//
you're reading...
BUDAYA

INDONESIA DI BULAN MEI

dimuat di PIKIRAN RAKYAT 17 Mei 2015

Sebelum terjadi Gerakan Reformasi tahun 1998, bulan Mei di Indonesia hanyalah bulan bulan Mei biasa, tak memiliki greget, kecuali peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Setelah Orde Baru lengser, rasanya bulan Mei mulai sakral, sesakral bulan Agustus. Penuh peristiwa, pnuh harapan.

Dari sisi transendental-Spiritual, sebelumnya kita mengenal Mei sebagai bulan Maria.  Di bulan ini ada doa untuk menghormati Maria berupa doa Rosario. Meski terdapat perbedaan, (sebagian menyebut doa Rosario berada di bulan Oktober). Di Bulan Maria ini orang-orang Kristiani berdoa sebagai bentuk dari penjiwaan atas perbuatan dan perkataan Maria, sebagai tokoh refleksi sebelum menjawab tawaran Tuhan.

Tahun ini, bulan Mei di kalangan kaum Muslim ada pringatan Isra Mi’raj, sebuah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Mesjidil Haram ke Mesjidil Aqso – dari Mesjidil Aqso ke Sidratul Muntaha untuk kemudian mem bawa syraiat sholat bagi ummat Islam.

Di sisi lain, di bulan Mei ada May Day, sebuah gerakan buruh yang terus menerus belum sejahtera karena pihak penguasa dan pengusaha belum maksimal memanusiakan mereka.  Pada Hardiknas, rakyat bicara terus menerus soal carut marut dunia pendidikan; kurikulum yang tak jelas, Ujian Nasional yang masih ditentang,  serta janji politik penguasa yang menggratiskan uang spp tak kunjung tiba.

Ya, bulan Mei banyak yang harus diingatkan (bukan sekedar peringatan).  Mulai May Day (1 Mei) dan Pembebasan Irian Barat, Hardiknas (2 Mei), Hari Surya (3 Mei), Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (4 Mei), Hari lahir Henry Dunant – bapak Palang Merah Sedunia (8 Mei), Hari Lembaga Sosial Desa (5 Mei), Hari POM – TNI (11 Mei), Hari Buku Nasional (17 Mei), Hari Korps Cacat Veteran Indonesia (19 Mei), Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), Hari Peringatan Reformasi (21 Mei) dan: Hari Anti Tembakau Internasional (31 Mei).

Jangan lupa, pada 14 Mei 1942 Jepang mengirimkan sebuah ultimatum kepada pemerintah Hindia Belanda, menuntut agar pengaruh dan kehadiran Jepang dibiarkan di wilayah RI, sebelumnya tanggal 9 Mei  Jepang menduduki Lombok,  dan Sumbawa.  Lalu meninggalkan Irian Barat dan menyerang udara Sekutu di Surabaya.

Ah sudahlah, kmbali ke Gerakan Reformasi yang sudah 17 tahun, Sebuah perjalanan panjang bagi perwujudan harapan rakyat Indonesia. Pemerintahan telah berganti sebanyak 5 kali dari Habibie, Gusdur, Megawati, SBY dan Jokowi. Lalu bagaimana nasib Reformasi Indonesia?

Tak ada jawaban pasti, mari tengok agenda reformasi waktu itu (1998), Penegakan supremasi hukum, Pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), Pengadilan mantan Presiden Soeharto dan kroninya, Amandemen konstitusi, Pencabutan dwifungsi TNI/Polri, Pemberian otonomi daerah seluas- luasnya. Dari agenda itu kita bisa menjawab masing masing dalam hati.

Atau kita tengok 10 tahun gerakan rformasi (2008) dimana rakyat menyampaikan Tujuh Tuntutan yakni, Nasionalisasi asset strategis bangsa, Wujudkan pendidikan bermutu dan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau, dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia, Tuntaskan kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya sebagai wujud kepastian hukum di Indonesia. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi dan energi. Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat. Tuntaskan Reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan. Dan Selamatkan lingkungan Indonesia dan tuntut Lapindo Brantas untuk mengganti rugi seluruh dampak dari lumpur Lapindo.. Dari tuntutan itu juga, kita bisa menjawab masing masing dalam hati.

 

Dunia Sastra

Sastra sebagai bagian yang tak terpisahkan dari reformasi juga tak bisa diabaikan dari sejarah kelam itu.  Di dunia sastra, Mei juga menyisakan kisah ngeri dari sebuah penculikan Wiji Thukul, seeorang pemuda yang terkenal dengan puisi-puisi pamfletnya, dipekirakan hilang di bulan antara Maret, April atau Mei 1998. Ketika Kopassus mencari Wiji dan bertanya pada Nezar Patria, salah satu temannya, Nezar yakin Wiji Tukhul sudah ditangkap.mungkin dihabisi.

Orang-orang baru sadar dan tersentak, bahwa Wiji telah raib begitu Soeharto tak lagi berkuasa. Dam itu disadarai oleh Jaap Erkelen peneliti Belanda dan kawan akrab Wiji. Keluarga Wiji lalu secara resmi melapor ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), dan hingga hari ini nama Wiji Thukul lenyap, tapi usia puisinya sangat panjang dan masih tetap hidup.

Wiji Thukul lahir tanggal 23 Agustus 1963 di Solo, sejak sejak SMP sudah aktif di Sanggar Teater Jagat. Lulus dari SMP, Thukul melanjutkan studi di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia ) meski hanya sampai kelas II. Disamping aktif berteater, Thukul juga menuli puisi. Puisinya dibacakan dimana-mana dan dimuat di berbagai media.

Dia mulai membaca puisi bukan hanya digedung-gedung kesenian atau kampus, namun juga di bis kota , kampung bahkan di aksi-aksi massa. Ia mengkspresikan problem-problem rakyat, melawan ketidakadilan dan penindasan. Dan akhirnya Wiji Thukul merasakan bagaimana tindakan refresif dari penguasa ketika ia memprotes pencemaran pabrik tekstil PT. Sari Warna Asli. Dalam aksi ini Thukul sempat ditangkap dan dijemur oleh aparat Polresta Surakarta.

Wiji Thukul manusia biasa, tapi ia telah berjuang dengan kata-kata, ia tak bisa berjuang dengan senjata. Kata-kata nya adalah senjatanya. Kata-kata telah menjelma menjadi senjata yang siap menghancurkan segala ketidak adilan. Dan penguasa saat itu sangat takut dengan kata-kata.

Puisi adalah kata-kata penyair, ia menjelma dakwah yang bisa dijadikan peringatan, perenungan, fatwa atau perlawanan. Karena puisi selalu lahir dari kebersihan hati, kelembutan dan kegelisahan.

Bulan Mei adalah bulan gerakan reformasi, sebuah gerakan yang menjelma puisi, dan puisi tak pernah mati, tak bisa diculik oleh kekuatan apapun.  Inilah Mei bulan galau, bulan gamang, bulan yang menentukan arah tujuan bangsa.

Inilah Mei, bulan Gerakan mahasiswa yang telah menjelma sepi, menjelma korupsi, menjelma partai politik, menjelma kengerian yang entah apa namanya, bersama itu pula reformasi tak  menjelma.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: