dimuat GALAMEDIA Rabu 22 Pebruari 2017

Tiga senjata yang akan menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan ekononomi, sosial, politik dan budaya, ialah Sastra, Musik dan Olahraga. Sastra di dalamnya ada puisi dan prosa termasuk bahasa. Musik di dalamnya ada jazz, pop, rock, dangdut dll. Dan olahraga seperti sepakbola, bulu tangkis, renang, memanah dan lain-lain.

Sastra. Kita tahu bahwa sastra Indenesia telah mengalami sejarah yang sangat panjang, sejarah sastra di Indonesia dibagi menjadi beberapa periode sesuai dengan perubahan momentum sosial dan politik. Mulai dai masa prakolonial,  Pujangga Lama, Balai Pustaka,  Pujanga Baru, hingga angkatan 45, angakatan 50, angakatan 66 sampai angakatan 2000.

Karya-karya sastra Indonesia dilirik oleh dunia sebagai karya yang mumpuni, bahasa yang apik dan lincah serta kegelisahan para penulisnya. Mereka bicara soal kekinian pada zamannya. Dan selalu up to date. Mengkritisi kekuranagan, dan menjadi sejarah yang kuat –  senjata yang hebat yang dimiliki bangsa indonesia.

Musik. Juga banyak bicara di dalam dan luar negeri, Musik lewat syair cinta dan kritik sosial soal narkoba, korupsi dan lain-lain menjadi seorotan dunia. Indonesia jusrtu paling kaya musik,  karena adanya musik etnis dari berbagai daerah, kemudian dikolaborasi dengan musik modern. Jelas musik tak boleh diremehkann untuk menjadi senjata ampuh bangsa ini.

Olahraga. Tentu saja cabang olahraga memanah dan angkat besi sudah berbicara lebih di Olimpide kemarin, sebelumnya di cabang bulutangkis Indonesia pernah memilik nama Rudi Hartono, Liem Swie King dan lain-lain. Menjuarai Thomas dan All England. Sampai kini bukutangkis masih bicara di kancah dunia.

Banyak sudah prestasi bangsa Indonesia di tiga bidang itu, di tengah terpuruknya perekonomian Indonesia, politik tak bisa menolong rakyat Indonesia. Bayangkan, seburuk buruknya perekonomian Indonesia, rakyat masih bisa bersorak girang manakala PSSI juara dua AFF, sambil mendengar musik yang mereka senangi, di dalam musik itu ada lagu, lagu adalah syair yang berhubungan dengan sastra.

Sastra, musik dan olahraga tak lepas dari gunjang-ganjing. Politik dan kekuasaan menjadi salahsatu penyebabnya. Sastra pernah dikhianati oleh Denny JA, sepakbola pernah kisruh, musik pernah mengalami hal serupa.

Khusus sastra, di tahun 2016, kehidupan sastra masih digunjang-ganjing oleh lahirnya buku kontroversi “33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia” yang memasukkan nama pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA sebagai salah satu tokohnya.

Pada bulan September 2016 buku ini menyeret Sastrawan Saut Situmorang ke meja hijau dan divonis hukuman percobaan lima bulan penjara, dia dituduh melanggar pasal 27 UU Informasi Transaksi Elektronik (ITE) karena melakukan penghinaan dan pencemaran nama baik kepada Fatin Hamama melalui media social Facebook.

Vonis yang dijatuhkan hakim, memaksa sastrawan Saut Situmorang tidak diperbolehkan mengulangi perbuatannya selama masa hukumannya. Vonis itu bukanlah sebuah kekalahan. Yang kalah bukan Saut, tapi dunia sastra yang tak bisa membelanya. Sastra telah kalah ketika kritik sastra dijerumuskan dalam arena hukum. Itulah kriminalisasi sastra, yang pertama kali terjadi di Indonesia, sebuah presedent buruk bagi dunia sastra.

Kasus lainnya, seperti di bulan Maret 2016 ada kasus penolakan pentas “Tan Malaka” di Bandung. Karya sastra penyair Ahda Imran berupa monolog itu dihadang oleh sekelompok orang atas nama Agama.

Di awal bulan Desember 2016, LBSS (Lembaga Basa jeung Sastra Sunda) memberi hadiah bagi penyair sunda yang menulis puisi antara tahun 2011 sampai 2016, acara digekar disela Kongres Basa Sunda ke 10 di Kuningan. Sayang sekali perlakuan panitia tidak manusiawi terhadap sejumlah sastrawan yang menerima hadiah tersebut. Hanya pemenang pertama saja yang boleh naik ke panggung, selebihnya diberikan piagam dan hadiah di tempat parkir.

Semua tragedi Sastra ini, jelas menjadi ajang kriminalisasi sastra/wan, di negeri Indonesaisastrawan mestinya jadi corong kebenaran justru rentan dikriminalisasikan. Orang-orang hanya melihat secara hitam-putih. Rendra telah mengalami politisasi dan kekerasan di masa Orde Baru. Widji Thukul bahkan lenyap di telan bumi. Dan kali ini, Saut Situmorang, Ahda Iman dan Arom Hidayat dkk juga menghadapi “politik sastra” yang sebenarnya, di masa yang katanya demokratis ini.

Kriminilasasi terhadap olahraga juga sangat banyak, apalagi sepakbola yang pernah carut marut, terhadap musik juga demikian. Padahal negeri ini butuh musik, sastra dan olahraga, agar Indonesia selamat dari bahaya apapun!. Cag!

Iklan