MATDON – PATROMAKSCOM 2 JUNI 2017

Tengoklah media sosial hari ini, facebook, twiter dan instagram.  Lihat, sebagian warga Negara Indonesia memakai foto dengan tagline yang sama “Saya Indonesia Saya Pancasila”. Ini berawal dari ungkapan Presiden Jokowi yang mengatakan bahwa Pancasila itu penting bagi rakyat.

Menurut Jokowi, Pancasila itu jiwa dan raga bangsa Indonesia, Ada di aliran darah dan detak jantung  perekat keutuhan bangsa dan negara. Lalu Jokowi mengajak netizen untuk menyebarkan kalimat “Saya Indonesia Saya Pancasila”

Pertanyaannya apakah jika bangsa ini sudah memakai logo/tagline/ikon itu sudah pancasilais?. Tentu saja tidak begitu maksudnya, dengan menggunakan itu justru seolah olah bangsa ini tengah melakukan pengakuan awal jadi bangsa Indonesia, katakanlah semacam “syahadat” tidak resmi.

Mari tengok sejenak sejarah, pada tanggal 29 Mei 1945 Muhammad Yamin mengajukan usul mengenai calon dasar negara bangsa Indonesia secara lisan. Lima hal yang diajukannya, yakni Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan dan Kesejahteraan Rakyat.

Yamin mengajukan usul secara tertulis yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, Persatuan Indonesia, Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Setelah itu tanggal 1 Juni 1945 Ir. Soekarno (Bung Karno) mengajukan usul mengenai calon dasar negara yakni Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia) dan dikenalah dengan Kesaktian Pancasila.

Ya, lahirnya Pancasila berawal dari pidato Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPK) pada tanggal 1 Juni 1945.

Dalam pidatonya konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Jadi semangat itulah yang kini sedang melanda bangsa ini. Tahun 2017 bangsa ini seolah lahir kembali dengan semanat menghilangkan penjajahan pilkada.

Pilkada atau pil pil yang lain selalu saja menjadi penjajahan bagi rakyat, bagaimana tidak, rakyat dijejeali janji janji politik  yang mewah; mendapat pekerjaan, kesehatan murah, sekolah gratis dan lain-lain, Tapi setelah itu penjajahan berlangsung, rakyat susah kerja, ongkos rumah sakt mahal, sekolah tetap harus bayar.

Tiga setengah abad lebih, bangsa kita dijajah bangsa asing. Portugis, Belanda dan Jepang mulai tahun 1511  hingga 1944, Sungguh suatu penjajahan yeng melelahkan, penjajah yang mengorbankan nyawa dan harta serta tanah.

Lalu setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, apakah bangsa ini bebas dari penjajahan? Tentu penjajahan secara nyata tidak. Tapi lihatlah yang dekat saja,  beberapa bulan terakhir setelah pertarungan Ahok-Anies di Pilkada Jakarta, seolah olah bangsa ini bercera berai, padahal persoalannya Jakarta, bukan persoalan Indonesia.

Pilkada Jakarta membuat gaduh bangsa Indonesia penghuni facebook, twitter dan instagram, saling bully, saling meledek, saling caci, merasa kelompoknya yang paling benar.

 

Dengan adanya tagline “Saya Indonesia saya pancasila” meski belum tentu semuanya memahami artinya, diharapkan bangsa ini kembali ke fitrahnya sebagai bangsa yang damai, bangsa yang saling menghormati satu sama lain.

Sekali lagi, anggap saja “Saya Pancasia” adalah syahadat untuk bangsa ini, agar esok tak ada lagi caci maki. Bangsa ini sakti mandraguna!

Iklan