//
you're reading...
BUDAYA

GEDUNG KESENIAN

Dimuat Pikiran Rakyat Senin 11 Januari 2016

Baiklah, mari bicara soal ruang publik seni di Bandung , tempat muara kegiatan para seniman. Sebut saja Lembaga kebudayaan Prancis di Indonesia yang kerap dikenal dengan nama Centre Culturel Francais atau CCF diJl. Purnaswarman 32 Bandung, yang kini telah berubah nama menjadi IFI (Institut Francais d`Indonesie), dulu sering menjadi tempat kumpul-kumpul seniman Bandung, untuk sekedar ngopi, diskusi maupun nonton pertunjukan. Seiring waktu CCF atau IFI mulai sepi, jarang ada lagi seniman yang nongkrong disana.

Sebut lagi Gedung Indonesia Menggugat (GIM), sempat menjadi idola para seniman, kerap dijadikan ruang pertunjukan teater, seni musik, sastra, teater bahkan kegiatan selain itu seperti seminar politik, diskusi ekonomi, pendidikan dan pelatihan Aksakun (Aksara Sunda Kuno). Tapi hampir dua tahun terakhir, setelah dikelola oleh pengurus baru yang kepemimpinannya tidak dekat dengan seniman, GIM agak sepi dan kurang diminati kegiatan seni.

Masih beruntung, gedung bekas pengadilan Soekarno itu kini dijadikan tempat kumpul wartawan di waktu senggang dan guru-guru honorer berdiskusi. GIM memang perlu penataan kembali soal siapa yang bisa mengurus seperti dulu dan tidak berbaju seragam. Yang masih eksis mungkin Kebun Seni dan Warung Dardja, selain sejumlah Gedung Kesenian mulai dari Rumentang Siang, YPK hingga  Mayang Sunda.

Sebagian Gedung yang saya sebutkan tadi menjadi pelengkap kegiatan seniman Bandung baik teater, musik, sastra, jeprut dan lain-lain. Tentu saja kita tidak bisa mengabaikan sejumlah tempat lainnya yang tiba tiba disulap oleh seniman menjadi ruang pertunjukan, misalnya Cikapundung menjadi arena petunjukan tari, rumah kost menjadi ruang pameran lukisan, stasiun kereta dan pasar Ciroyom menjadi arena baca puisi, kafe-kafe juga tak luput menjadi ruang pertemuan para musisi.

Menengok sedikit ke belakang, tahun 1995 lalu saya menyaksikan sendiri dimana PD. Kerta Wisata waktu gagal ”menguasai” gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) di Jl. Naripan dari para seniman. Ini karena kekompakan para seniman, bersatu mempertahankan gedung itu agar tak jadi rumah makan.

Sepuluh tahun kemudian perusahaan tersebut membungkus orientasi komersial yang bercita-cita menjual kesenian dan kebudayaan Indonesia lewat gedung  kesenian dan  melirik gedung bioskop Majestic yang sudah berdiri sejak tahun 1925. Letak gedung itu hanya kurang lebih 50 meter dari YPK.  Dinilai sudah tidak lagi menghasilkan uang, gedung bioskop Majestic yang terletak di Jl. Braga 1 Bandung beralih fungsi menjadi pusat ”bisnis budaya” tingkat internasional. Namanya pun diubah menjadi Pusat Kebudayaan Asia-Afrika/Asia-Africa Cultural Centre (AACC). 8 Januari 2006 gedung itu diresmikan Wakil Gubernur Jawa Barat, waktu itu Dedem Ruchlia.

Bandung  juga memiliki Padepokan Seni di Jl. Lingkar Selatan sekarang namanya Mayang Sunda,  namun, lantaran letak geografisnya dinilai oleh banyak seniman salah,  Padepokan itu sempat tidak aktif ibarat gedung tak bertuan. Dua tahun lalu berubah namanya menjadi Mayang Sunda dan geliatnya mulai terasa, meskipun seniman yang ingin tampil disana harus mengirim proposal.

Taman Budaya Jawa Barat yang terletak di kawasan Dago mungkin lebih berfungsi bagi sebagian seniman tradisi. Agak lumayan dibanding tidak ada sama sekali. Hanya sayang sekali, galeri pameran lukisan yang dulu sempat ramai, 4 tahun terakhir sepi lagi.  Yang hingga kini masih aktif dengan acara kesenian pertunjukan mungkin hanya Gedung Kesenian Rumentang Siang, meski saat saat tertentu saja, atau saat rutin tiap tahun digelar Festival Drama Sunda.

Kehadiran sebuah gedung kesenian di kota Paris Van Java menjadi fenomena tersendiri bagi keberadaan seniman. Banyaknya gedung kesenian tidak menjadi jaminan para seniman makin produktif berkarya, malah mereka bisa ”sakit” hati yang mendalam. Betapa tidak, terakhir kali para seniman/budayawan Jawa Barat diberi ”hadiah” sebuah gedung megah Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) di Jl. Siliwangi Bandung, ternyata mereka hanya mampu menonton dari kejauhan. Pasalnya, selain tidak mampu membayar ongkos sewa, juga pengelolanya – lagi-lagi – tidak akrab dengan seniman. Saking gagahnya Sabuga, banyak seniman yang datang sekadar jalan-jalan ke sana untuk menengok atau sekadar ingin tahu dalamnya gedung.

Para seniman memang butuh gedung kesenian, tetapi jika birokrasinya sangat berbelit-beli pilihannya menjadi begini; Perupa cukup puas berpameran di ”istana” kesenian yang dibangun sendiri di rumahnya. Seniman teater bisa main di pinggir jalan, pemusik boleh jadi melakukan konser di lapangan terbuka dan di kafe-kafe, penyair baca puisi dan diskusi di pasar atau stasiun.

Saya tertarik dengan dua nama ruang kesenian di Bandung, ruang publik yang ajeg dan nyata bentuknya, ialah Kebun Seni dan Warung Dardja, bedanya Kebun Seni yang dikelola Dedy Koral memiliki ruang besar dan panggung besar, dan tebuka. Warung Darda hanya merupkana Halaman belakang rumah (Hambelroom) yang kecil. Namun ada kesamaan, keduanya tidak pernah meminta uang pada pemerintah, keduanya tidak pernah mengirim proposal. Deddy Koral banting tulang menyisihkan rejeki jualan batu akiknya untuk mengongkosi kesenian, dibantu sesama seniman penghuni Kebun Seni. Warung Dardja pun selalu udunan dalam menggelar acara.

Di Kebun  seni, sudah banyak yang dilakukan, digelar berbagai bentuk kesenian modern dan tradiosonal di Warung Dardja setia menggelar kesenian yang bersifat santai dan terbatas.

 

Gedung Kesenian

Lalu saya pung ngahuleng ketika ada rencana Pemerintah Jawa Barat untuk memiliki gedung kesenian terbaik dan termegah di Indonesia, menggaet salah satu arsitek wanita terbaik dunia asal Inggris, Zaha Hadad. Ini proyeknya Wakil Gubenur yang juga bintang iklan dan sinteron Deddy Mizwar, yang meyakini pembangunan gedung itu dilakukan dengan berbagai pola kerjasama antara pemerintah dengan pihak swasta atau investor dan akan dimulai mulai Maret 2016. Ia juga sangat yakin pemerintah pemprov akan berkomitmen untuk memfasilitasi para seniman yang akan menggelar pertunjukan di gedung tersebut dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. Begitulah jika hasrat pemimpin yang tidak memahami ruh kultural rakyatnya.

Konon gedung Majestic itu menjadi AACC manakala semangat Bandung yang termaktub dalam Konferensi Asia-Afrika yang menginginkan perdamaian dunia dinilai belum terwujud. Cita-cita semangat Bandung cinta damai bagi dunia, akan terwujud dengan dukungan seluruh seniman dan budayawan yang mencintai kedamaian. Seni dan budaya masih bisa dijadikan medium efektif untuk melakukan komunikasi bangsa-bangsa, dari hati ke hati. Jadi intinya, kehadiran AACC untuk perdamaian dunia melalui seni dan budaya.

Nyatanya tidak, gedung Majestic itu pernah berubah menjadi AACC dan tahun 2013  Gedung yang dikenal pada zamannya sebagai gedung ”Kaleng Biskuit”, karena bentuknya yang mirip kaleng biskuit, disulap entah oleh siapa menjadi tempat karaoke dangdut. Dan Alhamdulillah kini kembali menjadi gedung kesenian, meski kurang akrab dengan sebagian seniman.

Penyebabnya antara lain, lantaran sebagian gedung kesenian yang dikelola pemerintah sangat komersil. Komersialisme dalam industri kesenian tentu bukan barang haram. Bagaimanapun juga sebuah gedung tetap memerlukan pemeliharaan dan harus membayar karyawan. Namun, apakah gedung-gedung itu dapat mendekati para seniman agar mau bergandengan tangan turut serta mengisi acara secara rutin.

Pertanyaannya selanjutnya saya tujukan pada pemerintah setempat, akankah Gedung internasional itu menjadi pusat kebudayaan Jabar, nasional dan internasioanal?,  sementara  komersilaisme industri masih diagungkan?, Sebab sebenarnya yang  memancarkan atmosfer budaya, dan akan menjadi embrio gravitasi budaya bangsa-bangsa  di dunia untuk kota Bandung (Jabar) , di dalamnya harus ada sentuhan manusiawi yang lebih universal melalui diplomasi kebudayaan. Dan tentu saja ruh kultural seniman perlu dicermati.

Itu saja.

Diskusi

2 thoughts on “GEDUNG KESENIAN

  1. di jakarta da juga pak cuma belum pernah masuk ke dalam

    Posted by winnymarlina | 25/01/2016, 07:38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: