//
you're reading...
BUDAYA, POLITIK

HIRUK PIKUK BAHASA

Dimuat si Sindo Jabar, Rabu 21 Oktober 2015

Pernah mendengar nama Vicky Prasetyo? Mantan kekasih penyanyi dangdut Saskia Gothic, ia terkenal dengan celetukan bahasa tak keruan dan menjadi bahan olok-olokan, tapi Vicky tenag tenang  saja. Terkenal lantaran pada awal tahun 2013, sejak ia bicara ceplas-ceplos soal “Kontroversi hati”, “statusisasi” dan “hamonisasai hati” serta seabreg kata yang membuat kita tersenyum.

Vicky memang unik unik, ia tak peduli dengan olok-olok  di Twitter, Facebook dan media sosial lainnya, maupun dalam candaan sehari hari, hingga kini meski sudah masuk penjara ia nampak konsisten untuk bicara “ngawur” dari kebanyakan orang. Parahnya lagi, stasiun TV masih memakai ia untuk tetap ngawur.

Ungkapan “Konspirasi Kemakmuran” Vicy,  membuat orang terbahak-bahak, ditambah dengan kalimat lainnya seperti “kontroversi hati”, “twenty nine my age”, “statutisasi”, dan lain-lain. Dan Vicky punya pendirian “Yang penting keren meski  people nggak faham what i said my said’. Wadduh, inilah kenyataan bangsa.

Sebenarnya jauh sebelum Vicky lahir dengan ungakapan dan gaya bahasanya itu, para politikus kita sudah lebih ngaco dari Vicky. Pengalaman saya ketika wawancara dengan Caleg DPRD Kota Bandung tentang traficking. Seperti ini:

“Mbak, bagaimana anda mensikapi trafficking yang akhir-akhir ini marak terjadi di Indonesia dan mungkin juga di Bandung?”. Lalu si Caleg ini dengan enteng menjawab, “Ya saya bangga dengan trafficking yang saat ini terjadi, saya kira bagus perlu dikembangkan.”

Jawaban ini jelas menunjukan si Caleg tidak tahu arti trafficking, dan saya tak melanjutkan wawancara itu, kasihan bila kemudian hasil wawancara itu dimuat di koran. Dan memang akhirnya si Caleg ini tidak terpilih.

Syahrini yang cantik dan seksi, ternyata bahasanya tak secerdas dan sehigienis tubuhnya, ia pernah memiliki ungkapan “Sesuatu” dan “Cetar Membahana”. Ketika diwawancara, banyak jawaban Syahrini tidak nyambung dengan apa yang ditanyakan, ia selalu menjawab “Sesuatu” dan “Cetar Membahana”. Padahal yang diutanyakan bukan itu.

Lebih para lagi seorang kepala desa yang baru terpilih, ketika ditanya wartawan “Pak apa tanggapan Bapak setelah menang dan menjadi kepala desa?”, lalu ia menjawab. “Oh..tanggapannya banyak, kita akan ada tanggapan wayang, nanggap orkes melayu dan nanggap berbagai kesenian daerah.

Pernah nonton acara dialog yang dibawakan Najwa Sihab?, suatu ketika dalam acara itu, Angel Lelga artis cantik yang saat itu menjadi salah satu caleg dari PPP ditanya Najwa seputar film yang diperankannya seperti Susuk Pocong dan Rintihan Kuntilanak Perawan. Dalam film tersebut Angel berperan vulgar dan Najwa mempertanyakan apakah hal itu bisa membahayakan kelanjutannya untuk maju sebagai caleg. Dengan tenang dan ngawur, Angel menjawab:

“Masyarakat kita pintar. Mereka tidak lagi melihat background, tapi sosok calon pemimpin itu yang mereka lihat. Banyak politisi yang sekarang berprestasi, contohnya Nurul Arifin. Dia juga pemain. Tapi saya bukan pemain film itu, hanya horor saja. Artinya, mereka berguna untuk masyarakat. Sekarang masyarakat yang melihat itu,” ucap Angel.

Apalagi ketika ditanya soal partai Islam, jawaban Angel ngawur terjadi lagi; “Kalau partai Islam saat ini kan sedang merosot. Kenapa? Sejak saya turun terus ke dapil, saya melihat mungkin partai Islam tidak terlalu memakai banyak strategi, sehingga punya trik-trik yang luar biasa dengan partai lainnya. Saya melihat partai lain melakukan intimidasi luar biasa dengan masyarakat. Seperti kalian harus memilih, nanti kami berikan sesuatu buat kalian. Kalau PPP mengajak masyarakan pengajian, istiqomah.”

Dalam dialog atau debat calon kepala daerah di Indonesia banyak sekali jawaban yang tidak nyambung dengan pertanyaan, jawaban ini menjadi bahasa yang paling salah ketimbang ungkapan Vicky atau Syahrini. Pun ketika dialog capres Prabowo dan Jokowi, ada jawaban yang tidak nyambung dari keduanya.

Bahasa Masyarakat

Berdasarkan penelitian yang tidak valid, masyarakat selalu terhibur dengan ungkapan Vicky, Syahrini dan politkus yang tidak nyambung. Karena ternyata kita adalah bangsa yang butuh hiburan, dan bahasa memang hiburan satu satunya yang murah meriah. Sama halnya Ketika harga BBM naik, rakyat terhibur dengan ungkapan pemerintah itu bukan kenaikan harga tapi “penyesuaian harga”

Bantuah Langsung Tunai (BLT) pada zamannya, merupakan kalimat penghibur dari “pura-pura baik” pada masyarakat, korupsi bisa bukan korupsi jika sudah diganti dengan kata gratifikasi. Fenomena berbahasa “Indonenglish” sangat menarik dikaji. Dalam pop culture, bahasa adalah alat canggih terutama di TV dan iklan.

Kemuncukan bahasa bahasa Vicky atau bahasa Alay sekalipun, merupakan cerminan dari ketidakeberhasilan orang-orang di Pusat bahasa dan kurikulum di negeri ini. Mungkin juga para guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang sudah sangat harmonisasi dalam statusisasi pekerjaannya. Kata Gola Gong, penyair dari Serang, Vicky menjadi tauladan kita dalam bertutur kata di TV, karena daya tarik TV adalah audio serta visual. Syahrini, forgive me, go away. Kita tidak lagi menganggap jambul khatulistiwa menjadi sesuatu yang grammy. Tapi justru Vicky mewakili kualitas dan kapasitas para pejabat dan para anggota dewan kita, yang sangat intelek dengan gelar yang berderet-deret itu.

Bahasa Vicky dan Alay boleh jadi disebut sebagai salah kaprah penggunaan bahasa Indonesia, tetapi biarkanlah ia berkembang, jangan merasa terganggu oleh bahasa keduanya, toh pada akhirnya mereka akan kembali melek dengan kalimat, satu nusa, satu bangsa satu bahasa Indonesia.

Salah kaprah (kalau itu disebut salah kaprah) yang diungkapan Vicky dan Alay, karena berada pada wilayah kelaziman bahasa Indonesia, jauh lebih baik dengan salah faham dari bahasa jawaban politikus atau pejabat pada rakyatnya.  Bagi pejabat, bahasa merupakan alat yang paling penting untuk menyebarkan pesan politik kepada masyarakat agar bisa merubah cara berpikir, apakah lewat propaganda, media massa, maupun medsos.

Bahasa selalu berkembang sesuai dengan zamannya, karena manusia berkepentingan dengan bahasa dan nyaman dengan bahasa yang digunakannya, mungkin saja kaum remaja sekarang lebih nyaman berbahas Indonesia dengan menggunakan serapan Vikcy dan bahasa alay, ketimbang mereka bicara bahasa Inggris dan tidak mengenal sama sekali bahasa Indonesia. Itu bukan berarti Indonesia bangsa yang alay.

Oktober tahun 1928 menjadi tonggak sejarah pemakaian bahasa Indonesia lewat “Sumpah Pemuda”, walaupun belum menjadi bahasa ibu bagi masyarakatnya. Karena bahasa Ibu bagi bangsa Indonesia adalah bahasa daerah yang memperkaya bahasa Indonesia.  Dan bahasa Indonesia memiliki banyak dialek etnis, budaya, dan bahasa daerah yang berbeda (Jawa, Sunda, Batak, Ambon, Padang dan lain- lain), ia menjadi alat komunikasi manusia untuk berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Ya, bulan Oktober juga merupakan bulan bahasa, dimana pada Kongres Pemuda tahun 1928 lalu, lagu Indonesia Raya menggema pada penutupan acara, lagu kebangsaan karya WR. Supratman itu untuk pertama kalinya seakan menjadi penyemangat para pemuda, dan pemerintah Belanda lengah, menyepelekan napas perjuangan rakyat Indonesia melalui bahasa.

Oh, ada yang tertinggal, jika kemudian ada bahasa plesetan, maka ini tak bukan merupakan pemberontakan simbolis secara heureuy, karena – sekali lagi – rakyat butuh hiburan dengan bahasa. Sejak lama plesetan terjadi seperti UUD menjadi Ujung-Ujungnya Duit, KUHP menjadi Kasih Uang Habis Perkara dan seterusnya.

Ya, selain bahasa Vicky dan Alay, bahasa Plesetan menjadi sebuah bahasa perlawanan yang tak disengaja bahkan tidak terlihat. Ia lebih santai daripada bahasa pelawanan dalam bentuk puisi atau pamflet.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: