//
you're reading...
BUDAYA

Selamat Jalan Raja Penyair Cirebon..

Sinar Harapan Jumat 6 Nopember 2015

Senin 2 November 2015 jam 4 sore, Penyair Ahda Imran tiba-tiba mengajak saya menengok Mas Ahmad Syubbanuddin Alwy yang sedang dirawat di RS. Sumber Waras Cirebon. Karena ajakan itu mendadak sedang saya sedang menyelsaikan pekerjaan, saya tidak bisa ikut dan saya katakan pada Ahda “Insya Allah saya malam nanti nyusul ke Cirebon”.

Ketika sedang berpikir untuk pergi ke Cirebon, jam 21.00 wib Ahda mengabari saya via BBM, bahwa Mas Alwy (demikian kami menyebut singkat namanya) telah meninggal dunia.  Antara percaya dan tidak, setelah mengucap Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun – Asal manusia dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan. Air mata menetes tak terasa. Saya benar benar menyesal.

Ahmad Syubbanuddin Alwy adalah penyair, eseis, penggagas Koalisi Sastrawan Santri, peneliti pada Center for Social Studies and Culture (CSSC) dan masyarakat sastra mengenal beliau sebagai Raja Penyair Cirebon. Sangat kritis terhadap persoalan apa saja, pun persoalan diluar sastra.

Mas Alwy lahir di Arjawinangun Cirebon 26 Agustus 1962, alumnus Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.  Saya dan sejumlah penyair muda lainnya selalu menghormatinya sebagai senior dengan segudang wawasan, tak jarang kami beradu argumentasi sengit. Tapi beliau selalu menghormati pendapat kawan-kawan lainnya.

Akhir-akhir ini menderita sakit, semacam pendarahan di otaknya. Tanggal 2 Juni 2015 lalu saya sempat nengok saat dirawat di rumah sakit Cirebon, sebelum akhirnya dilakukan operasi. Saya masih ingat, meski terbaring lesu dan kabel-kabel infus menelikung tubuhnya, tapi rasa humornya tidak ikut lesu, “Wah Don, ga asyik nih penyakitku, asyik kan diskusi puisi” selorohnya.

Ahmad Syubbanuddin Alwy kembali masuk Rumah Sakit Sabtu sore (01/11/2015), setelah menghadiri sebuah acara seminar di Grage Hotel Cirebon. Hingga kabar duka itu datang.

Mas Alwy yang saya kenal, orangnya gigih dalam mempertahankan pendapatnya, sama ketika memperjuangkan eksistensi sastrawan santri sekaligus pluralisme. Selain pertemuan resmi di acara-acara sastra, kami lebih sering bertemu dalam acara santai, jalan-jalan, kuliner, saling memperlihatkan batu akik dan saling mengejek mesra. Gaya bicaranya yang serius tapi konyol membuat kami betah ngobrol.

“Saya itu sedih Don, orang-orang kok ingin disebut penyair tapi gak pernah nulis puisi,  baru satu kali saja nulis sudah merasa menjadi paling penyair, itu pun nulis puisi sekali saja di pesbuk,” kelakarnya suatu hari, saat mengisi acara pada workshop menulis di  Majelis Sastra Bandung.

Tak jarang ia dibenci orang terutama pemerintah, karena kritikannya dinilai tajam. Pria berambut gondrong penggerak pemuda Nahdhlatul Ulama ini, sering menjadi sasaran marah orang-orang yang ia kritik. Teror pun sering ia terima.  Bahkan pesantren saa ia kritik dengan mengatakn bahwa banyak daerah berbasis pesantren, tapi korupsinya merajalela.

Sebagai penyair, buku kumpulan puisi tunggalnya antara lain Bentangan Sunyi (1996), dan beberapa antologi Puisi Indonesia 1987, Titian Antar Bangsa (1988), Negeri Bayang-bayang (1996), Cermin Alam (1997) dll.

Ia juga sangat konsen dengan sastra Cirebon sebagai kota kelahirannya, ketika sastra Cerbon-Dermayu merebak Ahmad Syubbanuddin Alwy lebih menyukai istilah kesusastraan Cirebon kontemporer untuk menengarai gurit-gurit politik yang bermunculan. Lalu lahir beberapa antologi puisi Cerbon-Dermayu; Susub Landep (2008) dan Nguntal Negara (2009), ditulis oleh Alwy, Salana, Made Casta, Jay Ali Muhammad, Nurochman Sudibyo, Nurdin M Noer, Dino Syahrudin, Supali Lakasim, dan Saptaguna.

Salah satu puisi bahasa Cirebon yang ditulisnya antara laina berjudul “Republik Bagong”:

Sawise telungpuluh taun urip kaya mati disembur banaspati

getih bari banyumata kang gerememeng umeb ning segara ati

ngatonaken dedhemit lawas: wong-wong duwur pencilakan

wot-wot kreteg rayat reyot digejog-gejog cemera, kaing-kaingan

jegoge mbobok srengenge lapis pitu, mecah terowongane mata

sewu raksasa kemaruk mbeseti sededeg-sepengadeg mahkota

dalan-dalan kobong, kabeh werna kelebet lembayung bolong-bolong

jagat kaya mabok, gedong pemerentahan magrong-magrong dibopong

Kini, Alwy sudah tiada, meninggakan dunia fana atas kehendak Tuhan. Alwy boleh tiada di dunia ini, tapi karyanya masih akan tetap hidup dalam ingatan kami, Selamat jalan Mas, Selamat jalan orang baik, kami masih ingat puisimu yang satu ini berjudul “Catatan Air Mata”, sebuah puisi yang tak sempat kau kirim ke media:

Ada sebuah senja—yang dulu juga, dipenuhi aroma kenanga

menuliskan perih puisi dengan berhelai-helai airmata

pada halaman pertama gugusan album jiwaku yang koyak

lalu, lelehan lilin usia pun kikis oleh runcing tangis dan isak

di jendela, fajar layu, hari-hari membiru dan cinta yang ragu

berlinangan dalam gores waktu, menorehkan pedih rindu

kekasih, demikian jauhkah lambai jariku menggapai ufuk hatimu?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: