Pikian Rakyat, 19 Juli 2017

Dalam dongeng masyarakat Yunani kuno, ada seorang pemuda bernama Narsis putra Dewa dan Bidadari. Selain tampan, Narsis orangnya cuek dan angkuh. Ia jatuh cinta pada ketampanan dirinya ketika ia melihat bayangan wajahnya di air kolam yang bening. Setelah itu ia tidak peduli orang lain yang mencintainya, ia hanya mencintai dirinya sendiri.

Ia selalu bercermin di kolam dan bicara sendiri. Jika ia menyentuh bayangan wajahnya maka airnya beriak dan ia menunggu air tenang dan kembali melihat wajahnya yang  tampan. Narsis selalu merindukan wajahnya sendiri, karena saking cinta pada dir sendiri.

Narsis baru sadar ketika tubuhnya terasa hangat dan menghilang. Kawan kawannya yang datang di kolam itu hanya menemukan bunga yang bagian tengahnya berwarna kuning, bentuknya seperti terompet. Kelopak bunga dibagian pingirnya berwarna putih lembut. Merasa yakin itu Narsis maka bunga itu dinamakan bunga Narsis.

Itu hanyalah dongeng yang kebenarannya belum tentu . Tapi kemudian gejala Narsis begitu banyak dimiliki manusia, baik pejabat atau rakyat, Presiden atau Menteri, Politikus atau Sastrawan. Manusia merasa paling benar dan paling tampan, lalu bertebaranlah spanduk-spanduk narsis yang menjajakan dirinya untuk menjadi sesuatu, menjadi Gubernur atau walikota misalnya. Dan spanduk itu menjadi kolam bercermin para politikus. Saya yakin di dalam mobil mewah ia akan melihat wajahnya terpampang cetar membahana di setiap pojok kota.

Maka lahirlah  Narsisisme (dari bahasa Inggris) atau narsisme (dari bahasa Belanda), yakni  perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Politikus Indonesia tengah terkena gejala ini, mereka menjadi narsisis (narcissist), narcisius!.

Dalam ilmu psikologi, Sifat narsisisme itu ada dalam setiap manusia sejak lahir, tetapi Agama yang akan mencegah dan menyadari jika jumlah Narsis yang   berlebihan akan menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis.

Politkus yang narsis adalah politikus kesepian, yang memiliki kelainan kepribadian atau bisa disebut juga penyimpangan kepribadian, ini merupakan istilah umum untuk jenis penyakit mental seseorang. Di Harian Pikiran Rakyat 14 April 2003 ditulis,  apabila narsisme  sudah mengarah pada kelainan yang bersifat patologis, maka rasa percaya diri yang kuat tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tidak sehat, karena hanya memandang dirinya lah yang paling hebat dari orang lain tanpa bisa menghargai orang lain

Politkus yang sadar bahwa dirinya Narsis maka ia akan hidup tenang meski tanpa spanduk dalam Pilkada nanti.

Nah, Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI sudah menetapkan tanggal pencoblosan Pilkada Serentak 2018  yaitu dilakukan pada 27 Juni 2018. Masih lama, tapi spanduk-spanduk narsis mulai ramai.

politisi

Spanduk Narsis

Kita ke masa lalu lagi dulu, Rasulullah SAW selalu menjadi contoh bagi ibadah Ummat manusia, mulai dari ibadah Uluhiyah sampai ibadah sosialiyah. Pun ketika Rasul menjadi (calon) pemimpin, tidak ada satu spanduk pun yang terbentang bertuliskan “Pilih Muhammad, muda dan kreatif”, “Muhammad Is The Best” atau ”Muhammad calon pemimpin masa depan”.

Lho kan waktu itu belum ada spanduk apalagi backdrop?. Salah!. Coba saja Nabi Muhammad bisa membuat spanduk dari bendera yang sudah ada zaman itu, atau bisa saja kain yang terbentang di Ka’bah itu dibikin spanduk.  Ketahuilah pada zaman sebelum Nabi Muhammad lahir telah ada lomba menulis puisi, dan puisi puisi yang baik ditempel di Ka’bah, itu artinya sangat memungkinan Nabi Muhammad membuat spanduk. Tapi Nabi Muhammad tidak melakukan itu.

Zaman zama kecanggohan sudah ada sejak Nabi Nuh yang membuat perahu dengan kapasitas 100 orang, Nabi Daud mampu membuat besi menjadi lunak dan membuat alat-alat perang dari besi. (baca Qurab Surat QS Saba ayat 10-11, Surat Al-Anbiyaa’ ayat 80 dan Surat Ali Imran ayat 191). Semuanya hidup di abad Sebelum Masehi.  Apalagi Nabi Nabi Sulaiman yang hidup pada tahun 1000 Sebelum Masehi, beliau menunjukkan kekuatan kepada Ratu Kerajaan Saba’ membawa singgasana Ratu Balqis dari Kerajaan Saba’ di Yaman ke Palestina.

Apalagi di zaman Nabi Muhammad yang hidup di sekitar tahun 571 – 634 Masehi, Rasulullah bisa saja membuat spanduk tapi itu tidak dilakukannya karena beliau adalah calon pemimpin yang tidak ingin menjadi pemimpin atas keinginan  sendiri, tapi dipiih oleh rakyat. Kaarena itu Rasul tidak pernah berjanji lewat spanduk, kecuali memberikan fatwa dari Allah bahwa orang yang akan masuk surga adalah orang yang menyayangi fakir miskin dan anak yatim.

Kembali ke tanah air, Pilkada  2018 akan diikuti 171 pilkada se Indonesia baik Provinsi, Kota dan Kabupaten, kota Bandung dan Jawa barat salah satunya Di kota Bandung sejumlah Politikus sudah pada nonggol dengan spanduk dan baliho menampilkan Narsisme dan memperkenalkan siapa dirinya.

Kena harus Narsis, bukankah salah satu syarat pemimpin yang baik memang tidak menebar janji-janji, apalagi janji itu dipasang dalam teks spanduk, sungguh ini selain menyakitkan mata juga menyakitkan hati rakyat. Karena bagaimanapun juga setiap pemimpin akan ditanya oleh Allah tentang apa yang telah dipimmpinya termasuk menunaikan janji saat kampanye (di spanduk).  Al-Wa’du Dainun – Janji itu adalah hutang. Kelak pemimpin yang hanya mengumbar janji harus bertanggung jawab atas janjinya.

Pemimpin yang baik tidak boleh narsis. Calon pemimpin yang baik adalah mampu mendengarkan rakyat bukan memperkeruh susana dengan spanduk, bayangkan berapa biaya membuat spanduk, saya pikir akan lebih baik jika dana spanduk itu disumbangkan kepada fakir miskin. Sungguh calon pemimpin yang memasang spanduk di bulan ie telah mengabaikan kebutuhan orang lain. Memasang spanduk itu malah terkesan gila hormat.

Calon pemimpin yang memasang spanduk menandakan bahwa ia tidak mampu menilai prestasi sendiri, ia mengalami risau yang berlebihan alias galau, takut tidak terpilih nantinya. Spanduk-spanduk itu seolah menjadi ciri khas bahwa dia tidak mampu mengendalikan emosi.

Spanduk-spanduk berisi slogan dan propaganda itu sungguh perbuatan tidak terpuji, mengotori keindahan kota yang seharusnya bersih dari hiruk pikuk janji politik. Bersih dari hingar bingar propaganda yang tak jelas. Saya pikir tidak berebihan jika rakyat melihat calon pemimpin demikian sebagai badut sirkus, narcisius politikus dengan syahwat politik dan ambisius  yang luar biadab. Cag!

Iklan