dimuat TRIBUNJABAR 18 Agustus 2016

Tanggal 17 agustus telah tiba, kegembiraan rakyat sudah terasa sejak lebaran kemarin, dan kegembiraan akan masih terasa sampai September. Kegembiraan ini tergambar dari mulai para penjual bendera yang sudah mulai dimana-mana, sampai nanti puncaknya 17 Agustus berbagai lomba kerakyatan, dan tentu panggung hiburan gratis!

Agutsus memang bulan “suci” bagi kegembiraan rakyat indonesia. Tak peduli harga-harga melambung tinggi, peringatan kemerdekaan tetap berjalan, mulai balap (makan) kerupuk sampai panjat pinang. Hadiah bukan tujuan, nu penting ngaramekun, sebagai bagian dari kegembiraan.

Pun panggung hiburan, menampilkan kreasi seni RT/RW setempat, tari, drama dan band setempat, dan tentu saja Dangdut. Sampai bulan September di tanggal tanggal tua sekalipun, Agustusan masih selalu ada.

Begitulah rakyat Indonesia yang sangat ingin gembira, tiap tahun setiap memperingati kemerdekaannya. Ketika penguasa negeri tak mampu memberi kegembiraan, rakyat menciptakan kegembiraan sendiri. Ulah dicarek sagala, karena memang  tugas rakyat adalah gembira!

Penderitaan yang menghimpit akibat kondisi politik yang mendera hingga berakibat pada harga harga kebutuhan pokok, keserakahan para dewan legislatif yang makin  terlena dengan kekuasaan, dan semua urusan penguasa yang tak peduli pada rakyatnya, sejenak bisa terlupakan oleh semaangat Agustusan, meski sesaat.

Kriteria pemimpin yang didambakan rakyat dari pemilu ke pemilu hanya impian, mulai dari memilih walikota, Gubernur hingga Presiden. Malang nian rakyat.  Sehingga untuk mencapai kegembiraan rakyat harus memenej kegembiraan itu dengan caranya sendiri, tidak ada kegembiraan terpimpin.

Pemimpin dengan wajah tampan dan ngampung (polos) tidak menjamin rakyat sejehtera. Yang tampan cuma hobi bikin taman, yang ndeso bikin rakyat nelangsa.Mereka sering berkata di televisi bahkan infotainment bahwa mereka mencintai kota dan tanah air ini, tapi yang satu mem biarkan pendidikan carut marut, yang satu lagi membiarkan korupsi menjadi tradisi. Diskusi dan tetek bengek hanya sekedar hasrat dan pemeliharaan birahi kekuasaan, pergi ke pasar pura pura mencintai pedagang hanya di lakukan saat kampanye. Setelah itu rakyat dilupakan,dan dibiarkan rakyat berkelahi dengan aparat. kaum miskin kota berserakan di jalan tanpa sandal kakinya hitam loreng. Panen tomat, kentang dan cabe yang gagal, musim tak menentu dan para petani panen air mata.

 

wahai tanah air yang duka

menyebut namamu adalah

bulan yang mengucurkan darah

 

Ini menjadi pelajaran bagi rakyat, bahwa  memilih pemimpin itu sangat sulit, apalagi jika kriteria memilih pemimpin itu dikaitkan harus beriman dan beramal shaleh, memliki niat yang lurus dan  mereka yang  tidak meminta jabatan. Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu:  ”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Kemudian apalagi jika syarat pemimpin harus berpegang pada hukum Agama dan hukum negara, memutuskan perkara dengan adil,tegas dan jujur dan lemah lembut.  Pemimpin yang jujur membawa ketenangan pada rakyatnya dan sekali lagi, mampu membuat rakyat gembira. Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang disayangi oleh rakyat atau orang bawahannya. Pemimpin memupuk kesetiaan rayat kepada kepimpinannya dan tidak melakukan sesuatu yang melemahkan kepercayaan mereka dan kesetiaan mereka.

 

Rakyat Gembira

Kegembiraan rakyat itu ada tiga: kegembiraan politik, kegembraan sosial dan kegembiraan Agama. Kegembiraan politik ialah ketika pemilu atau pilkada belangsung, rakyat merasa gembra jika calon pemimpin yang didukungnya menang, namun kegembiraan itu hanya sesaat, setelah itu meraka akan kecewa karena ternyata pemimpin yang mereka pilih tidak seperti yang diharapkan.

Kegembiraan politik adalah kegembiraan semu bagi rakyat dan kegembiraan sejati bagi politikus atau pemimpin. Karena urusan politik dibuat jauh dari perkara rakyat, sehingga pilihan politik rakyat tidak jelas, Tentu saja lantaran perkara politik diatur oleh para teknisi politik yang menghuni Partai politik.  Jadi kegembiraan politik hanya menjadi hak rakyat sesaat, setelah itu, kegembiraan menjadi petaka berpanjangan.

Kegembiraan sosial itu seperti memperingati kemerdekaan RI, mereka secara serentak di pelosok-pelosok kota dan desa merayakannya dengan uang mereka sendiri, lomba dengan cara ududnan, hadiahnya dari tahun ke tahun paling berupa buku balpoint dan sejenissnya, tapi kegembiraan berjamaah itu terus belangsung tak ada yang bisa menghentikannya.

Lalu kegembiraan Agama, itu hanya dimiliki dan dirasakan oleh masing-masing orang/pemeluk agama yang ada di Indonesia.

Jadi jangan pernah menelikung kegembiraan rakyat, selama kegembiraan itu tidak menimbulkan huru-hara, biarkan rakyat gembira dengan caranya sendiri ketika pemimpin tdak bisa memberikan kegembiraan sepakbola, ketika pemimpin tak bisa memberi kegembiraan harga sembako murah.

Rakyat Indonesia sangat pandai merawat kegembiraan di tengah rasa lapar!. Selamat merayakan Agustusan nanti!, hati hati jangan berkelahi!

 

 

 

Iklan