//
you're reading...
BUDAYA

SINETRON ORANGTUA DAN ANAK

DIMUAT TRIBUN JABAR KAMIS, 10 MARET 2016

Hampir semua orangtua yang saya temui menduga, setuju, dan khawatir kalau tayangan sinetron yang setiap sore di sebuah stasiun TV swasta sangat berpengaruh bagi perkembangan anak-anak mereka. Salah satu pengaruh itu bisa dilihat dari perilaku mulai dari memakai kaos bergambar sinetron hingga gaya baju dan perkelahian serta kebut-kebutan motor.
Saya yakin dampak ini dirasakan pula oleh orangtua di tanah air yang menangkap dan nonton siaran TV. Terjadi bukan hanya pada sinetron tertentu, sejak TV swasta menjamur dan sinteron menjadi suguhan yang terasa wajib ditonton, apalagi tayang menjelang magrib hingga pukul 9 mlam, selalu berdampak dan dikeluhkan orangtua. Anehnya orangtua yang mengeluh juga ikut karut nonton tayangan itu. Jika nonton untuk membimbing tentu bagus, tapi kalau kemudian nonton malah tak peduli pada perkembanan anak serta membiarkan anak tidak belajar, ini yang gawat.
Tak perlu dijelaskan bagaimana pengaruh tayangan sinetron bagi perkembangan anak, karena pasti sudah banyak pembahasannya, tinggal bagaimana orangtua menyadari pola asuh yang baik bagi anak-anaknya, sebab persoalan anak-anak bukan hanya persoalan habis pulsa, tapi bagaimana mereka bisa masuk dalam kehidupan orangtua tanpa dibebani masalah orangtua. Juga bagaimana orangtua menyadari bahwa anak adalah masa depan yang tak boleh dijejali pikiran jahat seperti yang disisipkan dalam sinteron. (Terkadang, anak-anak hanya mengambil sisi negatifnya dari sinetron).
Fahamailah keluarga dalam hal ini orangtua memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa, karena keluarga merupakan negara kecil dalam tatanan sosial dalam masyarakat. Jika sebuah keluarga berantakan dalam mendidik anak, lemah berfikir positif, maka sudah dipastikan masyarakatnya juga lemah. Fahami juga bahwa masalah perilaku yang tak baik di masyarakat, itu sebab dari lemahnya keluarga.
Seperti banyak orang menyebutkan, bahwa keluarga merupakan sistem sosial terkecil yang bepengaruh luar biasa dalam pembentukan karakter anak-anak, karena keluarga ibarat sebuah pabrik yang harus menyediakan bahan dasar, memproduksi/mencetak, dan akan menikmati hasilnya. Setelah melahirkan, menyusui lalu mendidikanya dengan baik, nanti setelah dewasa hasilnya untuk keluarga itu sendiri.
Mendidik anak memang harus dimulai dari sebelum menikah, orangtua sering mewanti-wanti agar memilih calon suami/istri dilihat dari bibit, bebet, bobot. Dalam bahasa Agama menyebutnya jika memllih pasangan harus dilihat dari keturunan, kekayaan, wajah dan Agama, jika tidak terpenuhi syarat itu, maka syarat Agama harus diutamakan. Artinya, ini akan mementukan masa depan bangsa yang dimulai dari memilih jodoh. Karena nantinya sebuah keluarga bukan hanya tempat rodezvoie ayah, ibu, dan anak, melainkan temat berkumpulnya ide, perbedaan, karakter dan watak, serta kemampuan menentukan jalan hidup.

Sinetron dan Pola Asuh
Kaitannya dengan tayangan sinteron di TV, ini menarik untuk disimak, karena banyak orangtua yang tidak peduli dengan perkembangan anak khusunya memasuki remaja awal yang masih mencari jati diri, jati diri itu bisa mereka dapatkan dari tokoh maya di sinteron bukan terletak pada orantuanya yang tidak peduli.
Seorang pemeran dalam sinetron yang menjadi tokoh dan menjadi idola karena menjadi pahlawan bagi keberadaan anak jalanan, misalnya, ia bisa membantu teman, jago berkelahi dan dapat memecahkan masalah. Ini akan ditiru karena tidak ada pada diri orangtua. Orangtua dianggapnya suka mengatur tidak memgerti keadaan mereka, orangtua dinilai sangat posesif ketimbang memberi kesempatan anak untuk bebas bermain, orangtua sering dianggap tak memenuhi standar keinginan anak, karena jarang diajak diskusi.
Sesekali atau seharusnya sering-seringlah orangtua melakukan diskusi tidak hanya melulu pelajaran sekolah, karena jika ditanya soal pelajaran sekolah melulu tentu ada rasa bosan bagi si anak, sudah di sekolah belajar matematika, di rumah baru saja pulang eh ditanya:”Gimana sekolah tadi, pelajaran matematikanya gimana”. Tentu akan menambah beban pikiran anak. Cobalah sesekali anak diajak diskusi soal sinetron yang ditontonnya, soal pergaulannya atau soal pacarnya. Semakin banyak persoalan yang didiskusikan dengan anak, akan semakin dekat orangtua dan anak.
Kita sebenanya sadar bahwa televisi merupakan salahsatu produk budaya yang dibenci dan dicari, dibenci karena banyak tayangan yang tidak mendidik tapi diperlukan untuk hiburan gratis. Ketika itu terjadi, maka kita terjebak pada sesuatu yang mestinya tidak harus terjadi. Sudah banyak pesan untuk orangtua agar bisa memilih dan memilah acara untuk anak-anak, tapi semakin banyak fatwa itu, semakin orangtua larut dan tenggelam dalam sinetron, dan anak-anak menjadi pengikut orangtua yang salah.
Jawabannya ialah niat, segala sesuatu berawal dari niat. Orangtua yang memliki niat kuat membesarkan anak dengan pola asuh yang baik, bisa membuat tayangan sinteron sebagai bentuk pola asuh yang mumpuni. Sinetron yang dipilh orangtua untuk anak atau sinetron yang ditonton anak yang didampigi orangtua, akan membantu anak dalam memahami persoalan aktual di indonesia, baik ekonomi, sosial budaya dan agama. Jangan biarkan anak-anak terintimidasi ajaran “sesat” sinetron.
Kisah dalam Sinetron memang sudah merebut hati anak-anak, orangtua harus cepat merebutnya kembali jika tak mau kehilangan masa depan anak. Beri pemahaman pada mereka bahwa televisi bukan segalanya untuk mencari hiburan. Jangan biarkan anak-anak menangis ketika tokoh sinetron pujaanya tersakiti oleh musuhnya. Ajaklah si anak pada realita kehidupan. Misalnya dalam sinteron ada tokoh bogalalakon, yang disiksa dan diusir oleh ibu tiri hingga jadi pengemis, ajak anak pada realita yang ada, bawa ke jalan dan biakan melihat kenyataan bahwa di sekelilingnya banyak anak-anak jalanan yang menjadi pengemis, menangis kelaparan, jadi pengamen dan lain-lain. Lalu orangtua membekali anak dengan rasa peduli pada mereka.
Sekali lagi, sinetron bisa menjadi pola asuh keluarga dalam mencerdaskan anak. Tapi itu hanya bisa dilakukan oleh orangtua yang cerdas pula. Nah!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: