//
you're reading...
BUDAYA

JEJAK PANTUN DAN SYAIR

dimuat KOMPAS Minggu 9 Agustus 2015 halaman 28

Pantun-Jenaka

Di Harian Kompas edisi 3 Mei 2015 halaman 27, saya membaca sebuah tulisan Maman S Mahayana berjudul “Dinamika Pantun dan Syair”. Beliau mempertanyaan: “Benarkah kini reputasi pantun seolah-olah terkubur dan digunakan sekadar untuk guyonan, ledek-ledekan atau dikatakan Matdon: nyaris menjadi fosil sastra? Sesungguhnya tidak juga begitu. Matdon mengambil contoh pantun profan (?). Meski dikatakannya dari mereka yang tak paham aturan, pantun tak mengenal dikotomi profan dan sakral. Sementara sinyalemen STA, saya tempatkan dalam konteks semangat zaman. Ketika itu, majalah Pujangga Baru memuat begitu banyak puisi para penyair kita yang dikatakan baru, modern, bebas, individualistik, penuh semangat, dan merefleksikan suara sukma”.

Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Pantun dan syair adalah jejak sastra lama, fungsi dan peranannya nyaris terlupakan, nyaris menjadi fosil sastra. Terdesak oleh kebutuhan sastra kontemporer, sastra industri dan tetek bengek kemodern-an. Meski nasibnya masih beruntung tidak seperti halnya Gurindam Duabelas, Mantera dan jenis puisi lama lainnya juga nyaris menjadi fosil sastra.

Ada dua buku kumpulan Pantun dan Syair yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir ini, yakni buku kumpulan Syair dan Pantun “Bual Kedai Kopi” karya Suryatati Manan dan Martha Sinaga, dan buku kumpulan “Pantun Asal2an Ala  Bang Sofyan” karya wartawan senior Sofyan Lubis.

Membaca “Bual Kedai Kopi”, disana saya meliat gambaran estetika melayu  yang  unik dan klasik, serta memiliki daya tarik yang asyik. Lokalitas kata ‘Bual”, menggambarkan realitas tradisi masyarakat sejumlah daerah yang disebut sebagai warisan budaya Melayu (Riau, Jambi, Padang dll); budaya ngobrol, sekedar bincang-bincang santai –  membicarakan apa saja.

Konsep kata “Bual” pada awal judul buku ini membuat sastra memiliki pijakan, sebab karya sastra yang “menyadari” estetika lokal akan memperkaya bahasa Indonesia. Karena diakui atau tidak, saat ini Pantun dianggap sebagai sastra lokal yang berkembang di sejumlah daerah tertentu saja, padahal Pantun adalah “teks/bahasa/sastra”  lisan warisan nenek moyang hampir di seluruh tanah air, artinya bukan (lagi) sastra lokal, meskipun pada akhirnya pantun di sejumlah daerah akan berbeda cara ungkapnya.

Pantun sering dianggap sebagai milik orang Melayu saja (orang awam menyebut Melayu adalah orang yang lahir dan hidup di luar Pulau Jawa). Padahal istilah bahasa Melayu mencakup sejumlah bahasa yang saling bermiripan di seluruh wilayah Nusantara dan di Semenanjung Melayu, bahasa Melayu sendiri menjadi bahasa resmi di Brunei, Malaysia, Singapura, dan  Indonesia. Dan digunakan juga di Sri Lanka, Thailand selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil Kamboja, hingga Papua Nugini.

Karena Pantun berasal dari sastra lisan dan seperti kebanyakan sastra lisan lainnya, Pantun menjadi sangat “istinewa” sehingga banyak yang menjadikan pantun sebagai bahasa yang susah dan rumit. Jangan heran kalau buku kumpulan Pantun tak sebanding dengan lahirnya buku buku pusi modern dan buku buku puisi angakatan penyair Facebook. (Hampir setiap hari kita menyaksikan informasi di Facebook terbitnya buku-buku puisi, sehingga jika ada pertanyaan berapa banyak buku puisi dan berapa banyak “penyair” di tanah air?, jawabnya Hanya Tuhan yang tahu).

Lalu pada buku pantun yang ditulis oleh wartawan senior H. Sofyan Lubis berjudul “Pantun Asal2an Ala Bang Sofyan” terbitan PT. Elfiendha Media Jakarta setebal 130 halaman, saya melihat kekacauan yang serius, halaman 6 buku ini tertulis pantun :

Waktu kecil puasa disuruh
Waktu remaja puasa separuh
Patut kita membersihkan diri
Tolong maafi kesalahan kami

Kekaacauan lain misalnya terdapat pantun begini:

Tanjung katung airnya biru
Tempat mandi si anak dara
Puasa sudah di ambang pintu
Maaf Cuma yang kami pinta

Ada juga pantun seperti ini:

Kalau mau ke kota Medan
Janganlah lupa beli markisa
Kalau mau jalan jalan
Jangan lupa jasa raharja
(halaman 72)

Buku ini menurut Bang Sofyan diniatkan untuk “memperpanjang” nyawa pantun agar disenangi kaum muda, namun apa jadinya jika buku ini kemudian tak memiliki konsep pantun yang benar. Saya kira, kesalahan konsep dalam pantun tidak lebih baik ketimbang pantun profan.

images (1)

Mata Pisau Pantun

Idealnya, pantun mengandung berbagai unsur pendidikan, pengajaran, nasehat, peraturan tentang kehidupan dan tingkah laku, budi pekerti, pendidikan anak, hubungan suami istri. Namun perkembangan menunjukan Pantun kini hanya sekedar permainan kata-kata dan pemanis ruangan acara acara formal.  Ini  memungkinkan bahwa Pantun masih terpelihara meski dingin dan sunyi sebagai manifestasi kebudayaan.

Pembacaan Pantun di acara acara besar pernikahan, pertemuan budaya dan atau pertemuan lainnya hanyalah sebagai pelengkap penderita.  Saya jarang sekali menyaksikan Pantun dibacakan secara improv di sembarang tempat, berbeda dengan puisi, dimana orang akan bebas membaca kapan dan dimana saja (bukan hanya pada acara resmi,  sering saya saksikan dan lalukan di Bandung bersama kawan-kawan),  walaupun sebetulnya puisi (modern) juga di acara formal hanya menjadi pelengkap acara.

Namun sebenarnya beruntung pantun hingga saat ini masih banyak dipakai oleh kalangan muda, meskipun penggunaannya hanya sekedar untuk main-main maupun hiburan (paling tidak dalam lima tahun terakhir, baik di tayangan televisi maupun pergaulan sehari-hari), bahasa mereka pun disesuaikan kondisi zaman sekarang. Sakralitas pantun yang dilontarkan para pelawak secara spontan di tayangan televisi  memang sudah rusak, tidak memperhatikan kaidah sampiran dan isi. Misalnya para pelawak sering berpantun “Hei penonton….makan kentang di atas genteng bawa pistol, jangan mentang mentang muka lu ganteng, padahal tiap hari lu Cuma tukang dagang ikan  jengkol”.

Ini tentu saja pantun ngaco, tapi pantun yang ada di televisi itu menjadi penanda bahwa pantun masih tetap ada dan disukai, lepas dari apakah mereka menyadari atau tidak bahwa pantun yang mereka pakai itu benar atau tidak, sebab yang mereka cita citakan hanyalah tawa penonton.

Dengan demikian telah muncul fenomena pantun profan dan berkembang di pergaulan  masyarakat modern. Meski pantun “jenis baru” ini keluar dari pakem pantun, keberadaannya lebih komunikatif di kalangan anak muda. Bahkan sejalan dengan fungsi pantun pada dasarnya. Pantun profan ini kerap pula menjadi media komunikasi rekreatif yang menghibur. Contoh lain misalnya; buah pepaya dimasak pake buah kendondong/hei orang kaya, minta rokoknya dong.  Bagi saya pantun profan seperti itu sah-sah saja. Toh  fungsi kata yang terangkum dalam bahasa dan terekspresikan dalam pantun sebagai genre sastra, pada hakikatnya adalah media komunikasi masyarakat pada zamannya. Dalam hal ini, puisi lama berjenis pantun telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi pergaulan anak anak muda sekarang.

Tentu saja kita harus berterimakasih pada mereka mesikpun bukan penyair/sastrawan tapi mereka mau “bersastra” secara spontan – meskipun sekali lagi apa yang mereka ucapkan bukan lagi pantun sakral. Fenomena pantun produk televisi Ini lebih baik ketimbang menulis puisi esai yang gak keruan itu.

Kelemahan Pantun profan dalam pergaulan dan tayangan televisi adalah isinya tidak lagi berpuncak kepada nilai-nilai luhur budaya, akibatnya  pantun menjadi barang mainan, kehilangan fungsi dan maknanya yang hakiki, yakni sebagai media untuk  memberikan pengajaran serta pewarisan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Jadi fenomena Pantun profan di sisi lain harus disyukuri tapi di sisi lain hal ini merupakan realitas yang cukup memprihatinkan karena kegagalan mengkomunikasikan nilai-nilai luhur dalam pembacaan pantun dan  akan mereduksi pantun hanya sekedar permainan kata-kata dan hiburan penyemarak suasana.

Agak sulit jika fenonema ini dianggap sebagai sesuatu yang harus direvitalisasi, lalu siapa yang harus melakukan revitalisasi?, pemerintah atau sastrawan?.  Pemerintah tentu saja terlalu sibuk mengurus kekuasaan dan politik melebihi kesibukan para malaikat. Jika sastrawan harus melakukan revitalisasi caranya seperti apa?,  karena arus budaya bahasa tak mungkin bisa dibendung, bahasa adalah ruang paling wadah bagai manusia, ia tak mungkin bisa dilarang untuk tidak berkembang.

Pertanyaan saya berlanjut, apakah suatu hari kelak fenemona pantun profan ini akan menjadikan pantun sebagai fosil sastra/bahasa akibat pengaburan identitas pantun itu sendiri. Dengan catatan bahwa sebuah  peradaban yang dibangun tanpa berlandaskan kepada nilai-nilai kulturalnya adalah peradaban semu dan rapuh.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: