//
you're reading...
BUDAYA, UMUM

GOTROKSAWALA DAN DKJB

dimuat GALAMEDIA Senin 5 sept 2016 Galamedia

Sudah tiga kali Dewan Kebudayaan Jawa Barat (DKJB) menggelar Festival Gotrasawala di Cirebon, terakhir 12-14 Agustus 2016 kemarin. Karena acara ini menelan biaya miliaran rupiah dan tidak dirasakan manfaatnya oleh rakyat Cirebon dan Jawa Barat, maka Gotrasawala kali ini ditolak oleh kelompok seniman muda Cirebon seperti Edeng Syamsul Maarif, M. Fathan, Nisa Renganis dan lain-lain.

Mereka membuat acara tandingan, namanya Gotroksawala #1 di Kantin Tjirebon jalan Majasem No 69 (depan belokan SMAN5 Cirebon). Dihadiri bahkan oleh budayawan Sobary. Parodi ini menyajikan suguhan serius. Mulai diskusi, pembacaan puisi, tarian topeng Cirebon, hingga perkusi. Diskusi menjadi pembuka sesi pembuka Gotroksawala.  Diskusi mengulas sumbangsih rakyat jelata (Cirebon) bagi kemerdekaan Indonesia dahulu dan sekarang.

Sementara Gotrasawala versi DKJB berada di tempat berbedayang lebih indah, mengadakan acara rembuk raja-raja se-Nusantara. Di dalamnya digelar seminar tentang kontribusi raja-raja se-Nusantara bagi kemerdekaan Indonesia.

Mereka sepekat  bahwa Gotrasawala DKJB  bukan peristiwa kebudayaan. Tapi tidak beda dengan tradisi semisal sedekah bumi dan nadran.  Jika ingin mengembalikan spirit Wangsakerta, mestinya Gotrasawala merumuskan strategi kebudayaan untuk Cirebon ke depan. Minimal merumuskan isu-isu (kebudayaan) strategis terkait kecirebonan, kata mereka.

Menurut salah seorang pembicara pada acara parodi itu, Akbarudin, sejarah keraton Cirebon saja masih banyak masalah dan gelap. Bahkan 1.700 naskah yang ditulis Pangeran Wangsakerta dalam peristiwa Gotrasawala abad ke-17 Masehi saat ini hanya tinggal beberapa saja.

Selesai diskusi tidak lantas berhenti, apresiasi panggung Gotroksawala yang sejak siang hingga malam hari semakin semarak. Akbarudin juga menampilkan macapatan seputar kritik Gotrasawala. Setelahnya, pembacaan puisi dan musikalisasi puisi dari sejumlah penyair. Kemudian pertunjukan tari topeng Cirebon; topeng Samba, yang ditampilkan Silfia. Kemudian pertunjukan seni populer yang dibawakan sejumlah musisi lokal.

Mohammad Sobari yang datang lebih awal dari Jakarta langsung menyampaikan orasi kebudayaan. Sobari menjadi pembicara bedah buku Gotroksawala di hari terakhir, Minggu 14 Agustus 2016. Dia membedah buku “Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau di Temanggung,” yang merupakan karya risetnya.

Kini, Gotrasawal dan Gotroksawala telah berakhir pekan kemarin, dan setelah ini, DKJB pimpinan Ganjar Kurnia Kamis dan Jumat ini 25 – 26 Agustus 2016, akan menggelar FGD (Diskusi Serius), mengundang unsur kasenian dari berbagai daerah, bertempat di Hotel Lembang. Menurut Ganjar, DKJB akan menyusun draft kebijakan bidang pelestarian kebudayaan khususnya bidang seni budaya dan sastra.

Ini tentu saja untuk mencari legitimasi seniman/budayawan agar DKJB tidak dituntut dibubarkan. Patut dicurigai kembali ini akan menyedot dana dari APBD, meski kita tak tahu berapa rupiah. Pasti beda dengan para seniman Cirebon, mereka menggekar Gotroksawala dimana seluruh acara ini diongkosi APBD (Anggaran Patungan Batur Dewek).

Saya yakin, para seniman muda Cirebon menggelar forum terbuka yang setiap peserta boleh memberikan pendapat dan pandangannya. Ekonomi kreatif, pameran batik dan batu akik, perbincangan perihal perjuangan rakyat Cirebon dalam merebut kemerdekaan RI yang akan di telusuri oleh sejarawan Akbarudin Sucipto dan seniman santri Jamaluddin Mohammad.

Bayangkan, kearifan lokal di acara Gotroksawala ada sesi Gala Ngopi: suguhan aneka kopi se-nusantara seduhan teman2 Kampus Kopi. Lanjut ke Performing Art Festival yang diramaikan oleh group tarling, tari topeng, musikalisasi puisi, musik akustik, musik rock, group perkusi, pembacaan puisi, pertunjukan teater hingga ada standup tragedi. Gila!

Akhirnya, Hikmat Gumelar di status Facebook menulis tentang Gotroksawala yang publikasinya gencar dan terarah. Baik melalui FB maupun media mainstreem, mereka gencar mengundang halayak dan sekaligus menyuntikkan ide-ide yang melandasi Gotroksawala serta setiap materi acaranya. Tidak heran jika tiap materi acara Gotroksawala sukses menyedot Perhatian halayak. Dan ini dengan cekatan mereka kabarkan melalui akun-akun pribadi mereka. Pengabaran demikian selalu memungkinkan dinding-dinding mereka jadi ruang diskusi mengenai seni dan budaya, khususnya yang berkait dengan even seperti Gotroksawala dan Gotrasawala.

Gotroksawala berakhir, sejumlah pegiat sastra dan seniman yang terlibat setidaknya merumuskan empat rekomendasi. Pertama, harus adanya pelacakan dan pengkajian naskah-nasakah Wangsakerta. Kedua, penting membangun museum naskah dan karya sastrawan/seniman Cirebon. Ketiga, harus ada penelitian dan penguatan bahasa Cirebon. Keempat, pentingnya pemberdayaan seniman-seniman tradisi. Keempat rekomendasi itu dinilai lebih urgen daripada Festival Gotrasawala yang hanya sekadar seremonial. Bahkan, cenderung menghambur-hamburkan dana miliaran.

Bubarkan DKJB

Dari sekian peristiwa budaya, mulai dari robohnya gedung belakang YPK di Jl. Naripan Bandung, tersedotnya uang oleh DKJB untuk acara “kebudayaan” yang kadang tidak ada bunyinya. Sampai ke acara Gotrasawala dan penolakannya. Maka, kehadiran DKJB tentu ada kaitannya dengan kesemrawutan ini. Sudah sejak awal Juli para seniman di Bandung menolak dan menuntut membubarkan DKJB.

Memet Hamdan (mantan Kadiparbud Jabar) bahkan sering bertukarpikiran, bahwa pertama, Deddy Mizwar sebagai Wagub Jabar memang seorang pembohong, dia mengatakan akan berhenti main iklan dan akan menghabiskan iklan yang sudah ada, nyatanya malah bertambah. Kedua, dibentuknya DKJB oleh Deddy Mizwar dan menggandeng Franky Raden sebagai EO, sudah cukup untuk alasan membubarkan DKJB.

“Kalau mau membubarkan DKJB berarti berhadapan dengan Gubernur dan Saya”, pernyataan ini disampaikan Wagub Deddy Mizwar. Tentu saja, pernyataan yang harus dijawab oleh seniman. Dengan mengatakan pelan pelan atau keras, :Bubarkan DKJB!.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: