//
you're reading...
BUDAYA

QUO VADIS KONGRES KESENIAN?

Pikiran Rakyat, Rabu 12 Nopember 2015

“Kesenian bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, ia diciptakan oleh manusia dari waktu ke waktu. Puncak -puncak pencapaian seni budaya itu, merupakan landasan dan pangkalan tolak untuk karya kreatif berikutnya

***

Kalimat Presiden Soeharto itu disampaikan pada Kongres Kesenian Indonesia (KKI) pertama yang  berlangsung di Jakarta pada 3 – 7 Desember 1995. diikuti oleh  475 seniman dan pelaku seni dari seluruh Indonesia. KKI II berlangsung 26 – 30 September 2005 di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta dan KKI III digelar 1-5 Desemer 2015 di Bandung.

Jika menelisik hasil Kongres I dan II, jelas tidak terasa “taste”nya bahkan hingga menjelang Kongres III. Jadi KKI III terkesan memaksakan diri bahwa pemerintah selalu hadir dalam dunia kesenian. Padahal bukankah Kesenian dan kebudayaan di Indonesia pada umumnya terus hidup dengan sendirinya.  Seorang seniman dengan segala upaya terus gelisah dalam berkarya. Kegelisahannya menjadi bekal betapa kesenian tidak pernah akan mati.

Terlepas dari siapa yang menulis sambutan Presiden, tetapi apa yang dikatakan Soeharto itu ada benarnya, benar bahwa kesenian bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, ia diciptakan oleh manusia dari waktu ke waktu. Puncak -puncak pencapaian seni budaya itu, merupakan landasan dan pangkalan tolak untuk karya kreatif berikutnya.  Pernyataan itu menjadi kontra produktif dengan kenyataan, karena memang realisasinya tidak benar.

Begitupun dengan budaya, selama rakyat mau mempertahankannya ia akan tetap hidup. Tentu saja asal jangan budaya korupsi yang hidup. Artinya, ada atau tidak ada pemimpin formal pemerintahan, ada atau tidak ada dana. seni dan budaya akan ada selama manusia hidup. Bahkan tanpa adanya kongres pun kesenian akan tetap hidup.

Saya setuju dengan pernyataan Ahda Imran (Penyair) di harian “Pikiran Rakyat” beberapa waktu lalu yang menyatakan, dalam seluruh kegiatan kesenian negara/pemerintah tak pernah hadir. Sebaliknya, negara selalu hadir dalam berbagai prosedur perijinan aktivitas kesenian. Bahkan, di sejumlah daerah lembaga seperti dewan kesenian didominasi oleh para birokrat, atau setidaknya dewan kesenian yang dikondisikan berpatron pada kuasa birokrasi pemerintah.

Coba tengok apa yang dikerjakan para penggiat tari topeng Cirebon, lihatlah kawan-kawan seniman Benjang di Ujungberung, atau mampirlah ke gubug nya Mang Ayi di Subang yang kukuh mengembangkan seni Pantun, Jatnika Nanggamiharja yang masih memelihara dan mengajarkan bela diri pencak silat, Ki Narto yang masih merawat Tarling, dan saya yakin masih banyak seniman dan budayawan yang hidup dan menghidupi seni sebagai bagian dari budaya dengan tangan dan upaya sendiri tanpa sentuhan bantuan dan kehadiran pemerintah. Dan mereka mampu.

Sangat pantas jika pada KKI II lalu terjadi chaos,  protes terhadap penyelengaraan kongres yang nota bene hanya menghabiskan dana besar dan hanya diikuti seniman “plat  merah”.  Dan rekomendasi pada kongres I dan II selalu diingkari pemerintah.

Hal ini bisa saja terjadi pada KKI III nanti. Saya membayangkan pada KKI III ada poster-poster kecil di arena kongres, bahwa KKI III sebagai kongres seniman “plat merah”, dan disitu saya bayangkan juga ada Semi Ikra Anggara (seniman teater) yang galak melontarkan kritik pedas pada mantan rektornya di STSI yang kini menjadi Direktur Kesenian Kemendikbud, Endang Caturwati.

Apalagi Endang mengatakan akan mengundang perwakilan dari daerah seperti dinas-dinas dan DPRD Provinsi, karena pemerintah sangat mendukung perkembangan dan pelestarian seni di Indonesia, termasuk seni yang terancam punah di daerah-daerah. Jumlah peserta kongres ada 700 orang, sebuah jumlah yang sangat banyak.

Saya juga membayangkan bagaimana almarhum Raja penyair Cirebon Ahmad Subbanuddin Alwy hadir disana dan ikut angkat tangan, marah-marah dan mempertanyakan keberadaan Kongres, sama seperti ketika ia dengan lantang mempertanyakan Gotrasawala di Cirebon pekan kemarin, sebelum akhirnya ia ambruk dan wafat.

Atau chaos akan nampak ketika Saut Situmorang teriak teriak agar peserta kongres memboikot acara, karena menurut Saut, Panitia telah melanggar keputusan Pra-Kongres yang digelar Desember 2014 lalu, dalam keputusan pra kongres dinyatakan KKI III berlangsung di luar kota Bandung.

Pesimis

Negara/Pemerintah adalah pesimisme dan kesenian adalah optmisme. Tema yang diangkat dalam Kongres Kesenian Indonesia III  “Kesenian dan Negara dalam Arus Perubahan” memang sangat bagus, tapi jika pemerintah tak memahaminya juga, maka akan sama seperti kongres sebelumnya. Meskipun KKI III mencoba melihat gerak perubahan dan mampu memberikan kontribusi pada perkembangan peradaban dunia.

Memang kesenian dan negara harus dilihat sebagai pihak yang masing-masing berdiri sendiri, meskipun saling berhubungan di tengah arus perubahan yang terjadi, hubungannya ialah saling menghormati dan tidak saling mengganggu. Semoga apa yang saya khawatirkan tidak terjadi.

Beberapa menit setelah tulisan ini selesai, saya ditelpon oleh seseorang dari Direktorat Kesenian Kemendikbud Indonesia bahwa saya diundang pada acara Kongres Kesenian Indonesia III via email.  Benar saja, begitu buka email undangan lengkap berikut TOR nya.

Baiklah saya akan hadir disana, untuk menyaksikan dagelan ini. Cag!

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: