MATDON

PATROMAKS – Jumat, 27 Oktober 2017 

Banyak cara dilakukan bakal calon Walikota Bandung dan Gubernur Jabar  untuk menyosialisasikan dirinya ke masyarakat. Namun, dari sekian banyak cara ada beberapa yang tidak mengundang simpatik, justru sebaliknya.

Salah satu contoh  adalah bakal calon Walikota Fiki Satari dan Bakal Gubernur Jabar Ridwan Kamil. Fiki Satari  melakukan kampanye dengan yang memasang poster dirinya di pohon dan beberapa sudut kota Bandung, sementara Ridwan Kamil di Karawang dan Pengandaran. Dan ini mengundang kritikan keras dari berbagai kalangan.

Fiki Satari cukup peka, ia dan tim nya langsung mencabut gambar gambar itu sementara Ridwan Kamil masih diam saja. Dan tentu itu hanya contoh, masih banyak calon bakal pemimpin yang demikian.

Khusus Bandung, belum ada niat baik Pemkot Bandung menata ulang penempatan dan pemasangan iklan politik itu yang dipasang di ruang publik yang layak. Niat  mewujudkan ruang publik bebas dari tebaran teror visual seperti tidak ada dalam program. Saya kira, spanduk politik itu semacam teror.

Material promosi yang menjadi sampah visual dan dipasang di tiang telepon, tiang listrik, tiang rambu lalu lintas serta ditancapkan di trotoar dan dipakukan di batang pohon, ternyata semakin sulit diberangus.

Menurut  Dr. Sumbo Tinarbuko, seorang Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta,  materi iklan politik milik kandidat calon walikota tersebut justru mencederai dirinya sendiri. Mereka dicitrakan sebagai calon penguasa yang bebas menjalankan ritual komunikasi politik dengan menisbikan kesepakatan menempatkan iklan politik di ruang publik. Para kandidat calon walikota sudah mengkondisikan ruang publik seolah miliknya beserta calon partai pendukung. Mereka menganggap memasang publikasi diri untuk menginformasikan sosoknya sebagai kandidat calon walikota adalah hak pribadi.

Mereka secara subversif mengabaikan hak publik yang berjuang menjadikan ruang publik milik publik. Bahwa ruang publik tidak boleh diprivatisasi menjadi milik merek dagang, partai politik dan kandidat calon walikota.

Sulit sebenarnya mengetahui niat seseorang menjadi Calon pemimpin apalagi menakarnya, karena semua mengusung atas nama kebaikan rakyat dan hati nurani. Tapi ketang kita bisa dengan mudah menebak sekaligus menilai niat itu, dalam takaran obyektif maupun subyektif.

Lihat saja, sebentar lagi ada beberapa perilaku calon yang mencoba “merapihkan” niat dengan cara membantu korban bencana.  Ada yang cerdas dan inovatif, memberi bantuan berupa bungkusan biskuit ditempel stiker foto caleg dengan tulisan “Bantuan ini diperjuangkan dan diusahakan oleh si A, calon walikota atau calon Gubernur Jabar.

Sampai disitu, apakah anda sudah bisa menilai niat calon pemimpin tersebut?, Baiklah saya tambahkan lagi kasus yang sering terjadi di masyarakat: ada calon datang ke pengajian atau majelis taklim membantu memberi sajadah, Quran dan perangkat lainnya. Dan itu dilakukan ketika si calon belum pernah sebelumnya ikut pengajian. Rupanya ia sedang bersembunyi dibalik “Hidayah” Allah. Samarukna Gusti Allah bisa dibohongi. Dan biasanya setelah ia terpilih, ia tidak lagi ngaji karena kesibukannya.

Calon Pemimpin

 Dari sejumlah kisah nyata tadi, saya kira bisa diambil pernyataan miris bahwa betapa hinanya para calon  yang memperalat hawa napsunya demi jabatan dan betapa teganya dia memanfaatkan masyarakat untuk dibohongi, seolah-olah bohong menjadi fardu ain bagi seorang calon atau politisi.

Sesungguhnya masyarakat merupakan Kawah Candradimuka bagi seorang calon  terlebih jika dibenturkan dengan keikhlasan berpolitik. Masyarakat merupakan ladang amal yang harus dimanfaatkan tidak hanya ketika seseorang menjadi calon, karena untuk beramal tidak harus jadi calon. Para calon tak menyadari kawah candradimuka itu sesekali akan merobek niat busuknya ke dalam strata sosial paling rendah, ialah koruptor.

Sebab niat yang busuk sejak awal selalu melahirkan kebusukan-kebusukan selanjutnya termasuk korupsi.

Seorang Calon  tidak lahir dari niat dan keinginan sendiri dan partai politik tapi harus berawal dari masyarakat, partai hanyalah kendaraan. Tentu saja koar-koar melalui spanduk dan poster tidak cukup membuktikan niat itu, karena ternyata spanduk/poster semakin menjadi sampah visual bagi keindahan kota. Kadang mereka memasang nya tanpa aturan, memasang panduk/poster di Pohon dengan cara dipaku, di depan sekolah/kampus, bahkan di dinding mesjid atau di kaca jendela rumah tanpa izin.

Pertanyaan terus berlanjut, apakah niat calon  benar benar ikhlas? dan jika sudah menjadi pemimpin apakh siap melayani kepentingan rakyat mengalahkan kepentingan pribadi.

Saya hanya ingin mengingatkan untuk para Calon  yang niatnya busuk untuk segera memperbaiki diri dengan cara mundur dari pencalonan, dan bagi mereka yang memiliki niat baik, ingat enam hal yang wajib dimiliki.

Pertama seorang calon  harus cerdas, tidak hanya cerdas otak tapi cerdas hati memahami kemauan rakyat, kedua harus memiliki sifat menyayangi rakyat, tidak membodohi. Ke tiga harus sabar untuk tidak korupsi (membantu bencana dengan atribut, memasang poster sembarangan adalah salah satu bentuk korupsi hati). Ke empat harus mempunyai harta halal yang cukup untuk membantu masayarakat. Ke lima harus mau dikritik dan keenam harus mempunyai pengalaman berpolitik di masyarakat.

Pengalaman berpolitik di masyarakat yang saya maksud ialah mempunyai jejak rekam yang baik. Cag!

Iklan