//
you're reading...
BUDAYA

GEDUNG YPK RIWAYATMU KINI

DIMUAT DI PIKIRAN RAKYAT, 20 JULI 2016

Bulan Desember 2015, di Harian Piiran Rakyat saya nulis tentang Kongres Kesenian yang tak jelas itu, saya mempertanyakan peran pemerintah dalam hal seni dan budaya belum termasuk gedungnya. Selanjutnya bulan Pebruari 2016 saya juga nulis tentang Gedung Kesenian (masih di harian ini), disitu saya tulis bahwa sejarah tahun 1995 saya menyaksikan sendiri dimana PD. Kerta Wisata waktu gagal ”menguasai” gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) di Jl. Naripan dari para seniman. Ini karena kekompakan para seniman, bersatu mempertahankan gedung itu agar tak jadi rumah makan.
Dua bulan lebih para seniman mondok moek disana, untuk memperthankan keberadaan gedung YPK yang sudah dianggap sebagai gedung milik sendiri. Hingga sepuluh tahun kemudian perusahaan tersebut membungkus orientasi komersial yang bercita-cita menjual kesenian dan kebudayaan Indonesia lewat gedung kesenian dan melirik gedung bioskop Majestic yang sudah berdiri sejak tahun 1925. Letak gedung itu hanya kurang lebih 50 meter dari YPK. Dinilai sudah tidak lagi menghasilkan uang, gedung bioskop Majestic yang terletak di Jl. Braga 1 Bandung beralih fungsi menjadi pusat ”bisnis budaya” tingkat internasional. Namanya pun diubah menjadi Pusat Kebudayaan Asia-Afrika/Asia-Africa Cultural Centre (AACC). 8 Januari 2006 gedung itu diresmikan Wakil Gubernur Jawa Barat, waktu itu Dedem Ruchlia.
Sekarang bangunan belakang gedung YPK yang terletak di jalan Naripan Bandung itu runtuh. Dan para seniman seperti Etti RS, Godi Suwarna, Ahda Imran, Heery Dim, Isa Perkasa dll memepertanyakan kembali peran pemerintah setelah Kongres Kesenian. Intinya gedung ini harus diperbaiki. Padahal belum lama ini gedung YPK direnovasi.
Tapi seorang benama Yus Ruslan Ahmad menyatakan tidak pelu dengan alasan bentuk tampang depan YPK memang unik tetapi sungguh tidak luar biasa. Tidak bisa disebut landmark kota, ia juga tidak aduhai untuk jadi ikon, dan ia pun bukan pula focal point yang amat khas kota Bandung. Orang luar Bandung yg baru pertama kali ke Bandung dan lewat di depannya pasti tidak akan terkagum-kagum melihatnya. Itu pun kalau dijelaskan sama tour guide keberadaannya. Sekarang dari sisi fungsi, ruang parkir minim nyaris tidak ada.
Alhasil menurut Yus, gedung YPK merupakan kemubaziran yang dilindungi aturan. Tidak ada satu pun jenis pertunjukan budaya kaliber Asia apalagi kaliber dunia yang layak ditampilkan di YPK bila kondisinya seperti saat ini, apalagi bila upgrade-nya seadanya dan bukan oleh orang yang ngerti. Lebih apalagi bila dikaitkan dengan status bergengsi Kota Bandung sebagai ibukota Asia-Afrika. Yus berasumsi, apa guna mengheritage gedung tua mubazir di tengah kota, padahal di lokasi yang sama bisa dibangun sebuah ikon baru, gedung yang representatif bagi pertukaran misi budaya Asia Afrika selain di Gedung Merdeka, dan gedung YPK yang baru itu harus didesain sedemikian rupa sehingga para seniman dan budayawan domestik maupun mancanegara betah berlama-lama berkolaborasi bikin kreasi, inovasi, invensi kelas dunia yang bisa jadi trend baru bisnis seni budaya yang baru di dunia.
Ohoi, tentu pendapat ini membuat geram Godi Suwarna, ia mengatakan apa yang diungkap Yus hanya membeberkan segala macam kekurangan bentuk pisiknya semata. Tidak satu kalimat pun menyebut bahwa pada zamannya YPK punya nilai dan teramat berarti bagi dunia kesenian di Bandung. Dahulu, di YPK lah pergelaran wayang golek dilaksanakan secara berkala dan disiarkan langsung oleh RRI Bandung. Pada tahum 70-an.
Gedung YPK juga dipergunakan oleh para seniman teater untuk berlatih dan membuat pagelaran. Di YPK lah Budayawan dan Seniman Besar Remi Sylado cs. berproses. Di sana pernah berdiri satu perguruan tinggi kesenian. Kalau tak salah, hingga saat ini YPK masih dipergunakan untuk latihan tari sunda. Karena gedung YPK dianggap penting oleh para seniman Jawa Barat, ketika gedung itu mau dijadikan sebuah rumah makan, maka para seniman pun berdemolah. Di antarnya: Tisna Sanjaya, Isa Perkasa, Aendra Medita, Acep Zamzam Noer, Taufik Faturohman,, Rudi St Darma, Bung Barnaz, Wawan Setiawan Husin, Kyai Matdon, Yusef Muldiyana Herry Dim, Deddy Koral, Anggiat Tornado, Hikmat Gumelar, M Malik, Opick Sunandar Sunarya, Rahmat Jabaril, Nandanggawe Ahda Imran, Abah Cahya dan ratusan yang lainnya lagi, berdemo dan akhirnya “diduduki” oleh para seniman.
Artinya, YPK masih diangap penting di mata seniman. Jauh berbeda dengan pendapat Yus yang sangat melecehkan gedung tsb, hingga terkesan kalau gedung itu roboh sekalipun, ia takkan keberatan
Saya setuju Godi Suwarna dan Etty RS yang mennyebutkan, Gedung YPK merupakan salah satu Bangunan Cagar Budaya (BCB) dari 637 BCB yang tercatat di Kota Bandung, bahkan gedung ini termasuk ke dalam kategori A dari 100 BCB yang terlampir pada Perda Kota Bandung No. 19 tahun 2009. Sebagaimana yang tersurat dalam UU No. 5 tahun 1992 yang direvisi menjadi UU No. 11 tahun 2010, ‘perlakuan’ untuk renovasi terhadap BCB yang termasuk kategori A telah diatur dalam pasal dan ayat-ayatnya, di antaranya bentuk bangunan tidak boleh berubah, material yang digunakan harus sesuai dengan material asalnya, dan sebagainya.
Sementara baik Ahda Imran atau pun Taufik Faturohman sama sama geram dengan apa yang dilakukan pemerintah saat ini dan ungkapan Yus Ruslan Achmad tadi. Di mata Yus Ruslan sebuah gedung hanya fisik rupanya. Tempat yg tak menyimpan pertalian apapun dengan sejarah sebuah kota dan warganya. Gedung semata hanya fungsi yang menekan pada fisik. Lazimnya cara berpikir serupa ini dimiliki oleh para pemborong.
Karena letaknya strategis di pusat kota, dari dulu banyak pengembang yang ingin membangun mall dan hotel di lokasi YPK, dengan iming-iming satu lantai akan dibuatkan tempat berkesenian moderen. Menurut Ahda, penyakit laten orang Indonesia itu doyan membangun ketimbang merawat. Selalu banyak pembenaran dan janji muluk kalau untuk membangun. “Seandainya gedung YPK akan diratakan dengan tanah, lalu dibangun bangunan modern, terlepas dari alasan-alasan yang Pak Yus katakan, pasti kami akan terusik, dan akan turun ke jalan lagi untuk berdemo”.
Sekarang gedung YPK yang gagah dan unik itu, berdiri megah di tengah kota. Namun gedung belakang tempat mentas para seniman dan sudah berabad-abad lamanya, hendak dirubah oleh DKJB (Dewan Kebudayaan Jawa Barat) untuk sebuah kepentingan bisnis kesenian. Sebuah proyek besar dan gawat!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: