//
you're reading...
BUDAYA

PENDIDIKAN SASTRA BAGI ANAK

DIMTA DI GALAMEDIA, Senin 14 MAET 2016https://kyaimatdon.files.wordpress.com/2016/10/galamedia.jpg?w=1462

Di Tasikmalaya, sebuah kota kecil di wilayah Jawa Barat, sudah hampir 10 tahun berkembang tradisi “Mendongeng Untuk Anak”. Para penyair seperti Acep Zamzam Noer, Saepul Badar, Bode Riswandi dan sejumlah penyair Tasikmalaya lainnya, bergabung bersama menggelar acara “Mendongeng Untuk Anak” setiap akhir bulan, terutama pada bulan Ramadhan dilakukan seminggu 3 kali.
Mereka menyiapkan materi dongeng yang diambil dari kisah-kisah yang sudah ada maupun cerita yang mereka tulis sendiri. Di depan puluhan bahkan terkadang ratusan anak, kisah itu “dipanggungkan” lewat tutur cerita yang apik, membuat anak betah. Menurut mereka, aktivitas yang digelar tersebut untuk memberi kesempatan pada anak-anak untuk merasakan nikmatnya sastra.
Saya pikir aktivitas ini luar biasa dan dasyat, dimana sekolah sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak melalui sastra, tidak mampu mengulum via kurikuum masuk ke dasar hati siswa, para penyair Tasikmalaya ini melakukannya melalui dongeng, yang notabene adalah sastra. Dan uniknya, acara mendongeng ini dilakukan di sejumlah wilayah miskin Tasikmalaya, untuk anak-anak yang kurang mampu, putus sekolah atau tidak sekolah sama sekali.
Ya, sastra yang dikisahkan bagi anak-anak selalu merangsang mereka untuk meniru perbuatan baik yang ada dalam cerita, dimana fantasi mereka sedang berkembang dan mudah “diracuni” hal-hal kebaikan, walaupun cerita itu fiktif.
Pendidikan sastra bagi anak memang perlu untuk membangun kognitif, afektif, dan psikomotorik mereka, tentu kemasan sastra bagi anak-anak harus dikemas berbeda dengan orang dewasa, agar imajinasi anak liar namun terawat, dan nanti setelah dewasa mampu membedakan mana yang baik dan buruk.
Kita memang tidak berharap pada pendidikan sastra di sekolah, karena selain kurikulum yang tak menyentuh dasar nurani anak, juga kurangnya jam pelajaran serta tidak mampunya guru melakukan jurus-jurus jitu mengajarkan sastra pada anak didik. Maka, orangtua sebagai penanggungjawab pertama soal moral, akhkak dan kecerdasan anak yang memegang peranan penting.
Sebenarnya orangtua kita dulu sudah memberi contoh baik bagi para orangtua sekarang, mereka selalu mendongeng pada anak sebelum tidur, meskipun dongengnya masih dari itu ke itu saja tapi justru akan melekat pada pikiran dan hati anak. Secara tidak langsung orangtua zaman dulu telah memasukkan unsur sastra dalam mendidika anak yang secara emosional psikologis dipahami oleh anak.
Belum lagi jika anak-anak tinggal di desa atau kota yang religius, atau katakanlahn tinggal di dekat mesjid yang setiap menjelang adzan selalu ada syair puji-pujian berupa sholawat atau pepatah dari speaker dalam bahasa daerah. (kalau di wiayah Jabar tentu bahasa Sunda, di Jawa tengah bahasa Jawa dan di daerah lain sesuai dengan bahasanya). Dan tradisi tesrebut hanya ada di indonesia sejak lama.
Orang tua sekarang, sedikit sekali menyadari hal ini, faktornya bermacam macam. Bisa karena mereka tak memahami pentingnya bersasrta bagi anak anak, bisa karena mereka sibuk dengan pekerjaan, bisa juga karena mereka beralasan bahwa anak anak tak pertlu diajari sastra.

Sastra dan Kecerdasan
Seperti yang saya singgung diatas, bahwa sastra mampu membangun kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Sebab kecerdasan seorang anak bermula ketika ia memahami apa yang dituturkan orangtua, apa yang mereka baca dan apa yang mereka lihat. Artinya, jika sejak dini orangtua menanamkan sastra,maka si anak akan terbiasa dengan pola pikir yang ada dalam sastra tersebut, sehingga imajinasi mereka terarah. Apalagi sastra berkaitan dengan bahasa, ada tutur kata yang indah di dalamnya, secara tidak langsung mengajarkan anak untuk berkata hal hal yang baik. Dan mendorong anak untuk membaca, bakan kemudian bisa menulis.
Orangua harus faham, sastra dapat merasuk ke dalam diri mereka sehingga nantinya bisa menciptakan ide, memikirkan lingkungan sekeliling, dan peka terhadap kondisi sosial, sastra selain dapat merubah perilaku anak, juga mampu melayani daya khayal mereka untuk pengalaman aneh di dalamnya..
Ini perlu kesadaran orangtua, bagaimana orangtua mampu mengajarkan sastra dan membaca pada anak, jika orangtuanya sendiri tidak suka akan hal itu. Berbagai macam teori yang disodorkan Agama dan ahli pendidikan tak akan mampu merubah penguatan pendidikan keluarga pada anak, jika kedua orangtua hanya mau anaknya pinter, kaya dan punya jabatan. Tidak memikirkan isi hati anak.
Berbagai seminar tentang bagaimana cara mendidik anak banyak digelar dan diikuti orangtua, dengan membayar ratusan ribu rupiah, saking ingin mendidik anak dengan baik. Atau hanya mengejar sertifikatnya saja? Wallahu alam. Yang jelas, banyak teori untuk mendidik anak, tergantung cara mana orangtua mau menjalankannya. Mau dengan cara diskusi, wisata, olahraga atau sastra sekalipun,atau cara apap saja, semua akan kembali pada masing-masing keinginan dan kemampuan orangtua.
Persoalannya, di zaman yang serba canggih ini, orangtua lebih memanjakan anak dengan fasilitas handphone, internet, TV (sinteron dan film-film), games dan sebagainya, lalu membiarkan mereka soliter tanpa pengawasan. Jarang orangtua memberi buku bacaan berupa cerita, komik lokal, atau buku-buku khusus anak-anak.
Dunia anak adalah dunia main-main, maka untuk mendidik merekapun harus santai dengan pola main-main, termasuk mendidik sastra pada mereka. Mengajarkan sastra pada mereka harus bernuansa gembira, bahagia dan nikmat. Tehniknya terserah masing-masing, karena yang mengetahui perilaku anak adalah orangtua sendiri. Yang penting orangtua menguasai bisa memahami pendekatan persuasif.
Yakinlah bahwa ajaran Agama tak ada yang mengalahkan sistem pendidikan bagi anak, dan yakinkan pula bahwa di dalam sastra ada banyak pendidikan Agama.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: