Matdon,  7 September 2017 ,patromaks

 

Dan air mata tumpah

Menjadi darah

mengintip di di urat nadi

saat matahari nyinyir

dan embun enggan tersenyum

sebatang luka di negeri tua

sepenggal luka di tanah kita

menjadi racun

menjadi sejarah

munr

Syair itu saya tulis akhir 2004 dalam waktu lima menit, sementara Mukti-Mukti sebagai musisi mencoba mengaransemennya, dan jadiah sebuah lagu. Lagu itu beberapa kali dibawakan dalam konser musiknya.

Saya melakukan itu hanyalah sebuah simbol bahwa perlawanan lewat kata kata, lewat teks masih kuat. Kata-kata menjadi simbol perlawanan yang hakiki bagi puisi/syair.

Syair itu saya tujukan untuk sahabat kita Munir. Munir sebagai orang pergerakan yang melawan ketidakberesan penguasa, meninggal 7 September 2004, 13 tahun lalu. Sebuah peristiwa pembunuhan yang mungkin akan terus terulang.

Minimal apa yang saya lakukan untuk Munir ini punya arti bagi kesehatan berpikir saya untuk senantiasa hati-hati bahwa maut mengintai dengan kejam. Bukan dari Tuhan tapi mahluk yang berusaha jadi Tuhan.

Munir meninggal karena diracun saat terbang menuju Belanda untuk melanjutkan sekolahnya. Saya belum mengerti betul saat itu sebenarnya apa yang terjadi. Yang saya tahun Munir “aktivis HAM”, “Munir Tewas Akibat diracun”

Munir dikenal sebagai sosok aktivis yang bersahaja. Ia tanpa henti membela kaum-kaum lemah yang terzalimi. Munir adalah keberanian dan keteguhan pendiriannya.Munir adalah bangsa ini.

Bagi saya yang tidak pernah bertemu langsung, Munir menjadi orang yang berani keluar zona nyaman, dan ia tak sempat bermewah-mewah hidup demi perjuangannya. Cukup motor yang ia pakai.

Bagi saya perjuangan Munir adalah perjuangan Ibrahim dalam memberantas berhala dengan kapaknya, perjuangna Isa dalam bijaksana dan perjuangan Muhammad dalam kearifan. Ia menjadi isnpirasi bagi pejuangan rakyat jelata setelah Rendra, Wiji Thukul dan lain-lain. Dengan prinsip membela keadilan, memperjuangkan hak-hak rakyat yang tak berdaya.

Hari ini, 13 tahun lalu, Munir menghentak perjuangan nasib bangsa, ia meninggal saat santai, saat racun arcenik menggerogoti tubuhnya. Pendiri KontraS ini meninggal di atas pesawat Garuda dengan nomor GA-974.

Pollycarpus yang konon “pelaku”, berkali-kali membantah soal pemberian racun di Bandara Changi. Bantahan itu juga ditegaskan saat baru keluar dari penjara saat bebas bersyarat.

Selain Pollycarpus, mantan petinggi militer dan intelijen, Mayjen (purnawirawan) Muchdi PR ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana Munir. Namun kemudian, pada 31 Desember 2008 Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menvonis Muchdi PR bebas murni dari segala dakwaan karena dianggap tak ada bukti yang kuat.

Kematian pemilik nama lemgkap Munir Said Thalid sangat mistrerius. Kasus Munir adalah doa indah bangsa ini, bangsa yang tengah merindukan kedamaian, bangsa yang selalu hiruk pikuk dengan pilkada. Bangsa yang senantiasa bermimpi menjadi makmur adanya, bangsa yang ingin keadilan yang sebenarnya.

Lalu doa kami, mengalir deras di ulu hati para pejuang hak asasi manusia. Doa yang tak pernah selesai oleh kebadaban apapun. Munir boleh tiada, tapi perlawanan selalu panjang umur.

Iklan