Cerpen :  Matdon Pikiran Rakyat 3 September 2017

 “Saudara terdakwa, menimbang perbuatan saudara, mencuri korek api di suatu tempat pada tanggal Dua Puluh Satu Juni 2015, di Tempat Kejadian Perkara Jl, Sri Pahit Nomor 46 Kecamatan Rujak Asem Kota Bandung. Telah melanggar hukum, Tindak pidana pasal 362 KUHP dan pasal 363, dengan ini hakim memvonis saudara satu tahun penjara serta denda 47 ribu rupiah.”

Tok tok tok!

Suara palu ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sapei Rusin terdengar pilu. Malik termenung, wajahnya nampak muram, matanya nanar dan sembab, mengalir di pipinya sungai air mata. Ia tak mengira jika perbuatan tak disengajanya bisa berakibat patal. Terbayang wajah anak dan istrinya. Perlahan ia berdiri dari kursi pesakitan, pertanyaan hakim “Apakah mau naik banding” tak dihiraukannya, lunglai diapit dua pengawal Pengadilan.

Matahari menyengat, padahal baru jam 10 pagi, tapi vonis hakim Sapei Rusin lebih menyengat hatinya. Jiwanya terkoyak, kepalanya berat. Ia menyesal. Setiba di mobil pengangkut tahanan, Malik naik, terdengar lapat-lapat anaknya memanggil dari kejauhan, Tak berani menengok karena ia tak mau jika jiwanya akan makin luluhlantak oleh teriakan itu. Mobil tahanan melaju menjuu Rutan.

korekapi

Hari-hari gelap akan dilaluinya, setahun bukan waktu sebentar, ia akan menelentarkan anak istrinya, tidak memberi nafkah. Anaknya yang masih usia 4 tahun tentu akan bertanya pada ibunya, “Kenapa Bapa dipenjara?”. Lalu ibunya pasti tak bisa menjawab. Sementara para tetangga pasti dengan suka rela mencemoohkannya, menyingkirkan keluarganya dari kehidupan sosial.

“Silahkan masuk Pak” ujar Sipir Penjara, ketika sampai di Rutan. Di balik jeruji yang luasnya hanya 2 x 3 meter itu sudah ada penguni lain; Ada Dodo yang sudah vonis seminggu lalu karena mencuri sendal tetangganya. Ada Emuh, seorang pemetik kopi yang masuk bui lantaran menjual kopi campur jagung, ada juga Ganjar yang diganjar hakim 6 bulan penjara lantaran tanpa sengaja membuang sampah sembarangan. Dan empat penguni lainnya.

Malik duduk di sudut. Matanya menerawang ke belakang, saat peristiwa terkutuk itu terjadi.

***

Mukti, Malik, Timbul dan Dadang sedang main kartu mengisi kekosongan waktu di rumah singgah Jl. Sri Pahit. Itu dilakukan rutin menjelang malam saat pekerjaan masing-masing sudah selsai. Kartu kartu remi kerap menjadi teman setia mereka saat kegalauan bersatu menjadi tawa. Hingar-bingar kesedihan dari rumah masing-masing dibawa ke atas meja dan menjadi pertunjukan yang senantiasa penuh kehangatan. Tentu ada backsound musik dangdut. Lagu-lagu Megi Z, Rhoma Irama dan Mansyur mengiringi suara tawa mereka.

“Cekih..!” teriak Mukti

“Waduh Cekih euy” ujar Malik.

Aku bagaikan kupu kupu diatas mata air, ingin rasanya kuminum, tapi aku takut tenggelam…..engkaulah mata air. mata air cinta, ijinkanlah kumnium walau setetas saja” suara Megi Z dari HP, Dadang mengalun.

Begitulah permainan kartu terus berlangsung, hingga larut malam bahkan subuh. Bintang dan rembulan setia menemani, rumah itu sudah menjadi bagian dari kehangatan pertemenan mereka sejak remaja. Main kartu sudah mereka laukan 15 tahunan, nyaris tiap malam. Kegiatan main kartu berhenti jika diantara mereka ada yang sakit, atau malam takbiran Idul Adha dan Idul Fitri.

“Korek api saya mana?” tiba tiba Timbul bertanya, karena ingin merokok.

“Tadi aya didieu” ujar Dadang

“Coba lihat di saku” Mukti menimpali

“Ga ada, wah pasti ada yang mencuri” teriak Timbul.

“Ini korek api, di saya” Malik yang diam saja dari tadi karena harus ngocok kartu menjawab.

“Kamu mencuri korek api yah” tuduh Timbuk

“Nggak, masa mencuri barang seharga dua rebu perak, tadi tidak snegaja saya masukin ke celana” Malik tersinggung.

“Ini tindak pidana, harus dilaporkan ke Polisi” bentak Timbul. Mukti dan Dadang coba menengahi, bahwa yang diakukan Malik tidak salah, itu biasa dalam sebuah pertemuan, korek api selalu hilang datang dan pergi tanpa permisi.  Harganya memang murah, tapi sangat urgen bagi perokok. Tapi persoalan hilang korek api bukanlah semacan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) sehinga harus dilaporkan ke polisi sebagai Pencurian Korek (Curanrek).

Tapi Timbul keukueh, Malik lah pelaku Curanrek yang harus dilapokan.  Timbul berdiri dari kursi, tangannya diangkat hendak memukul Malik, tapi keburu dicegah oleh Mukti. Permainan kartu jadi kacau dan terhenti.  Kartu-kartu berserakan seperti hati Malik.  Timbul pergi

Mukti dan Dadang menenangkan Malik yang juga emosi karena dituduh mencuri. Mukti berpikir, kehilangan korek api sudah biasa tak perlu dipersoalkan, apalagi sampai memukul dan melaporkannya ke polisi. Malik pun pulang ke rumahnya, dengan hati yang terluka.

***

Selang beberapa hari dari peristiwa itu, Malik dipanggil polisi, Timbul benar benar malaporkan Curanrek yang dilakukannya.

“Apapun, pencurian harus disingkirkan dari nusantara ini,  NKRI harus tetap berdiri tanpa pencurian. Karena Pencurian melanggar hak seseorang, dan oleh karena itu harus segera dibasmi. Dalam pasal 362 KUHP tertulis barang siapa yang mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancan karena pencurian dengan pidana paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak 2 juta” begitulah  Timbul orasi di depan  cermin.

Hingga akhirnya Malik dovonis satu tahun penjara.

***

“Meroko?” tawar Dodo membuyarkan lamunan Malik

“Nuhun, Makasih…” jawab Malik, lalu mengambil sebatang rokok yang ditawarkan.

“Korek api mana?” tanya Dodo pada Emuh

“Pan tadi didinya, coba liaht dulu di saku!”: Jawab Emuh

“Di dalam sel tidak boleh bawa korek api, apinya harus minta pada penjaga sipir” ujar Malik.

“Kamu mencuri korek api saya ya!” tuding Dodo

Nggak, masa mencuri barang seharga dua rebu perak,” Malik tersinggung.

“Ah pasti kamu, ini tindakan pidana, harus lapor sama sipir” timpal Dodo berang.

Suasana gaduh dalam sel penjara. Malik kembali dituduh mencuri korek api.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan