//
you're reading...
BUDAYA

MENGENANG ALWY..

Tribun Jabar,  Rabu 4 Nopmeber 2015

Bulan Juni lalu, Saya dan para penyair  Ahda Imran, Atasi Amin serta Semy Ikra Anggara menengok Ahmad Subbanuddin Alwy, raja penyair Cirebon yang  tergolek lemah di salah satu ruang rawat inap  Rumah Sakit Sumber Waras Cirebon akibat penyakit di otaknya, entah penyakit apa. Kami kurang  faham istilah kedokterannya.

“Penyakitnya gak asyik Don..” begitu ujarnya saat kami tengok, ia masih berusaha untuk memunculkan rasa humornya yang tinggi. Hangat menyambut kami walau terbaring lemah. Kami punmencoba “mencandai” dia, sekedar menghibur agar tetap semangat dan sembuh.

Sebulan kemudian operasi dilakukan dan lancar, Alwy pun sehat  kembali dan bisa beraktifitas. Bahkan Sabtu akhir pekan kemarin sempat hadir pada sebuah seminar di sebuah hotel di Cirebon. Namun soren hariya ia masuk rumah sakit, kesehatannya ngedrop. Sampai akhirnya Ahda Imran yang sedang dalam perjalanan menuju Cirebon mengabarkan Mas Alwy telah pergi, untuk selamanya, sebelum Ahda smpai ke rumah sakit. Alwy menghebuskan napas terakhir Senin 2 Nopember 2015 jam 20. 45 WIB.

Saya mengenal karya karya Mas Alwy  sejak lama terutama esai- esainya yang  tajam, tapi baru dipertemukan tahun 1997 ketika saya ke Cirebon untuk meliput acara  Festival Keraton. Saya dibawa  jalan-jalan dari jam 9 malam sampai jam 2 subuh; keliling kota Cirebon, dari mulai keraton sampai dermaga, hanya sekali naik becak, selebihnya jalan kaki. “Kalau mau jadi penyair harus ke Dermaga,” selorohnya. Saya cuma  nyengir sambil merasakan kaki pegal pegal.

Pria kelahiran Cirebon 26 Agustus 1962 ini memang khas dan nyentrik, selalu memberi kehangatan pada saat ngobrol santai maupun dalam acara resmi seperti seminar.  Seminar sastra akan nampak hidup jika hadir mas Alwy, ia kadang konyol dalam menyampaikan pendapatnya tapi bisa bikin gerr. Kehadiran Alwy selalu penuh tawa.

Sejak pertemuan itulah akhirnya kami sering bertemu dalam acara santai maupun acara resmi, saya pun kerap bekunjung ke rumahnya jika sedang ke kota Cirebon, saya datang sebagai murid. Saya pernah dimarahinya, tapi setelah itu saya dirangkulnya dan berkata, “kalau saya marah itu berarti saya sudah akrab dan sayang sama sampeyan”. Ah, Jangan heran kalau ia juga sangat kritis pada pemerintah, sehingga tak jarang ia dibenci. Kepada penyair muda pun ia tak segan “mencaci maki”  karya tapi dalam suasana akrab, hangat dan tetap penuh gelak tawa.

Penyair yang memiliki buku kumpulan puisi tunggalnya “Bentangan Sunyi (1996)”, dan beberapa antologi Puisi Indonesia 1987, Titian Antar Bangsa (1988), Negeri Bayang-bayang (1996), Cermin Alam (1997) ini sangat sangat konsen dengan sastra Cirebon sebagai kota kelahirannya, ketika sastra Cerbon-Dermayu merebak Ahmad Syubbanuddin Alwy lebih menyukai istilah kesusastraan Cirebon kontemporer untuk menengarai gurit-gurit politik yang bermunculan. Lalu lahir beberapa antologi puisi Cerbon-Dermayu; Susub Landep (2008) dan Nguntal Negara (2009), ditulis oleh Alwy, Salana, Made Casta, Jay Ali Muhammad, Nurochman Sudibyo, Nurdin M Noer, Dino Syahrudin, Supali Lakasim, dan Saptaguna.

Salah satu larik puisi khas Cirebonan yang tulis berjudul Susub Landep :

Urip ning kene, kaya kari sedepa

segara wis dadi comberan banyumata

sawah dirubung wereng geseng, mrenganga

sedalan-dalan papan reklame gawe nelangsa

lenga lantung, bensin lan solar nyumpeli dada

Kecintaan Alwy pada sastra Cirebon karena menurutnya, peran sosial  bahasa dan sastra Cirebon  sebagai teks, sudah bercampur begitu rupa dengan bahasa Indonesia, melengkapi harmoni syair-syair dan lagu dangdut pesisiran itu, terkadang dengan simplifikasi seolah tidak diketahui padanan katanya. Bahasa dan karya sastra Cirebon tidak lagi berfungsi secara literal sebagai gugusan teks yang independen, tetapi juga berdesakan dan berhamburan keluar dari koridor teks-teks bacaan, beralih ke khazanah nonliteral, merayakan booming industri hiburan semata.

Di tengah hingar-bingar kapitalisasi budaya massa sekarang ini, perlahan-lahan bahasa Cirebon, seperti bahasa daerah lain yang kehilangan otoritas publiknya, menjadi teks yang terkesan sangat eksklusif. Bahasa Cirebon, dengan artikulasi unsur-unsur lokalitas, semestinya dapat membentuk gagasan lebih luas. Namun, kenyataannya, bahasa itu justru telah mengalami pergeseran berbagai orientasi secara acak. “Masyarakat Cirebon yang campuran, berada di antara pusaran arus geokultural Sunda dan Jawa, dan terbuka terhadap penetrasi kebudayaan dari arah mana pun” begitu katanya.

Masa Alwy selalu gelisah, ia tak mengenal lelah memberi semangat pada anak muda, terutama pada bahasa dan budaya Cirebon, meskipun terkadang ada ide dan pikiran yang tak difahami oleh anak-anak muda Cirebon.  Lewat kecerdasan dan wawasan yang luas, ia juga memperjuangkan eksistensi sastrawan santri sekaligus pluralisme.

Perhatiannya terhadap sastra begitu serius, pernah suatu ketika, ia merasa hawatir dan sedih saat banyak orang yang ingin disebut penyair, tapi tidak pernah nulis puisi, atau  baru nulis puisi satu saja di facebook sudah merasa menjadi paling penyair.

Mas Alwy, banyak kenangan yang harus kami rawat darimu. Banyak ilmu yang kami dapat dari kecerdasanmu, banyak joke lucu yang membuat kami tertawa. Kami kehilangan mu, selamat jalan sahabat, selamat jalan maha guruku. Jika ada harapan yang tak tercapai, semoga kelak bisa dilanjutkan oleh generasi muda Cirebon. Seperti kegelisahanmu dalam puisi yang kau tulis berjudul “Cirebon, 630 Tahun Kemudian…”

Pohon-pohon api, rumpun padang ilalang, debur laut bukit karang

tepian arus samudera muara jati  bercerita, seperti lelah sembahyang

pucuk daun-daun melinjo serta situs sejarah bersujud dalam nestapa 

melukiskan rajah, kaligrafi kuno, ratusan artefak, jejak sandi para raja

tangis keris, kemat jaran guyang , kuburan tak bernama, lingkar kesunyian

bercampur debu, kembang setaman yang mengabadikan harum mitos-mitos

dari selat kesumat, dari semenanjung murung, dari kehidupan yang chaos

derap roda pedati gede itu, membawaku ziarah dan bertapa dilahar gunung

menjangkau lambaian sorban yang diterbangkan kepak sayap lelaki agung 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: