Dimuat PIKIRAN RAKYAT 2 Nopmbere 2017

Pertengkaran politis bisa berawal dari medsos, panasnya susasana pilkada dan kampanye juga bisa berasal dari medsos. Medsos menjadi “Barometer”pertengkaran antara pendukung Calon Gubenur si A dan calon B.

Kita masih ingat bagaimana Presiden Jokowi dibully di medsos dengan hasil rekayasa teknologi photosop yang diunggah di medsos (Facebook, twitter, instgaram) dan menjadi pertengkaran antara pendukung Jokowi dengan pendukung Prabowo. Padahal yang membuat itu belum tentu pendukung Prabowo, bahkan boleh jadi dilakukan oleh pendukung Jokowi.

Memanfaatkan teknologi yang canggih untuk kampanye khususnya  medsos, manjadi bagian penting dari kampanye. Ini sudah dimulai dari Pilpres dan pilkada lainnya sebelum kampanye Pilkada serentak saat ini khususnya di DKI Jakarta. Panas dan mendidih sekali.

Rakyat saat ini sudah cerdas untuk memilih pemimpin yang baik. Sehingga kampanye tidaklah penting untuk “kecerdasan” rakyat. Tapi tahapan itu perlu dilewati sesuai dengan undang-undang. Sehingga kampanye lewat medsos menjadi bagian integral dari jualan politik para calon pemimpin.

Kecerdasan rakyat bisa dibuktikan tatkala ada – misalnya besok lusa – pendukung si A menjelekkan si B.  Jika kemudian pendukungnya membalasnya dengan teknologi itu sendiri di medsos, dengan cara yang lebih brutal, maka kecerdasan berpikir dan kelapangan hati mereka belum teruji penuh sebagai akyat.

Maka disini diperlukan Tim verifikasi kebenaran. Jika ada Tim verivikasi utuk menelitii sebuah teknologi yang berkembang di medsos dan diketahui siapa pelakunya, tingal lapor KPU atau polisi untuk ditindak sebagaimana mestinya. Sebab kita semua ternyata shock dengan teknologi yang serba cannggih. Kita tak menyadari ujug-ujug ada FB, instragram dan Twiter di sekeliling kita lalu ikut ikutan menggunakannya.

 

Keterkejuatan kita terhadap teknologi bisa juga disebut disorder beauty atau kekacauan yang indah. Karena meskipun tak tahu manfaatnya, disadari atau tidak, sengaja atau tidak, kita juga terseret pada isu-isu yang berkembang di medos tadi. Maka yang diperlukan adalah bijaksana pada diri sendiri untuk tidak mudah percaya pada apa yang berkembang di medsos, jangan pernah konyol.

 

Pilkada DKI

Sekarang kita tengok Pilkada rasa Pilpres yakni Pilkada DKI Jakarta.  Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI telah merampungkan jadwal tahapan Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017, mulai dari pendaftaran hingga penetapan nomor urut Calon Gubernur DKI. Tingggal Kampanye yang sudah dilakukan mulai Jumat pekan kemarin hingga bulan Pebruari 2017, dalam masa kampanye ini akan ada debat publik di beberapa staisiun TV.

Barulah pada pertengahan Februari 2017 pemungutan dan penghitungan suara, dan 8 Maret-10 Maret 2017 penetapan calon terpilih. Jika Pilkada DKI 2017 dilakukan dua putaran, maka pemungutan dan penghitungan suara putaran kedua rencananya dilaksanakan pada 19 April 2017.

Sungguh melelahkan Pilkada ini, memeras energi tak kalah dengan sidang kasus kopi Sianida. Semua warga Indonesia dipaksa untuk “nonton” Pilkada Jakarta. Bagaimana tidak, Jakarta merupakan ibu kota Indonesia. Jika Jakarta dikuasai tentu sudah merasa menguasai Indonesia.

Tinggal apakah rakyat Jakarta lelah atau tidak memilih pemimpinnya. KPU DKI pasti berharap partisipasi masyarakat dalam Pilkada 2017 nanti semakin meningkat. Target KPU mencapai 77,5 persen, bergulat dengan Golput yang disinyalir akan lebih sedikit dibanding Pilpres. Tentu saja angka tersebut meningkat 5,2 persen dari tingkat partisipasi masyarakat DKI pada Pilpres 2014, yakni sebanyak 72,3 persen

Tahapan kampanye Pilkada DKI sebenarnya sudah dimulai penetapan calon, khusuanya kampanye “rapih” via medsos. Serentak orang-rang membicarakan dan mulai mengakampanyekan jagonya masing-masing; Agus, Ahok dan Anis. Tiga kandidat yang akan jadi “raja” di DKI Jakarta.

Sejak kampanye dimuliai, masing-masing pasangan calon diharapkan dapat menyampaikan gagasan visi, misi dan program kepada masyarakat pemilih melalui pertemuan langsung dan media sosial dalam meraih simpati pemilih, kualitas kampanye ditentukan oleh tindakan pasangan calon. Kompetisi yang dibangun, sangat menentukan elektabilitas dan tingkat partisipasi pemilih di setiap wilayah.

Kehadiran artis artis cantik yang menjadi jurkam para calon menjadi daya tarik tersendiri. Meksipun hasilnya tidak diitentukan oleh jurkam, tapi bagaimana pengaruh identitas para calon. Karena itu, pelaksanaan kampanye perlu dilaksanakan dengan tetap menjaga kedamaian, tidak dilakukan dengan cara-cara kotor dan semakin banyak melakukan tatap muka dengan pemilih.

Penyebaran materi kampanye melalui media sosial, tidak untuk saling menjatuhkan, kampanye harus dipandang sebagai ajang penghormatan terhadap perbedaan dan penghargaan pilihan. ‎Kampanye bersih ditandai dengan penerapan komitmen pasangan calon untuk tidak menggunakan dana haram dalam pembiayaannya.

Sebaiknya metode kampanye berkualitas dilakukan dengan lebh banyak  dialog sebab tatap muka dan komunikasi langsung dengan pemilih, menembus batas perantara antara calon dan pemilih. Se;ain itu, komunikasi langsung dapat membuat pemilih nyaman dan tuntas dalam membincangkan visi, misi dan program setiap calon.

Kampanye dialog semacam ini melelahkan memang. Pilihan lainnya tetap ke kampanye purba yakni iring-iringan di jalan,  berseragam, teriak-teriak dan pidato janji politik yang masih dari itu ke itu; menjanjikan kesejahteraan bagi rakyat, lapangan kerja yang mudah,  sekolah gratis dan lain-lain. Setelah terpilih?. Maka siap-siaplah rakyat kembali harus sengsara untuk 5 tahun ke depan, setelah lelah ikut kampanye dan mencoblos. Karena setelah dilantik nanti, janji itu belum tentu terbukti.

Cag!!

 

Iklan