//
you're reading...
BUDAYA, UMUM

Humor Dan Kebutuhan Manusia

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung
dimuat di REPUBLIKA Rabu 27 April 2016

Suatu hari Nabi Muhammad sedang makan bersama dengan para sahabatnya, Sayyidina Ali yang posisinya berhadapan dengan Nabi, dengan sengaja mengumpulkan biji kurma dan disimpan di depan meja Nabi.
“Wahai para Sahabat, lihatlah Rasulullah makannya banyak sekali, lihat biji kurma sampai numpuk di depannya” ujar Ali. Semua sahabat mendengar itu tersenyum karena tahu Sayyidina Ali bergurau. Mendengar itu, Nabi dengan nada kalem menjawab. “Saya memang makan banyak, tapi Ali lebih banyak lagi, lihat saja tak ada biji kurma yang tersisa, ia makan dengan bijinya”.
Mendengar jawaban Nabi, semua sahabat tertawa.


Tertawa itu fitrah manusia, dan agama adalah fitrah. Tak ada Agama yang memerintahkan manusia keluar dari fitrahnya, Agama itu kegembiraan yang sesungguhnya, segala perintah agama mesti dijalankan manusia dengan gembira, mulai dari sholat sampai puasa adalah kegembiraan dalam ibadah.
Agama Islam yang saya anut, mengajarkan seorang muslim harus memiliki kepribadian yang senantiasa optimis, berseri dan gembira. Apalagi soal humor, tentu dianjurkan agar hidup seimbang dan tidak stress. Rasulullah SAW selalu bergurau dengan isteri-isterinya dan mendengarkan cerita mereka. Atau pernah mendengar kisah ketika Rasulullah SAW bergurau dengan nenek-nenek tua yang datang kepadanya dan berkata, “Doakan aku kepada Allah agar Allah memasukkan aku ke surga,” ujar sang Nenek.
Nabi SAW menjawab “Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua,” wanita tua itu pun menangis, karena ia ternyata tidak akan masuk syurga. Maka Rasulullah SAW dengan cepat memberi pemahaman pada nenek itu bahwa ketika dia masuk surga, ia menjadi gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.”

Humor dan Gembira
Humor itu untuk kegembiraan, Sementara kegembiraan itu semacam doa bagi kebahagiaan manusia, karena orang yang suka humor menjadi penanda bahwa orang itu ramah, tidak egois, suka berbagai rejeki; rejeki tawa.
Dari mulut yang tertawa terpancar gambaran hati penuh cinta, penuh keyakinan bahwa Tuhan memberi napas pada manusia dengan gembira. Dan memang cara yang baik untuk berterima kasih kepada Allah dan sesama adalah dengan menunjukkan diri bergembira.
Kegembiraan bukanlah penderitaan, tapi penderitaan bisa menjadi kegembiraan jika diterima dengan ikhklas. Yakinlah!. Betapa Nabi Muhammad pernah mengalami kesedihan ketika ditinggal istri dan paman tercintanya, tapi Beliau yakin setiap kesedihan ada kegembiraaan dan akan berakhir dengan kegembiraan. Jangan pernah mematikan diri sendiri dengan mulut dan perilaku yang merenggut baketut haseum, itu memperpendek usia.
Kegembiraan merupakan perasaan positif dan menggairahkan. Tapi banyak orang berusaha mencari kegembiraan di tempat hiburan malam. Itu salah, karena akan berujung penderitaan. Bagi rakyat kegembiraan cukup dengan mentertawakan perilaku anggota DPR yang tamak, atau melihat tingklah artis yang tidak lucu serta menyaksikan Ustadz televisi menjadi selebritis. Nah yang ini gembira dalam arti menyukuri diri bahwa kita tidak memiliki perilaku aneh seperti mereka.
Kegembiraan tidak selalu harus punya rumah megah dan mobil mewah, jabatan tinggi dan gaji besar. Kegembiraan itu bergantung pada keputusan kita.


Kisah kegembiraan yang ditunjukan lewat humor Nabi menunjukkan bahwa manusia wajib atau paling tidak sunnah muakkad punya rasa humor. Contoh lain humor dan kegembiraan Nabi lainnya ketika ada seorang wanita bernama Ummu Aiman datang pada Rasulullah SAW dan berkata, “Sesungguhnya suamiku mengundangmu.”
Nabi bertanya, “Siapakah dia, apakah dia orang yang matanya ada putih-putihnya?.” Wanita itu menjawab, “Demi Allah, tidak ada di matanya putih-putih!.” Lalu Nabi berkata. “Ya, di matanya ada putih-putih”.
Wanita itu berkata lagi, “Tidak, demi Allah.”
Nabi tersenyum dan berkata, “Semua orang di matanya pasti ada putih-putihnya.”
Yang dimaksud dalam hadits yang dikisahkan Zaid bin Aslam ini adalah putih yang melingkari hitamnya bola mata.


Itulah beberapa kisah humor Nabi Saw, tentu saja Nabi tidak bermaksud untuk melawak, tapi sekedar memberi keterangan dengan santai dan difahami ummat. Karena kehidupan harus dihadapi dengan gembira, meski melelahkan. Ya, Nabi Muhammad sangat menebarkan kegembiraan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia.
Jadi, tertawa atau humor sesuatu yang diperbolehkan di dalam Islam, Rasul telah mencontohkannya lewat sikap dan perilaku, juga para sahabatnya. Jika ada pertanyaan, apakah humor haram atau tidak?, tentu jawabnya tidak, sepanjang humor itu tidak menghina orang, mengecilkan arti manusia, mencela fisik dan menghina Agama manapun.
Dan saya memutuskan untuk gembira. Karena sesungguhnya di dalam agama terdapat kegembiraan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: