//
you're reading...
BUDAYA

FDBS BUTUH DIALOG

Festival Drama Basa Sunda (FDBS) merupakan harga diri basa sunda tingkat nasional. Sebab meski festival ini untuk wilayah Jawa Barat dan Banten ternyata pesertanya ada dari Kalimantan dan Yogyakarta. Ini sudah masuk FDBS XVIII tingkat pelajar, pesertanya sudah 76 grup teater pelajar.  Tahun ini mulai 20 Maret sampai 9 April 2017 FDBS digelar lagi.

Kesadaran untuk menggunakan bahasa daerah khususnya bahasa Sunda didalam bermasyarakat merupakan prosentase yang sangat tinggi dari hambatan-hambatan yang dirasakan saat ini terutama pada kaum mudanya.

Bertitik tolak dari kenyataan tersebut, kiranya perlu ada suatu langkah-langkah atau upaya yang tepat untuk lebih menggairahkan serta meningkatkan kembali kesadaran masyarakat akan memelihara seni,budaya dan bahasa daerahnya.

Seni drama  sebagai salah satu bentuk seni yang boleh dibilang kongkret sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas dalam bidang seni tari, seni lukis, seni musik. Selain itu, seni drama juga bisa dijadikan media untuk silaturahmi, pembinaan penggunaan bahasa (sunda),  berapresiasi dan juga mengajak masyarakat agar bertindak lebih jauh disamping hanya sebagai ajang hiburan.

Selain  sebagai upaya melestarikan Bahasa Sunda yang diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pengembangan bahasa nasional, juga secara psikologis, cerita yang dikemas dalam bentuk teater akan merangsang keterlibatan emosi masyarakat terhadap kesenian sunda..

Festival Drama ini juga sebagai menjalin silaturahmi antar peminat, penikmat, praktisi dan kritisi drama dalam rangka persatuan dan kesatuan bangsa, membina dan meningkatkan daya apresiasi seni. Mata rantai Festival drama sunda palejar ini di satu sisi menumbuhkan tunas-tunas baru grup teater, baik di sekolah maupun umum, juga melahirkan penulis naskah drama Sunda generasi baru. Sebagai media pembelajaran. Festival Drama Basa Sunda Palajar telah menstimulasi para peserta, penulis naskah, dan penonton, untuk melakukan observasi dan kajian terhadap kekayaan budaya Sunda di tengah rendahnya kepedulian pemerintah daerah.

Festival ini digelar 2 tahun sekali, sayang, meski sudah 16 tahun, panitia makin lama makin kurang profesional, padahal FDBS sudah sangat “mendunia”, tradisi panjang yang sudah lama menjadi “ruh” festival di negara pasundan dibiarkan berlalu begitu saja tanpa adanya crew yang mampu mempromosikan ke jenjang yang lebih maju dari sekedar fstival.

FBD dan Panitia

Contoh tidak profesional itu bisa dilihat dari sikap panitia ketika diminta rilis oleh wartawan untuk bahan berita, mereka (Panitia) suka saling tuding, wartawan dipingpong. Akhirnya wartawan terpaksa membuat berita sendiri dengan cara googling, atau membuat berita tahun-tahun sebelumnya. Hanya tanggal dan tahunya saja yang diganti dan panitia yang stan bye di lokasi gedung Rumentang siang Bandung tempat dimana festival berlangsung.

Saya sudah usul beberapa kali, kepada pemimpinnnya langsung Kang Dadi, agar panitia bisa ngurus manjemen dengan media agar sebelum acara dimulai bisa tersebar informasi minimal seminggu sebelum acara. Ini agar yang tahu tidak cuma peserta saja. Tiap tahun saya usul seperti itu, tapi tak pernah ada perubahan. Mungkin panitia sibuk dengan hal-hal besipat teknis .Panitia memang harus sibuk.

Satu hal yang penting diperhatikan, yang bersentuhan dengan berbagai disiplin seni dan berbagai bidang ilmu, ia sangat akrab dengan sastra, musik, tari, arsitektur, grafis seni rupa, sosial, politik, ekonomi,  psikologi, filsafat, antropologi, ilmu-ilmu budaya dan manajemen.

Panitia FDBS sudah wakunya memiliki SDM yang akrab dengan manajemen, sudah saatnya memikirkan FDBS menjadi ajang lebih meng-Indoneisa dan mendunia, jangan hanya puas begitu saja, sehingga nantinya hanya onani karena merasa puas dengan acara festival yang warnanya itu lagi itu lagi.

Panitia  FDBS harus merasa gelisah yang tasbih. Misalnya mulai mencari sponsor sswasta, sebab mengandalkan pemrintah saja tak cukup. Dan panitia membutuhkan apresiasi dengan para pengamat agar memberikan masukan, pandangan maupun tanggapan kritis dalam prosesnya, kritikus tidak hanya dari kalangan teater sendiri  melainkan masyarakat umum, media, hingga ibu rumah tangga dan tukang becak.

Nama festival juga menunjukan betapa mirisnya panitia ini untuk bisa merubah tradisi pasif ke progresif, karena pencapaian ide pertemuan dengan festival tentu saja akan jauh berbeda.

FDBS telah membantu upaya pemerintah dalam melestarikan dan menjaga nilai tradisi. Karena kekayaan bahasa Sunda bukan hanya dari raga kata maupun ungkapan, tetapi juga dialek ataupun cara mengungkapkan. Kekayaan ini merupakan potensi yang sebenarnya sangat diminati oleh anak-anak saat ini yang cenderung menyukai akan hal-hal baru.

Saya setuju dengan Kang Dadi bahwa Teater merupakan salah satu media efektif dalam usaha melestarikan bahasa dan memperkenalkan budaya, agar diterima oleh masyarakat dengan menitik-beratkan pada segi hiburan. Melalui media teater, Teater Sunda Kiwari berikhtiar melakukan upaya pelestarian nilai-nilai kesundaan dan mampu menumbuhkan tunas-tunas baru grup teater, baik di sekolah maupun umum, juga melahirkan penulis naskah drama Sunda generasi baru.

Sejak tahun 1990, festival ini sudah mendi kebanggan orang sunda, walau minim perhatian dari pemrintah. Kehadiran  Kadisparbud hanya datang membuka acara lalu pergi begitu saja. Saya suka sedih kingkin. Kalau melihat peserta yang gigih datang ke gedung ini dengan biaya puluhan juta tapi memperebutkan hadiah yang sangat sedikit. Mereka berani megeluarkan dana sendiri demi prestise, ini tidak akan terganti oleh semangat apapun.

Tapi sekali lagi, jika dibiarkan begitu terus menerus, FDBS hanya akan menjadi kewajiban saja, setalah itu merasa puas. Cag!

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: