//
you're reading...
BUDAYA

Aksi “Gelo” Gusjur Mahesa

GALAMEDIA Rabu 25 Mei 2016

katanya mau memberantas korupsi
Ternnyata malah korupsi
Katanya mau menyelamtakan uang negara
Ternnyata kau malah melidungi koruptor
Malah merampok pajak rakyat
Kamu itu tong kosong nyaring bunyinya
Otakmu bolong hatimu kosong
Nol, Nol, Nol!
Nol sama dengan kosong
Kosong sama dengan bohong
Bohong itu waduk
Waduk itu podol
Podol itu tai
Tain itu bau
Bau itu rujit

**
Sejak meluncurkan buku kumpulan puisi “Mending Gelo Daripada Korupsi” pertengahan bulan lalu, Sutradara teater Gusjur Mahesa begitu rajin mengkampanyekan anti korupsi dengan cara gelo. (gila). Ia mendatangi kantor-kantor kelurahan dan kecamatan yang ada di kota Bandung dan Cimahi secara bertahap. Ia menamanaknnya Aksi Reaksi Puisi (ARP).
Gerakan ARP ia akukan setiap hari Rabu, dan sampai Rabu 18 Mei 2016 kemarin sudah memasuki Rabu ke empat. ARP merupakan kampanye penyadaran anti korupsi, Gusjur Mahesa yang dikenal sebagai presiden Republik Gelo dalam grup di Facebook, menawarkan buku puisinya sambil membacakan puisi yang ada di dalam buku itu.
Rata-rata sehari Gusjur bisa menemui empat sampai lima kantor Keluarahan/Kecamatan. Tidak mudah bagi Gusjur menjalani aksi ini. Tapi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta ini dengan sabar menanti. Menanti untuk kampnye dan baca puisi di kantor pemerintahan saya kira sudah termasuk katagori gelo.
Bayangkan, ia datang sendirian ke halaman kantor kelurahan kadang ditemani istrinya. Ngantri dengan masyarakat lain yang hendak mengurus KTP, KK atau surat-surat lainnya. Setelah gilirannya, ia harus menjelaskan maksud dan tujuannya dengan menyodorkan identitas dan Rilis yang ia buat. “Saya sedang kampanye anti korupsi dengan mendatangi kantor-kantor pemerintahan, kalau setuju dengan anti korupsi maka Saya akan baca puisi disini sebenatr saja, lalu selfi dengan Pak Lurah/ Bu Lurah dengan staffnya” begitu kira kira ia katakan pada setiap kantor yang ia datangi.
Setelah itu kembali Gusjur harus menunggu untuk bisa bertemu Lurah atau Camat. Bisa satu jam lamanya. Kadang jika Lurah/Camat sedang raoat diluar kantor, ia tunggu .Sungguh Gila!
Ketika giliran masuk ke ruang kerja Lurah, ia pun kembali akan mengulang kalimat tadi. Jika sambutannya baik, maka akan terus belanjut ke diskusi kecil soal korupsi sampai ke persoalan Persib. Kalau sambutnya dingin, maka Gusjur pun hanya bisa mengucap Nuhun dan berlalu.
Setelah itu, ia pun dipersilahkan baca puisi. Trik selanjutnya setelah selesai baca puisi ia menawarkan bukunya pada Lurah dan para stafnya seharga Rp. 50.ribu. Kalau beruntung bisa ada yang beli hingga 5 buku. Tapi kdang hanya satu buku. Bagi yang membeli buku dipaksa untuk selfie, lalu ia posting di aku facebook. Selfie adalah ideologi dari ARP.
Saya yakin karya sastra jenis puisi, selain bisa memberikan suatu pengalaman batin yang baru, juga menyadarkan pembaca pada nilai-nilai esensial kehidupan. Karena sastra bukan melulu jadi hiburan dari rasa sunyi penyair tapi cermin kehidupan sosial yang dapat mencerahkan masyarakat pembacanya. Puisi adalah harapan terakhir yang bisa merawat kebuduyaaan di muka bumi ketika politik dan ekonomi tak mampu memeliharanya, saya masih yakin sastra (dalam hal ini puisi) memiliki fungsi sebagai “agama” dan kontrol sosial.salahsatunya, mengkiritisi korupsi.
Puisi Dan Gusjur
Saya sendiri mengenal Gusjur Mahesa seorang aktor dan sutradara teater di Bandung, nama aslinya Agus Priyanto, S.Pd., M.S. lalu oleh WS Rendara (alm) sebagai gurunya diberi nama Agus Mahesa, dan oleh Godi Suwarna diberi tambahan menjadi Gusjur Mahesa, Gusjur sebagai kependekan dari “Agus Jurig” Hingga kini nama itu menjadi fashion bagi dirinya.
Bergelut dalam bidang penyutradaraan, keaktoran dan penulisan, pria asal Jawa Timur kelahiran 1 Agustus 1966 ini. Tahun 1986 masuk IKIP Bandung 1986. Lalu ikut teater kampus yaitu UTM (Unit Teater Mahasiswa) IKIP Bandung. Sempat mampir di Acting Course Studiklub Teater Bandung (STB).
Pada tahun 1993 mesantren di Bengkel Teater Rendra (BTR) selama 7 tahun dan dilantik menjadi anggota BTR. Pementasan berkesan saat ia mementaskan “Selamatan Anak Cucu Sulaiman” di Seoul, Korea Selatan dan Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 2000 pindah mesantren di Studio Hanafi di Depok, belajar dan bergaul dengan Seni Rupa. Sempat pula terlibat produksi Siau Ling karya sutradra Remy Sylado. Sebagai aktor dan sutradara terlibat dalam kelompok-kelompok teater selain tersebut di atas. Yaitu Teater Suhu, Teater Syahid IAIN Jakarta, Teater Cempaka, Teater Awal Garut, Teater Gerak Sawung Jabo, terlibat juga dengan Gerakan Masyarakat Anti Nuklir Indonesia (MANI) dan WALHI Jakarta. Tahun 2001 kembali ke Bandung dan mendirikan kelompok Teater Tarian Mahesa (TTM).
Tahun 2008 bersama TTM dalam naskah “Jeblog” Nazaruddin Azhar, menyabet pertunjukan terbaik dalam FDBS (Festival Drama Basa Sunda). Tahun 2010 bersama TTMC (Teater Tarian Mahesa Ciamis) dalam naskah “Bandera, Bandera, Bandera” Karya Toni Lesmana menyabet pertunjukan terbaik dalam FDBS dua tahun berikutnya. Tahun 2012, ikut FDBS dengan membawa 3 kelompok sekaligus Teater Nusantara 32 (Uninus), TTM dan KSSI (komunitas Seni Sastra Indonesia) STKIP Siliwangi. Tahun 2014 Ikut FDBS lagi dengan menyutradarain satu grup yaitu KSSI dan menjadi Terbaik ke-2. Kini ikut FDBS ke-17 pada saat ini (2016) yang sedang berlangsung dengan grup KSSI. SEbagai orang rantau dan Sunda mualaf telah bertekad untuk menyutradarai teater berbahasa sunda 2 tahun sekali dengan ikut FDBS ini.
Enam tahun terakhir ini, selain menyutradarai juga aktif mendatangi acara acara sastra baik ASAS Upi maupun Majelis Sastra Bandung, disana kadang ia performance. Saya tidak tahu persis kapan sejak kapan ia menulis puis, karena tiba-tiba saja ia mendatangi saya dan memprlihatkan bukunya, “Mending Gelo Daripada Korupsi”.
. Tentu saja memaknai gelo bisa multitafsir, kegilaan Gusjur adalah kegilaan yang waras sebagai refleksi dari kondisi dunia yang menyeret manusia pada kesunyian. Ini bisa dilihat dalam setiap penampilannya yang baik di panggung maupun dalam keseharian. Dari kegilaannya itu tertangkap kewarasan yang gila. Kewarasan yang menyindir kehidupan, kegilaan yang menyindir orang waras.
Puisi-puisi dalam buku ini memang harus dibaca oleh pejabat, agar mereka menyadari bahwa korupsi itu berbahaya. Kalau dibaca oleh penyair atau seniman saja, puisi puisi Gusjur akan terasa biasa saja. Tapi kalau dibaca pejabat, puisi menjadi alat penyadaran diri supaya mereka insyaf

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: