//
you're reading...
BUDAYA

PENJAJAHAN BAHASA

Republika Rabu21 Oktober 2015

Penjajahan ialah sebuah upaya menguasai atau menyingkirkan sesuatu tatanan yang sudah terbentuk sebelumnya, demi kepuasan.  Dan penjajahan bisa disengaja atau tidak disengaja. Keduanya tetap menyakitkan.

Penjajahan pasti sesuatu yang melelahkan, meskipun  juga bisa menghasilkan sesuatu yang positif, entah apa namanya. Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun, tentu banyak hal menyakitkan, tapi pasti banyak juga hikmahnya.

Lalu pada bahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari manusia, dilisankan berdasarkan isi dalam hati, bentuknya tidak ada tapi ada, jika dituliskan nampak ada dalam bentuk hurup- hurup, jika dilisankan hanya suara. Tapi ternyata pada bahasa juga terdapat penjajahan.

Penjajahan bahasa ini rupanya terjadi sejak lama, pun pada masa kolonial Belanda, bangsa pribumi selain diperas harta bendanya jua “dipaksa” untuk bicara bahasa Belanda. Hingga kini masih ada sisa-sisa kata serapan dari bahasa Belanda, seperti Kulkas dari kata  Koelkast, Kamar dari kata Kamer, Saklar dari kata  Schakelaar,  Keran dari kata Kraan,  Baut, mur dari kata Bout, Moer dan tentu masih banyak lagi.

Dari bahasa Arab pun Indonesia menerima penjajahan itu, bahkan diperkirakan sekitar 2.000 lebih kosa kata bahasa Indonesia berasal dari kata Arab, sebagian masih utuh (sesuai antara lafal dan maknanya), dan ada sebagian lagi berubah. Misalnya kata Akhir, Adil, Amal, Aljabar, Almanak, Asli, Awal, Baligh, Batil, Barakah, Bakhil, Halal, Haram, Hakim, Hikayat, Hikmha, Musyawarah, Mahkamah, Musibah, Maut, Mimbar dan seabreg kata lainnya.

Kita mengenal penjajahan bahasa Portugis yang masuk ke Indonesia  pada abad ke-16 ke Malaka dan Maluku, Portugis salain mencari rempah-rempah juga  melakukan pelayanan rohani, dan komunikasinya memakai bahasa, maka terjadilah penjajahan bahasa Portugis. Beberapa kata dalam bahsa  Indonesia hasil serapan Portugis diantaranya Algojo dari kata Allgoz, arena dari arena, garpu dari garfo, lemari dari almario, lampion dari lampiao, meja dari kata mesa, mentega dari kata manteiga, dll.

Begitulah penjajahan bahasa Indonesia terus berlanjut hingga ke penjajahan bahasa Inggris, Prancis, Amaerika, belum lagi penjajahan bahasa daerah yang  sangat kaya, ditambah penjajahan bahasa prokem dan bahasa alay.

 

Penjajahan Yang Asyik

Seperti saya katakan, penjajahan selalu menyakitkan, tapi benarkah penjajahan bahasa juga menyakitkan. Jawabnya tentu antara ya dan tidak. Jika ya menyakitkan, itu berarti bahasa Indonesia dalam percakapan sehari hari tumpang tindih dengan bahasa asing yang digunakan sehari hari, atau orang bicara menggunakan  bahasa Inggris padahal di lingkunganya memakai bahasa sunda atau Indonesia sedang orang itu asli kelahiran Ciendog.

Pernah suatu ketika hingga kini, orang Indonesia  hidup kebarat-baratan, bicara sok bahasa Inggris, nama sendiri diganti menjadi nama asing, nama toko atau perusahaan “diinggriskan”, istilah perayaan juga demikian agar terkesan mendunia. Itulah penjajahan bahasa yang menyakitkan. Mereka menilai budaya barat lebih agung dan luar biasa. Ini yang akan membunuh bahasa Indonesia atau mungkin saja bahasa lokal (daerah).

Sebuah bahasa selalu saling mempengaruhi satu sama lain, bisa menjadi baik dan positif, bisa  juga  membunuh bahasa bahasa itu,  kedinamisan bahasa tak bisa dipungkiri, ia seperti angin bisa masuk dari arah mana saja,  Karena itu penjajahan bahasa terjadi jika tidak ada kesadaran dalam menggunakan bahasa Inodnesia.

Jika tidak menyakitkan, itu artinya bahasa tersebut sudah menyatu dan menjadi bagian dari bahasa Indonesia. Walhasil (nah, kata ini juga dari bahasa Arab yang sudah menyatu dengan bahasa Indonesia), kita membutuhkan penjajahan bahasa itu jika memang sudah berkembang dengan sendirinya.  Sebab ancaman yang berbahaya ialah jika kita sudah tidak lagi mengenal dan bicara bahasa Indonesia.

Sebab bahasa selalu akan berkembang sesuai dengan zamannya, karena manusia berkepentingan dengan bahasa dan nyaman dengan bahasa yang digunakannya, mungkin saja kaum remaja sekarang lebih nyaman berbahas Indonesia dengan menggunakan serapan bahasa alay, ketimbang mereka bicara bahasa Inggris dan tidak mengenal sama sekali bahasa Indonesia. Itu bukan berarti Indonesia bangsa yang alay.

Komunikasi di era globalisasi tak bisa dielakkan, kebutuhan mengunakan bahasa asing  pun tak bisa diindari apalagi bahasa bisnis. Tak salah jika  ada slogan  “Bahasa Indonesia Itu Wajib, Bahasa Daerah Itu Pasti, Dan Bahasa Asing Itu Perlu”.  Yang sulit tentu prakteknya.

Artinya, dalam percakapan sehari-hari di lingkungan rumah, tetangga dan bahkan lingkungan kerja, alangkah indahnya jika menggunakan bahasa daerah atau Indonesia. Dan akan semakin keren menggunakan bahasa asing jika digunakan dalam bisnis, pergaulan, seminar  dan lain-lain, itupun hanya sisipan saja, tentu bukan sisipan  seperti Vickinisasi

Menghargai diri sendiri sebagai bangsa yang berbahasa sangat perlu karena bahasa menunjukan bangsa. Bangga diri sebagai bangsa Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia sebab bahasa Indonesia sangat mudah dipelajari dan enak di dengar. Coba kalian merayu ayah sendiri yang petani, meminta uang jajan dengan menggunakan bahasa Inggris, dan bedakan ketika meminta uang dengan menggunakan bahasa indonesia, lebih nyaman yang mana.

Bukankah bulan Oktober ini merupakan bulan bahasa, dimana pada Kongres Pemuda tahun 1928 lalu, lagu Indonesia Raya menggema pada penutupan acara, lagu kebangsaan karya WR. Supratman itu untuk pertama kalinya seakan menjadi penyemangat para pemuda, dan pemerintah Belanda lengah, menyepelekan napas perjuangan rakyat Indonesia melalui bahasa.

Saat itu para pemuda dari pelosok negeri berkumpul dan berikrar dalam statemen kebangsaan yang disebut Sumpah Pemuda, yang tak lain bersumpah dalam pengakuan yang tulus; satu bangsa Indonesia, satu tanah air Indonesia, dan satu bahasa Indonesia.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: