halaman ; desa Kurang Senyum Kecamatan Rancatan Kabupaten Babad Raweuy.

Rupanya mereka kembali ke kampung, juga dengan tujuan yang sama, yakni mencalonkan diri menjadi Kepala Desa dalam musim Pilkades, Kali ini pencalonan masing-masing tanpa diskusi, karena satu sama lain tidak mengetahui jika ketiganya daftar menjadi calon dalam Pilkades.

Jadi kamu mencalonkan diri jadi kepala desa?” Tanya Dede pada Rike

Kamu juga ya?” kali ini pertanyaan pada Dedy, saat mereka tanpa sengaja bertemu di sebuah pos ronda.

Kamu juga kan?”, bentak Dedy dan Rike menujuk hidung Dede.

Oke, kalau begitu kita bersaing”, tantang Rike

“Oke, siapa takut!” jawab Dede

“Saya juga tidak takut,” timpal Dedy.

Benih-benih permusuhan mulai menyelinap dalam bingkai persahabatan mereka, perang dingin dan jarang bertegur sapa. Ketiganya sibuk menyiapkan kampanye demi kemenangan, demi martabat diri masing-masing.

“Saudara-saudara, saya memang seorang wanita, tapi tidak ada salahnya wanita memimpin sebuah desa, jika saya terpilih menjadi kepala desa di sini, maka semua dana pendidikan dihapuskan, puskesmas gratis, bahkan pengangguran akan saya beri gaji setiap minggu. Desa ini harus maju dan dihormati oleh desa lainnya!” teriak Rike dalam sebuah kampanye di lapangan Desa Kurang Senyum.

“Desa ini harus bebas dari premanisme dan korupsi, desa ini harus menjadi desa percontohan dalam pembangunanm karena itu saya akan membangun gedung  mewah untuk olahraga, saya akan membangun sarana apa saja yang warga inginkan!” Pada kampanye yang lain Dede tak mau kalah,

Sementara di lapangan yang sama waktu berbeda, Dedy berteriak, “Saya ingin desa ini memiliki pertokoan mewah dan warga bebas membeli sembako murah bahkan gratis, saya juga akan menyalurkan bakat warga yang ingin menjadi artis, kalau perlu semua warga disini jadi artis, atau desa ini kita sewakan menjadi desa tempat syuting film dan uangnya kita bagi bagi!”

***

Hari pencoblosan Pilkades tiba, penghitungan suara seharusnya dimulai jam 12 siang tadi, tapi belum juga dilakukan. Semua warga menunggu kedatangan tiga calon kepala desa. Pada awal pencoblosan Rike, Dede dan Dedy memang hadir di TPS yang dipusatkan di halaman desa, namun saat penghitungan tiba mereka menghilang. Warga mengira mereka pulang ke rumahnya masing-masing untuk sekedar makan dulu.

Waktu terus beringsut, dua jam warga menungggu kehadiran tiga calon kepala desa, Mereka mulai gelisah, waktu Ashar tiba ketiganya belum juga hadir.  Hansip sudah menyusul ke rumah masing-masing tapi mereka tak ada di rumah.

Kamu yakin mereka tidak ada di rumah?” Tanya Ketua panitia Pilkades pada hansip Adang Boke.

“Ciyus Pak, saya sudah tiga kali ke rumah Pak Dedy, rumah Bu Rike dan rumah Pak Dede, mereka tidak ada di rumah. Rumah mereka sepi Pak..” jawab Adang Boke.

Kalau begitu, mari kita sama sama mencari mereka!” ajak  Aming, sang  ketua panitia.

Akhirnya semua warga mencari ketiga calon, menyusuri sore ke dusun-dusun. Hingga menjelang magrib tak juga ditemukan. Sedangkan penghitungan suara harus segera dilakukan tak bisa ditunda.  Karena kelelahan, semua warga kembali ke halaman desa tempat pemungutan suara.

Kita kembali saja ke kantor desa” ajak Aming  putus asa.

Dan betapa terkejutnya warga, sesampai di halaman kantor desa nampak Rike duduk terkulai dengan tubuh bersimbah darah, baju kotak kotak catur hitam putihnya penuh bercak darah, di dada kirinya tertancap pisau. Di sampingnya nampak tubuh Dedy juga demikian, lehernya nyaris putus, darah mengalir membasahi baju putih kebanggaannya, sedangkan Dede yang juga sudah tak bernyawa berada di samping keduanya, tangan Dede putus, perutnya teburai. Sebuah pemandangan yang mengerikan.

Warga panik dan ribut, ada yang menjerit, ada yang pingsan dan ada juga yang berlarian kesana kemari sambil teriak teriak “Calon Kades kita matiiii…calon Kades kita mati berjamaah!!”. Begitu teriakan mereka.

Aming, Adang Boke dan sebagian warga yang masih bertahan disana mencoba tenang, dihampirinya pelan-pelan ketiga jasad itu Aming memeriksanya perlahan. Di telapak tangan  masing-masing ada secarik kertas yang sama, nyaris basah oleh darah. Aming mencoba menarik ketiga kertas itu.

“Ini kwitansi tagihan pembuatan kaos kampanye dan spanduk….” Aming berkata gemetar setelah mengetahui ketiga kertas itu.

“Saya lah yang membunuh ketiga pembohong itu!”, Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kantor desa, suara Mang  Aher, seorang penguasaha sablon dan pembuat spanduk di desa itu. Mang Aher berdiri di depan pintu, tangannya bersimbah darah.

 “Mereka saya bunuh di lapangan desa, setelah saya culik tadi siang di rumah masing-masing. Kalian pasti bertanya kenapa saya membunuh mereka, mereka berjanji akan membayar sisa hutang kaos dan spanduk sehari sebelum Pilkades, tapi ketika saya tagih mereka tak mau membayar. Pembohong  harus dibunuh. Bagaimana mungkin mereka bisa memimpin desa kalau mereka pembohoong”.

Mang Aher panjang lebar berkata. Ia masih tetap berdiri di depan pintu kantor desa, sementara warga terbengong-bengong.

 

Bandung, Desember 2012

BUKAN MENUNGGU GODOT


 Oleh Matdon

Tribun Jabar, Oktober 2012


Setelah beberapa jenak berdiri, Frans memberanikan diri mengetuk pintu rumah Lita, kekasihnya. Malam itu dengan pakaian agak rapih, Frans bermaksud melamar. Sendirian tanpa teman. Ia yakin kedatangannya merupakan niat baik, sehingga meskipun datang sendiri, akan memberi nilai kuat pada niat.

Frans dan Lita sudah tiga tahun pacaran. Pertama kali bertemu saat keduanya nonton pertunjukan teater di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung. Frans nonton teater tanpa sengaja karena sepeda motornya mogok tepat di depan gedung kesenian itu, sedangan Lita karena diajak temannya.

Ini bukan sinetron, pertama kali mata Frans memandang Lita penuh kekaguman, dari mata Lita memancar keindahan rembulan dan kelembutan pagi, begitu yang ada dalam imajinasinya. Sementara Lita memandang Frans sangat takjub, ia merasa lelaki itu adalah matahari bagi hatinya. Perkenalan membawa mereka pada rutinitas pacaran.

Frans, pemuda berusia 28 tahun, berwajah manis. Kerja di sebuah toko elektronik dengan gaji 750 ribu rupiah perbulan. Ia sarjana ekonomi lulusan perguruan tinggi negeri. Terpaksa bekerja sebagai pelayan toko saking susahnya mencari kerja, benar kata kawannya dulu ketika ia Wisuda, bahwa Wisuda itu akronim dari Wilujeng Susah Damel. Sedang Lita gadis berusia 24 tahun, tidak begitu cantik tapi good looking, lehernya jenjang, senyumnya bisa serasa memadamkan terik matahari dan matanya seindah mata artis Desy Ratnasari.

Virus cinta Romeo dan Juliet telah merasuk pada kedua insan itu. Tiga tahun lamanya. Pun ketika Lita mengungkapkan bahwa ia akan menikah dengan lelaki pilihan orangtuanya.

“Saya akan menikah malam ini, kamu harus datang dan menculik saya, membawa lari saya, kita pergi kemana saja, asal kita bahagia”. Begitu pinta Lita pada Frans.

“Saya akan datang dan langsung melamar, sebelum lelaki pilihan orangtua kamu datang.” Janjinya.

Angin berdesir ditiupkan malaikat. Mengeringkan dua bibir mereka setelah  bersentuhan selama 3 menit.

                                          images

***

Punteenn…” suara Frans bergetar.

Mangga, tunggu sebentar,” seorang lelaki tengah tuwu – bukan ayah Lita, karena Frans tak mengenalnya- membuka pintu, ia menjelaskan Lita sedang dandan dan meminta Frans menunggu di teras rumah. Frans mengangguk lalu duduk di kursi.

Rumah Lita tepat di pinggir jalan besar, selain besar juga termasuk mewah. Ayahnya seorang pensiunan ABRI. Frans pernah datang ke rumah itu dua kali, itupun hanya di ruang tamu, ia tak tahu persis seluas apa rumah Lita. Padahal jika saja Frans mau jalan jalan ke belakang rumah itu, ia akan menemui sebuah taman seluas lapangan badminton, di sebalah kanan taman terdapat sebuah rumah asri.

Rupanya di sebelah kiri taman ada pintu masuk  dari sebuah gang besar yang bisa dilalui mobil. Kerabat dan tamu-tamu ayah Lita selalu masuk lewat gang besar itu.

Seperti malam itu, dua mobil Avanza, dan tiga mobil Mercy parkir di halaman kiri samping. Sebuah pesta pernikahan basajan digelar. Dalam hati Lita menangis, kenapa lelaki pujananya tidak datang menjemput.

Akad nikah selesai sampai jam 9 malam, tamu bubar dan Lita bersama suaminya menjalani hari-hari di rumah itu, rumah di samping kanan taman. Suaminya adalah PNS, sekarang menjadi Kabid Kebudayaan di Dinas Pariwisata.

Hari hari dilalaui pasangan suami istri ini, sejak menikah malam itu pintu utama tempat Frans menungu tidak lagi digunakan, aktivitas rumah tanggga berjalan normal. Tiap pagi Lita membuat sarapan untuk suaminya,  mengantarkannya sampai pintu. Pintu yang terletak di sebelah kiri taman dari sebuah gang besar yang bisa dilalui mobil

Dua puluh satu tahun sudah Lita dan suaminya menjalani rumah tangga, tiga anak mereka lahir sehat dan sempurna, bahkan anak pertamanya sudah kuliah di ITB. Hampir lulus. Lita menjalani kehidupan ini dengan sedih yang digembirakan, hari hari dilalui nyaris tanpa kesedihan

 

***

Berita duka datang, suami Lita tewas akibat kecelakaan lalu lintas di perbatasan kota Bekasi saat mengantar seorang jemaah haji. Tentu ia terluka. Luka lama saat ditinggal Frans sudah hampir sembuh tiba tiba harus menemui luka lainnya. Suami yang mulai ia cintai dua hari lalu kini sudah tiada.

Langit mendung, ini malam ke tujuh digelar tahlilan. Tamu yang datang sangat banyak, ikut mendoakan suaminya. Mereka masuk rumah melalui pintu samping dari arah gang, karena pintu depan tempat Frans mengetuk pintu, sudah 21 tahun tidak lai digunakan.

Upacara tahlilan selesai jam sepuluh malam, para tamu sudah pulang. Tinggal Lita sendirian, ketiga anaknya berada di kamar masing-masing. Pikirannya berkecamuk tidak jelas, membayangkan kesabaran sang suami menghadapi dirinya hingga Lita jatuh cinta juga, meskipun telat. Ya, Lita mulai jatuh cinta pada suaminya setelah 21 tahun menikah, saat ia memasuki usia 45 tahun, dua hari sebelum suaminya kecelakaan. Ia merasa berdosa telah mengabaikan kasih sayang suami.

Ah, tiba tiba ia teringat Frans, kekasih yang tak memenuhi janji menjemputnya malam itu. Tiba-tiba juga ia benci pada Frans, pertanyaan kenapa Frans tak datang malam itu kembali hinggap di benaknya. Matanya mulai gerimis, ia tak tahu lagi bentuk dan rasa yang ada di hatinya. Sedih, kecewa dan entah perasaan apa lagi.

Lita beranjak dari tempat duduk, melangkah gontai menuju kamarnya. Melewati pintu depan yang selalu terkunci, sejurus kemudian ia melirik pintu depan itu. Langkahnya beralih menuju pintu. Dibukanya pelan-pelan…

Demi rembulan yang tersembunyi di balik awan, mata Lita melihat sesosok tubuh kerempeng, wajahnya kusam, rambut putih panjang.

“Ooh..Lita, akhirnya kamu membukakan pintu untukku,” ujar lelaki itu, pelan dan terbata bata.

“Frans…kau Frans…?”. Teriak Lita.

Bandung, OKtober 2012

BUBUR AYAM


Cerpen : Matdon

Pikiran Rakyat, Oktober 2012

Koridor rumah sakit sunyi, hanya detak jarum jam dan sesekali langkah petugas terdengar. Tapi memasuki ruang Mustofa lantai dua tempat dirawat Ohit dan Opit  riuh oleh jeritan ringan dan erangan kecil. Seluruh tubuh Ohit dan Opit dibalut perban, hanya wajah yang tersisa. Ohit dan Opit adik kakak, ihwal keduanya masuk rumah sakit karena terlibat dialog serius yang menurut keduanya sangat berarti bagi ego masing-masing.

“Bubur ayam yang paling enak mah yang ada di pasar Ciroyom,” ujar Ohit sang kakak memulai perbincangan saat berjalan dengan adiknya menuju kebun stroberi. Ini bukan pertama kali mereka bergandengan tangan menuju kebun yang letaknya bergandengan pula, nyaris dalam seminggu 4 kali mereka menengok kebun masing-masing. Tapi perbincangan soal bubur ayam baru kali ini.

“Wah bohong, bubur ayam paling enak mah di pasar Andir atuh, jaba buburnya gurih, racikannya juga mantab,” jawab Opit, tangannya merangkul sang kakak. Mesra.

“Bubur ayam di pasar Ciroyom atuh, lebih heded, pake telor, pake cangkueh, tiap malam penuh pembeli,” Timpal Ohit.

“Komo yang di pasar Andir mah dari magrib sampai jam dua subuh ngantrii….” Opit tak mau kalah.

Mereka memang kerap berangkat ke Pasar andir dan Ciroyom untuk menjual buah stroberi jika panen tiba, setiap pergi ke pasar mereka bersama sama berangkat dari Ciwidey. Opit memasarkan stroberi ke pasar andir sedangkan Ohit ke pasar Ciroyom. Berangkat jam 3 sore sampai di pasar jam 7 malam. Keduanya berpisah lalu bertemu kembali saat pulang pagi hari. Rupanya Ohit sering makan bubur di pasar Ciroyom sebagaimana Opit sering makan bubur di pasar Andir.

“Yeuh, tukang bubur di pasar Ciroyom mah sudah hapal betul selera pembeli, pengalaman sejak tahun 1990, jadi dia sangat tahu bagaimana meracik bubur enak,” Ohit menerangkan ihwal bubur ayam kebanggaannya.

“Tukang bubur ayam di pasar Andir ge Kang, lebih pengalaman, ia sangat tahu selera penggemar bubur,” Opit tak mau kalah

“Bubur ayam di Ciroyom lah yang enak mah”

“Bubur ayam Andir  tak ada duanya”

“Bubur ayam Ciroyom is the best”

“Bubur ayam Andir lebih is the best”

“Gurih”

“Nikmat”

“Enak”

“Lezat”

“Nanaonan makan bubur di pasar Andir, becek, kotor dan tidak sehat”

“Komo bubur Ayam di Ciroyom, lebih becek dan kotor, hiyyy geuleuh”

Tiba-tiba langkah keduanya terhenti, tangan Opit lepas dari pundak kakaknya. Ohit melotot. Keduanya saling pandang, saling melotot. Sorot mata keduanya memancarkan amarah.

“Kamu jangan macam macam sama saya” gertak Ohit sambil memegang kerah baju adiknya

“Eh, akang juga jangan macem macem, nanaonan ieu!”, Opit menpis tangan Ohit

“Saya sudah bilang bubur ayam yang paling enak itu hanya ada di Ciroyom”

“Saya juga sudah bilang bubur ayam yang enak sekali hanya ada di pasar Andir”

“Ciroyom”

“Andir”

“Ciroyom”

“Andir”

“Ciroyom  kéhéd”

“Andir bebel”

Plakk!!. Sebuah tamparan mengena pipi Opit

“Waduh, najan kamu kakak saya saya tidak takut, kamu menghina adik sendiri” teriak Opit sambil membalas tamparan Ohit. Keduanya terlibat perkelahian, lima meter sebelum sampai ke kebun stroberi.

“Saya akan memegang teguh prinsip bahwa hanya bubur ayam pasar Ciroyom yang enak” Ujar Ohit mengepalkan kedua tanggnnya sambil berjaga-jaga menghindari pukulan adinya.

“Saya juga menjaga hak saya, saya bebas mengatakan dan membela bubur ayam di pasar Andir,” ujar Opit.

Sore cerah. Orang-oranag sekampung datang menyaksikan Ohit dan Opit berkelahi. Sebuah perkelahian yang seimbang. Tak ada yang melerai mereka, sampaia akhirnya Pak Lurah datang saat tubuh Ohit dan Opit sama sama terkulai, mata Opit bengkak begitupun mata Ohit. Kaki dan tangan Ohit patah begitupun kaki dan tangan Opit. Pinggang Ohit terluka akibat sabetan bedog Opit, pinggang Opit luka parah akibat ditikam pisau milik Ohit.

Keduanya ambruk di tengah kebun stberi.


Perjalanan dari Ciwidey menuju rumah sakit di kota Bandung membutuhkan waktu 4 jam. Macet. Kini keduanya berada dalam satu ruangan dengan tubuh terbalut perban, tinggal wajah yang tersisa.

Menjelang tengah malam, keduanya kesakitan, saling mengerang dan saling menatap penuh penyesalan.

“Kang, hampura nya, masalah bubur ayam kenapa jadi begini”

“Iya, akang juga minta maaf, akibat bubur ayam kita masuk rumah sakit”.

“Iya kang…duh..sakit”, Opit mengerang lagi.

“Kamu sih bedegong, kan sudah saya bilang kalau bubur ayam yang paling enak itu hanya ada di Ciroyom” ujar Ohit, suaranya nyaris tak terdengar. Terbata-bata.

“Ari akang, kan sudah saya bilang bubur paling enak mah hanya di pasar Andir” timpal opit,juga terbata-bata.

Rumah sakit yang sunyi tiba-tiba riuh. Dialog keduanya (walaupun) pelan ternyata mengundang banyak pasien dan dokter. Kini ruangan tempat dirawat keduanya penuh oleh pasien dan dokter.  Dengan tubuh terbalut perban kedunya berusaha bangun untuk melanjutkan perkelahian. Tubuh keduanya ambruk seperti saat ambruk di kebun stroberi.

Bandung, Oktober 2012