//
you're reading...
BUDAYA, UMUM

ANEKDOT POLITIK

dimuat PIKIRAN RAKYAT, 19 Januari 2017

Ada banyak anekdot dan sekarang orang lebih mengenal dengan nama meme yang dibuat masyarakat di media sosial tentang berbagai persoalan, mulai dari harga STNK naik hingga peristiwa sosial lainnya. Semua menggambarkan bagaimana rakyat tetap ingin gembira di tengah hiruk pikuk politik dan nasib yang nyinyir.

Mungkin ini tidak penting bagi perkembangan politik negeri. Tapi bagi rakyat, menjadi hiburan tersendiri di tengah hiruk pikuk yang melelahkan. Misalnya ketika orang secara bergurau mengatakan;  “Indonesia juara Piala Dunia, tapi belum tentu, kita masih menanti menanti perhitugan realcount”, “”Semua akan naik harga pada waktunya” dan seterusnya.

***

 

Kalimat atau meme lain terus tersebar ke medsos, ada yang senyum sinis membacanya, ada yang ngakak, dan juga yang Cuma mesem. Kalimat-kalimat itu tentu sebuah parodi dan anekdot dari politik dan sosial yang sedang dan sudah berlangsung di tanah air.  Kemudian tersebar ke seluruh pelosok mulut rakyat Indonesia, baik melalui SMS maupun jejaring sosial Facebook atau Twitter, yang pasti kalimat diatas menjadi anekdot yang berkembang pesat.

Anekdot dan Parodi kalimat politik, memang menjadi salah hiburan bagi rakyat. Setelah suara mereka dititipkanlewat paku yang ada di TPS. Hal sama pernah terjadi di Pilkada Jawa Barat 2014 lalu, dimana pasangan calon Gubernur/Wagub Irianto–Tatang diplesetkan singkatannya menjadi Rantang semacam wadah nasi), Dede Yusuf-Leks Laksmana menjadi Delman, Ahmad Heryawan-Dedy Mizwar jadi Herder dan Oneng-Teten jadi Nengtet (keluar/terlihat). Maka jadilah sebuah kalimat dan berubah menjadi semacam anekdot yang tersebar dengan rapih dan tak tahu dari mana sumbernya menjadi “Mawa RANTANG naik DELMAN, diudag HERDER, bujurna NENGTET” yang artinya Membawa wadah nasi naik delman dikejar hewan pantatnya nampak telihat.

 

Anekdot adalah sebuah cerita singkat yang lucu – yang di dalamnya ada kisah nyata namun diplesetkan, karena sebuah anekdot akan tercipta dengan sendirinya di masyarakat untuk menggambarkan peristiwa lucu. Anekdot, Kelakar, lelucon, guyonan atau sejenisnya memang selalu melibatkan orang-orang yang sebenarnya ada. Boleh jadi sebuah anekdot tercipta dengan sendirinya tanpa harus berfikir panjang, sebuah obrolan di warung kopi bisa berkembang menjadi anekdot, kemudian bahasanya dimodifikasi agar lebih seger dan gerr!.

Sebuah anekdot tercipta biasanya karena orang jenuh dengan keseriusan, menginginkan suasana yang lebih fresh, meskipun terkadang anekdot juga perlu menjadi kajian secara psikilogis maupun sosiologis, karena ternyata dalam anekdot itu meskipun ada unsur tawa dan lucu tapi banyak juga berisi sindiran. Mari simak anekdot dibawah ini:

Ada seorang warga negara yang mendaftarkan diri ke KPU untuk menjadi calon bupati, semua berkas peryaratan sudah terpenuhi. Setelah dilakukan verifikasi, petugas KPU bertanya pada calon bupati tersebut

“Pak, mohon maaf Pak, ternyata ijazah S-1 Bapak palsu”. Mendengar itu calon bupati menjawab “Saya tahu kok itu ijasah palsu”.

“Kalau Bapak tahu, kenapa mendaftar pake ijasah palsu untuk mendaftar jadi bupati?”, Tanya petugas KPU. Dan dengan tenang ia menjawab “Kalau ijazah saya ini asli, saya tidak akan mencalonkan diri jadi bupati, tapi saya akan mencalonkan jadi gubernur”.

 

Anekdot Sindiran

Sekali lagi, anekdot memang bukan lelucon walaupun rasanya memang itu lelucon, ia lebih mendekati sebuah sindiran nyinyir, kelakar rakyat. Mungkin semacam kegelisahan masyarakat atas peristiwa social maupun politik yang membelit pikiran, membuat imajinasi berkembang serta mendadak pintar dalam menciptakan istilah dan cerita unik.

Tahun 1986 lalu ada sebuah buku anekdot politik berjudul “Mati Ketawa Cara Rusia”, buku ini laris manis karena berisi cerita lucu dengan tokoh yang sangat dikenal, seperti Kennedy (Presiden Amerika) dan Leoniv Breznev (Rusia).

Saya kutip sedikit isi buku itu :

kennedy (Amerika) menghadap Tuhan dan memohon:

“Tuhan, berapa lama lagikah baru rakyatku berbahagia?”

“Lima puluh tahun lagi,” kata Tuhan.

Kennedy menangis, dan berlalu.

Charles De Gaulle (Perancis) menghadap Tuhan dan memohon,

“Tuhan, berapa lama lagikah baru rakyatku berbahagia?”

“Seratus tahun lagi,” jawab Tuhan.

De Gaulle menangis, dan berlalu.

Kruschev (Rusia) menghadap Tuhan dan memohon,

“Tuhan, berapa lama lagikah baru rakyatku berbahagia?”

Tuhan menangis, dan berlalu …..

 

Di Indonesia anekdot sindiran semacam ini juga beredar dengan cepat. Dalam Pilpres 2014, anekdot begitu berkembang cepat apalagi didukung oleh media sosial seperti FB, Twitter dan blog.  Dan Saya yakin masih banyak anekdot dalam bentuk lain yang tidak saya ketahui yang rupanya terus berkembang hingga kini, sebuah bukti bahwa rasa humor orang Indonesia sangat tinggi apalagi saat rakyat merasa tertekan atau bosan dengan hiruk pikuk politik yang dianggap menyebalkan.

Anekdot soal Bang Haji Rhoma misalnya, terdapat unsur humor yang pas dan diluar dugaan. Pernahkah anda membayangkan tiba tiba muncul kalimat “Kalau Bang Haji Rhoma Irama jadi Presiden, penduduk Indonesia tidak akan bertambah dan berkurang, jumlahnya pasti 135 juta, semua pegawai negeri boleh begadang asal ada artinya. Dan ternyata pencalonan dirinya hanya ingin merebut ANI dari SBY.”

Jika ditelusuri saya yakin kalimat itu tidak diketahui darimana asalnya, tiba-tiba surprise!. Mungkinkah itu sebuah sindiran halus, kritik yang soleh, atau kemarahan yang manis?, sepanjang anekdot itu tidak menjurus SARA, saya pikir inilah kondisi rasional rakyat Indonesia. Ketimbang rakyat bunuh diri karena bingung dalam menentukan pemimpin mereka, maka anekdot itu menjadi penting, semacam pil mujarab untuk menyembuhkan sesaat rasa sakit rakyat yang kerap dibohongi.

Kini kita telah memauski 2017, selama rakyat membutuhkan hiburan teks anekdot masih diperlukan sesulit apapun hidup. Cag!

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: