Pikiran Rakyat 3 Agustus 2017

Wajah dunia politik Indonesia dihiasi dengan makin berjubelnya artis.  Fenomena ini sudah terjadi sejak tujuh atau sepuluh tahun dan fenomena ini sebenarnya terjadi di setiap negara.  Di Amerika ada Ronald Reagen, bintang film layar lebar itu berhasil menjadi Presiden Amerika Serikat dan kiprahnya dinilai berhasil. Lalu aktor laga Arnold Scwharzenneger, ia pernah menjabat Gubernur California,  ada juga Joseph Estrada, mantan aktor  Filipina yang pernah menjabat sebagai presiden dan mungkin masih banyak lagi pejabat negara yang berasal dari kalangan artis.

Partai Politik menjadi tujuan kendaraan yang harus ditumpangi para artis, pada Pemilu 2009 Partai Amanat Nasional merupakan partai terbanyak yang menjadi incaran para selebritis. Sebut saja Eko Patrio, Derry Drajat, Ikang Fauzi, Mrisa Haque. Dari Partai Bintang Reformasi (PBR) ada Dewi Yull, Partai Damai Sejahtera (PDS) Maya Rumantir, Bella Saphira dan Tessa Kaunang sebagai caleg.

Lalu kita pernah dikegetkan juga dengan Saeful Jamil, Julia Perez, Ayu Azhari dan sejumlah selebritis lainya termasuk RanoKarno, Dizky Chandra, Dede Yusuf atau Deddy Mizwar, Rike Dyah Pitaloka, Pasha Ungu, Andre Taulani, Ahmad Dhani  ke dalam bursa calon kepala daerah.  Selebritis mendongkrak dunia politik tanah air, ada yang berhasil ada juga yang gagal. Popularitas mereka bisa ‘dijual” dengan mengandalkan keartisannya dan kecerdasannya.  Yang tidak cerdas tentu kembali jadi artis.

Di Jawa Barat tentu politik artis lebih subur lagi, saya sampai lupa berapa banyak artis yang berlabuh di Parpol demi kedudukan kursi legislatif dan kepala daerah.  Keterlibatan selebritis dalam kancah perpolitikan tentu saja tidak menyalahi aturan karena hak asasi manusia telah tercantum dalam Undang-Undang dasar 1945 dan tersebar dalam beberapa pasal terutama pasal 27-31. Maka hak asasi manusia meliputi hak atas kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, hak atas kebebasan berkumpul, hak atas kebebasab beragagama, hak atas penghidupan yang layak, hak atas kebebasan  berserikat, hak atas pengajaran. Tapi kemudian realitas lah yang menentukan mereka.

Namun kehadiran mereka di ranah politik entah membuat lembar politik negeri ini jadi semakin bagus atau tidak. Yang jelas rakyat belum merasakan hal yang baru dari hadirnya para artis ini.

Maka tak salah jika Jawa Barat adalah Propinsi Selebritis, karena di tanah sunda pernah ada Dede Yusuf (pernah jadi Wakil Gubernur Jawa Barat), Dicky Chandra (pernah jadi Wakil Bupati Garut), Primus (pernah Calon wakil Bupati Subang). Juga yang duduk di kursi legislatif, seperti Nurul Arifin, Rike Dyah Pitaloka, Nico Siahaan, Rachel Maryam Sayidina, Dede Yusuf Macan Effendi, Desi Ratna Sari, Primus Yustisio, Krisna Mukti.

Ketahuilah, Artis yang berhasil membawa kehidupan politik, baru di Amerika, yakni Ronald Reagan, Arnold Scwharzenneger, dan Joseph Estrada. Ceuk beja kepemimpinan para selebritis di luar negeri berhasil menembus ketentraman hati rakyatnya, sejumlah program terwujud dengan rapi dan dicintai rakyatnya. Wallahu a’lam teu apal.

Kini di Jawa Barat, menjelang Pilgub 2018 dan walikota Bandung sejumlah artis mulai menghiasi lembar koran dan online untuk berebut kursi Jabar satu sebut saja Deddy Mizwar, Dede Yusup, Desy Ratna Sari, Ridwan Kamil (eh maaf, Ridwan Kamil bukan artis), Nurul Arifin dan Farhan (Balon Walikota Bandug) entah apakah Rieke Dyah Pitaloka akan hadir kembali atau tidak. Mereka akan menjadi bumbu penyedap politik dalam Pilgub mendatang.

Memasuki era pemilihan Gubernur adalah memasuki wilayah impian dan harapan. Dan ketika rakyat disibukan dengan kampanye, para calon pemimpin tertingi pun sibuk memasuki wilayah wilayah-janji yang biasanya berisi kebohongan, impan dan harapan, mereka sibuk masuk pasar,  sesuatu yang tidak pernah dilakukan saat sedang berkuasa, ada yang sibuk naik ojeg dan delman, sebuah aktivitas yang tdak pernah mereka lakukan sebelumya. Inilah kampanye. Persis seperti artis!

desi

Puncak Popularitas

Jika fenomena selebritis terjun ke blantika politik ini bagus dan sudah ada teladan dari artis sebelumnya, maka tak jadi soal jika fenomena ini diteruskan. Tapi jika fenomena ini preseden buruk bagi pasar politik kita, lebih baik birahipolitik itu disimpan dulu saja, sampai saatnya tiba ketika kecerdasan berfikir sudah menjadi milik calon pemimpin entah dari latar belakang apa. Jual tampang dan popularitas belum tentu  membuat rakyat senang, memang siapun warga negara berhak untuk terjun di politik, sistem demokrasi kita selalu menjunjung dan menghargai mereka yang ingin mewarnai hidup dengan politik.

Budaya perpolitikan di Indonesia adalah menilai seseorang tentang bagaimana dapat memiliki kekuasaaan didasarkan pada faktor-faktor kekayaan, memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, kharisma, keterunan dan proses politik & sosial

Pro dan kontra terus bergulir tentang keterlibatan selebritis dalam ranah perpolitikan.  Sekali lagi,eksistensi dalam ranah perpolitikan selebritis merupakan modal awal bagi dirinya mengembangkan keterampilannya dibidang politik.

Lalu apakah kemunculan selebritis politik merupakan perwujudan dari ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemimpin dan Parpol memanfaatkan hal ini mempersunting selebritis sebagai calon legislatif atau calon kepala daerah tertentu.

Artis merupakan bagian dari masyarakat yang berhak mengabdi pada negara, Jika ada partai politik yang rela membuka pintu bagi artis, ya katakanlah sebagai hiburan politik yang mahal. Namun biasanya artis yang memasuki wilayah  politik biasanya mereka  yang sudah mencapai puncak popularitas dan ingin tetap eksis setelah masa keemasannya berakhir.

Padahal puncak popularitas adalah sunyi.

Iklan