Tribunjabar hari jumat 27 oktober 2017

Festival Film Bandung (FFB) ke 30 digelar di Jakarta. Terdengar aneh, tapi itulah kenyataannya, orang-orang Jakarta dan pemerintah Jawa Barat memboyong FFB ke Jakarta entah apa tujuannya. Semakin absurd saja, ketika Bandung hanya punya satu festival yakni Festival Film,tiba tiba harus pindah kota.

Saya pikir masih mending  jika FFB digelar di Garut, Tasikmalaya atau kota-kota lain di Jawa Barat karena bagaimanapun  Bandung adalah ibukota Jabar. Namun sejak 2012, sejak FFB kerjasama dengan TV swasta dan pemerintah sudah terlihat tidak “suci” lagi sebagai Festival.

ffb

Lihat saja pada 3 September tahun lalu Eddy D Iskadar, salah seorang pentolan Forum Film Bandung menulis status di Facebooknya ; “Setelah dari bagian acara TV swasta, menjelaskan artis yang akan tampil di acara Festival Film Bandung, di hadapan pengurus FFB Gubernur Jabar H. Ahmad Heryawan memberikan komentarnya. Intinya bangga dengan konsep acara yang megah, bisa menghibur masyarat di seluruh Indonesia. FFB : Dari Bandung untuk Indonesia…..Bangga Film Indonesia….Berjaya Film Indonesia di Tanah Legenda”

Lalu postingan “keberhasilan” FFB tahun lalu ia pasang di FB. Eddy tak menyadari, bahwa sejak FFB di tahun 2009 berangkulan dengan pemerintah, maka Festival Film Bandung sudah mulai menjauh dari kehidupan masyarakat Bandung Jawa Barat, betul ia kemudian ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia dengan acara yang mewah, tapi gregetnya sudah hilang. Ia tak lebih dari sekedar rutinitas agar acara terlaksana, tak lebih dari sekedar ziarah ke kuburan film Indonesia.

Sekarang 2017, FFB kembali digelar 22 Oktober 2017 dan anehnya digelar di Jakarta. Dengan demikian FFB semakin jauh dari rakyat Bandung dan gaungnya makin tak terdengar. Padahal Festival Film Bandung (FFB) merupakan satu-satunya festival di kota Bandung karena sudah berlangsung puluhan tahun.

Festival yang tetap ajeg sejak tahun 1987 yang digelar oleh Forum Film Bandung (disingkat FFB juga).  Pada zaman itu, sejumlah  pengamat film, wartawan dan budayawan yang biasa menulis tentang film sering menyaksikan film-film baru di PT Kharisma Jabar Film Jl. Jenderal Sudirman Bandung. Film-film yang baru datang  selalu diputar dulu  dan didiskusikan sebelum akhirnya beredar di bioskop-bioskop.

Gagasan lahirnya Festival dari diskusi yang hangat,  maka sejak itu lahir  Festival Film Bandung FFB) untuk kemudian secara rutin digelar hingga saat ini.  Forum ini memberikan gelar Terpuji bagi film, aktor, sutradara, penulis skenaro dan lain-lain. Tak hanya film Indonesia tapi juga film asing, bahkan untuk sinteron. FFB sangat konsisten, tidak pernah absen setiap tahunnya, dan uniknya, FFB selalu berdiri sendiri tanpa sentuhan pemerintah. Sampai akhirnya di awal tahun 2009 FFB menyerah pada nasib, ia harus bekerjasama dan menyandarkan diri di pundak pemerintahan, sebuah perjalanan sejarah yang diciderai oleh diri sendiri.

Harus diakui, selama 30 tahun Festival film ini berlangsung berarti ada indikasi keberhasilan yang hebat, kerjasama insan perfilman, pengamat, wartawan dan masyarakat terbangun dengan rapih dan jujur. Apresiasi masyrakat begitu nyata dan saya yakin mereka yang duduk di kepengurusan FFB tidak mementingkan komersial dan kedudukan.

Lalu hadir pemerintah dan menjauhkan film dari masyarakat Bandung, ia hanyalah tontonan megah di televisi dengan segudang artis dan gebyar panggung yang mewah. Kemewahan yang sangat berbedad dengan FFB sebelum tahun 2009. Pemerintah memang selayaknya ikut mendukung program hebat semacam ini, apalagi kota Bandung yang nota bene kota budaya tidak memiliki festival yang ajeg dan langgeng.

Dukungan pemerintah tentu tidak boleh sampai ke akar masalah mengurus teknis dan ikut ikutan menilai film, meskipun pihak pemerintah diwakili oleh orang film seperti Deddy Mizwar sekalipun. Karena ruh nya tetap ada di penggiat yang secara langsung dan rutin mengamati film. Artinya, kerjasama dengan pemerintah itu perlu, hal ini untuk membangun kebersamaan yang asyik, tapi jangan sampai persoalan inti festival menjadi berubah haluan, kegembiraan rakyat jangan diabaikan dan berubah menjadi kebahagiaan kepentingan.

 

Absurd

Saya berharap  Festival ini tak menjadi absurd, glamour dan ngepop. Biarkan festival Film Bandung kembali ke semula dengan acara sederhana, tidak ada panggung, tidak ada artis, tidak di hotel mewah dan menjadi ekslusif, biarkan FFB menjadi antik dan tetap memasyrakat, dan sudah bertahun-tahun terbukti.

Sebuah festival harus mampu menyadarkan manusia bahwa mereka adalah makhluk sosial. Sebuah festival harus lahir dengan tema besar atau pun kecil yang merangkum semua festival yang sudah ada, tentu dengan pengelolaan lebih baik.

Festival Film Bandung bisa menjadi festival besar yang permanen, dan akan menjadi peradaban dahsyat, gambaran kebudayaan yang jernih. Sebab, festival film Bandung merupakan pekerjaan bersama perorangan, lembaga, lembaga swadaya masyarakat, organisasi massa, pedagang, rakyat, dan pemerintah (sepanjang tidak ikut campur soal teknis).

Ketika festival yang lain mati suri, maka FFB harus menjadi tujuan peradaban dan kebudayaan yang dapat menyirami, memelihara, dan tumbuh menjadi salah satu ikon Kota Bandung. Cag!

 

 

 

Iklan