Matdon, 13 September 2017

PATROMAKS

Kemauan seorang anggota DPR untuk dihormati KPK adalah gila hormat!. Kehormatan dan harga diri adalah sesuatu yang harus dijaga dan tak boleh mati, terus dipertahankan anggota DPR. Ya, sampai mati.

Padahal kehormatan adalah kesetiaan dalam menjalankan kebenaran yang bermartabat bukan kebenaran menurut dia, kebenaran Agama dan sosial. Bagaimana mungkin orang mau menghormati kalau dirinya tidak menghormati diri sendiri dan orang lain.dpr

Bila seseorang yang kita hormati selaku tokoh atau ulama yang baik atau orang yang baik di lingkungan kita walaupun dia berpangkat ketua RT, maka itu adalah orang terhormat akan berbeda dengan gila hormat.

Terhormat adalah sebuah tindakan untuk menjaga martabat dengan melakukan tindakan berdasarkan asas kebenaran dan tatanan, sedangkan gila hormat adalah orang yang senantiasa ingin dihormati padahal tidak melakukan hal yang bermartabat.

Dalam kenyataannya, kehidupan sosial hidup bermasyarakat merupakan awal seseorang dihormati dan menjadi orang terhormat, tidak ditentukan apakah ia anggota dewan atau tukang sampah sekalipun. Harga diri manusia sehingga bisa dihormati tergantung amal perbuatannya, walaupun anggota DPR tetapi jika kelakuannya sombong dari aturan dan sangat memalukan, itu tak perlu dihormati. Apalagi jika mengemis minta dihormati.

Sesungghnya manusia besar dan bermartabat serta dihormtai bukan dari seberapa besar uang yang ia miliki, tapi dari tutur kata dan perilaku. Prinsip hidup adalah pengorbanan, sebuah persembahan kepada Tuhan adalah harus dimiliki aggota dewan dan pada umumnya manusia.

Meminta dihormtaii oleh KPK menjadi tercemar. Ia keluar dari rel kereta Agama yang mengharuskan manusia itu tawadhu. Fahailah nama baik dipertahankan oleh perilaku bukan oleh permintaan dihormtai.

Dalam sebuah tulisan di inernet saya menemukan bahwa kehormatan merupakan sutau nilai lebih yang dimiliki oleh setiap orang, akan tetapi bukan berarti bahwa setiap orang memiliki satu nilai lebih tinggi dari pada yang lain.

Kehormatan dalam agama manapun baik Hindu, Islam, Budha, Krsiten adalah menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Minta dihormati, sementara tudak disebut sebgaai orang terhormat.

Dalama urusan moral dan sosialpun bisa dipastikan orang yang minta dihormati tidak baik. Mengemis ingin dihormati adalah tercela. Dalam bukunya, Hamka mengatakan gila hormat itu tidak boleh, tetapi menjadi orang yang terhormat haruslah jadi tujuan hidup. Barang siap mencari kehirmatan akhirta,maka kehoratan dunai akan terwujud.

Menghormati orang tua, guru dan orang yang telah memberi manfaat adalah keharusan bahkan wajib, tapi menghormtati orang yang minta dihormtai bisa berbahaya.

Socrates pernah mengatakn, gila hormat itu adalah selimut bagi orang yang hatinya seperti batu. Muhammad yusuf Muttaqin dalam FB menulis Jika ungkapan “gila hormat” adalah selimutnya orang yang hatinya seperti batu, ini memang tak dapat dipungkiri, karena orang yang berhati keras, yang egosentris-nya sangat kuat, selalu memandang sesuatu berpusat pada dirinya sendiri, jika tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan, ia menolaknya secara tidak bersahabat dan tanpa ada toleransi sedikitpun.

Nah, “yang terhormat” para anggota parlemen Indonesia. Salam hormat dari saya..Hormaaatttt…geraaak!

Iklan