Pikian Rakyat, 13 Juni 2017

 

 

Ramadhan pada hakikatnya ialah kesadaran penuh atas kekurangan diri sebagai manusia, tak berdaya atas kuasa Tuhan dan segala kehendaknya. Kesadaran yang harus muncul pada setiap diri manusia dan khususnya pemimpin.

Diwajibkannya puasa selama sebulan penuh agar manusia yang beriman itu Laallakum Tattaqun, agar kelakuan manusia lebih baik dari peristiwa masa lalu. Menyadari penuh bahwa manusia penuh khilap. Maka bulan Ramadhan sebuah kesempatan yang  hebat untuk mengukur diri apakah sesorang itu beriman atau tidak, seorang pemimpin beriman atau tidak.

Meski harus diakui juga Ramadhan sering digunakan untuk “nyumputkeun” kepentingan politik. Sholat tarwih dan kegiatan buan Ramadahan dimanfaatkan untuk kampanye atas kepemimpinan dirinya. Memanfaatkan ibadah untuk kepentingan politik sungguh bukanlah sebagai pemimpin yang beriman dan kita harus menjauhi pemimpin seperti itu.

Hakikat Ramadhan itu ibadah yang  tidak memperhitungkan pahala, jika pemimpin sholat tarwih, tadarus dan lain-lain dengan harapan akan dipilih nanti menjadi pemimpin lagi, maka itu sudah termasuk penistaan agama, sebuah penistaan tanpa ampun. Pemimpin itu bisa ketua RT, RW Lurah, Camat, Bupati, Gubernur atau Presiden.

Moment Ramadhan sebenarnya sebuah kesempatan untuk babalik pikir, tobat yang sebenanya, tobat yang tidak pura-pura. Sebab Ramadhan sering dimanfaatkan untuk berpura-pura soleh dan baik, misalnya para artis memakai  gamis dan kopeah serta baju muslim agar nampak berahlakhulkarimah. Politisi ramai-ramai memasang spanduk dengan atribut partainya mengucapkan “selamat berpuasa”padahal ia sendiri tidak berpuas apalagi Tarwih.

ramadah

Maka Ramadhan adalah kesempatan  baik untuk mengembalikan citra buruk itu, mengucapkan selamat lewat spanduk partai politik itu citra yang buruk, artis memakai baju islami hanya di bulan Ramadhan itu adalah citra buruk, dan banyak lagi citra buruk lainya.  Ramadhan bukanlah pencitraan apalagi gimick berlebihan, karena rakyat tak perlu gimick, tapi butuh pencerahan, butuh pendidikan, butuh kebahagiaan. Kebahagiaan rakyat tidak dibangun dengan hanya taman indah, tapi dengan keberanian seorang pemimpin ketika bersalah meminta maap untuk kemudian kembali menata kepemimpinannya agar lebih bagus. Juga dengan merealisasikan janji-janji politik saat kampanye, pelan tapi pasti.

Pemimpin Itu Ramadhan

Tuhan telah memberikan karunia di bulan Ramadhan dan menurunkan fitrah manusia sebagai mahluk yang suci. Lahir tanpa dosa warisan dari kedua orang tuanya maupun nenek moyangnya. Menjadi pemimpin juga adalah fitrah, tidak membawa dosa pemimpin terdahulu, misalnya  Ridwan Kamil tidak membawa dosa walikota Bandung sebelumnya. Jadi jangan membuat dosa yang baru dengan Ramadhan.

Ingat, pemimpin itu harus ada niat membahagiakan rakyat bukan ngalilieur rakyat lewat estetika yang tidak jelas. Tapi dengan esetika moral yang baik yang tidak dibuat buat. Jadikan estetika moral untuk menjalankan amanat rakyatnya. Boleh lah ada pencitraan tapi dengan kerja yang baik bukan dengan koran, tv, twiter atau fb.

Ramadhan baru beberapa hari, pembinaan spiritual selama Ramadhan harus  dijadikan sebagai alat interospeksi bagi kelemahan diri sebagai manusia, sebagai pemimpin. Pemimpin sejati yang mampu melewati Ramadhan dengan baik ialah pemimpin yang bertanggungjawab, bicara yang baik dan mau dikritik. Tanpa kritik, apalah artinya seorang pemimpin, kalau tak mau dikiritik jangan jadi pemimpin. Kritik berarti nyaah, jangan dianggap kritik rakyat terhadap pemimpinnya sebagai sebuah caci maki.

Perlu difahami bahwa kritik merupakan sebuah sumbangan pemikiran, ia sebuah analisa dan evaluasi sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki sebuah pekerjaan. Jika ingin urun rembug mencari solusi harus lebih intelektual, harus lebih ramah dan berwawasan ikhlas yang tinggi. Pengikut yang turut marah jika walikotanya dikritik malah membuat suasana gaduh.

Kembali ke Ramadhan, tuluslah interospeksi  sebagai pemimpin, jangan terlalu gumasep dengan prestasi yang sudah ada meski  manfaat  tapi hanya baik sebagian kecil saja.  Menjadi seorang pemimpin merupakan sebuah amanah besar yang harus dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab, sebab kelak segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang pemimpin, akan diperhitungkan pada suatu hari yang pasti, yakni Hari Penghisaban.

Seorang pemimpin mempunyai peran penting bagi kehidupan rakyatnya dengan parameter dan indikator ia sebagai pemimpin yang bai, misalnya indikator ia mempunyai jiwa seni mempengaruhi serta memberikan motivasi bagi rakyat. Harus jujur dan terbuka, sebab kejujuran merupakan sangat penting Ramadhan adalah kesempaan paling jujur untuk mengakui segara kekurangan.

Selain itu indikator bijaksana dan adil. Bijaksana dalam memutuskan masalah dan adil dalam bersikap. Ada banyak pemimpin yang hanya mementingkan proyek karena ia satu almamater sekolah. Itu tidak adil dan bijaksana. Selanjutnya ia haruslah memahami ruh kutural daerah setempat.

Ruh Kultural bisa didapat jika seorang pemimpin menjalani ramadhan deegan baik. Sebab Ruh Kultural itu sebuah renungan pada diri dan sekelilingnya. Tidak datag ujug ujug, ia harus melalui proses yang bersih dan indah. Cag!

Iklan