//
you're reading...
BUDAYA, UMUM

May Day;Apa Kabar Reformasi?

oleh Matdon
Dimuat di Tribun Jabar Senin 2 Mei 2016

Memasuki bulan Mei berarti memasuki bulan perubahan dan tahun ini gerakan perubahan Indonesia sudah 18 tahun berlalu. Orang-orang mengenal bulan Mei sebagai bulan reformasi, sebuah gerakan perjuangan sporadis tak berujung, selain itu dikenal juga sebagai May Day; hari buruh yang dirayakan pada tanggal 1 Mei.
Reformasi 1998 merupakan sebuah gerakan perubahan menuju ke arah perbaikan di bidang politik, sosial, ekonomi, hukum, dan pendidikan. Tujuannya ialah memperbarui tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam bidang ekonomi, politik, hukum, dan sosial agar sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Wabil Khusus, tujuan gerakan reformasi politik bertujuan tercapainya demokratisasi, reformasi ekonomi bertujuan meningkatkan tercapainya masyarakat, reformasi hukum bertujuan tercapainya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, reformasi sosial bertujuan terwujudkan integrasi bangsa Indonesia.
Dalam catatan saya, sebelum terjadi Gerakan Reformasi tahun 1998, bulan Mei di Indonesia hanyalah bulan Mei biasa, tak memiliki greget, kecuali peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Setelah Orde Baru lengser, rasanya bulan Mei mulai sakral, sesakral bulan Agustus. Penuh peristiwa, penuh harapan.
Di lihat dari sisi Agama, bulan Mei dikenal dengan bulan Maria, di bulan ini ada doa untuk menghormati Maria berupa doa Rosario. Meski terdapat perbedaan, (sebagian menyebut doa Rosario berada di bulan Oktober). Di Bulan Maria ini orang-orang Kristiani berdoa sebagai bentuk dari penjiwaan atas perbuatan dan perkataan Maria, sebagai tokoh refleksi sebelum menjawab tawaran Tuhan.
Tahun 2016 ini, bulan Mei di kalangan kaum Muslim masih berada diantara akhir Isra Mi’raj dan pertengahan Sya’ban . Dua bulan hijriyah yang termasuk dalam bulan-bulan suci, sebagai persiapan menjelang Ramadhan (Juni 2016). Rajab, adalah sebuah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqso untuk kemudian membawa syraiat sholat bagi ummat Islam. Sedangkan Sya’ban adalah bulan dimana sejarah mencatat bangsa Arab saat itu berpencar ke berbagai tempat untuk mencari air.
Kembali ke Indonesia, di bulan Mei ada May Day, sebuah gerakan buruh yang terus menerus belum sejahtera karena pihak penguasa dan pengusaha belum maksimal memanusiakan mereka. Pada Hardiknas, rakyat bicara terus menerus soal carut marut dunia pendidikan; kurikulum yang tak jelas, Ujian Nasional yang masih ditentang, serta janji politik penguasa yang menggratiskan uang spp tak kunjung tiba.
Di bulan ini kita diingatkan lagi soal Pembebasan Irian Barat, Hardiknas (2 Mei), Hari Surya (3 Mei), Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (4 Mei), Hari lahir Henry Dunant – bapak Palang Merah Sedunia (8 Mei), Hari Lembaga Sosial Desa (5 Mei), Hari POM – TNI (11 Mei), Hari Buku Nasional (17 Mei), Hari Korps Cacat Veteran Indonesia (19 Mei), Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), Hari Peringatan Reformasi (21 Mei) dan: Hari Anti Tembakau Internasional (31 Mei).
Kembali ke Gerakan Reformasi yang sudah 18 tahun, sebuah perjalanan panjang bagi perwujudan harapan rakyat Indonesia. Pemerintahan telah berganti sebanyak 5 kali dari Habibie, Gusdur, Megawati, SBY dan Jokowi. Lalu bagaimana nasib Reformasi Indonesia?

Reformasi Menjelma Sepi
Tentu kita tidak ingin bulan gerakan reformasi telah menjelma sepi, menjelma korupsi, menjelma partai politik, menjelma kengerian yang entah apa namanya, bersama itu pula reformasi itu tak menjelma. Karena memang tak ada jawaban pasti, mari tengok agenda reformasi waktu itu; Penegakan supremasi hukum, Pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), Pengadilan mantan Presiden Soeharto dan kroninya, Amandemen konstitusi, Pencabutan dwifungsi TNI/Polri, Pemberian otonomi daerah seluas- luasnya. Dari agenda itu kita bisa menjawab masing masing dalam hati.
Atau kita tengok 11 tahun gerakan reformasi (2008) dimana rakyat menyampaikan Tujuh Tuntutan yakni, Nasionalisasi asset strategis bangsa, Wujudkan pendidikan bermutu dan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau, dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia, Tuntaskan kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya sebagai wujud kepastian hukum di Indonesia. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi dan energi. Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat. Tuntaskan Reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan. Dan Selamatkan lingkungan Indonesia dan tuntut Lapindo Brantas untuk mengganti rugi seluruh dampak dari lumpur Lapindo.. Dari tuntutan itu juga, kita bisa menjawab masing masing dalam hati.
Tengok saja sejumlah kasus pelanggaran HAM dilakukan oleh aparatur Negara mulai dari Jakarta hingga Papua. Lalu kita bisa lihat kasus-kasus pelarangan pentas seni di beberapa kota, ini menunjukan Indonesia belum utuh sebagai negara demokratis karena membatasi hak warganya untuk berpendapat. Apalagi jika melihat tindakan represif terhadap rakyat saat harus mempertahankan hajat hidupnya lewat penggusuran. Dan tentu saja masih banyak PR bagi gerakan reformasi sehingga rakyat tidak lagi repot nasi.
Dan akhirnya rakyat harus menyadari bahwa gerakan reformasi hanya mimpi. Ini sebuah kesalahan yang saling bertautan, mungkin tidak melulu kealahan negara, tetapi mungkin juga kesalahan kita semua. Atau sistem yang tidak jalan. Sistem yang kadang membelenggu rakyat dan aparat.
Lalu dengan cara apa reformasi agar bisa terwujud?. Pertanyaan yang sulit dijawab. Kecuali mengatakan, Halo!, apa kabar reformasi?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: