//
you're reading...
BUDAYA

MUKTI-MUKTI, GITAR AKUSTIK DAN MUSIK BALADA

B (90)oleh : Matdon

Pikiran Rakyat Senin 13 Oktober 2014

Mukti-Mukti, sosok musisi balada asal Bandung yang memulai karir di awal tahun 90-an. Merekam lagu-lagunya lewat kaset, kaset itu dibagikan pada teman-temannya. Oleh teman-temannya kembali direkam, direkam lagi oleh temanya yang lain, terus begitu berulang-ulang. Sampai pada suatu waktu, Mukti mendengarkan lagunya diputar, dan itu terdengar rebek alias noise, mungkin karena itu rekaman yang ke berapa dari kaset pertama. Dari situ lah Mukti mulai berfikir untuk memproduksi karya-karyanya.
Di kalangan musik balada di tanah air, Mukti dikenal sebagai musisi yanag “nakal”, enggan masuk dunia rekaman. Lebih senang memproduksi lagunya sendiri lalu dibagikan kepada para petani, kaum buruh dan kawan-kawannya. Musik balada yang diusungnya menukik pada lirik lagu.
Pada syair lagu musik balada, bunyi bisa menimbulkan efek dan kesan tertentu. Bunyi yang dapat menekankan arti kata. Syair musik balada didominasi oleh fonem bunyi indah. Ia menjelma kesakitan, kepedihan, kesunyian tapi juga perlawanan. Puisi, menjadi catatan tercecer pada dawai gitar. Musik balada bukanlah musikalisasi puisi, karena balada itu sendiri adalah puisi.
Suara nyaringnya mengungkapkan berbagai kesaksian atas berbagai peristiwa sosial, cinta, pergerakan mahasiswa dalam menentang rezim pemerintahan yang berkuasa pada zamannya.
Setiap konser digelar, Mukti selalu memakai label Konser Cinta, tentu universal maknanya. Dan setiap konser, tak lepas dari gitar akustik. Tiga senyawa antara gitar, syair dan musisi menjadi bagian penting dari musik balada yang diusungnya. Mukti selalu membawakan sejumlah lagu yang dibuatnya sendiri atau digubah dari puisi-puisi milik para Penyair, sahabat-sahabatnya.
Dalam subyektivitas saya, pada musik balada irama gitar terdengar bunyi jeritan indah ditambah syair pesan pemberontakannya sangat kuat. Musik balada memang syarat dengan pesan dalam syairnya, dan musik balada tak bisa dipisahkan dari puisi.
Tubuhnya yang nyaris menyerupai Jokowi, agak ringkih karena kesehatnnaya akhir-akhir ini kurang menyenangkan, tak menghalangi Mukti-Mukti untuk terus bersuara.
Seperti malam itu, Sabtu 27 September 2014 di auditorium CCF Jl. Purnawarman 32 Bandung, dalam konser bertajuk “Garis Khatulistiwa”. Ia memainkan empat gitar akustik tematik dengan sejumlah lagu indah, meskipun hanya pada lagu “Revolution Is”, “Maesaroh” dan “Cigembong” saja ia membawakan lagu perlawanan, tanpa amarah berlebihan.
Mungkin Mukti sudah capek Marah-marah, bahkan ketika lagu “Revolution Is” diiringi gesekan enam biola, lagu itu terasa aneh, darah lagu mengalir pada biola bukan pada kekuatan teks seperti konser sebelumnya, meski tetap ada perlawanan; perlwanan sunyi. Tapi itulah Mukti-Mukti, ia tetap merangkai gambaran kisah penyusurannya atas kehidupan, merekam berbagai peristiwa lewat syair, lalu menjadikannya lagu.

Memelihara Perlawanan

Begitu cara Mukti-Mukti menjaga agar ingatan terhadap berbagai peristiwa tetap terpelihara. Tak heran jika sebagian besar lagu yang dihasilkan Mukti-Mukti adalah penuturan atas apa yang telah disaksikan dan dirasakannya sejak 1980-an ketika ia kuliah di Unpad. Di dunia mahasiswa itulah lahir lagu-lagunya tentang cinta, protes sosial, dan gerakan perlawanan rakyat. Termasuk juga memunculkan apa yang dirasakan.
Bagi Mukti-Mukti, bermusik tidaklah sekedar memainkan alat musik untuk menghasilkan komposisi yang dapat dinikmati. Tetapi bermusik, membuat alat musik, dan membuat lagu adalah cara yang dilakukannya agar dapat menjaga rasa serta kesadaran untuk terus meneriakkan dan membangkang dari segala penindasan.
Hal ini dilakukannya sebagai bentuk pengabdian bagi kehidupan dan atas kesepiannya karena ditinggalkan banyak kawan seperjuangan yang membelot menjadi pemegang saham partai politik.
Konser malam itu adalah konser rutin tahunan Mukti, Konser rutin tetap dipelihara untuk merayakan kegembiraan yang sakit rakyat Indonesia, untuk memeliharta perlawanan.
Tema “Garis Khatulistiwa” tedengar seperti kalimat milik Orde Baru, mungkin Mukti ingin menyuarakan perlawanan bagaimana Orde Baru kembali berkuasa di tanah air setelah Pilkada oleh DPRD disahkan.
Tetapi sebagaimana garis khatulistiwa, adalah garis imajinasi yang membentang di lingkar tengah planet bumi. Nyanyian garis khatulistiwa ini adalah suguhan imajinasi Mukti-Mukti selama ia bermusik, membuat alat musik dan membuat lagu, yang kemudian dikemas dalam satu lingkar waktu dan disajikan pada satu episode konser.
Balada adalah sajak yang bersemangat, ia bicara soal kehidupan tanpa bermaksud khotbah. Semangat terus Mukti!, Ayo lebih keras lagi berteriak revolusi, dan lebih lirih lagi berbisik kata Anjing! .

Diskusi

2 thoughts on “MUKTI-MUKTI, GITAR AKUSTIK DAN MUSIK BALADA

  1. Wah, ieu yeuh Sang Maestro yang down to earth pisan. Semoga Pak Mukti, Pak Matdon, dan para anggota MSB sehat selalu. Aamiin ya Rabb.

    Posted by Jalu Kancana | 14/03/2015, 11:07

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: