Matdon – 29 Agustus 2017 Patromaks.com

Sejak tahun 1994, saya sudah Golput. Kalaupun saya pernah datang ke TPS, pertama untuk silaturahmi dengan tetangga, kedua ingin menulis puisi di kertas suara dan itu betul-betul saya lakukan, atau saya mencoblos semuanya (yang kemudian saya menyebutnya sebagai Goput aktif).

Dalam benak saya, ada dua jenis Golput, pertama Golput pasif. Adalah mereka yang sama sekali tidak datang ke TPS karena sengaja, ketiduran, namanya tidak terdaftar dalam daftar pemilih, pura pura tidak tahu ada pencoblosan, atau memang tidak tahu sama sekali adanya Pemilu.

golputt

Kedua, jenis Golput Aktif. Adalah mereka yang datang ke TPS dan mencoblos semua gambar, atau malah merusak surat suara dengan cara apapun, dengan harapan kertas yag sudah dicoblos/rusak, tidak dimanfaatkan orang-orang tertentu.

Dalam beberapa catata saya menulis bahwa Golput bukanlah sebuah gerakan yang teroragnisir dengan baik, ia lahir dengan sendirinya tanpa komando resmi dari siapaun, ia lepas dari sistem manajemen sebuah organisasi. Karena Golput adalah akumulasi keinginan dari personal rakyat.

Sebenarnya pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dan partai politik merupakan salahsatu pemicu Golput berkembang pesat, Wabil khusus perilaku korupsi yang dilakukan kader-kader Parpol, asal mencomot artis jadi caleg, merayu pemuka agama jadi caleg, lupa tugas utama, yakni mensejahterakan rakyat.

Padahal untuk menggiring rakyat agar tidak Golput hanya satu jawabannya, yakni jika pemimpin punya itikad baik untuk mensejahterakan rakyatnya, bekerja dengan ikhlas dan tulus. Jumlah Golput hanya akan berkurang jika politik dijalankan dengan hati bersih dan mulia, jujur dan adil. Jika tidak?, maka Pemilu yang akan datang adalah Pemilu yang sunyi

Dari tahun 1994 hingga 2017 adalah rentang waktu yang panjang, hingga pernah ada Jokowi di tahun 1994, sebuah jawaban yang lahir dari rakyat. Saya tidak mengulang lagi keberadaan Jokowi yang katanya hebat dan merakyat. Orang semacam Jokowi lah yang dirindukan rakyat. Tapi saya tidak tertarik dengan Jokowi.

Saya keukeuh dalam poisisi Golput, posisi yang akan saya pertahankan sampai saya mati, atau sampai saya menemukan yang benar-benar pemimpin. Pemimpin yang mengerti, pemimpin gaul and funky dalam memutuskan masalah, pemimpin yang benar-benar asyik dan tidak galau.

Tolak ukur keberhasilan sebuah pemerintah sangat gampang diukur, misalnya dari segi apakah berbagai harapan mayarakat baik secara kultural, ekonomi dan politik sudah terpenuhi atau belum. Idealitas-idealitas yang diinginkan masyarakat minimal mendekati terpenuhi, misalnya soal lalu lintas, lapangan kerja (ekonomi), atau mekanisme politik dari rakyat melalaui DPRD perlu mendapatkan respon yang positif.

Pemerintah nampaknya belum secara transparan memberikan ukuran apa yg disebut keberhasilan dan apa yang disebut kegagalan. Jika pemerintah mempunyai ukuran keberhasilan, seharusnya diinformasikan kepada masyarakat, sehingga masyarakat bisa mengukur diri, termasuk mengukur diri dalam kegagalan.

Ukuran ini bagi masyarakat sangat penting, dalam upaya mengukur dirinya pada aspek mana masyarakat bisa berperan serta untuk membangun kota/kabupaten-nya. Kita sendiri sekarang tidak tahu apakah aspek pelayanan terhadap masyarakat sudah terpenuhi atau belum, dan dari aspek pembangunan apakah aspek pelayanan terhadap publik sudah optimal atau belum, mulai dari perizinan, pengaduan, lebih-lebih pelayanan dari legislatif.

Jadi saya pikir, harus ada orang yang memahami betul ruh kultural daerah, selain juga harus membawa visi yang diuji oleh masyarakat melalui perencanaan dan program yang bagus dan diterima masyarakat, jangan biarkan masyarakat terus menerus mengambil keputusan yang salah dan terus dalam kesalahan memilih pemerintahan baru.

Jika hal ini terus menerus dibiarkan, maka akan terjadi sebuah ledakan sosial dasyat yang harus dibeli dengan ongkos budaya, ongkos politik, ongkos sosial yang sangat mahal. Jika rakyat terus meneruskan dibiarkan dan dipinggirkan, mereka hanya punya senjata terakhir, yakni anarkis.

Nampaknya suasana hangat soal pemilihan Gubernur dimana-mana sudah dimulai, genderang perang sudah ditabuh, spanduk dan baliho sudah berserakan dimana-mana. Tak penting bagi masyarakat siapa Gubernurnya, yang penting, batasan-batasan yang disampaikan diatas terpenuhi. Apalagi pemimpin mendatang siap meniru dan melaksanakan ucapan Umar Bin Khatab ; “Kalau saya salah menjadi Gubernur, tolong tegur saya dengan hukuman apapun,”. Nah!

Tetapi, saya tetap Golput. Pemikiran saya terlalu dangkal memang, tapi apapun sebuah pemikiran, inilah hati saya, dalam hal lain hati saya suka lelah, saya ermasuk Qoswatul Qolbi – hati yang tak pernah dibeli dengan “kebaikan” pemimpin sejak 1994.

Lain waktu, mungkin saya akan nyoblos, memilih walikota, gubernur atau presiden.Cag!

Iklan