Matdon – Rois Am Majelis Sastra Bandung

Ulama di Indonesia ada dua kubu, ulama pro Jokowi dan Pro Prabowo. Bengisnya politik membuat ulama terpecah menjadi dua, masing-masing merasa bahwa keyakinannya yang benar. Ini tentu membingungkan ummat Islam.

Di sisi lain ada hadits Rasul yang menyebutkan “Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk pada orang yang berada di gelap malam di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk.” (HR. Ahmad)

cropped-87d899f2-9a80-42b8-bef5-3465406660d6.jpg

Lalu Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin berkata “Tidaklah terjadi kerusakan rakyat itu kecuali dengan kerusakan penguasa, dan tidaklah rusak para penguasa kecuali dengan kerusakan para ulama.”.

Disini jelas, kebingungna ummat Islam di tanah air semakin galau karena peran ulama yang seharusnya amar makruf nahi munkar, semakin tak jelas, bahkan seperti menjadi pemecah belah ummat, sekali lagi hanya seperti. Mereka seperti tak lagi sebagai pewaris para Nabi membawa kabar gembira. Sekali lagi, seperti.

Persatuan dan kesatuan sebagai salah satu perkara yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, seperti yang difirmankan Allah “Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali (agama) Allah, dan jangan sekali-kali kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 102) sepertinya sudah tidak ada. Menurut Muhamad Mustaqim dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, mahasiswa Program Doktor UIN Walisongo Semarang, tokoh agama adalah “artis seksi” yang menjadi pertimbangan Jokowi dan Prabowo.

Entitas ulama dalam Pilpres 2019 menjadi komoditas politik yang berharga mahal. Hal ini kiranya karena beberapa hal. Pertama, isu agama terbukti memberi peran penting dalam kontestasi politik. Pilkada Jakarta adalah pelajaran paling berharga yang harus diingat. Elektabilitas Anies-Sandi yang awalnya relatif kecil, mampu didongkrak dengan membonceng salah satunya isu agama. Jokowi dan Prabowo tentunya tidak ingin diruntuhkan hanya dengan isu berbau agama. Apalagi kedua petarung ini bukan merupakan representasi kalangan agama.

Betapa kita masih ingat, pada Pilpres 2014 ada fenomena uji “ngaji” al-Quran yang ditantangkan pada kedua kandidat, yang merupakan sebuah sarkasme bahwa ngaji mereka berdua sangat mengecewakan. Agama selalu menjadi isu seksi dalam sebuah kontestasi politik. Hal ini karena agama merupakan nilai keyakinan ilahiah yang sakral bagi setiap orang. Umat beragama akan mudah digerakkan untuk melakukan sebuah tindakan atas nama agama.

Apalagi jika menyentuh istilah-istilah ritus-dogma yang transenden seperti jihad, kafir, musyrik dan sejenisnya. Ada semacam kesadaran primordial bagi setiap pemeluk agama, dan ini sangat sensitif untuk digerakkan jika dibungkus dengan label agama.

Dan, dalam politik selalu berlaku prinsip machavellian: semua sah dan halal untuk mencapai tujuan.
Dengan menggandeng ulama maka legitimasi rilijius akan mudah didapatkan. Apalagi jika lawan politik menggandeng kalangan agamawan, maka hukumnya menjadi fardhu ain untuk melakukan hal yang sama. Di tengah arus religious trend di kalangan milenial, maka berduet dengan kaum agamawan adalah sebuah keniscayaan strategi. Secara filosofis, kepemimpinan merupakan wakil Tuhan di muka bumi, demikian dalil filsafat teokrasi. Dengan dwitunggal nasionalis-ulama akan memberi legitimasi kepemimpinan yang berbasis agama. Atau, setidaknya menjawab logika terbalik, pihak lawan tidak akan mudah menjegal melalui isu agama.

Tanpa masuk ke wilayah praktis, ulama sebenarnya sudah berpoltik, yakni dengan ajaran-ajaran yang menyejukkan, menyegarkan pikiran, tidak menyesatkan ummat. Adakah Ulama yang benar benar Ulama ada di Indonesia? Cag!