2 September 2017 – Matdon di Patromakc.com

Selain Idul Fitri, Ummat Islam memiliki hari Raya yang lain yakni Idul Adha, atau Idul Qurban. “Id” berasal dari ‘aada – ya’uudu, artinya “kembali”, sementara “qurban” dari qaraba-yaqrabu, yang artinya “mendekat”. Idul Qurban adalah salah satu cara mendekatkan diri pada Allah.

Dari catatan sejarah Nabi Ibrahim, Idul Qurban bisa bermakna sebagai hari belajar kembali merenungi apa yang membuat manusia tdak bisa dekat dengan Allah, paling tidak –bisa- menjauhkan diri dari napsu hewan.

Penyembelihan hewan Qurban berupa kambing atau sapi merupakan simbol yang amat lembut bagaimana Tuhan mengumpamaan Ismail sebagi hewan sembelihan harus dikorbankan dan jleg menjelma kambing. Adalah makna yang sangat dalam, betapa manusia harus mampu memenej hawa napsu.

Apa yang dimiliki manusia adalah milik Tuhan, jadi ketika Tuhan meminta agar manusia mau berkorban demi dirinya sendiri, maka sebagai mahluk yang tiada daya upaya, harus dilakukan sebisa mungkin.

Cara berkorban untuk mendketkan diri banyak, bisa dengan pisik dan pesak (haji), bisa dengan pisik saja (sholat, puasa) serta dengan dengan mengorbankan sebagian hartanya, yang ditukar dengan daging kambing atau sapi. Tentu saja dengan demikian kita berharap agar Allah menerima qurban dan korban manusia.

Harta merupakan alat atau media untuk beribadah dan kebanyakan manusia sulit menerima itu sebagai ibadah, apalagi di zaman yang menjadikan korupsi menjadi tradisi jelek serta dihalalkan oleh napsu hewani. Qurban merupakan keikhlasan manusia untuk berserah diri pada Allah sedangkan korupsi merupakan kegiatan laknat untuk memperkaya diri sendiri.

Lho koruptor kan bisa berqurban bahkan bisa mewah, jangan bertanya soal itu, seorang koruptor berqurban hewan jika ditanya pasti ikhlas, tapi uangnya adalah hasil curian. Sama saja dengan berwudlu dengan air kencing tentu saja tdak sah.

Maka kelak, harta akan ditanya oleh Allah dari mana kamu dapatkan dan digunakan untuk apa? Di dalam surat Ali Imron ayat 92 disebutkan; Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (al-birr), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Nabi Ibrahim a.s. mengeluarkan ratusan unta untuk daging kurbann, beliau juga mengurbankan anaknya sendiri Ismail a.s. yang begitu dicintainya untuk disembelih. Koruptor juga menyembelih rakyat secara tidak langsung. Nabi Ibrahim berkurban dengan harta, Korupuot berkorban demi harta.

Qurban sebagai alat “mendekatkan diri dengan Allah” adalah makna ibadah sebagai perngorbanan manusia agar hartanya bersih dari kotoran hati dan jiwa. Tapi bagi koruptor Idul Qurban tentu hanyalah sebuah perayaan biasa untuk mencoba “membersihkan” hartanya. Moal bisa tauh cuyyy.

kur.jpg

Menyembelih hewan Qurban adalah menyembelih napsu syetan yang ada dalam diri kita, tentu bagi yang mampu, sebab orang yang sudah mampu berqurban lalu ia tudak menyembihnya maka dihaatirkan ia akan mati dalam keadaan menjadi musuh Tuhan.

Karena itu, sudah saatnya Indonesia bangkit dari hiruk pikuk napsu yang membuat negeri ini terpuruk. Jangan jadikan napsu hewan menjadi napsu yang diagungkan lalu lahir korupsi. Saatnya untuk meyembelih hawa napsu atau menyembelih leher korupor agar mereka sadar bahwa yang mereka lalukan adalah menyakitkan rakyat.

Tidak mudah memang, tapi jika manusa Indonesia mulai dari presiden, menteri dan ketua RT menyadari betapa berkorban untuk rakyat dan Berqurban untuk Tuhan adalah sebuah awal dari perdamaian bumi pertiwi.

Manusia bisa diukur hawa napsunys jika ia sudah merasa malu bahwa ia belum bisa berbuat sesuatu yang baik bagi negerinya dan bagi rakyat. Tetapi jika napsu terus menghampiri manusia maka tak pelak, suatu hari kelak, Indonesia hanya akan menjadi nama.

Iklan