//
you're reading...
BUDAYA, UMUM

SPIRIT MUNGGAH

Tribun Jabar Jumat 3 Juni 2016

Di antara nama-nama dua belas bulan dalam kalender (islam) Sunda, dikenal nama Rajab-Rowah-Puasa, yang diambil dari kalender Islam Rojab – Sya’ban – Ramdahan. Tak ada perbedaan diantara keduanya, hanya penyebutan lisan saja.
Dan diantara akhir bulan Sya’ban (Rowah) menuju tanggal 1 Ramadhan, ada sebuah tradisi yang berkembang di Pulau Jawa hususnya masyarakat sunda, yakni “munggah” atau “munggahan”. Sampai saat ini masih berlangsung. Tradisi ini merupakan bentuk rasa bahagia masyarakat sunda dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Bukan merupakan syariat Islam, tapi sebuah tradisi kuat yang turun temurun sebagai budaya ajeg dan patut dipertahankan. Tradisi dan budaya yang bagus untuk pembentukan rohani mestinya dipertahankan oleh generasi sekarang sebagai bentuk rasa hormat terhadap leluhurnya.
Secara etimologis munggahan berasal dari kata unggah yang artinya naik ke tempat yang lebih tinggi. Dalam bahasa sunda unggah berarti naek ka tempat nu leuwih luhur . Lebih jauh lagi, hijrah dari posisi kepribadian yang jelek menjadi yang lebih baik, atau meningkatkan kualitas ibadah. Ini sesuai dengan Alquran ujung Surat Al-baqoroh 183, yang berbunyi “Laallakum Tataqun”. Bahwa puasa itu agar manusia menjadi lebih baik (bertaqwa).
Ramadhan disambut oleh masyarakat sunda karena merupakan bulan untuk menaikkan derajat kemanusiaan. Menaikkan derajat itulah yang disebut “munggah”, yakni proses perubahan menuju kebaikan.
Biasanya, munggah diisi dengan bebersih mesjid, mushola, dan kuramas serta meminta maap pada tetangga. Lalu munggah berkembang menjadi acara botram; makan-makan kumpul dengan keluarga atau teman. Kalau ada acara saling memaapkan, itu berkembang di SMS, Whatsaap atau status Facebook. Tentu saja ini sebuah pergeseran budaya yang tak bisa dihindari. Namun masih ada ttradisi ziarah ke makam orangtua, para wali dan yang dianggap dipihormat, . Sebuah tradisi transendetal yang tidak hilang.
Intinya. Munggah adalah mempersiapkan diri memasuki bulan suci. Karena konotasi Ramadhan adalah mensucikan diri, oleh karenanya aktivitas sosial pun lebih diarahkan pada hal-hal yang bersifat khusus yang menunjang ibadah puasa.

Tradisi Kuat
Tradisi yang baik yang tidak merusak keyakinan beragama tidak boleh hilang dari muka bumi, juga sepanjang tradisi itu dipengaruhi ruh keislaman masyarakatnya. dan munggah salah satunya. Bahkan munggah boleh jadi warisan yang wajib dipelihara dan dijaga agar tetap menjadi budaya dan tidak hilang karena pengaruh globalisasi dan modernisasi.
Spirit munggah di masyarakat sunda dimaknai secara khusus, masyarakat mengikatnya dalam bentuk tradisi dan budaya secara turun-temurun. Barangkali makna sosio-kulturnya ialah munggah merupakan berkah awal Ramadhan. Di dalam ajaran Islam ada tiga bulan berturut-turut yang dalamnya ada keberkahan dan keutamaan yang lebih yakni Rajab-Rowah-Puasa (Rojab, Sya’ban, Ramadhan). Pemaknaan masyarakat pada 3 bulan itu berkorelasi dengan momentum penting dalam perspektif kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda.
Gerbang memasuki Ramadhan lewat munggah, agar saat menjalani ibadah puasa biasa dijalani dengan keiklahsan. Ramadhan yang suci, diawali dengan munggah, sebuah ritual bernuasnaa budaya. Luar biasa!. Sehingga pada saat memasuki Ramadhan, masyarakat sudah siap naik derajat.
Bulan Ramadhan merupakan bulan strategis untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Di bulan ini ada fasilitas untuk itu, misalnya ada tarwih, tadarus, sahur dan ibadah-ibadah lainnya. Dan masyarakat menempatkan Ramadhan pada posisi yang sangat penting.
Tidak usah serius menilai halal-haram soal tradisi ini, sebab tradisi merupakan sebuah fenomena budaya masyarakat Islam Sunda dan Islam itu memang tidak jauh dari tradisi, bahkan di dalam ramadhan sendiri ada tradisi ngabuburit. Apakah ngabuburit juga lalu menjadi haram?.
Seorang budayawan Indramayu Supali Kasim pernah mengatakan, lewat pustaka yang ditulis tahun 1518 M dalam bahasa dan aksara Sunda. Disana disebutkan ada empat keinginan manusia yang fitrah: yun suda, yun suka, yun munggah, dan yun luput. Yun suda ialah ingin sempurna, tidak mau terkena penyakit; Yun suka ialah ingin kaya, tidak mau kehilangan harta-benda; Yun munggah ialah ingin surga, tidak mau menemui dunia: Yun luput bararti ingin moksa, tidak mau terbawa oleh penghuni surga.Ini mempertegas makna munggah dalam pengetahuan masyarakat Sunda, Istilah munggah snagat religius dan spiritual.
Di dalam mayarakat sunda, istilah munggah menempel juga pada ibadah lainnya seperti munggah haji, yang dipergunakan untuk menyambut bulan Dzulhijjah. Istilah ini banyak tercantum dalam prasasti berbahasa Jawa Kuno sejak masa Mataram Kuno abad ke-8.
Jadi sebenarnya Islam tidak pernah terpangaruh tradisi atau budaya setempat sebuah kaum, tapi Islam justru menempatkan diri pada tataran masyarakat manapun. Nah, Islam disebarkan di Pulau Jawa oleh para Wali, para Wali inilah yang sangat cerdas memanfatkan “teks” masyarakat setempat. Munggah adalah teks masyarakat sunda, dan oleh para wali dipinjam untuk mendekatkan penyebaran islam. Dan ini sangat efektif, terbukti sampai sekarang munggah masih dipertahankan sebagai tradisi penuh spirit.
Tradisi lain yang mengakar di kalangan masyarakat Islam di Nusantara khususunya sunda misalnya, menjelang Ramdahan ada nadran, merupakan tradisi zaiarah ke makam orangtua yang sudah meninggal. Mendoakan mereka agar diterima semua ibadah yang telah dilakukan. Nadran diduga sebagai akulkturasi agama Islam dan Hindu. Sepanjang para peziarah hanya mendoakan, saya pikir tidak menjadi masalah, lagi pula di makam ada silaturahmi antara hati dan kesadaran manusia pada kematian.
Kesimpulannya, tradisi yang menyeluruh pada buaya rakyat Indonesia ada banyak nilai kebaikan dan spirit ilahiah. Semua tradisi tersebut, merupakan spirit religius yang tak boleh punah dari nusantara.
Cag!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: