//
you're reading...
BUDAYA

IDUL FITRI; KEMBALI MEMIMPIN DENGAN BAIK

Dimuat PIKIRAN RAKYAT 21 Juli 2015

pr21juli

Hakikat Idul Fitri adalah kembali pada kesucian niat awal sebagai manusia, yakni beribadah, dengan tidak memperhitungkan pahala, keun weh urusan pahala mah urusan Tuhan.  Ibadah itu banyak macam, salah satunya menjadi pemimpin, baik sebagai ketua RT maupun Walikota atau Presiden.

Maka moment Idul Fitri, harus menjadi kesempatan baik untuk mengembalikan citra yang buruk menjadi baik, dengan tidak mengusung pencitraan dan gimick berlebihan, karena rakyat tak perlu gimick, tapi butuh pencerahan, butuh pendidikan, butuh kebahagiaan. Kebahagiaan rakyat tidak dibangun dengan hanya taman indah, tapi dengan keberanian seorang pemimpin ketika bersalah meminta maap untuk kemudian kembali menata kepemimpinannya agar lebih bagus. Juga dengan merealisasikan janji-janji politik saat kampanye, pelan tapi pasti.

Karena bagiamanapun juga, Tuhan telah memberikan karunia pada manusia pada umumnya berupa fitrah sebagai mahluk beragama, pemimpin juga beragama dan  memiliki nilai-nilai ketaatan kepada Sang Penciptanya. Jantung, hati, darah dan air mata seorang pemimpin merupakan titipan Tuhan yang harus dimanfaatkan dalam memimpin. Karena semua akan menjadi saksi nanti. Dalam Quran Surat Al-A’raf ayat 172 disebutkan :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Tuhan juga memberikan kerunia pada manusia berupa fitrah sebagai mahluk yang suci, artinya ia dilahirkan dalam keadaan suci tanpa membawa dosa warisan dari kedua orang tuanya maupun nenek moyangnya. Begitu juga pemimpin, ia memiliki fitrah suci, artinya tidak membawa dosa pemimpin terdahulu, misalnya Jokowi tidak akan membawa dosa presiden sebelumya, Gubernur juga seperti itu, Ridwan Kamil tidak membawa dosa walikota Bandung sebalumnya, soal dosa mah urusan sewang sewangan.

Fitrah pemimpn itu suci, karena membawa niat ingin membahagiakan rakyat, tapi keumudian dikotori diri  sendiri dengan  melakukan perbuatan-perbuatan salah, dan tidak mau mendengar aspirasi rakyatnya.

Karunia Tuhan lainnya bagi pemimpin ialah titrah sebagai makhluk ber-etika-estetika. Dari ketua RT, RW, Lurah, Camat, Walikota, Gubrenur dan Presiden memiliki nilai-nilai etika-estetika dan moral yang akan menempatkan mereka pada posisi lebih tinggi jika benar benar menjalankan amanat rakyatnya. Pencitraan boleh saja, tapi jangan selamanya, toh dengan bekerja yang baik pasti akan memiliki citra yang baik pula, pupujieun bagi pemimpin merupakan sikap yang salah.

Yang tak kalah penting karunia seorang pemimpin ialah diberi fitrah interlektual. Dengan fitrah ini seorang pemimpin bisa menjalankan tugas sebagai pemimpin sebagaimana mestinya, misalnya menggunakan daya intelektualnya dengan mau kompromi dan musyawarah dengan masayarakat, tapi jangan keseringan juga “musyawarah” menggunakan intelektual di dunia medsos (twitter atau facebook), karena masih banyak rakyat yang belum mengerti medsos.

 

Kembali ke Jalan Benar

Ramadhan baru saja belalu, jangan sia-siakan pembinaan spiritual selama ramadhan ini begitu saja, jadikan Ramadhan alat interospeksi bagi kelemahan diri sebagai manusia, jangan sombong.

Pemimpin sejati yang mampu melewati Ramadhan dengan baik ialah pemimpin yang bertanggungjawab, bicara yang baik dan mau dikritik. Tanpa kritik, apalah artinya seorang pemimpin, kalau tak mau dikiritik jangan jadi pemimpin. Kritik berarti nyaah, jangan dianggap kritik rakyat terhadap pemimpinnya sebagai sebuah caci maki.

Sudah sering saya katakan dalam berbagi forum, bahwa kiritik ada yang tidak perlu mencari solusi, ialah kritik yang dilakukan oleh rakyat biasa. Itu sebagai ungakapan kekecewaan, karena pasti rakyat ingin yang terbaik dan pasti rakyat akan membantu, kalau pemimpin yang dikritiknya tidak nyumput saat didatangi rakyat. Rakyat berhak gembira dan berhak memberikan kritik tanpa harus memiliki solausi, bahkan rakyat boleh “kukulutus”, tapi sopan dan beradab. Solusi dikembalikan pada pemimpin itu sendiri dan para ahli di bidangnya.

Ada juga kritik yang harus disertai jalan keluarnya, yakni kritik rakyat yang kebetulan ia ahli dalam bidang tertentu, misalnya seseorang ahli taman mengkritik kota Bandung tentang keberadaan Taman, maka ia harus bisa memberi solusi terbaik bagi kotanya. Atau misalnya kritik terhadap dunia pendidikan kota Bandung yang kemarin carut marut dilakukan oleh seorang pendidik atau ahli pendidikan, maka ia harus mencari solusi tentang pendidikan

Sebagai catatan Idul Fitiri 2015, saya ingin mengatakan, kritik untuk kemajuan sebuah kota atau negara, tidak harus ditanggapi oleh pengikut penguasa dengan kemarahan atau membully pelaku kritik. Karena kemarahan pengikutnya akan jadi bumerang bagi seoarng Presiden, Gubernur atau Walikota.

Jika ia seorang Walikota dikritik misalnya, biar saja ia menjawab dengan caranya sendiri, atau melalui wakilnya atau melalui humasnya atau melalui Kepala Dinas terkait. Kalau dijawab oleh para fans nya dengan bahasa yang tidak bijak, maka yang akan celaka itu, bukan fansnya tapi pemimpin itu sendiri.

Fahamilah kritik merupakan sebuah sumbangan pemikiran, ia sebuah analisa dan evaluasi sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki sebuah pekerjaan. Jika ingin urun rembug mencari solusi harus lebih intelektual, harus lebih ramah dan berwawasan ikhlas yang tinggi. Pengikut yang turut marah jika walikotanya dikritik , malah membuat suasana gaduh.

Mari, sama sama membangun kota dan negeri ini, sesuai dengan tugas dan keahlian masig-masing.  ini Idul Fitri, artinya kembali menjadi pemimpin yang baik dan benar dan kembali menjadi rakyat yang baik dan bahagia.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: