//
you're reading...
BUDAYA

BIRAHI KEKUASAAN PARLEMEN

Dimua Koran Sindo Rabu 23 September 2015

Nak, tahukah kamu orang paling kejam, rakus, serakah dan sampah di Indonesia ini?. Ialah anggota DPR. Lha kalau koruptor? Itu  lebih baik dari anggota DPR. Karena mereka hanya mencuri uang rakyat. Tapi kalau anggota DPR, selain mencuri, ia juga mencekik, mengkhianati, nincak hulu dan sarupaning yang melukai rakyat, bari jeung gawena ukur sare


ff

Status di Facebook itu saya tulis untuk menanggapi sejumlah ulah anggota DPR, mulai dari menyetujui usulan Program Pembangunan Daerah Pemilihan (UP2DP) atau dikenal dengan istilah aspirasi, 7 mega proyek yang menghabiskan anggaran fantastis, “jalan-jalan” ke Amerika, minta ini dan minta itu di tengah kondisi ekonomi rakyat yang kritis.

Status saya kali ini sedikit yang memberi komentar, tapi di inbox dan bbm, saya kebanjiran caci maki untuk mereka, hingga kata-kata paling indah; goblog, kehed, gelo dan sebagainya. Ini tidak mengherankan, sejak lama anggota parlemen kita mengabaikan tuntutan masyarakat. Dana aspirasi itu ditolak masyarakat tapi mereka telah Shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun: Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali ke jalan yang benar, Seperti yang tersirat dalam Surat Albaqoroh ayat 18.

Parlemen memang sudah tuli dari pendengaran suara dan aspirasi rakyat, bisu lidahnya kelu untuk berkata benar, dan buta kekuasaan. Birahi kekuasaan begitu melekat pada mereka. Sehingga sangat kecil kemungkinan mereka bisa berpikir lurus mementingkan masyarakat.

Begitulah jika birahi kekuasaan hewani masuk pada manusia, sebuah siklus fisik dan psikis alami namun bisa dimanipulasi. Padahal ada perbedaan yang hakiki antara birahi manusia dan hewan. Pada manusia, birahi kekuasan dikendalikan oleh jiwa yang lembut dan iman, bisa mengatur sendiri kesiapan mental menyadari bahwa mereka “lahir”dari rakyat oleh rakyat untk rakyat. Jika tidak bisa mengatur diri dari kekuasaan yang saleh, maka itu jelas birahi hewani.

Politik lah yang telah menjadikan mereka memliki sifat hewani, karena politik merupakan sebuah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat. Politik menjadi ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat.

Lalu kekuasaan yang selalu bergandengan mesra dengan politik, sebuah kewenangan yang didapatkan oleh mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan. Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang memengaruhi (Ramlan Surbakti,1992).

Jadi birahi politik dan birahi kekuasan parlemen sama- sama telah melukai rakyat. Manuver-manuver mereka memicu suasana hangat politik dan nyaris membuyarkan khusuk ibadah.

 

Hasrat Kekuasaan

Fahamilah, mereka benar-benar sedang menjalan tugas mencari sandang, pangan, dan papan. Di tambah lagi dengan kepuasan diri dalam menghina, meremehkan, dan menyakiti sesama anak bangsa Indonesia. Ini sebuah kodrat yang salah, mafhum mukholafah tentang leadership yang keliru. Kekuasaan telah menyihir semuanya.

Saya sudah sering kali mengatakan, bahwa memasuki wilayah politik dan kekuasaan, adalah memasuki legalitas kebohongan yang tersusun rapi. Nyatanya, mereka mengatakan ini demi rakyat, tapi sudah dipastikan itu tidak benar semuanya. Memasuki ruang parlemen yang mewah, seperti memasuki wilayah impian dan harapan yang selama ini mereka idam-idamkan. Janji yang dulu begema saat kampanye, hanyalah bualan dan kebohongan.

Memang bohong memang tidak mengenal waktu dan usia, jika jiwa seseorang terguncang akibat berbagai persoalan hidup, maka saat itu pula ia akan terseret pada kebohongan, Jika kepentingan mengalahkan segalanya maka ia akan jadi pembohong,  tentu saja bohong mereka adalah bohong kreativ yang kadang memalukan. Pemilu Legislatif memang sudah dilupakan rakyat, tapi rakyat tidak pernah melupakan janji mereka.

Saya sangat setuju apa yang diungkapn penulis Toni Indriyatno, bahwa gaya hidup anggota DPR itu bermuka dua, dan itu sangat lazim untuk menfungsikan diri ada muka cadangan jika kehilangan satu muka lainnya. Mereka juga sangat ahli dalam mengenakan topeng Super Hero dimana dalam sekejap mereka bisa melupakan janji saat kampanye, lalu bisa  merubah wajah suatu saat.

Yang tak heran dari sifat parlemen kita ialah suka kesurupan: kuda lumping hanya makan beling mereka bisa makan dan minum apa saja; makan beling, semen, bangunan, uang, minum darah, keringat dan minum kegelisahan rakyat.  Kegembiraan rakyat ditelikung oleh napsu serakah mereka. Padahal tugas rakyat adalah gembira.

Penderitaan yang menghimpit akibat kondisi politik yang mendera hingga berakibat pada harga harga kebutuhan pokok, keserakahan para dewan legislatif yang makin terlena dengan kekuasaan, dan semua urusan penguasa yang tak peduli pada rakyatnya, hanya bisa dilupakan sejenak ketika rakyat tidur malam hari.

Sehausnya parlemen adalah wakil rakyat, tapi mereka meletakkan diri sebagai pemimpin, tapi jauh dari sipat kepemimpinan, sebab kriteria pemimpin yang didambakan rakyat dari pemilu ke pemilu hanya impian, setelah lelah memilih anggota dewan rakyat sudah lama lelah memilih walikota, Gubernur hingga Presiden. Malang nian rakyat.  Sehingga untuk mencapai kegembiraan rakyat harus memenej kegembiraan itu dengan caranya sendiri, tidak ada kegembiraan terpimpin.

Ini menjadi pelajaran bagi rakyat, bahwa  memilih pemimpin itu sangat sulit, apalagi jika kriteria memilih pemimpin itu dikaitkan harus beriman dan beramal shaleh, memliki niat yang lurus dan  mereka yang tidak meminta jabatan. Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu:  ”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Kemudian apalagi jika syarat pemimpin harus berpegang pada hukum Agama dan hukum negara, memutuskan perkara dengan adil,tegas dan jujur dan lemah lembut.  Pemimpin yang jujur membawa ketenangan pada rakyatnya dan sekali lagi, mampu membuat rakyat gembira. Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang disayangi oleh rakyat atau orang bawahannya. Pemimpin memupuk kesetiaan rayat kepada kepimpinannya dan tidak melakukan sesuatu yang melemahkan kepercayaan mereka dan kesetiaan mereka.

Pemimpin dengan wajah tampan dan ngampung (polos) tidak menjamin rakyat sejehtera. Yang tampan cuma hobi bikin taman, yang ndeso bikin rakyat nelangsa. Mereka sering berkata di televisi bahkan infotainment bahwa mereka mencintai kota dan tanah air ini, tapi yang satu membiarkan pendidikan carut marut, yang satu lagi membiarkan korupsi menjadi tradisi.

Diskusi dan tetek bengek hanya sekedar hasrat dan pemeliharaan birahi kekuasaan, pergi ke pasar pura pura mencintai pedagang hanya di lakukan saat kampanye. Setelah itu rakyat dilupakan,dan dibiarkan rakyat berkelahi dengan aparat. kaum miskin kota berserakan di jalan tanpa sandal kakinya hitam loreng. Panen tomat, kentang dan cabe yang gagal, musim tak menentu dan para petani panen air mata. Rakyat adalah korban birahi kekuasaan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: