//
you're reading...
BUDAYA

TEATER DI BANDUNG, DARI STB HINGGA AUL

 PIKIRAN RAKYAT, DESEMBER 2014

(3 dari 4 tulisan)

st

Studiklub Teater Bandung (STB), merupakan kelompok teater modern tertua di Indonesia. Didirikan pada tanggal 30 Oktober 1958 oleh 7 orang mahasiswa,  saat ini sebagian mereka telah almarhum.

Sepanjang perjalanannya menempuh arus waktu hingga saat ini, Studiklub Teater Bandung telah banyak mementaskan naskah-naskah penulis Indonesia maupun dunia, antara lain karya Utuy T. Sontani, Misbach J Biran, Kirjomulyo, Saini KM, Ajip Rosidi, Bakdi Sumanto, dll. Sementara naskah dunia antara lain William Shakespeare, Moliere, Sopochles, Schiller, H von Kliest, Brecht, Goethe, Ionesco, Chekov, Tennese Williams, dll.

Selama berpuluh tahun STB disutradarai Suyatna Anirun hingga ia meningal dunia pada tahun 2002, setelah itu  sejumlah nama menjadi sutradara STB, diantaranya Wawan Sofwan (kini mendirikan Main Teater), Yusef Muldiyana (aktor/sutradara Laskar Panggung), Yoyo C. Durahman (dosen STSI Bandung), Arya Sanjaya (tercatat paling lama menjadi sutradara STB, sembilan kali pementasan) Pernah sekali STB disutradari seorang wanita yakni Ria Mifelsa pada Rabu dan kamis (28-29 April  2010), di CCF Bandung membawakan naskah .“Yang Tersisa”, karya  Serge Marcier, seorang penulis naskah teater dan televisi di Prancis. STB memilih naskah ini  selain realistis, juga karena naskah ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakar dunia pada umumnya.

Kehadiran Ria menjadi sutradara waktu itu, adalah catatan tersendiri, selain muda, ia merupakan satu satunya sutradara wanita yang menggarap STB,  Ria sendiri merupakan pentolan STB yang dulu menerima “didikan” Suyatna. Sayang setelah itu Ria tak muncul lagi.

Pada 1 Mei 2012 STB mementaskan naskah tetaer “Ben Gotun” karya Saini KM di GK. Rumentang Siang Bandung disutradarai Kemal Ferdiyansyah, seorang sutradara muda jebolan Laskar Panggung Bandung. Tentu saja dengan bekal pengalaman sebagai actor dan sutradara teater, garapan Kemal terasa beda dengan pementasan sebelumnya paska ditingalkan almarhum Suyata Anirun. Sayang, Kemal juga kemjudian tidak muncul lagi.

 

Kelompok Teater Lainnya

Sebagai sebuah kelompok studi, para penggiat teater selalu datang dan pergi, menimba pengalaman dalam wadah yang memberi kesempatan bagi mereka untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang teater. Bagi Studiklub Teater Bandung, berkarya identik dengan menciptakan suatu keindahan yang memperkaya batin

Ah, saya jadi teringat apa yang disampaikan Suyatna almarhum, “Jangan bercermin pada jumlah usia, tapi berkacalah pada karya,”,inilah (mungkin) yang memberi suntikan semangat STB agar tetap ada dan mengada, serta ingin tetap menjaga temali garapan yang selama puluhan tahun telah dijalin.

Kota Bandung memang terkenal sebagai kota tater, meski walikotanya tidak pernah suka seni teater. Selama ini STB dikenal masyarakat teater di tanah air sebagai kelompok teater tertua di Indonesia, setiap penampilanya selalu berbeda dari sebelumnya. STB selalu melakukan keseimbangan dengan dinamika nan penuh kejutan.

Teater modern menjadi ciri di berbagai kota di Indonesia, begitupun dengan STB, tanpa mengenal lelah terus berpentas dengan ciri modern tadi, dengan penonton fanatiknya. STB terlanjut menjadi sebuah kelompok teater yang kadung dicintai oleh masyarakatnya, sama seperti halnya teater Koma Nano Riantiarno, Bengkel Teater dan lain-lain.

Setelah STB, sejumlah kelompok teater lahir pula, diantaranya Teater Bel yang kini berusia 25 tahun. Awalnya Teater Bell berasal dari lahir kelompok  Teater Ge-Er (Gelanggang Remaja) pada  22 Desember 1973, Waktu itu Teater Ge-Er mementaskan karya pertama “SLA”. Anggota kelompok ini bertambah dengan cepat dan melahirkan beberapa pementasan yang beragam dengan sutradara yang berbeda, iak tergantung pada satu sutradara saja. Hal ini tentu yang membedakan dan kelebihan Teater Ge-Er dari kelompok-kelompok teater di Bandung, Jakarta, Yogyakarta

Pada tahun 1978 Teater Ge-Er melahirkan Teater Lisette sebagai ajang praktisi para seniornya yang dimotori oleh Yessi Anwar. Sementara Teater Ge-Er tetap membina para pemula termasuk di dalamnya pembinaan kepada anak-anak yaitu: “Teater Anak Bawang” . Pada 15 Desember 1987 Teater Ge-Er berganti nama menjadi Teater Bel yang dikomandani oleh Erry Anwar, penggantian nama ini untuk menghilangkan kesan remaja yang menyertai setiap garapan yang muncul akibat nama Gelanggang Remaja.

Selain Teater Bel ada nama Laskar Panggung Bandung (LPB).
Nama LPB selama beberapa tahun terakhir sangat produktif ketimbang kelompok teater lainnya di Bandung. LPB selalu melahirkan karya unik dan menarik. Gaya penyutradaraan Yusef Muldiyana mengingatkan kita pada almarhum Arifin C Noer. Itulah Yuef Muldiyana, darah sang guru kemudian membawa nama Yusef disebut-sebut sebagai “Neo Arifin C Noer”.
Laskar Panggung Bandung lahir pada 20 November 1995 dengan format gaya “Arifinisme”, bukan meniru, tetapi memaknai jiwa naskah Arifin. Bahkan, selama 19 tahun LPB berkiprah dalam dunia teater, ciri khas yang tidak dimiliki kelompok teater lainnya, di Bandung khususnya, selalu melekat pada LPB.

Diakui atau tidak, dari rahim STB lahir pula Actor’s Unlimited (AUL), Creamer Box, Bandoengmooi, MainTeater, Kelompok Payung Hitam (KPH), Teater Re-Publik, dll.

Sebagai catatan, Actors Unlimites (AUL) didirikan oleh Mohamad Sunjaya atau Kang Yoyon, seorang aktor senior yang seluruh kehidupannya nyaris hanya untuk teater. Berdiri 28 Agustus 1995. Kang Yoyon adalah salahsatu pilar perkembangan dan pertumbuhan teater di kota Bandung, baik ketika bersama STB maupun bersama AUL.

Misi utama AUL terletak pada kesadaran bersama untuk mengemban pengabdian seni budaya dengan mengetepikan sekat-sekat geografis, negara, agama, budaya, ideologi, politik, ras dan kesukuan. AUL ingin menegakkan prinsip korporasi, managemen dan kinerja profesional seni budaya dalam arti seluas luasanya.

Dari situ nampak jelas, Bandung sangat kaya dengan teater. Teater telah menghidupkan kota Bandung.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: