dimuat GALAMEDIA 10 Nopember 2016

Mantan Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Anies Baswedan pernah mengatakan pentingnya peran guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tapi  Anies tidak setuju jika guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.  Sebab jasa guru terus melekat pada diri setiap warga negara yang pernah dididiknya, selain itu, setiap kali hari kita membawa tanda jasa.

Karena itu guru patut dihormati setiap saat. Maka mendatangi guru dan mencium tangannya lalau menanyakan kabar adalah hal yang wajib dilakukan lhatlah  banyak guru yang belum berubah kehidupannya dan kita sudah jauh berubah.

Menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia di Indonesia. Untuk menciptakan sumber daya manusia yang hebat  diperlukan pula guru-guru yang hebat.  Bakti seorang guru dalam  menempuh perjuangan dalam membina, mendidik dan mempersiapkan calon penerus bangsa.

Namun zaman sudah berubah, apakah benar sanjungan dan gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” masih relevan, mengingat banyaknya guru yang bukan pendidikn tapi hanya mengajar? Lagi pula gelar itu tak mampu memberi hidup yang layak bagi mereka, bahkan justru membebani. Mereka tak butuh sanjungan atau pujian atau gelar meskipun ada guru yang seperti itu, tapi lebih pada pengahargaan atas pengabdiannya.

Tak salah juga jika ada orang menilaii guru bukan pahlawan tanpa tanda jasa melainkan pahlawan dengan tanda jasa. Kenapa? Karena saat ini banyak oknum guru yang memandang anak didiknya sebagai lahan ATM untuk memperkaya diri.

Jika guru sudah menerima pahlawan itu, maka tak layak lagi guru menyandang status sebagai “pahlawan” karena pahlawan tidak pernah meminta apalagi menuntut tanda jasa.  Jadi apakah guru yang menerima gelar pahlawan itu guru membantu memberikan jawaban Ujian Nasional?atau guru yang suka memakan gaji buta atau guru yang mencabuli anak didiknya sendiri.

Ingatlah, bahwa Guru merupakan sebuah profesi di bidang pendidikan dimana peran moral dan sosial adalah salah satu hal yang tak lepas dari guru. Ketika seseorang telah berkomitmen untuk menjadi seorang guru, maka dia juga harus siap untuk menjadi teladan bagi murid-muridnya, baik dari segi pengetahuan ataupun akhlaknya. Selain itu, dia juga harus bisa mewariskan cita-cita luhur para pahlawan bangsa, yang telah gugur, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ingat lagu Hymne Guru

Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sbagai prasasti, trimakasihku ntuk pengabdianmu.

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa

Betapa tersentuh hati dan jiwa kita mendengar syair sederhana tersebut. Guru yang merupakan profesi amat mulia hanya dianugerahi gelar ‘tanpa tanda jasa”, Padahal gurulah yang mengantarkan manusia-manusia Indonesia menuju kepada keberhasilannya. Pengorbanan dan jerih payah para guru tidak dapat tergantikan, bahkan dengan penghargaan sekali pun.

Yang mengajarkan kita membaca dan menulis itu guru, dan betapa  besar peran seorang guru dalam kehidupan kita. Namun, ketika kita sudah berhasil meraih impian, cenderung lupa akan jasa-jasa guru. Murid-muridnya telah berhasil menjadi presiden, pengusaha guru tetaptah guru dengan gaji yang pas-pasan.

 

Guru Terlena?

Apakah penulis lirik lagu itu salah memuji yang sangat melenakan para guru dengan pujian. Sebab Kata-kata “pahlawan tanpa tanda jasa” diterjemahkan sebagai pengabdian yang tanpa pamrih. Nasib guru dari dulu sampai saat mi sepertinya tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Gaji guru kita memang dulu “Oemar Bakri” dimana gaji tak mencukupi kehidupannya, mungkin sampai sekarang begitu? untuk mencukupi perekonomiannya tak jarang kita mendengar ada guru nyambi jadi tukang ojeg, tukang sapah, tukang parkir dan lain sebagainya tanpa meninggalkan profesi sebagai guru.

Sebagian besar gaji guru sekarang memang kecil, mungkin sebagian lagi malah berlebih karena dia guru PNS, atau suaminya kaya raya, atau dapat warisan mendadak, atau dia nyambi jadi apa saja. Iwan Hermawan misalnya, guru sebuah SMA Negeri di Bandung, ia mengaku sebulan bisa megantongi gaji hingga 8 juta. Tapi masih bahyak gaji guru yang tak ubah seperti pekerja serabutan, tetapi mereka tepa dituntut profesional.

Maka yang paling berperan adalah pemerintah yanng seharusnya tidak menbedakan gaji guru guru PNS maupun guru swasta. Bagaimana pun juga harus kita sadar bahwa peran guru sangat besar dalam ikut memajukan dunia pendidikan di negeri ini. Seharusnya kesejahteraan guru menjadi prioritas perhatian pemerintah.

Apalagi para guru yang mengajar di tingkat SD dan SMP, karena mereka merupakan bagian dari program wajib belajar yang melibatkan peran guru non-PNS. Syukur ada Sertifikasi yang akan menjadi harapan bagi para guru meskipun untuk itu sangat sulit dan berbelit belit, diperlukan kesabaran yang hebat.  Cag!

Iklan