Pikiran Rakyat Selasa 24 Oktober 2017

Ada peristiwa Hari Sumpah Pemuda di bulan Oktober, tepatnya pada 28 Oktober 1928.  Sebuah peristiwa heboh saat itu, dimana  para pemuda dari berbagai daerah berikrar dalam sebuah janji suci kebangsaan  yakni Sumpah Pemuda . Isinya tak lain sebuah pengakuan satu bangsa Indonesia, satu tanah air Indonesia, dan satu bahasa Indonesia. Sejarah kemudian bergulir, bulan Oktober menjadi Bulan Bahasa.

Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 lalu, adalah sebuah momentum kebangkitan Bangsa Indonesia yang saat itu belum merdeka. lagu Indonesia Raya menggema pada penutupan acara, lagu kebangsaan karya WR. Supratman itu untuk pertama kalinya seakan menjadi penyemangat para pemuda, dan pemerintah Belanda lengah, menyepelekan napas perjuangan rakyat Indonesia melalui bahasa.

Dengan semangat yang hebat, seorang pemuda (sastrawan) bernama Muhammad Yamin membuat coretan puisi atau semacam draft di secarik kertas, diberikan pada Soegondo Djojopoespito selaku pimpinan rapat. Lalu diedarkan dan direvisi, dan jleg, jadilah teks puisi “Sumpah Pemuda” yang terkenal itu. Maka Bulan Oktober menjadi bulan kelahiran bahasa persatuan. Soegondo membacakannya langsung.

Sejak saat itu, Sumpah Pemuda menjadi puisi yang heroik, ia ditulis oleh para pemuda dari berbagai daerah di tanah air. Puisi pendek itu membahana kemana -mana, dampaknya sangat luas untuk sebuah kesadaran penuh atas nama rakyat Indonesia. Jika Indonesia merdeka tahun 1945, maka sumpah pemuda adalah perjuangan nyata hingga Indonesia benar-benar merdeka.

Tak salah jika pada peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI) 4 Oktober 2017 di Jakarta didengungkan bahwa Indonesia dilahirkan oleh puisi pendek  berjudul Sumpah Pemuda. Sejak tahun 1928, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Tetapi akhir-akhir ini tidak semua rakyat Indonesia mengetahui bulan Oktober sebagai bulan bahasa. Atau mungkin mereka tahu tapi tidak peduli lagi dengan arti dan makna penting berbahasa karena memang sehari hari sudah bicara dengan bahasa, jadi buat apa bahasa diperbincangkan bahkan diperingati.

Apalagi di tengah hiruk pikuk persoalan bangsa mulai dari peristiwa politik, sosial, budaya serta ekonomi, yang mau tidak mau persoalan bahasa menjadi nomor sekian dari persoalan primer dan skunder bangsa.  Sehingga tak aneh kiranya jika kegiatan yang berkenaan dengan perkembangan bahasa dan sastra (khususnya) bisa dikatakan sepi. Semangat Sumpah Pemuda yang jelas-jelas menyatakan satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air lewat begitu saja.

 puisii

Menengok Bahasa Indonesia

Pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu –  bahasa penghubung antar suku di Nusantara (Ini terjadi pada  zaman Sriwijaya), juga digunakan sebagai bahasa dalam perniagaan. Hal ini bisa dilihat dari tulisan yang terdapat pada batu Nisan di Minye Tujoh, Aceh, lalu Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang pada tahun 683, sampai Prasati Karang Brahi Bangko, Merangi, Jambi, pada Tahun 688.

Bahasa Melayu selain sebagai bahasa perdagangan antar suku yang ada di Indonesia maupun pedagang dari luar indonesia, juga sebagai bahasa  resmi kerajaan, dan sudah sejak lama sudah berfungsi sebagai bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan sastra.

Bahasa melayu mudah diterima di Indonesia, serta mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia. Penyebaran bahasa melayu bersamaan dengan penyebaran Agama Islam di wilayah Nusantara.

Bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia karena bahasa melayu sudah merupakan lingua franca (bahasa pengantar/bahasa pergaulan) di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdangangan, sederhana, tidak mengenal bahasa kasar dan halus.

Pada perkembangan selanjutnya bahasa melayu dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang pada akhirnya disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Inilah yang kemudian dilirik oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda bahasa Melayu (Tinggi) dapat membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi, terjadi pada awal abad 19 dan terbentuklah “bahasa Indonesia” yang secara perlahan terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor. Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca, namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Bahasa ibu masih menggunakan bahasa daerah yang jumlahnya mencapai 360 bahasa.

Perkembangan selanjutnya bahasa Melayu di wilayah nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia.

Kita tak bisa lepas dari Budi Utomo, sebagai faktor yang mempengaruhi perkermbangan bahasa Indonesia. Budi Utomo (1908) merupakan organisasi nasional pertama berdiri, tempat berkumpulnya kaum terpelajar bangsa Indonesia, dengan sadar menuntut agar syarat-syarat untuk masuk ke sekolah Belanda diperingan,.

Kita tak bisa melupakan Sarekat Islam (1912), partai ini memang bergerak dibidang perdagangan, sosial dan politik tetapi bahsa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Lalu Balai Pustaka, pimpinan Dr. G.A.J. Hazueyang belakangan berubah menjadi balai pustaka, memberikan kesempatan kepada pengarang-pengarang bangsa Indonesia untuk menulis cerita ciptanya dalam bahasa melayu.

Terlalu panjang jika sejarah bahasa ini dirunut ke sejarah perkembangan Ejaan van Ophuijsen,  Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Ejaan Soewandi, sampai ejaan bahasa prokem dan terakhir bahasa alay. Yang jelas, bahasa Indonesia termasuk 10 besar bahasa di dunia setelah bahasa Cina, Inggris, Hindi, Spanyol, Rusia, Arab, Bengal, Portugal,dan Jepang.

Meskipun bahasa Indonesia sempat “dijejali” dengan bahasa prokem dan bahasa alay yang merajalela pada zamannya. Karena perkembangan teknologi dan globalisasi mempunyai pengaruh pada perkembangan kehidupan sehari-hari termasuk dalam pergaulan bahasa.  Perkembangan media sosial alias dunia maya  seperti Facebook dan Twitter tak bisa dipungkiri menjadi salahsatu penyebab lahirnya bahasa alay. Biarkan saja itu berkembang, tak usah dilarang, karena pada akhirnya mereka akan kembali menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya, justru perkembangan bahasa itu akan menjadi kamus besar pada suatu masa nanti.

Pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari, kaum remaja tidak mau terikat bahasa baku, mereka menilai bahasa alay yang dipergunakan sudah menjadi bahasa gaul, bahasa alay tercipta dengan sendirinya hasil dari “pencarian” dan “kegelisahan”.  Benar kata Remy Silado, bahasa Indonesia itu bukan bahasa yang  baik dan benar, tapi bahasa yang baik dan enak didengar.  Mungkin menurut mereka bahsa alay adalah bahasa yang enak untuk saat ini.

Dan suatu saat nanti, pasti mereka akan bangga menjadi bangsa Indonesia dan bangga pula menggunakan bahasa Indonesia.

 

 

Iklan