//
you're reading...
BUDAYA

SASTRA DAN KRITIK SOSIAL

Dimuat di Koran Sindo, Minggu 3 Mei 2015

krtik

Puisi adalah harapan terakhir yang bisa merawat kebuduyaaan di muka bumi ketika politik dan ekonomi tak mampu memeliharanya, saya masih yakin sastra (dalam hal ini puisi)  memiliki fungsi sebagai “agama” dan kontrol sosial.

****

Hal yang menarik dari sastra ialah selalu diperbincangkan dalam riuh maupun sunyi, sastra memang selalu seksi untuk diperbincangkan, sampai akhirnya ada pertanyaan apakah sastra masih kontekstual dengan persoalan masa kini.

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus memulainya bahwa sastra selalu diperebutkan oleh kekuasaan orde baru, orde lama dan orde reformasi hingga sekarang. Mungkin masih ingat saat Pilpres tahun lalu, bagaimana Fadli Zon berbalas puisi dengan lawan politiknya, itu artinya puisi memang dibutuhkan oleh kekuasaan politik.

Kemudian kita juga menyadari bahwa sastra bukan merupakan  teori yang bisa dipraktekkan seketika, ia gerak dan digerakan, hidup dan dihidupkan oleh sesuatu yang tidak disadari namun terjadi, jadi sastra disempurnakan oleh fenomana kejadian alam (bisa ambil contoh puisi Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni). Dan yang paling harus kita fahami bahwa sastra bukan lahir begitu saja tanpa pemikiran intelektual, ia lahir dari cermin kehidupan.

Sebuah karya sastra pada umumnya, tidak hanya mampu menyuguhkan rangkaian kata dan bahasa yang estetis dan segar, tetapi juga harus memuat makna yang mendalam, baik yang tersirat maupun sengaja ditegaskan oleh penulisnya.

Karya sastra selain bisa memberikan suatu pengalaman batin yang baru juga menyadarkan pembaca pada nilai-nilai esensial kehidupan. Karena sastra bukan melulu jadi hiburan dari rasa sunyi penyair tapi cermin kehidupan sosial yang dapat mencerahkan masyarakat pembacanya.

Saya ingin memulai dari almarhum WS. Rendra. Beliaulah yang kemudian disebut sebagai pelopor sastra mimbar (puisi Pamflet), sebagai bentuk kesadaran penyair untuk memberontak terhadap perilaku semena-mena pemerintahan. Dengan menggunakan bahasa yang jernih, lugas dan terukur, juga mampu merefleksikan kenyataan yang tengah terjadi, syair Rendra seakan menjadi penyambung lidah masyarakat yang ingin melakukan perlawanan.

Karya-karya Rendra sebagai bentuk kejujuran peristiwa yang terjadi. Bagi Rendra puisi menjadi semacam dokumen peristiwa jauh sebelum lahir facebook, twittr dan youtube. Karya sastra Rendra menjadi bahan rujukan yang  dapat menjadi refleksi kenyataan sosial di masyarakat, puisi menjelma menjadi media penyadaran.

Memang, karya sastra bukanlah solusi persoalan politik atau ekonomi, tapi karya sastra mampu menjadi kamera sejarah yang menghasilkan potret untuk bahan perenungan generasi selanjutnya.

Sebagi penyair dan penulis naskah drama, Rendra peduli terhadap kehidupan sosial masyarakatnya. Puisi-puisinya seolah menjadi potret buram sejarah Indonesia. Bayangkan betapa hampir semua mahasiswa di Indonesia menjadikan beberapa puisi Rendra sebagai materi demonstrasi. Dan demonstrasi adalah kesadaran sosial itu sendiri.

Sejak tahun 1967-an puisi Rendra sudah sarat kritik sosial dan politik. Kegelisahan eksistensial Rendra adalah puisi, karena saat Orde Baru fenomena politik sangat kental. Dan Lalu Rendra dengan lugas memanfaatkan diksi yang unik, kadang mudah diterjemahkan, namun tak jarang sulit untuk diterjemahkan.

 

Generasi Wiji Thukul

Penyair memang sebaiknya bersentuhan dengan masyarakat, bersentuhan dengan kenyataan sosial, karena karya sastra selalu bergesekan dengan masyarakat, agar ia berpihak pada kepentingan masyarakat.

Sudah saatnya penyair tidak lagi berpikir menulis puisi untuk menumbuhkan kreativitas, mendapatkan penghasilan dari menulis puisi, akan terkenal karena menulis, menggembirakan hati dan lain-lain. Sudah saatnya (bahkan sejak lama), penyair menjadi “Khotib” untuk kepentingan ideologi.

Puisi harus berbicara persoalan dalam masyarakat, tentang fakta yang terjadi baik itu kemiskinan, pendidikan, sosial, politik, atau harga cabe yang mahal, BBM naik, Wakil Gubernur yang jadi bintang iklan dan hobi main sinteron misalnya. Jadi puisi tidak melulu bicara patah hati, pacar direbut kawan sendiri, atau cinta segitiga dan seterusnya. Karysa Sastra yang tak bersentuhan dengan fungsi sosial maka karya itu mengandung pengkhianatan.

Sebab seorang penyair harus bisa mengolah dan menganalisa data, dari data itu akan lahir puisi yang bernas. Okelah, bahwa karya sastra saat ini belum bisa difahami oleh semua kalangan masyarakat tapi ia tetap menjadi control sosial yang abadi. Kritik sosial adalah variabel penting dalam memelihara sistem sosial yang ada, dan itu harus dilakukan penyair. Kata-kata (teks) adalah alat untuk melawan.

Wiji Thukul misalnya, menjadikan puisi sebagai dialog menolak adanya kebohongan dan penindasan. Ia ingin penyair sebagai penjaga moral, sehingga sastra memiliki posisi tawar untuk kesadaran masyarakat.

Kritik dan penyadaran sosial lewat sastra di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak lama, bahkan zaman Manikbu sudah mengedepankan realisme dan menjadikan polemik paling keras sepanjang sejarah sastra di Indonesia. Hingga lahir buku “33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh” yang diusung ahli peneliti Denny JA, kemudian ditentang oleh hampir semua kalangan sastrwaan bahkan Saut Situmorang dan Iwan Soekri dua sastrawan senior terkena dampak hukum.

Tetapi harus diakui, sebagai sebuah gerakan, sastra tidak bisa dilakukan sendiri ia harus bergerak secara kolektif agar gerakan penyadaran itu menjadi massif. Karena pada akhirnya karysa sastra menjadi amar ma’ruf nahi munkar.

Seperti puisi Wiji Thukul. Meski dari sudut pengucapan, tidak ada yang baru, tetapi cita rasa estetik yang ditunjukkannya dalam diksi dan metafora sangat tepat. Puisi baginya didedikasikan pada nasib manusia. Perlawanan terhadap kesewenag-wenangan, jeritan kemiskinan dan kemelaratan menjadi tema puisi- puisinya.  Terakhir saya ingin tuliskan lagi puisi “Perlawanan: karya Wiji Thukul:

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

(Solo,1986)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: